Anak saat ini memiliki dampak yang signifikan terhadap perubahan yang terjadi. Munculnya teknologi masif menjadikan posisi anak di ambang kebingungan.
Bingung memilih jalan hidup di antara teknologi dan penyebaran informasi yang mendominasi. Anak tidak lagi kesulitan memeroleh sesuai dengan apa yang diinginkan. Di sisi berbeda, anak harus ekstra menjadi diri sendiri. Menjadi pribadi yang tidak terkontaminasi. Menjadi pribadi yang sadar akan pentingnya kesejatian dalam berkehidupan. Kemandirian bermasyarakat.
Teknologi cepat dan kecerdasan buatan mengiringi pertumbuhan dari sejak dalam kandungan. Bahkan ketika proses lahirannya pun tidak luput dari teknologi, direkam, didokumentasikan berkali-kali yang menjadikannya anak tahu bahwa konten yang dibuat untuk anak sebagai tanda bahwa peran teknologi benar-benar memberi ruang yang berbeda.
Kecerdasan buatan tidak bisa membatasi proses tumbuh kembang anak. Memang sangat menyenangkan, orang tua semakin dipermudah dalam bentuk membingkai perjalanan bagi anak.
Permasalahan kemudian anak tidak membutuhkan sedikit dorongan dari sekitar melainkan diberi bantuan teknologi seutuhnya. Bahkan anak yang terlanjur memiliki kedekatan dengan teknologi bisa mengabaikan lingkungannya. Dan berkaitan anak tidak mampu menyelesaikan tugasnya sebagai anak. Dalam tulisan ini dapat dipersempit bahasannya tentang anak dan digitalisasi yang kerap menimbulkan permasalahan dan perasaan orang tua yang membutuhkan jalan keluarnya.
Hari ini bahkan di tanggal yang sama pada tahun-tahun sebelumnya, anak memiliki hak yang melekat pada masa pertumbuhannya, sebagaimana diamanahkan dalam undang-undang nomor 35 tahun 2004.
Meski proses tumbuh kembang anak memiliki kemajuan yang wajib dipahami oleh orang tua sehingga dalam praktiknya akan selaras bahwa anak tetaplah menjadi anak yang perlu diberikan arahan dan pantauan dengan baik sesuai zamannya.
Kerjasama dari Rumah
Dari sekian banyak yang perlu didiskusikan terkait anak. Setidaknya rumah adalah laboratorium bagi anak yang paling ideal dan benar secara keseluruhan, teknologi dalam rumah harus didesain untuk mengantarkan anak memiliki pola pikir sehat dan berkembang.
Permainan tradisional yang masih lumpuh karena teknologi, mesti diwaspadai sebab itu orang tua mengenalkan dan memberikan dukungan untuk memainkannya.
Anak diajak untuk sedikit mengurangi teknologi jika tidak diperlukan diganti dengan permainan tradisional. Teknologi dapat difasilitasi jika mengerjakan tugas sekolah atau mengembangkan keterampilan terbaru.
Di sisi orang tua memberi penjelasan tentang istilah kewaspadaan terhadap privasi berteknologi. Sejalan dengan peraturan dari pemerintah serta batasannya berteknologi. Secanggih teknologi tetap anak berhak berkreasi.
Pada dasarnya orang tua tinggal menentukan bagaimana anak seharusnya, jika nanti anak mencari istilah sendiri, orang tua wajib mendiskusikan dengan cara yang terbaik dan sederhana dalam pemahaman anak.
Kasus perundungan di tingkat anak yang mencuat disikapi bahwa anak tetaplah menjadi pribadi yang sadar akan kelebihan dan kekurangan. Orang tua menjelaskan bahwa anak tidak harus difasilitasi segala-galanya. Jika anak mau gawai, orang tua harus pula menimbang kemafsadatannya.

Jika kemudahan bagi anak setiap meminta sesuatu maka hilanglah kewibawaan orang tua. Disadari bahwa anak yang terlanjur bermain gawai akan membuat dirinya kesulitan bersosialisasi.
Akibatnya, anak sudah dikenalkan pada kesempatan menjadi orang lain. Wujudnya anak-anak, tetapi sikap dan perilaku menggambarkan bagaimana orang dewasa yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan yang rusak dan tidak memiliki capaian bagi hidupnya.
Rumah bagaikan laboratorium. Orang tua dan anak bekerjasama. Hasil yang didapat karena kerja bersama bukan kerja orang tua saja, terlebih kerja anak.
Komitmennya adalah usaha memberikan jalan masa depan kepada anak. Maka orang tua tidak sekadar mengalirkan makanan, orang tua berinovasi dalam pengasuhannya.
Jika anak dibesarkan dengan doa dan usaha yang halal baik usaha pendidikannya dan usaha mengajarkan kebaikan. Dampaknya tak tampak sekarang. Tidak cepat. Dibutuhkan bertahun-tahun untuk memanennya.
Tantangan Berdigital
Anak-anak memang penuh warna. Tantangannya cukup besar. Ibaratnya berakit-rakit dahulu berenang-renang ke tepian. Bersakit dulu dalam mengajarkan etika dan wawasan lainnya yang positif kepada anak.
Etika berdigital salah satu pilihan adalah tidak bermedia sosial. Anak tidak boleh memiliki akun Instagram, akun tiktok, atau akun facebook.
Kalau akun media sosial sudah disediakan sesuai kemauan dari orang tua. Anak sudah diberikan gawai sukarela. Anak sudah dibebaskan dari segala hal dengan teknologi. Maka apa yang kemudian disebut kecelakaan beruntun ke dalam jiwa anak. Ego dan kepala batu bisa muncul lebih cepat. Orang tua yang demikian perlu mengevaluasi. Bagaimanapun orang tua wajib mengganti prinsipnya. Bukankah anak adalah hiasan yang memberikan nuansa di tengah keluarga.
Selain tidak mengakses media sosial, anak bisa mengefektifkan kehidupan sehari-harinya dengan berdiri teguh untuk berdigital dengan baik. Artinya, anak harus diseleksi dalam mengakses teknologi. Jika kesiapan sudah tidak asing bagi anak, maka orang tua akan merasakan dampak positif yang sebenarnya.
Ruang digital bagi anak selalu ditemui dengan menonton video. Jelas video yang selalu ditonton perlu dicek dan diseleksi. Tontonan yang tidak boleh dan boleh.

Aturannya jelas, jangan sampai terlambat. Orang tua membuat persyaratan yang berpihak pada pendidikan untuk anak.
Selebihnya, tidak ada salahnya, jika anak mengekspresikan diri sendiri melalui langkah yang tepat. Sasarannya agar anak dan orang tua berkompromi dengan bahagia.
Tepatnya, kerjasama berdigital sebagai salah satu kebutuhan yang sangat penting di ruang keluarga. Anak-anak yang aktif, berkreasi, dan menjunjung tinggi kesantunan berdigital menghadirkan referensi berkeluarga yang merepresentasikan era saat ini. (*)