Jika kita mau membuka mata, banyak sekali kesenjangan yang terjadi dalam dunia pendidikan. Perbedaan mencolok bisa dilihat antara sekolah yang ada di daerah dengan sekolah yang ada di kota atau kabupaten. Kesenjangan tersebut berpengaruh pada mutu pendidikan, sehingga kita bisa dengan mudah melihat antara lulusan sekolah favorit atau unggulan dengan sekolah yang fasilitas pendidikannya ala kadarnya. Bagaimana sebuah sekolah akan berkembang dan melahirkan siswa berprestasi, jika fasilitas belajar tidak memadai. Belum lagi tenaga pengajar yang kurang berkompeten di bidangnya.
Seperti diketahui, di sejumlah daerah, terutama daerah 3T, masih banyak sekolah yang belum memiliki fasilitas belajar yang layak. Tidak hanya fasilitas pendidikan yang memang jauh panggang dari api. Akses jalan untuk menuju ke sekolah juga banyak yang buruk. Anak-anak masih ada yang harus menyeberang sungai atau menyusuri hutan untuk bisa belajar di bangku sekolah.
Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) yang sekarang sedang digagas pemerintah, mungkin menjadi jembatan atas kesenjangan mutu pendidikan di Indonesia saat ini. Hal ini sebagaimana Intstruksi Presiden Nomor 20 Tahun 2026 tentang percepatan peningkatan mutu melalui Sekolah Nasional Terintegrasi.
Keberadaan SNT, setidaknya bisa menjadi solusi sekaligus penyegaran bagi sekolah-sekolah yang sudah ada. Sehingga, sekolah yang belum memiliki fasilitas lengkap bisa bekerja sama dengan SNT dalam proses pengembangan mutu pendidikan di sekolah.
Hal ini juga disampaikan Mendikdasmen Abdul Mu’ti bahwa, SNT tidak dirancang menjadi sekolah yang tumbuh sendiri, melainkan sebagai katalisator peningkatan mutu pendidikan di wilayahnya. Sekolah ini harus menjadi mitra bagi sekolah-sekolah di sekitarnya melalui laboratorium pembelajaran, pemanfaatan fasilitas dan sumber belajar bersama, pengimbasan praktik baik, kemitraan dan pendampingan sekolah, serta peningkatan kompetensi guru secara berkelanjutan. Penyelenggaraan SNT bertumpu pada tiga transformasi utama, yaitu transformasi infrastruktur, transformasi sumber daya manusia, serta transformasi karakter dan pembelajaran (kemendikdasmen.go.id).
Apa Perbedaan SNT dengan Sekolah Regular?

Di media sosial muncul pro dan kontra perihal rencana pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi. Ada yang menganggap bahwa hal tersebut terlalu dipaksakan, mengingat masih banyak sekolah yang belum tersentuh pemerintah, khususnya yang berada di pelosok.
“Kenapa tidak memanfaatkan sekolah yang sudah ada? Beri fasilitas yang memadai sehingga mutu pendidikan bisa terjamin,” demikian mayoritas respons warganet saat informasi rencana pembangunan SNT bergulir.
Sebenarnya apa dan seperti apa SNT tersebut? Sekolah ini merupakan sekolah nasional yang menerapkan pembelajaran berkelanjutan dari SMP ke SMA dalam satu ekosistem. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, Non Formal dan Informal (Dirjen PAUD Dikdas PNFI) Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, menjelaskan ada beberapa hal yang membedakan SNT dengan sekolah regular.
SNT dipimpin oleh satu direktur. Di sisi lain, sekolah regular dipimpin kepala sekolah yang berbeda-beda dan dimonitor pemerintah daerah yang berbeda. Gogot menjelaskan, bahwa yang pertama terkait dengan konsep penyelenggaraan. SNT berada dalam satu ekosistem sehingga bakat, minat, dan potensi anak dari SMP ke SMA bisa diikuti secara berkelanjutan dikelola oleh satu direktur.
Sedangkan sekolah regular berbeda karena SMP dikelola oleh kabupaten kota, SMA dikelola oleh provinsi, sehingga monitoring dan perkembangan siswa dikelola atau dimonitor oleh pemerintah daerah yang berbeda. Setiap sekolah dipimpin oleh kepala sekolah yang berbeda-beda.

Selain itu, kurikulum yang nantinya digunakan dalam SNT adalah kurikulum nasional yang diperkaya dengan kompetensi global dan science, technology, engineering, dan mathematics (STEM), kesenian, serta olahraga. Gogot menyebut, siswa yang diharapkan masuk SNT adalah yang memiliki prestasi di kabupaten/kota masing-masing.
Gogot menambahkan, bahwa SNT akan mengembangkan tiga lapis kurikulum, yaitu kurikulum nasional sebagai fondasi, kurikulum kekhasan sekolah sebagai penguat, serta kurikulum berbasis konteks lokal sesuai karakteristik masing-masing daerah. Dengan demikian, setiap SNT akan memiliki keunggulan yang berbeda, seperti bidang pertanian, perikanan, koding dan kecerdasan artifisial, maupun potensi unggulan lainnya (detik.com).
Untuk memajukan pendidikan di Indonesia memang tidak mudah. Berbagai program dan wacana sudah dilaksanakan demi terwujudnya siswa berkualitas yang mampu bersaing dalam kehidupan global. Fasilitas pendidikan yang disediakan pemerintah hendaklah digunakan dengan sebaik-baiknya. Selain itu, para pendidik harus bisa menambah kemampuan atau skill mengajarnya sehingga proses belajar-mengajar di sekolah bisa berjalan dengan baik. Jika kualitas gurunya terjamin, maka akan lahir siswa-siswa yang berpestasi, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga Internasional. Semoga. (*)