Ayo Netizen

Potret Indonesia pada Awal Orde Baru dalam Kompas Edisi Akhir Juli 1970

Oleh: Kin Sanubary
Harian Kompas edisi 30 Juli 1970 memuat beragam peristiwa penting yang menggambarkan dinamika politik, ekonomi, dan kehidupan masyarakat Indonesia pada masa awal Orde Baru. (Sumber: Kompas edisi 30 Juli 1970 | Foto: koleksi Kin Sanubary)

Mengoleksi media cetak lawas bukan sekadar menyimpan tumpukan surat kabar atau majalah tua. Di balik setiap lembar yang berhasil diselamatkan, tersimpan rekaman autentik perjalanan sejarah yang merekam dinamika politik, ekonomi, sosial, budaya, hingga gaya hidup masyarakat pada masanya. Bagi para kolektor, surat kabar lama ibarat kapsul waktu yang memungkinkan generasi masa kini menengok kembali berbagai peristiwa penting melalui sudut pandang media pada zamannya.

Salah satu koleksi yang menarik adalah Harian Umum Kompas edisi Kamis, 30 Juli 1970. Terbitan yang kini telah berusia 56 tahun itu menjadi potret Indonesia pada awal pemerintahan Orde Baru, ketika kehidupan nasional masih berada dalam fase penataan pasca-pergantian rezim. Melalui delapan halamannya, pembaca dapat menelusuri bagaimana Kompas merekam dinamika politik, perkembangan ekonomi, hubungan internasional, hingga wajah hiburan masyarakat pada masa itu.

Didirikan pada 28 Juni 1965 oleh P.K. Ojong dan Jakob Oetama, Harian Umum Kompas lahir di tengah pergolakan politik nasional menjelang peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru. Berbekal moto "Amanat Hati Nurani Rakyat", Kompas sejak awal mengedepankan jurnalisme yang mengutamakan akurasi, kehati-hatian, dan independensi. Dalam perjalanan lebih dari enam dekade, Kompas berkembang menjadi salah satu surat kabar nasional paling berpengaruh sekaligus menjadi rujukan penting dalam sejarah pers Indonesia.

Salah satu arsip yang memperlihatkan karakter Kompas pada masa-masa awal adalah edisi 30 Juli 1970. Saat itu usia Kompas baru sekitar lima tahun, namun identitasnya sebagai surat kabar nasional yang serius sudah tampak melalui pilihan berita, tata letak, serta gaya penyajian yang khas.

Berbeda dengan surat kabar modern yang mengandalkan foto berukuran besar dan tata letak penuh warna, halaman muka Kompas kala itu masih didominasi kolom-kolom rapat dengan huruf timah khas era 1970-an. Foto hanya berfungsi sebagai pelengkap, sedangkan kekuatan utama terletak pada kedalaman berita dan kelengkapan informasi. Gaya penyajian tersebut mencerminkan filosofi jurnalisme masa itu, ketika masyarakat membeli surat kabar terutama untuk memperoleh informasi yang mendalam, bukan sekadar menikmati tampilan visual.

Headline utama pada edisi tersebut berbunyi:

"NU: Tindakan Kontrol Extra Parlementer Mutlak Perlu." Judul ini menggambarkan dinamika politik Indonesia pada awal pemerintahan Orde Baru. Hubungan antara pemerintah, parlemen, dan berbagai kekuatan politik masih berada dalam proses penyesuaian setelah pergolakan politik 1965. Berita itu mengulas pandangan Nahdlatul Ulama mengenai pentingnya pengawasan terhadap jalannya pemerintahan, bukan hanya melalui lembaga legislatif, tetapi juga oleh berbagai elemen masyarakat di luar parlemen. Isu mengenai demokrasi, mekanisme kontrol kekuasaan, dan kehidupan politik ternyata telah menjadi perhatian utama media nasional sejak masa itu.

Kolom "Bioskop Hari Ini" menjadi salah satu rubrik favorit pembaca karena menyajikan jadwal pemutaran film di berbagai bioskop, sekaligus merekam geliat dunia hiburan pada zamannya. (Sumber: Kompas edisi 30 Juli 1970 | Foto: koleksi Kin Sanubary)

Selain politik, halaman depan juga dipenuhi berbagai berita penting lainnya, antara lain Indonesia membeli 35.174 ton beras dari Jepang sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan nasional. Dari luar negeri, perhatian tertuju pada memanasnya situasi Timur Tengah setelah Republik Persatuan Arab membungkam dua Radio Komando Palestina. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Adam Malik meminta penjelasan mengenai perkembangan terbaru krisis Timur Tengah, menunjukkan aktifnya diplomasi Indonesia di panggung internasional. Berita ekonomi mengenai pajak bunga pinjaman, perkembangan produksi minyak lepas pantai, hingga laporan hukum, militer, dan sosial turut melengkapi wajah pemberitaan Kompas hari itu.

Menariknya, halaman-halaman Kompas tidak hanya menyajikan berita, tetapi juga merekam gaya hidup masyarakat Indonesia pada awal 1970-an.

Salah satu iklan yang paling mencuri perhatian adalah promosi film yang diputar Drive In Theater Jaya Ancol untuk jadwal pemutaran 31 Juli hingga 2 Agustus 1970. Bioskop terbuka yang baru diresmikan pada 11 Juli 1970 tersebut dikenal sebagai salah satu drive-in theater terbesar dan termodern di Asia Tenggara.

Film utama yang diputar adalah War Italian Style (Due Marines e un Generale), komedi perang produksi Italia yang dibintangi legenda film bisu Hollywood Buster Keaton bersama Franco Franchi, Ciccio Ingrassia, dan Martha Hyer. Berlatar Perang Dunia II, film ini menyuguhkan humor slapstick yang menghibur.

Film kedua adalah The Seven Dawn, sebuah film petualangan perang yang dibintangi William Holden, Susannah York, dan Capucine. Berbeda dengan film pertama, kisah ini menghadirkan nuansa yang lebih serius tentang perjuangan menjalankan misi berbahaya di tengah suasana perang.

Yang menarik, hanya dengan satu tiket penonton dapat menikmati dua film sekaligus. Pertunjukan berlangsung nonstop pukul 19.00 hingga 24.00 dengan harga tiket Rp325 untuk dewasa dan Rp200 bagi anak-anak. Konsep double feature seperti ini menjadi daya tarik utama bioskop drive-in yang saat itu tengah populer di berbagai negara.

Rubrik "Atjara TV-RI" juga menjadi catatan menarik. Pada 1970, TVRI masih menjadi satu-satunya stasiun televisi di Indonesia. Siaran dimulai pukul 18.05 dan berakhir sekitar pukul 23.12, atau hanya sekitar lima jam setiap hari.

Susunan acaranya memperlihatkan perpaduan fungsi pendidikan, informasi, agama, dan hiburan. Mulai dari Panorama Remadja, film, Qasidah, Mimbar Agama Islam, Pengajian Al-Quran, Siaran Berita, dokumenter ilmu pengetahuan, rubrik Karikatur Dalam Pers, berita olahraga, hingga serial mata-mata Amerika The Man from UNCLE yang saat itu sangat populer. Rangkaian acara tersebut memperlihatkan peran TVRI sebagai media pendidikan nasional sekaligus sumber hiburan utama masyarakat Indonesia.

Rubrik "Nonton di Mana?" menghadirkan gambaran kehidupan perfilman saat itu. Di Jakarta, layar lebar didominasi film-film Hong Kong dan Mandarin seperti Vengeance Is a Golden Blade, Lady General Hua Mu Lan, dan King of Kings, menunjukkan kuatnya pengaruh perfilman Asia pada masa tersebut.

Sementara di Bandung, pilihan film lebih beragam. Penonton dapat menyaksikan drama Hollywood Butterfield 8 yang dibintangi Elizabeth Taylor, film laga The Killer, Mad Mad Mad Swords, Hero of the Heroes, hingga berbagai film romantis Asia. Film-film tersebut diputar di bioskop-bioskop ternama seperti Pelangi, Parahiangan, Nusantara, Aneka, Dian, Siliwangi, Panti Budaya, Puspita, Kentjana, Dewi, dan Nirmala. Beberapa judul bahkan diputar serentak di sejumlah bioskop, menandakan tingginya minat masyarakat terhadap film-film populer pada masa itu.

Kompas edisi 30 Juli 1970 bukan sekadar lembaran surat kabar lama. Ia merupakan dokumen sejarah yang merekam denyut kehidupan Indonesia pada awal Orde Baru. Dinamika politik nasional, perkembangan ekonomi, hubungan internasional, hingga gaya hidup masyarakat perkotaan tersaji dalam satu edisi yang kini menjadi arsip berharga.

Terbit dalam delapan halaman dengan harga eceran Rp10, Kompas edisi 30 Juli 1970 menjadi saksi perjalanan bangsa sekaligus cermin kehidupan masyarakat Indonesia lebih dari setengah abad silam. Di dalamnya tersimpan nostalgia tentang masa ketika masyarakat menanti siaran TVRI setiap malam, memenuhi gedung bioskop sebagai hiburan utama, dan menjadikan surat kabar sebagai sumber informasi yang paling dipercaya.

Bagi para kolektor media cetak lawas, setiap lembar Kompas edisi ini memiliki nilai sejarah yang tak ternilai. Ia bukan hanya menyimpan berita, tetapi juga menghadirkan potret sebuah zaman. Lebih dari 56 tahun kemudian, halaman-halamannya tetap menjadi saksi bisu perjalanan bangsa sekaligus pengingat bahwa pers Indonesia telah memainkan peran penting dalam mendokumentasikan setiap babak sejarah negeri ini. (*)

Reporter Kin Sanubary
Editor Aris Abdulsalam