Ayo Netizen

Mengenang Acara Radio Favorit GANESHA IWAN FALS (GIF)

Oleh: Kin Sanubary
Sosok musisi legendaris Iwan Fals menghiasi berbagai halaman depan tabloid dan majalah musik populer sepanjang era 1990-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)

Nama Iwan Fals merupakan salah satu ikon terbesar dalam sejarah musik Indonesia. Lahir di Jakarta pada 3 September 1961 dengan nama Virgiawan Listanto, ia dikenal sebagai penyanyi, pencipta lagu, sekaligus penyair yang menghadirkan kritik sosial, potret kehidupan rakyat kecil, kisah cinta, hingga refleksi kemanusiaan melalui karya-karyanya. Dengan lirik yang jujur dan sederhana, Iwan Fals mampu menjangkau berbagai generasi dan membangun komunitas penggemar yang begitu kuat di seluruh Indonesia.

Pada era 1980-an hingga 1990-an, ketika internet dan media sosial belum dikenal, lagu-lagu Iwan Fals menyebar dari kaset, panggung konser, hingga gelombang radio. Salah satu media yang menjadi ruang pertemuan para penggemarnya di Bandung adalah Radio Ganesha melalui program legendaris Ganesha Iwan Fals (GIF).

Membuka kembali lembar demi lembar buku harian yang Kin Sanubary tulis pada awal dekade 1990-an, seolah membawa kembali ke sebuah masa ketika malam terasa lebih panjang dan radio menjadi sahabat paling setia.

Saat itu, belum ada media sosial, YouTube, atau layanan musik digital. Untuk mengetahui kabar terbaru tentang Bang Iwan, para penggemar rela menunggu berjam-jam di depan radio. Setiap informasi yang disampaikan penyiar menjadi sesuatu yang berharga dan langsung dicatat di buku harian.

Di Bandung, salah satu program yang paling dinantikan adalah Ganesha Iwan Fals (GIF) di Radio Ganesha AM 1170 kHz, Jalan Siliwangi No. 41. Dipandu oleh Denny GIF, acara ini mengudara setiap Rabu pukul 21.25 hingga tengah malam. Esok malamnya, Kamis, hadir Peta Perjalanan Iwan Fals pukul 21.25–22.00 WIB yang kemudian dilanjutkan Lagu Kenangan Iwan Fals hingga pukul 24.00 WIB.

Semua itu masih tersimpan rapi dalam buku harian yang Kin Sanubary tulis lebih dari tiga puluh tahun silam.

Salah satu catatan bertanggal Kamis, 9 Juli 1992 merekam siaran Peta Perjalanan Iwan Fals. Malam itu mengalun lagu-lagu Oemar Bakrie, Damai Kami Sepanjang Hari, Balada Pengangguran, Sebelum Kau Bosan, Gali Gongli (live), Kereta Tiba Pukul Berapa (live), hingga Buku Ini Aku Pinjam.

Di sela-sela lagu, Denny GIF mengenang penampilan Iwan Fals di Lapangan ITB pada 3 Agustus 1991. Dalam konser tersebut, Bang Iwan mengucapkan kalimat yang langsung Kin tulis di buku harian:

"Musik saya berasal dari jalanan."

Masih pada catatan yang sama, muncul nama Dede Haris yang dalam siaran 1 Juli 1992 diperkenalkan sebagai "Teman, Kakak, Suhu sekaligus Musuh." Beberapa hari kemudian, Pikiran Rakyat edisi Minggu, 5 Juli 1992 memuat foto Iwan Fals tampil rapi dan klimis saat menghadiri pernikahan Dede Haris, penampilan yang cukup berbeda dari sosok sederhananya yang selama ini dikenal masyarakat.

Lembar berikutnya bertanggal Rabu, 15 Juli 1992. Denny GIF bahkan sempat menyebut bahwa Kin Sanubary telah mengoleksi kliping Iwan Fals sejak tahun 1979. Sebuah kebanggaan kecil yang masih Kin ingat hingga hari ini.

Malam itu pendengar juga memperoleh informasi mengenai album Akhir Seorang Badut karya Sawung Jabo. Lagu-lagu yang diputar antara lain Di Mata Air Tak Ada Air Mata, Tinche Sukarti Binti Machmud, Willy, Berikan Pijar Matahari, Bencana Alam, Ibu, Esek-Esek Udug-Udug, Puing, Entah, dan Berapa.

Pada segmen Peta Perjalanan Iwan Fals, kembali diperdengarkan Berkacalah Jakarta, Pulang Kerja, Cikal, serta Semoga Kau Tak Tuli Tuhan. Pendengar juga dikenalkan kepada Grup KSR yang membawakan lagu-lagu Iwan Fals, diselingi 14484 dan Bernardetta karya Sawung Jabo bersama Sirkus Barock.

Momen kopi darat (kopdar) sesama pendengar Ganesha Iwan Fals (GIF) mempertemukan Kin Sanubary dan Kemal Ferdiansyah dalam semangat persaudaraan. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)

Catatan berikutnya berasal dari 23 Juli 1992. Saat itu GIF menghadirkan rubrik "Anda Bicara" yang membahas berbagai topik ringan, termasuk kelompok pengiring seperti Kembang Sepatu dan Amboeradoel. Lagu-lagu dari album Perjalanan seperti Perjalanan, Pemborong Jalan, Bencana Alam, Nak, dan Imitasi ikut mengalun menemani suasana malam di kota Bandung.

Acara tersebut juga memperkenalkan album pertama LHI (Lembaga Humor Indonesia) berjudul Opini, yang menjadikan lagu Perjalanan sebagai salah satu materi pembahasannya.

Yang menarik, Radio ITB 8EH saat itu juga disebut turut memutar album-album Iwan Fals yang beredar terbatas. Informasi mengenai alamat surat Bang Iwan di Jalan H. Ali, Condet, Jakarta Timur, hingga tanggal lahirnya menjadi catatan penting bagi para penggemar. Banyak di antara mereka yang menulis surat langsung ke Condet sebagai bentuk apresiasi dan dukungan.

Malam nostalgia semakin lengkap ketika mengudara lagu-lagu Ibu, Kembang Pete, dan Antara Aku, Kau dan Bekas Pacarku.

Seminggu kemudian, pada 22 Juli 1992, buku harian kembali mencatat lagu-lagu Siang Seberang Istana, Sore Tugu Pancoran, 140484, Senandung Istri Bromocorah, Nak, Siang Pelataran SD Sebuah Kampung,  Gali Gongli, dan Ibu.

Sementara itu, catatan 30 Juli 1992 dipenuhi karya-karya yang kini telah menjadi lagu klasik Iwan Fals, seperti Engkau Tetap Sahabatku, Berkacalah Jakarta, Pulang Kerja, Libur Kecil Kaum Kusam, Azan Subuh Masih di Telinga, Asmara Tak Secengeng yang Aku Kira, hingga Cikal.

Ada pula pembahasan menarik mengenai lagu Pesawat Tempurku, termasuk berbagai versi plesetan lirik yang beredar di kalangan penggemar. Fenomena tersebut memperlihatkan betapa kreatifnya komunitas OI dalam menghidupkan karya-karya Bang Iwan.

Acara Ganesha Iwan Fals juga menyuguhkan beragam informasi unik, mulai dari ulang tahun komunitas GIF, kabar konser Kantata Takwa, alamat Bang Iwan di Jalan H. Ali No. 59 Condet, hingga sosok Kang Eken yang dikenal sebagai asisten Iwan Fals.

Tak ketinggalan berbagai cerita yang beredar di kalangan penggemar, mulai dari kabar Bang Iwan akan pindah ke Cirebon, informasi mengenai kuliahnya di IISIP atau Sekolah Tinggi Publisistik (STP) hingga kisah bahwa sang ibu memanggilnya dengan nama kecil Tanto dan pada awalnya kurang setuju ketika putranya memilih jalan hidup sebagai musisi.

Kini, lebih dari tiga dekade telah berlalu.

Radio Ganesha mungkin telah tiada dan tak mengudara lagi, tetapi keberadaannya menjadi bagian dari sejarah penyiaran Kota Bandung. Namun, bagi kami yang pernah setia memutar kenop radio ke frekuensi AM 1170 setiap Rabu dan Kamis malam, Ganesha Iwan Fals (GIF) adalah sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar program musik.

Ia adalah ruang perjumpaan para penggemar. Tempat bertukar kabar, berbagi cerita, mengenal lebih dekat sosok Iwan Fals, sekaligus menjalin persaudaraan melalui lagu-lagu yang sarat makna.

Setiap kali membuka kembali buku harian itu, saya seperti kembali duduk di depan radio pada tahun 1992. Menunggu sapaan khas Denny GIF, mendengarkan suara gitar Bang Iwan mengalun dari balik speaker radio, lalu menuliskan setiap lagu, setiap cerita, dan setiap informasi ke dalam buku harian.

Hari ini, buku harian itu bukan lagi sekadar kumpulan catatan pribadi. Ia telah berubah menjadi sepotong dokumentasi kecil tentang bagaimana radio pernah menjadi pusat informasi, bagaimana persahabatan tumbuh lewat gelombang udara, dan bagaimana karya-karya Iwan Fals menyatukan ribuan pendengarnya dalam satu frekuensi, satu rasa, dan satu kenangan. (*)

Reporter Kin Sanubary
Editor Aris Abdulsalam