Ayo Netizen

Berita Yudha: Potret Sejarah dari Lembaran Surat Kabar Lawas

Oleh: Kin Sanubary
Surat kabar Berita Yudha, salah satu harian berpengaruh pada era Orde Baru yang diterbitkan oleh TNI Angkatan Darat. (Sumber: Koleksi: Kin Sanubary)

Ada kenikmatan tersendiri ketika membuka lembar demi lembar surat kabar lawas. Aroma kertas yang mulai menguning, tinta cetak yang memudar, serta tata letak yang padat seolah mengajak pembaca kembali ke zamannya. Bagi para kolektor surat kabar tua, setiap halaman bukan sekadar kumpulan berita, melainkan serpihan sejarah yang merekam denyut kehidupan bangsa.

Salah satu koleksi yang menarik untuk ditelusuri adalah Harian Berita Yudha. Lembaran koran yang kini telah berusia 56 tahun itu menjadi jendela untuk melihat wajah pers Indonesia pada awal era Orde Baru, ketika surat kabar masih menjadi sumber informasi utama masyarakat.

Di bagian paling atas halaman depan Berita Yudha terpampang slogan "Untuk Mempertinggi Ketahanan Perdjuangan Nasional Indonesia." Kalimat tersebut mencerminkan semangat yang diusung Berita Yudha, sebuah harian yang dikenal memiliki kedekatan dengan lingkungan Angkatan Darat. Nama Yudha sendiri dipilih oleh Jenderal Ahmad Yani. Dalam pengertiannya, yudha bukan sekadar berarti peperangan, melainkan perjuangan demi kepentingan bangsa dan negara.

Melihat halaman mukanya, pembaca langsung disuguhi karakter khas surat kabar era 1970-an. Hampir seluruh ruang dipenuhi kolom-kolom rapat, judul-judul besar, serta foto hitam putih sebagai pelengkap berita. Nyaris tidak ada ruang kosong. Berbeda dengan koran modern yang lebih lapang dan penuh warna, setiap sentimeter halaman dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi sebanyak mungkin.

Berita utama bertanggal 5 Agustus 1970, terbitan 56 tahun itu mengangkat isu administrasi negara dengan judul "Presiden Diduga Tak Luput dari Wajib Isi Daftar Rahasia." Isinya berkaitan dengan kewajiban penyampaian daftar kekayaan pejabat negara. Menariknya, isu transparansi penyelenggara negara ternyata telah menjadi perhatian sejak lebih dari setengah abad silam.

Di sisi kanan halaman terpampang berita kriminal bertajuk "Alat Negara Gulung Komplotan yang Menculik Direktur 'Bentul'" yang dilengkapi foto para tersangka. Penyajiannya memperlihatkan bagaimana media pada masa itu menonjolkan keberhasilan aparat keamanan dalam mengungkap kasus-kasus besar.

Berita Yudha juga memberi ruang cukup luas bagi perkembangan internasional. Di bagian bawah halaman terdapat laporan "Menelusuri Kegiatan Perang di Vietnam", konflik yang kala itu menjadi perhatian dunia. Pada halaman yang sama dimuat pula berita "Mesir Usir Diam-diam 15 Gerilyawan Palestina", menandakan bahwa dinamika Timur Tengah telah lama menjadi konsumsi pembaca Indonesia.

Di sela-sela berita utama hadir pula rubrik opini, berita singkat, dan beragam iklan yang memperkaya isi koran. Tata letak seperti ini menjadi ciri khas pers cetak pada zamannya, ketika bobot informasi lebih diutamakan daripada tampilan visual.

Menarik pula menengok kolom redaksi yang bukan sekadar memuat daftar nama, melainkan menggambarkan organisasi pers yang tertata rapi. Harian Berita Yudha diterbitkan oleh Jajasan Yudha Press yang berdiri sejak 9 Februari 1965.

Pada edisi ini, M. Nawawi Alif menjabat sebagai Pemimpin Redaksi sekaligus Penanggung Jawab. Ia didampingi para Wakil Pemimpin Redaksi, yakni Moh. Moedasir, H. Joso B. Soetjono, dan Winotoparartho. Dewan Redaksi diperkuat sejumlah tokoh beserta belasan anggota redaksi yang bertugas melakukan peliputan dan penyuntingan berita.

Tercantumnya nama wartawan foto Soe'aib Sj. menunjukkan bahwa dokumentasi visual telah menjadi bagian penting dalam penyajian berita. Kini, susunan redaksi tersebut menjadi bagian dari sejarah pers Indonesia sekaligus penghormatan kepada para insan media yang bekerja di balik setiap penerbitan Berita Yudha.

Halaman muka surat kabar Berita Yudha, edisi 5 Agustus 1970, yang kini telah berusia 56 tahun dan menjadi salah satu arsip berharga sejarah pers Indonesia. (Sumber: Koleksi: Kin Sanubary)

Salah satu kolom yang menarik perhatian adalah Kurs Valuta Asing (VA). Data yang bersumber dari Money Changer PT Sinar Irawan Jakarta mencatat kurs Dolar Amerika Serikat sebesar Rp379 (beli) dan Rp383 (jual).

Selain dolar AS, tercatat pula Poundsterling Inggris di kisaran Rp895–Rp905, Dolar Singapura Rp123–Rp124,50, Gulden Belanda Rp103–Rp105, Deutsche Mark Rp102–Rp105, serta Dolar Hong Kong Rp62,20–Rp63,20.

Angka-angka tersebut menjadi gambaran kondisi ekonomi Indonesia pada awal dekade 1970-an, ketika pemerintah Orde Baru berupaya menata kembali perekonomian nasional setelah melewati masa inflasi tinggi pada pertengahan 1960-an. Kini, nilai Rp383 untuk satu dolar Amerika Serikat menjadi penanda betapa panjang perjalanan nilai rupiah selama lebih dari setengah abad.

Halaman hiburan Berita Yudha menghadirkan nostalgia yang tak kalah menarik. Sebuah iklan besar mengumumkan pemutaran film Help! (1965), film musikal-komedi yang dibintangi grup legendaris The Beatles.

Pada awal Agustus 1970, masyarakat Jakarta mendapat kesempatan menyaksikan aksi John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr di layar lebar. Nama The Beatles ketika itu telah mendunia melalui lagu-lagu seperti Help!, Ticket to Ride, Yesterday, dan You've Got to Hide Your Love Away.

Iklan tersebut menyebutnya sebagai "film drama musikal yang luar biasa" dan "film yang paling menggemparkan dari vocal group musik pop yang paling termasyhur di seluruh penjuru dunia." Kalimat promosi itu mencerminkan besarnya gelombang Beatlemania yang melanda dunia pada dekade 1960-an.

Film Help! berkisah tentang Ringo Starr yang tanpa sengaja menjadi sasaran pengejaran sebuah sekte misterius karena mengenakan cincin sakral. Dari situlah petualangan penuh humor, aksi, dan musik dimulai.

Film ini diputar di tiga bioskop bergengsi Jakarta, yakni Star Theatre, Gloria Theatre, dan New Royal Theatre, dengan harga tiket berkisar Rp200 hingga Rp275. Jadwal pertunjukan yang mencapai tiga kali sehari menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap film tersebut.

Bagi pencinta sejarah media, halaman muka Berita Yudha lebih dari sekadar arsip pemberitaan. Dari selembar koran saja, kita dapat membaca denyut politik nasional, perkembangan ekonomi, dinamika internasional, dunia hiburan, hingga gaya jurnalistik yang berkembang pada masanya.

Pada era ketika televisi belum menjangkau seluruh pelosok negeri dan internet masih jauh dari bayangan, surat kabar menjadi jendela utama masyarakat untuk melihat dunia. Setiap pagi, lembaran koran hadir sebagai teman setia yang menghubungkan pembaca dengan berbagai peristiwa di dalam maupun luar negeri.

Kini, setelah 56 tahun berlalu, Berita Yudha tetap memiliki daya tarik yang kuat sebagai sumber sejarah. Ia bukan hanya menyimpan berita, tetapi juga memelihara memori kolektif bangsa. Membacanya hari ini serasa melakukan perjalanan waktu, kembali ke sebuah masa ketika setiap berita disusun dengan huruf timah, dicetak dengan penuh ketelitian, lalu menjadi bagian dari perjalanan panjang sejarah Indonesia.

Setiap lembar surat kabar lama bukan sekadar benda koleksi, melainkan kapsul waktu yang menyimpan cerita, gagasan, dan semangat zamannya. Melalui Berita Yudha, kita diajak memahami bahwa sejarah tidak hanya hidup di buku-buku, tetapi juga pada halaman-halaman surat kabar yang pernah hadir di tangan masyarakat dan menjadi saksi perjalanan bangsa. (*)

Reporter Kin Sanubary
Editor Aris Abdulsalam