Material dari peristiwa kebumian yang mengendap menjadi arsip bumi, karena kekhasannya, karena kemegahannya, kemudian oleh orang yang melihatnya, yang mengaguminya, dijadikan sebagai penanda kawasan. Ada kawasan di Jawa Barat yang tanahnya berwarna merah, misalnya, dinamailah Tanarara, Cibeureum. Atau dinamai Cikoneng, bila warna kuning lebih dominan dari warna merah. Kawasan yang berupa hamparan material letusan gunungapi tua yang selama jutaan atau ribu tahun dikukus panas bumi, sudah melapuk dan terubah, di Jawa Barat disebut cadas. Maka, kawasan itu dinamai Cicadas. Bila cadas yang terhampar luas, dinamai Cadasngampar. Kalau cadas yang tersingkap luas warnanya putih gading, dinamailah tempat itu Cibodas. Bila cadas itu ronabuminya lebih memanjang dari ketinggian bukit atau gunung sampai di kakinya, dinamailah tempat itu Cadaspanjang.
Di suatu tempat, ada pohon kiara yang sangat besar dan tua, sehingga pohonnya sudah miring, dinamilah tempat di sekitar pohon itu Kiaracondong. Ada pohon kiara yang di batangnya berlubang besar, dinamilah tempat di sekitar pohon itu Kiarakohok. Karena pohon kiara itu sangat rindang, lalu dijadikan tempat berteduh oleh yang berjalan melintasi pohon tersebut, karena ramai oleh orang-orang yang berjalan, dibuatlah warung di bawahnya, menjajakan makanan dan air minum. Dinamilah tempat di sekitar warung di bawah pohon itu Warungkiara.
Begitulah para pendahulu kita memberi nama tempat, sesuai dengan karakter buminya, sesuai dengan karakter hayatinya, dan sesuai dengan sosial budaya masyarakat yang ada di tempat itu.
Dalam tulisan ini akan diuraikan hubungan timbal-balik antara alam dengan manusia, dan sebaliknya, khususnya tentang nama-nama batuan atau tanah yang dijadikan toponim, yang dijadikan nama jenis makanan, dan ada juga nama jenis makanan yang dijadikan toponim, karena wujudnya dianggap menyerupai.
Di Kabupaten Cirebon, misalnya, ada nama geografis Desa Waléd di Kecamatan Waléd. Kata waléd berarti endapan lumpur yang dihanyutkan oleh air seperti sungai. Ronabumi Kecamatan Waléd yang datar dan berada di sekitar sungai, sehingga menjadi tempat mengendapnya lumpur dan material lainnya yang hanyut dari hulu sungai. Karena karakter buminya berupa endapan lumpur, kemudian tempat itu dinamai Waléd.
Ada nama geografis Cikeusik di Kabupaten Kuningan, di Kabupaten Majalengka, di Kabupaten Sumedang, di Kabupaten Tasikmalaya, dan di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Kata keusik dalam Bahasa Sunda sama artinya dengan pasir dalam bahasa Indonesia. Umumnya nama geografis Cikeusik berada di sekitar aliran sungai, atau di kawasan yang pernah tertimbun material letusan gunungapi pada masa lalu. Pasir yang terhampar tebal di Kawasan itu bisa berasal dari lahar letusan atau lahar hujan, atau dinding sungai yang tergerus banjir. Pasir dan bebatuannya dihanyutkan aliran sungai, kemudian mengendap di kawasan yang lebih datar di bagian hilir sungai. Endapan keusik atau pasir yang melimpah-ruah itu menjadi penanda kawasan, kemudian tempat itu dinamai Cikeusik.
Sama dengan makna keusik, dikenal juga istilah kikisik, yang berarti kawasan landai yang ditutupi keusik, ditutupi pasir. Toponim Kampung Kikisik ada di Desa Gunungsari, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya. Di kampung tersebut ada Pesantren Kikisik yang dipimpin oleh Ajengan Kikisik (KH Ahmad Sadili), yang sangat popular pada saat Gunung Galunggung Meletus tahun 1982-1983.
Dengan makna yang sama dengan keusik dan kikisik, di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, ada toponim Laladon. Toponim ini berasal dari kata la-du, kemudian menjadi la-la-du-an yang berarti pasir, endapan pasir. Kawasan yang banyak endapan pasirnya. Sangat mungkin pasir itu berasal dari longsoran dinding Gunung Salak pada saat terjadi gempabumi gempa besar. Material longsorannya terbawa hanyut sungai, mengendap di sepanjang sungai hingga Ciampea dan sekitarnya. Sekarang kawasan yang semula berupa endapan pasir itu menjadi Desa Laladon. Jenis dodol yang ditaburi sangrai tepung sebelum dibungkus, di Priangan dinamai ladu. Dodol serasa ada pasirnya saat dikunyah. Dalam literatur gunungapi awal, endapan awanpanas atau wedhusgembel itu dinamai ladu.
Cileutak, nama geografis yang diberikan pada kawasan yang semula berupa Kawasan dengan tanah lumpur atau leutak. Kawasan itu kemudian dikeringkan, dibuat saluran-saluran air, ditimbun, lalu berkembang menjadi perkampungan. Dinamailah Kampung Cileutak, seperti yang ada di Desa Gandasoli, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta. Di Jawa Timur, ada nama geografis Desa Lumpur di Kecamatan Gresik, kabupaten Gresik. Pada masa lalunya, kawasan ini didominasi endapan lumpur. Dalam kuliner di Jawa Barat, ada bumbu yang menyerupai leutak atau lumpur, dinamailah salad sayur bumbi kacangtanah itu dinamai lotek. Kue yang adonannya seperti lumpur, dinamai kue lumpur.
Ada kawasan yang berupa endapan tanah atau batuan yang sudah sedikit mengering, tapi masih seperti adonan kue, seperti adonan dodol yang sedang dalam proses diaduk-aduk dalam kuali besar. Dinamailah kawasan itu Cidodol, seperti yang ada di Kelurahan Grogol Selatan, Kecamatan Kebayoran Lama, DKI Jakarta. Di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, ada nama geografis Kecamatan Majenang. Tidak jauh berbeda dengan Cidodol, kawasan ini semula berupa endapan tanah yang menyerupai jenang atau dodol. Di Kabupaten Banyuwangi, ada toponim Watudodol, yang berupa ujung lava dari letusan gunung bawah laut.

Di Jawa Barat ada toponim Buahbatu di Kota Bandung dan di Kabupaten Bandung Barat, Cibatu di Kabupaten Garut, dan Kotabatu di Kabupaten Bogor. Ketiganya menggunakan kata batu, tapi makna katanya jauh berbeda. Toponim Buahbatu bukan berarti di kawasan itu banyak batu, tapi pada masa lalu di sana banyak ditanam pohon jambe atau pohon pinang atau pohon pucang, yang buahnya keras seperti batu. Buahbatu itu artinya sama dengan buah jambe atau buah pinang atau buah pucang, atau jebug. Sementara Cibatu dan Kotabatu, asal penamaannya karena memang di kawasan itu secara alami terdapat banyak batu dari letusan gunungapi.
Dari contoh toponim di atas dapat dikelompokan, pertama ada nama geografis yang terinspirasi keadaan alamnya yang berupa hamparan keusik, dinamailah Cikeusik. Kawasan yang berlumpur atau kawasan yang berupa leutak, dinamilah Cileutak, Waléd, atau Lumpur. Kedua, tanah atau batuan di suatu tempat yang menyerupai dodol yang lebih dahulu dikenalnya, dinamailah Cidodol, Watudodol. Tempat yang menyerupai jenang, dinamailah Majenang. (*)