Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam seluruh aspek kehidupan. Akses informasi menjadi lebih cepat, sistem pembelajaran pun semakin fleksibel, dan komunikasi akademik berlangsung tanpa batas ruang dan waktu. Kehidupan di kampus kini secara tidak langsung menuntut mahasiswa untuk terus berprestasi di banyak bidang sekaligus.
Mahasiswa saat ini dicitrakan sebagai individu yang tidak hanya datang ke kelas dan mengerjakan tugas, tetapi juga harus aktif mengikuti organisasi, magang, menambah aktivitas di luar kelas hingga melakukan beberapa proyek penelitian. Bahkan, sebagian ada yang membangun citra diri di media sosial dengan berkuliah sembari menjalani pekerjaan paruh waktu.
Di media sosial, hal ini sering dianggap sebagai mahasiswa yang produktif dan sukses. Fenomena seperti ini juga biasa dikenal sebagai hustle culture, yaitu kebiasaan untuk terus bekerja dan mengejar pencapaian tanpa henti. Budaya ini dipandang sebagai cara untuk menuju kesuksesan di tengah persaingan yang semakin ketat. Dan pastinya hal ini menjadi nilai yang diikuti oleh mahasiswa masa kini.
Produktif memiliki arti yang baik dengan mengajak mahasiswa untuk tidak menyia-nyiakan peluang. Namun, saat ini maknanya berubah menjadi tuntutan yang harus dilakukan. Media menggambarkan mahasiswa harus terus sibuk agar dianggap berhasil dan tidak tertinggal dari teman sebaya. Karena ketakutan tersebutlah mahasiswa menjadikan pilihan menjadi sebuah kewajiban.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Sistem Informasi TGD pada tahun 2026 menemukan bahwa 55% responden anak muda mengalami burnout akibat tekanan untuk terus produktif. Penelitian yang dilakukan oleh Simangunsong dan rekan-rekannya tersebut yang menunjukkan bahwa tuntutan untuk selalu produktif telah menjadi persoalan yang nyata. Pertanyaannya adalah, bagaimana dampaknya pada beban kerja mental mahasiswa? Budaya untuk harus selalu produktif di era digital perlu dimaknai kembali agar tidak menjadi beban psikologis seperti burnout.
Media Sosial dan Standar Kesibukan sebagai Tolak Ukur Kesuksesan?
Media sosial kini berisi pencapaian dan kesibukan orang lain yang menjadi algoritma mahasiswa saat membuka gawai mereka. Algoritma media sosial mendorong penggunanya untuk terus mengonsumsi konten secara berlebihan. Paparan konten yang serupa akan muncul berkali-kali dan tanpa disadari oleh pengguna.
Sebuah penelitian mengenai pengaruh media sosial terhadap perilaku mahasiswa yang dimuat di Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora pada tahun 2023 menjelaskan bahwa paparan konten berlebihan menjadikan mahasiswa memiliki ketakutan tersendiri sehingga muncul rasa ingin berlomba mengikuti standar sosial yang berlaku. Standar sosial yang berkembang kini menganggap kesibukan identik dengan kesuksesan. Hal tersebut membuat mahasiswa berpikir bahwa semakin tinggi nilai pada dirinya berasal dari jadwal kegiatan yang semakin padat jadwalnya.
Pengaruh lain dari algoritma yang tak terbatas ini mahasiswa mulai mengikuti standar media sosial dengan mengisi waktu untuk berbagai kegiatan tapi melupakan kapasitas diri sendiri. Pencapaian yang ditampakkan di media sosial memang tampak menarik, sehingga penonton seperti mahasiswa akan membandingkan diri dengan jumlah kegiatan yang dilakukan. Padahal produktif seharusnya bermakna menjaga kualitas pekerjaan dan kemampuan dalam menyelesaikan tugas dengan baik. Sehingga perbandingan diri sendiri akan jumlah aktivitas dengan media sosial tidak perlu dilakukan. Selain itu, apa yang tampak di media sosial pun sebenarnya tidak mencerminkan kondisi sebenarnya orang tersebut.

Ketika Produktif Berubah Menjadi Toxic Productivity
Sikap produktif pada dasarnya memiliki makna yang positif apabila dilakukan sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing individu. Namun, sikap tersebut dapat berubah menjadi toxic productivity ketika seseorang memaksakan diri untuk terus bekerja hingga menimbulkan beban mental.
Menurut artikel yang diterbitkan oleh Satu University mengenai burnout pada mahasiswa, kondisi beban mental ditandai dengan tiga komponen. Yang pertama adalah tuntutan yang terus menerus dan berkepanjangan mengenai tugas yang harus diselesaikan sehingga memunculkan kelelahan emosional. Lalu dilanjutkan dengan sikap sinis bahkan hilangnya minat terhadap perkuliahan atau yang biasa disebut depersonalisasi. Dengan dua hal tersebut jelas akan membuat penurunan capaian akademik karena perasaan tidak kompeten yang dialami oleh mahasiswa. Ketiga nilai tersebut ternyata juga muncul dalam penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Sistem Informasi TGD, Simangunsong dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa 55% anak muda mengalami burnout. Inilah yang menunjukkan toxic productivity benar adanya dan bukan hanya persoalan individu. Apalagi jika mahasiswa yang mengalaminya. Mahasiswa dituntut ganda dengan mengikuti kuliah sambil bekerja, mengikuti kuliah sambil mengikuti aktivitas organisasi. Sehingga burnout pada mahasiswa akan semakin besar terjadi akibat keinginan yang sempurna tetapi regulasi emosinya masih rendah.
Dampak Toxic Productivity pada Kesehatan Mental Mahasiswa
Gangguan kesehatan mental datang saat mahasiswa terus memaksakan diri belajar tanpa istirahat yang cukup. Gangguan mental ini tidak muncul tiba-tiba melainkan berkembang perlahan seiring berjalannya waktu. Kondisi ini dapat menurunkan konsentrasi dan produktivitas belajar. Karena beban kerja yang terus menerus dipaksakan, mahasiswa juga mengalami burnout yang berpotensi mengganggu kualitas tidur hingga menurunkan motivasi terhadap perkuliahan. Keinginan untuk menunda-nunda tugas pun menjadi beban akademik tersendiri. Maka dari itu mahasiswa perlu menyadari kapasitas diri akan beban kerja yang mereka paksakan sendiri. Jika beban kerja terlalu tinggi maka kesehatan mental akan terganggu.
Terdapat beberapa dampak dari toxic productivity ini dari sisi dunia kerja. Kecemasan akibat tuntutan yang berlebihan dapat menurunkan produktivitas kerja 20% hingga 30%. Para pekerja seringkali tidak memberikan batas antara waktu bekerja dan waktu istirahat dengan optimal akibat tekanan teknologi. Budaya produktivitas yang seharusnya menjadi cara untuk menuju sukses malah menjadi ancaman gangguan kesehatan mental mahasiswa. Gangguan cemas dan lelah yang dibiarkan berkepanjangan akan membuat seseorang menjadi sulit berpikir, dan terburu-buru dalam mengambil sebuah keputusan.
Memaknai Ulang Produktivitas yang Sehat
Dari berbagai persoalan di atas, produktivitas perlu dimaknai ulang dan digambarkan ulang di media secara sehat. Produktivitas bukanlah jumlah kegiatan yang dilakukan dalam sehari, tetapi produktivitas adalah hasil dari kualitas yang dicapai. Mahasiswa perlu mengerucutkan lagi prioritas yang akan diikuti, menyeleksi kegiatan-kegiatan yang sudah di luar kemampuan diri. Produktivitas harusnya fokus kepada kemampuan dalam mengatur waktu yang baik, di mana mahasiswa juga perlu mengatur regulasi emosi agar mampu menghadapi tekanan tanpa memaksakan diri berlebihan.
Dalam keadaan yang sudah terlanjur toxic untuk memaknai produktivitas, maka kampus perlu andil untuk menciptakan lingkungan belajar yang turut memperhatikan kesehatan mental mahasiswanya. Dengan begitu kampus dapat membantu mahasiswa agar jauh dari burnout. Pendekatan institusi seperti membuat sistem pembelajaran yang adaptif juga membantu mengurangi tekanan. Dan mahasiswa perlu membuat batas digital untuk agar tidak terpapar konten yang seakan menuntut harus memiliki banyak pekerjaan maupun kuliah sepanjang waktu. Mahasiswa perlu meluangkan waktu istirahat yang cukup, dan hobi yang dapat membantu memulihkan energi. Dengan begitu antara individu dan institusi dapat seimbang menjalani makna produktivitas secara sehat.

Dari uraian diatas dapat dilihat bagaimana hustle culture berdampak pada kesehatan mental mahasiswa. Padahal hustle culture pada awalnya untuk mendorong mahasiswa agar berkembang pada masa studinya. Tetapi seiring berjalannya waktu, jumlah kegiatan menjadi tolak ukur keberhasilan masa perkuliahan. Dan perlahan menjadi ancaman bagi kesehatan mental bagi yang menjalankannya. Beberapa data dan penelitian juga menunjukkan bahwa tuntutan yang berlebihan malah memicu burnout.
Selain burnout, kualitas dan prestasi akademik mahasiswa pun menjadi menurun. Mahasiswa yang sebelumnya berkembang secara optimal malah kehilangan energi untuk belajar dan berkarya karena tidak fokus pada kualitas.
Oleh karena itu, produktif harus dimaknai ulang sebagai proses untuk mengejar kualitas. Selain itu, mahasiswa harus memiliki ruang untuk beristirahat dan menentukan prioritas sesuai kapasitas masing-masing. Karena menggali dan mengenali diri sendiri juga sama pentingnya dengan mencapai target akademik. Dan institusi pendidikan juga perlu mendukung dengan membuat lingkungan belajar yang sehat secara psikologis. Dengan begitu, produktivitas tetap terjaga maknanya tanpa perlu mengorbankan kesehatan mental mahasiswa.