Ayo Netizen

Mengapa Bahasa Merek Berubah Saat Pindah ke Instagram?

Oleh: Sri Nadya Aliya Rifa
Ilustrasi masakan. (Sumber: Pexels | Foto: Airlangga Jati)

Amatan awal pada teknik penulisan yang digunakan di website resmi didominasi oleh diksi formal dengan nuansa korporat seperti “kegiatan sosial” dan “semangat berbagi”. Sementara itu. teknik penulisan yang digunakan pada Instagram berfokus pada kata kunci interaktif yang melibatkan publik seperti “dapur kriuk” dan “kelas memasak”.

Artikel yang bersifat sangat informatif mengenai detail pelaksanaan agenda program pada website resmi Unilever Indonesia terbukti menggunakan teknik berita langsung. Sebaliknya, pada media sosial Instagram menggunakan teknik penulisan dengan formula yang jauh lebih ringkas guna melengkapi kebutuhan konten publikasi visual.

Teknik penulisan pada artikel resmi sengaja dikemas dengan gaya bahasa formal, kaku, serta menyajikan data lengkap mengenai tujuan strategis dari program perusahaan. Namun, gaya bahasa santai diterapkan pada media Instagram guna menjaga konsisten nilai kebersamaannya tetap tersampaikan dengan baik pada publik.

(Sumber: Sri Nadya Aliya Rifa)

Menurut pendapat saya, perbedaan karakteristik tekstual di antara kedua media tersebut merupakan langkah adaptif yang sangat wajar dalam ekosistem komunikasi publik modern. Pihak praktisi humas perusahaan tampaknya sadar bahwa karakteristik pembaca teks artikel di website sangat berbeda jauh dengan audiens konten media sosial. 

Adapun keberhasilan penyampaian pesan yang harmonis ini membuktikan bahwa manajemen komunikasi yang terencana dengan matang dapat meminimalkan risiko terjadinya bias informasi perusahaan. Konsistensi nilai yang terjaga dengan baik pada akhirnya akan menumbuhkan rasa percaya serta loyalitas yang kuat dari konsumen terhadap merek tersebut.

Melalui pendekatan tulisan yang berbeda ini, perusahaan dinilai mampu menyentuh berbagai lapisan masyarakat secara tepat sasaran tanpa kehilangan substansi utama kampanye. Target audiens dari kalangan profesional dapat teredukasi lewat artikel website, sedangkan masyarakat umum dapat merespons pesan humas melalui interaksi media sosial. 

Pentingnya pengelolaan opini publik yang strategis dalam dunia humas secara teoritis ini selaras dengan efektivitasnya penulisan pesan yang berkelanjutan. Praktisi Public Relations juga tidak lepas dari tuntutan untuk adaptif dalam menulis agar pesan program yang disampaikan dapat diterima baik oleh masyarakat.

Studi tentang strategi penyelarasan dalam komunikasi korporat menegaskan bahwa konsistensi lintas kanal merupakan faktor utama dalam pembentukan reputasi jangka panjang (Hallahan, 2007, dalam Abdurrahman, 2026). Teori tersebut memperjelas bahwa keragaman pesan kebahasaan yang disebarkan lewat berbagai media penyiaran menjadi fondasi penting bagi keberhasilan komunikasi sebuah organisasi. 

Teori Hallahan dalam Abdurrahman dan konsistensi teks publikasi Royco ini memiliki hubungan erat yang membuktikan bahwa manajemen komunikasi digital perusahaan sudah berjalan sangat efektif. Penilaian objektif tersebut didasarkan pada keselarasan esensi pesan utama yang tidak mengalami bias makna meskipun disebarluaskan melalui medium kontras. (*)

Referensi

  • Abdurrahman, M. S. (2026). Digital Public Relations Writing: Relevansi Kemampuan Menulis di Era AI. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Reporter Sri Nadya Aliya Rifa
Editor Aris Abdulsalam