Ayo Netizen

Cibeulah, Rekahan Tanah Akibat Gempa Bumi yang Menyimpan Cerita

Oleh: T Bachtiar
Rumah warga yang terdampak gempabumi dengan kekuatan (M) 6,7 pada tanggal 14 Januari 2022, di Kabupaten Pandeglang, Banten. (Sumber: BNPB)

Nenek moyang yang tinggal di Jawa Barat, sudah menyadari dan mengalami gempa bumi yang berulangkali. Masyarakat menyebutnya lini. Karena seringnya merasakan gempa bumi, sehingga ketika ada penyakit yang saat itu tidak dikenali istilah kedokterannya, masyarakat menamainya lilinieun. Getaran seperti yang sedang digoyang gempa bumi atau lini, terjadi tremor di tangan karena parkinson.

Peristiwa gempa bumi dicatat hari dan waktu kejadiannya dalam paririmbon, tapi tidak dicatat kapan terjadinya. Demikian juga bila gempa bumi terjadi pada saat ada ibu hamil di rumah, ia merasakan guncangan, maka ibu hamil itu harus segera masuk ke kolong ranjang. Setelah gempa berlalu, perutnya harus segera disembur air do’a.

Beberapa kata dalam bahasa Sunda yang berhubungan dengan kejadian lini atau gempa bumi, seperti: riyeg, berarti hentakan awal yang singkat dari gempa bumi. Biasanya setelah ngariyeg, setelah hentak goyang ini akan disusul oleh goyangan berikutnya, sehingga rumah akan inggeung. Inggeung berarti bergoyang lebih lama dari pada riyeg, dengan penyebab yang sama karena ada gempa bumi di kawasan itu.

Bila sedang berada di dalam rumah, penghuninya akan merasakan rumahnya inggeung. Ada juga kata eundeur, yang artinya sama dengan inggeung, bergoyang karena ada gempa bumi tapi lebih besar goyangannya, dan terdengar suara gemuruh.

Tempat yang sering atau pernah digoyang gempa bumi besar, dan penduduk di kawasan itu merasakan rumah atau tanah yang dipijaknya eundeur, digoyang gempa bumi yang kuat, maka penduduk di sana menamai kawasan itu Cieundeur. Dalam perkembangannya, kawasan itu banyak dihuni, menjadi Desa Cieundeur di Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur.

Di segmen barat Patahan Lembang ada toponim Kampung Muril, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, dan di segmen timur ada Kampung Gadogmuril di Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung Barat. Penduduk di dua kampung itu pernah merasakan gempa bumi yang kuat, sehingga merasakam pusing, mual.

Perasaan amat pusing dan mual akibat gempa bumi itu, oleh masyarakat setempat dianalogikan seperti uril, puril, dan kata kerjanya muril. Seperti drat baud, drat mur yang memutar, seperti uril, seperti alur-alur sekrup.

Dan ada toponim Kampung Cibeulah di Desa Mekarluyu, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Di Kabupaten Sumedang, ada Kampung Cibeulah di Desa Darmaraja, Kecamatan Darmaraja.

Di Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur, ada toponim Kampung Cibeulah yang masuk ke dalam Desa Mujul. Dan, di Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten, ada toponim Kampung Cibeulah di Desa Munjul.

Dalam Bahasa Sunda dan Banten, beulah berarti belah. Dalam kaitan ini, adalah tanah belah yang memanjang dengan rekahan yang lebar, sehingga menjadi penanda pada saat pascagempa. Itulah yang menyebabkan nama kampung ini diberi nama Kampung Cibeulah.

Umumnya, di daerah-daerah yang oleh nenek moyangnya dinamai Kampung Muril, Cieundeur, Cibeulah, warganya sendiri tidak mengetahui bahwa daerahnya pernah diguncang gempa bumi hingga menyebabkan pusing dan mual, bergoyang, dan ada daerah yang retak, rekah memanjang. Ada jarak yang sangat lebar, sehingga pengetahuan itu tidak diturunkan secara berkesinambungan.

Nenek moyang tidak mencatat peristiwa gempa bumi itu, namun mereka memberi nama. Sayangnya, seringkali pengetahuan itu terputus, sehingga penghuni kawasan berikutnya tidak mengetahui bahwa daerahnya pernah diguncang gempa bumi yang memporak-porandakan perkampungan.

Kesadaran itu ada setelah terjadi gempa bumi. Ketika Kampung Muril diguncang gempa bumi pada tangga 29 Agustus 2011, walau dengan kekuatan kecil, yaitu M 3,3, namun dapat merontokkan atap, sudut rumah, dan dinding rumah.

Begitu juga dengan Kampung Cibeulah di Pandeglang, Banten. Setelah terjadi gempa bumi pada tanggal 14 Januari 2022 dengan M 6,6 yang memporak-porandakan bangunan, baru disadarkan, mengapa nenek moyangnya dulu memberi nama Kawasan itu Cibeulah.

Dalam gempa bumi, tanah beulah itu berarti tanah belah di permukaan. Tanah belah terjadi sebagai dampak dari akumulasi tekanan, tegangan, yang dilepaskan secara mendadak. Terjadinya akumulasi tekanan, tegangan karena pergerakan lempeng tektonik terjadi terus-menerus, dan bergesekan setiap saat. Sedangkan geometri batuan pada bidang kontak di sepanjang antar lempeng, tingkat kekasarannya sangat besar, sehingga terjadi saling mengait yang menghambat laju geser. Inilah yang menjadi penghambat daya luncur lempeng hingga tertahan atau terkunci. Akibatnya, tekanan dan regangan akan terkumpul di area penguncian selama “ratusan” tahun.

Batuan yang terkunci itu akan mengalami tekanan dan regangan yang terus-menerus. Bila tekanannya melampaui batas kekuatan maksimum batuan, maka batuan itu tidak akan sanggup lagi menahan beban tekanan dan regangan. Batuan itu akan patah atau pecah secara mendadak. Lokasi patahnya berada di titik bawah tanah yang disebut hiposentrum.

Patahnya batuan itu akan melepaskan energi berupa gelombang gempa bumi, yang akan menjalar dengan kecepatan tinggi melalui jalur retakan di bawah tanah. Rambat gelombangnya akan terus ke permukaan berupa guncangan dan rekahan yang memanjang. Keadaan inilah yang oleh penduduk ditandai dengan menamai tempat itu Cibeulah.

Bila terjadi gempa bumi, bangunan yang dibangun memotong garis patahan, seperti: jalan raya, jalan tol, jembatan, rel kereta api, pipa air, pipa minyak dan gas bumi, pipa panas bumi, kabel listrik, akan mengalami patah struktur.

Para leluhur sudah memberi nama geografis yang sesuai dengan peristiwa bumi. Toponim menjadi penanda, satu di antaranya untuk kewaspadaan dari ancaman bencana alam, dengan melakukan mitigasi. Semoga selamatlah alam semesta! (*)

Reporter T Bachtiar
Editor Aris Abdulsalam