Ayo Netizen

Musuh Tersembunyi: Mikroplastik dalam Makanan Dapur

Oleh: Carel Ahmad Riaqi
Ilustrasi sayuran berbungkus plastik. (Sumber: Pexels | Foto: Deon Black)

Kita semua pasti punya talenan plastik yang kita pakai untuk memotong daging atau sayuran saat kita ingin memasak sesuatu di dapur rumah kita. Mungkin kita tidak terlalu memikirkan atau peduli terhadap dampak dari memotong daging atau sayuran kita di atas talenan plastik tersebut.

Ternyata, menurut penelitian dari National Library of Medicine pada tahun 2023 menunjukkan bahwa talenan plastik yang kita pakai untuk wadah memotong makanan kita adalah sumber mikroplastik yang berpotensi signifikan dalam makanan manusia. Memotong di atas talenan polietilena (bahan dari talenan plastik umum) dikaitkan dengan pelepasan mikroplastik yang lebih banyak saat memotong sayuran (misalnya, wortel) dibandingkan saat memotong tanpa wortel.

Lalu, menurut penelitian Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics pada tahun  (2025) menyebutkan bahwa partikel plastik semakin sering terdeteksi pada makanan. Hal tersebut tentunya menimbulkan kekhawatiran mengenai paparan mikroplastik melalui makanan yang kita konsumsi sehari-hari yang berpotensi untuk berdampak buruk pada kesehatan kita. 

Apa itu Mikroplastik? Dimana Mikroplastik Bisa Kita Temukan Sehari-hari?

Tetapi, sebelum kita mendalami tentang mikroplastik lebih lanjut, kita harus mengerti apa itu mikroplastik sebelumnya. Mikroplastik secara umum, adalah partikel plastik yang berukuran tidak lebih dari 5 milimeter. Karena ukurannya yang sangat kecil, bahkan terkadang tidak terlihat kasat mata sehingga kita seringkali mengabaikannya.

Kita bisa menemukan mikroplastik dari serat mikro dari pakaian berbahan sintetis (polyester, nylon atau acrylic), kantong plastik yang sering rumah tangga pakai dan bahkan botol air dan kemasan makan. Tetapi untuk saat ini, kita akan berfokus kepada mikroplastik yang ditemukan dalam makanan dan minuman yang kita konsumsi di dalam keseharian kita.

Menurut sebuah buku dari hasil penelitian pada tahun 2018, Indonesia merupakan pelaku pembuang plastik ke laut terbesar di dunia setelah Cina, dengan besaran 0,48 – 1,29 juta metrik ton plastik/tahun. Sampah yang dibuang ke laut tersebut bukan hanya memengaruhi kehidupan di dalam laut, tetapi juga kehidupan yang memanfaatkan kehidupan lautan tersebut.

Penelitian yang dilakukan oleh Ministry of Food and Drug Safety di tahun 2020, menunjukkan bahwa akumulasi mikroplastik terjadi di pantai, lautan, tanah dan sedimen, serta sistem perairan tawar. Bahkan, tanpa pencemaran juga, kita masih bisa terpapar mikroplastik dari peralatan dapur yang kita pakai yang berbahan dari plastik. Seperti, talenan plastik yang sudah disebutkan sebelumnya, teflon anti-lengket, wadah dan peralatan makanan yang kita bawa ke sekolah atau tempat kerja, dan bahkan kantong teh yang kita seduh yang berpotensi untuk melepaskan mikroplastik polipropilena.

Semua yang sudah disebutkan merupakan sumber pelepasan mikroplastik yang banyak orang masih abaikan dan bahkan tidak tahu tentang paparan nya. Sebuah buku yang berjudul ‘Journal of Hazardous Material Letters’ yang diunggah pada tahun 2020 menunjukkan bahwa kita sebagai manusia, mengonsumsi sekitar 0,1 sampai dengan 5 gram plastik tiap minggunya.  

Pada umumnya, mikroplastik masuk ke dalam tubuh manusia melalui 3 jalur utama, yaitu ingesti (melalui makanan dan air), inhalasi (udara dalam dan luar ruangan), serta kontak kulit (melalui produk perawatan diri, debu, dan tekstil pakaian). Paparan Mikroplastik pada tubuh manusia terutama terjadi melalui ingesti makanan dan minuman, termasuk bahan pangan pokok seperti ikan, buah-buahan dan sayuran, daging, serealia dan kacang-kacangan, serta air. Mikroplastik berpotensi untuk menyebabkan dampak buruk pada kesehatan kita, dimulai dari peradangan di dalam tubuh manusia. Beberapa jenis partikel polistirena bisa menyebabkan peradangan pada sel paru-paru manusia.

Ilustrasi sampah botol plastik. (Sumber: Unsplash | Foto: Engin Akyurt)

Selain itu, mikroplastik bisa menyebabkan meningkatnya stres oksidatif. Stres oksidatif merupakan suatu kondisi dimana jumlah radikal bebas meningkat di dalam tubuh, sehingga mengganggu sistem kekebalan tubuh. Pada beberapa jenis sel, paparan mikroplastik bahkan dapat mengganggu fungsi organel dan menyebabkan kematian sel terprogram yang biasanya disebut ‘apoptosis’. Metabolisme tubuh juga tentunya bisa terganggu, misalnya nanopartikel polistirena dapat mengganggu fungsi sel pernapasan dan mengganggu saluran ion yang mengatur pergerakan mineral dan cairan di dalam sel. 

Strategi yang Bisa Coba di Implementasi Untuk Meminimalisasi Konsumsi Mikroplastik

Sesudah kita memahami dari pengertian mikroplastik, sumbernya, caranya masuk ke dalam tubuh kita, sampai dengan dampaknya ke kehidupan sehari-hari kita, kita juga tentu memikirkan bagaimana cara meminimalisasi konsumsi mikroplastik. Dari pihak penelitian Department of Environmental Science, The University of Arizona pada tahun 2025, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan mikroplastik melalui makanan.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengurangi penggunaan peralatan makan dan memasak berbahan plastik, terutama peralatan yang sering mengalami gesekan atau terkena panas. Talenan plastik, misalnya, dapat mengalami pengikisan ketika digunakan berulang kali untuk memotong makanan. Kondisi tersebut dapat membuat partikel plastik terlepas dan kemudian bercampur dengan makanan. Mengganti talenan plastik dengan talenan berbahan kayu atau bahan lain yang lebih tahan terhadap gesekan dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi sumber mikroplastik secara langsung di dapur.

Selain mengganti peralatan dapur, cara penyimpanan dan pemanasan makanan juga perlu diperhatikan. Makanan atau minuman yang masih panas sebaiknya tidak langsung dimasukkan ke dalam wadah plastik, terutama jika wadah tersebut tidak dirancang untuk penggunaan pada suhu tinggi. Panas dapat memengaruhi struktur beberapa jenis plastik dan meningkatkan kemungkinan pelepasan partikel ke dalam makanan atau minuman.

Penggunaan wadah berbahan kaca atau stainless steel dapat menjadi alternatif untuk menyimpan makanan dan minuman, terutama ketika makanan masih dalam keadaan panas. Langkah sederhana tersebut dapat mengurangi kontak langsung antara makanan dengan material plastik dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan botol air minum yang dapat digunakan kembali juga dapat menjadi salah satu pilihan.

Namun, jenis material dan kondisi botol tetap perlu diperhatikan, karena botol plastik yang sudah tergores, rusak, atau digunakan dalam waktu yang sangat lama berpotensi mengalami pelepasan partikel akibat penggunaan berulang. Karena itu, memilih wadah yang sesuai dan menggantinya ketika kondisinya sudah rusak dapat membantu mengurangi potensi paparan. Hal yang sama juga berlaku pada kemasan makanan sekali pakai. Mengurangi penggunaan wadah plastik sekali pakai dapat mengurangi jumlah plastik yang bersentuhan langsung dengan makanan sekaligus mengurangi jumlah limbah plastik yang berpotensi menjadi mikroplastik di lingkungan.

Langkah lain yang tidak kalah penting adalah mengurangi penggunaan produk plastik sekali pakai. Kantong plastik, sedotan, gelas plastik, dan berbagai kemasan sekali pakai sering digunakan hanya dalam waktu singkat, tetapi limbahnya dapat bertahan jauh lebih lama di lingkungan.

Menurut Prata dkk. (2019), pengendalian pencemaran plastik perlu dilakukan sejak sumbernya. Pengurangan penggunaan plastik, penggunaan kembali produk, serta peningkatan daur ulang dapat membantu mengurangi jumlah plastik yang berakhir sebagai limbah. Ketika jumlah plastik yang masuk ke lingkungan dapat dikurangi, peluang plastik tersebut mengalami kerusakan dan berubah menjadi mikroplastik juga dapat ditekan. Upaya tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab individu. Produsen dan pemerintah juga memiliki peran penting dalam mengurangi paparan mikroplastik. Produsen dapat mengembangkan produk dengan material yang lebih aman dan mengurangi penggunaan plastik yang tidak diperlukan. Pemerintah dapat membuat kebijakan yang membatasi penggunaan plastik sekali pakai sekaligus memperbaiki sistem pengelolaan sampah.

Sementara itu, masyarakat juga dapat berkontribusi melalui perubahan kebiasaan sehari-hari, seperti mengurangi penggunaan plastik, menggunakan kembali barang yang masih layak, memilah sampah, dan memilih produk dengan kemasan yang lebih sedikit. 

Pada akhirnya, kita memang belum dapat sepenuhnya menghindari mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari karena partikel tersebut sudah ditemukan di berbagai lingkungan dan sumber makanan sehingga paparan dapat terjadi tanpa kita sadari. Namun, hal tersebut tidak berarti kita tidak dapat melakukan apa pun. Memerhatikan peralatan yang digunakan untuk mengolah makanan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilih wadah penyimpanan yang sesuai, serta mengelola sampah dengan baik merupakan beberapa langkah yang dapat dilakukan mulai dari rumah.

Perubahan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat membantu mengurangi salah satu sumber paparan mikroplastik yang berasal dari aktivitas sehari-hari. Ketika semakin banyak orang memahami sumber dan risiko mikroplastik, keputusan kecil dalam memilih, menggunakan, dan membuang produk plastik dapat menjadi bagian dari upaya yang lebih besar untuk mengurangi paparan mikroplastik dalam kehidupan manusia. (*)

Reporter Carel Ahmad Riaqi
Editor Aris Abdulsalam