Ayo Netizen

DAMRI Leuwi Panjang—Cibiru: Antara Antusiasme Penumpang dan Berbagi Jatah dengan Angkot

Oleh: Dias Ashari
Antusiasme Pengguna DAMRI tidak sebanding dengan armada dan waktu yang disediakan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

DAMRI cukup menjadi pilihan transportasi banyak masyarakat terutama untuk kalangan pelajar dan mahasiswa. Hal ini tentu bukan tanpa sebab, selain murah DAMRI juga menjadi transportasi umum yang memiliki trayek yang cukup panjang sehingga penumpang tidak perlu ganti jurusan secara berulang. Untuk harga Rp.4000 secara umum dan pelajar Rp.2000 fasilitas yang dimiliki DAMRI juga cukup worth it karena disediakan tempat duduk yang nyaman juga ada tamabahan AC.

Sebagai pengguna DAMRI yang cukup lama menurut saya kekurangan dari moda transportasi ini hanya pada jumlah armada dan rentang waktu keberangkatannya saja yang masih kurang. Sehingga pada jam tertentu DAMRI bisa mengangkut penumpang secara overload dan dampaknya banyak dari penumpang yang tidak mendapat tempat duduk. Beruntung jika jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh tapi jika dari ujung halte ke halte maka dapat dipastikan kaki akan terasa pegal. Namun sejauh pengalaman saya menggunakan DAMRI tidak ada secara langsung penumpang yang menyampaikan keluhan tersebut kepada pengemudi. Menurut saya mungkin hal ini wajar terjadi karena memang DAMRI sudah menyediakan transportasi dengan harga yang sangat ramah dengan kantong mahasiswa juga pelajar serta masyarakat secara luas.

Permasalahan lainnya dari DAMRI adalah jam operasional yang singkat terutama untuk trayek Cibiru-Cibereum yang biasa saya gunakan. Setahu saya DAMRI dengan trayek ini beroperasi pada jam 06:00 hingga 15:30. Waktu yang sangat sempit karena menurut saya kawasan seokarno hatta dipenuhi oleh pekerja dan pelajar serta mahasiswa yang tentunya sangat membutuhkan moda transportasi ini.

"Pak kalau DAMRI biasa sampai jam berapa ya," ucap seorang penumpang.

"Sampai jam 15:30 bu," jawab kondektur.

"Kenapa pak ga sampai malam aja? Pasti masih banyak kok penumpangnya," tanya kembali seorang penumpang.

"Gak bisa bu itu udah jatah angkot nanti kalau maksain bisa jadi masalah," jawab kondektur kembali.

Lewat percakapan yang tak sengaja terdengar saya jadi makin yakin bahwa regulasi transportasi khususnya di Kota Bandung memang belum berjalan dengan sangat baik. Masih banyak tumpang-tindih antara rute, jam operasional hingga seolah terjadi pembagian yang tidak tertulis tapi dijalankan secara kesepakatan yang seolah dipaksakan. Melalui fenomena ini kita jadi bisa melihat bahwa pihak satu bisa menjadi penguasa atau lebih dominan dari pihak lain hanya karena takut tidak mendapatkan penumpang. Padahal menurut saya jika satu moda transportasi menyediakan fasilitas yang sangat memadai dan memiliki pelayanan yang baik maka penumpang juga bisa memilih dan memprioritaskan semua moda transportasi sesuai dengan kebutuhannya.

Antusiasme penumpang DAMRI yang tinggi semoga bisa menjadi evaluasi bagi kebijakan transportasi yang ada di Bandung. Hal ini supaya setiap bus DAMRI tidak mengalami kondisi overload yang khawatirnya jadi memicu terciptanya kesempatan pelecehan seksual oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Mengingat semakin tingginya jumlah penumpang maka semakin berdesakan dan berdempetan antara satu penumpang dengan penumpang lain karena sejauh ini masih belum ada pemisahan antara penumpang laki-laki dan perempuan. Dan bahkan untuk para penumpang laki-laki pun tidak seharusnya berdempetan mengingat di zaman ini pelecehan terhadap laki-laki juga sudah mulai banyak terjadi karena beberapa kasus LGBT yang makin dinormalisasi pada sebagian kalangan masyarakat.

Dilansir dari website asuransiastra.com bahwa kendaraan yang overload dapat memicu bahaya dan masalah yang serius untuk kondisi kendaraan yaitu, kerusakan pada sistem tranmisi dan keadaan ini dapat mengakibatkan kehausan yang lebih cepat pada komponen dan mengurangi umur kendaraan. Kelebihan muatan juga dapat menggangu keseimbangan atau stabilitas dan mengurangi kemampuan pengemudi untuk mengendalikan kendaraan dengan baik. Saat melebihi kapasitas maksimum yang di standarkan kepada kendaraan maka bisa saja stabilitas dan manuverabilitas kendaraan akan terganggu sehingga bisa menyebabkan hilangnya kendali, kesulitan dalam mempertahankan lajur atau bisa saja terguling. Risiko kecelakaan juga dapat meningkat karena jarak pengereman yang lebih lama dan respon pengemudi yang terhambat. (*)

Reporter Dias Ashari
Editor Aris Abdulsalam