Ayo Netizen

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Oleh: Kinesha Millie Halim
Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)

Pernahkah merasa uang kita cepat habis, padahal rasanya tidak membeli banyak barang? Salah satu penyebabnya adalah semakin praktisnya pembayaran yang dapat kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kini, masyarakat mulai menggunakan metode pembayaran digital seperti QRIS, dompet digital, hingga layanan mobile banking. Saat ini, hampir semua tempat usaha telah menyediakan fasilitas pembayaran melalui QRIS, mulai dari toko besar hingga warung kecil. Bank Indonesia melaporkan bahwa pada semester pertama tahun 2025, volume transaksi melalui QRIS telah mencapai 6,05 miliar transaksi.

Tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa pembayaran digital telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat Indonesia. Kemudahan ini sayangnya sering kali membuat seseorang tidak menyadari besarnya uang yang telah dikeluarkan. Setiap pengeluaran juga terasa bernilai kecil karena proses transaksinya yang sangat mudah dan praktis. Akibatnya, banyak orang baru menyadari bahwa total pengeluaran mereka cukup besar setelah memeriksa saldo yang tersisa. Kemudahan dalam bertransaksi ini pada akhirnya dapat mendorong masyarakat untuk bersikap semakin konsumtif.

Situasi ini diperburuk oleh rasa takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO) dan perkembangan media sosial yang semakin memengaruhi keputusan pembelian masyarakat. Akibatnya, perilaku konsumtif masyarakat pun semakin meningkat karena keputusan pembelian sering kali didasarkan pada dorongan sesaat, bukan pada kebutuhan yang sebenarnya. Selain itu, proses pembayaran yang serba cepat dan instan dapat mengurangi pertimbangan seseorang sebelum melakukan pembelian. Seluruh kemudahan bertransaksi di era digital ini justru membuat pengelolaan keuangan pribadi menjadi tidak terkontrol.

Fear of Missing Out dan Pengaruh Media Sosial

Salah satu faktor yang sangat memengaruhi pengeluaran masyarakat adalah media sosial dan fenomena fear of missing out (FoMO). Dalam media sosial, banyak influencer yang membagikan review, rekomendasi, maupun promosi suatu produk melalui konten mereka yang kemudian menarik perhatian banyak orang. Ketika sebuah produk sedang ramai diperbincangkan, banyak orang terdorong untuk ikut memiliki produk tersebut karena takut merasa tertinggal dari tren yang sedang berlangsung. Fenomena tersebut sering kali mendorong terjadinya impulse buying, yaitu pembelian yang dilakukan secara spontan tanpa melalui pertimbangan yang matang. Banyak konsumen akhirnya membeli suatu produk bukan karena benar-benar membutuhkannya, melainkan karena produk tersebut sedang populer dan banyak dimiliki oleh orang lain.

Salah satu contoh yang sempat menjadi tren adalah boneka Labubu. Ketika popularitasnya meningkat, banyak orang rela mengantre untuk membeli produk tersebut karena hampir semua orang membicarakan dan memilikinya. Namun, setelah tren tersebut mereda, minat masyarakat terhadap Labubu juga ikut menurun dan bahkan beberapa orang memilih untuk menjual kembali koleksi mereka. Fenomena ini menunjukkan bahwa FoMO dapat memengaruhi keputusan pembelian sehingga seseorang cenderung membeli suatu barang berdasarkan tren sesaat tanpa mempertimbangkan kebutuhan yang sebenarnya.

Menunda Kepuasan Sesaat melalui Delayed Gratification

Tanpa punya rupiah di dompet, kehadiran paylater menambah lapisan “keajaiban” baru, kita bisa membeli hari ini dan membayarnya nanti. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)

Kebutuhan dan keinginan merupakan dua hal yang berbeda. Memahami perbedaan keduanya sangat penting agar seseorang dapat mengendalikan keputusan pembelian dan mengelola pengeluaran dengan lebih bijak. Kebutuhan adalah sesuatu yang harus dipenuhi untuk menunjang kehidupan sehari-hari, sedangkan keinginan lebih berkaitan dengan keinginan untuk memperoleh kepuasan dan bukan merupakan sesuatu yang wajib dipenuhi (Armando, 2025).

Sebagai contoh, makanan dan minuman merupakan kebutuhan. Namun, seseorang terkadang memilih untuk membeli minuman matcha seharga Rp60.000 di kafe hanya karena menginginkannya atau ingin mengikuti tren yang sedang populer. Padahal, kebutuhan yang sebenarnya hanyalah menghilangkan rasa haus yang juga dapat dipenuhi dengan membawa air minum dari rumah. Contoh tersebut menunjukkan bahwa keinginan sering kali mendorong seseorang untuk mengeluarkan uang lebih banyak, meskipun kebutuhan dasarnya dapat dipenuhi dengan cara yang lebih sederhana. Dengan mampu membedakan kebutuhan dan keinginan, seseorang dapat mengendalikan pengeluarannya dengan lebih baik. 

Kemampuan tersebut dapat diperkuat dengan menerapkan konsep Delayed Gratification, yang merupakan kemampuan mental seseorang untuk menunda kepuasan sesaat demi mendapatkan hasil yang lebih berharga di masa depan (Az Zahra & Sartika, 2025). Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat membeli suatu barang hanya karena terlihat menarik atau yang bisa kita bilang dengan "lapar mata", meskipun barang tersebut sebenarnya tidak dibutuhkan. Misalnya, membeli makanan atau barang seharga Rp20.000 mungkin terlihat sebagai pengeluaran kecil dan tidak terlalu berpengaruh. Namun, jika pengeluaran tersebut dilakukan berulang kali hanya karena keinginan sesaat, jumlahnya dapat menjadi cukup besar. Uang yang seharusnya digunakan untuk pembelian yang tidak terlalu penting tersebut sebenarnya dapat dikumpulkan dan ditabung untuk memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan keuangan yang lebih besar di masa depan. Penting bagi kita untuk dapat menentukan kapan uang sebaiknya digunakan dan kapan lebih baik disimpan untuk sesuatu yang lebih bernilai. 

Penerapan Kecerdasan Finansial Dalam Kehidupan Sehari-hari

Saat ini, terdapat berbagai aplikasi yang dapat membantu seseorang dalam mengelola pengeluarannya sehari-hari. Aplikasi tersebut biasanya memungkinkan pengguna untuk mencatat setiap pengeluaran sekaligus mengelompokkannya ke dalam berbagai kategori. Dengan demikian, pada akhir periode tertentu seseorang dapat mengetahui pada kategori apa pengeluarannya paling banyak digunakan, sehingga dapat menjadi bahan evaluasi agar pengeluarannya dapat lebih dikendalikan.

Selain memantau pengeluaran, penting juga untuk menyisihkan sebagian uang jajan atau pendapatan sebagai dana darurat. Dengan memiliki dana darurat, kondisi keuangan akan lebih aman ketika menghadapi kebutuhan yang tidak terduga. Langkah lain yang dapat diterapkan adalah menyusun anggaran untuk setiap kategori pengeluaran, seperti kebutuhan makan, transportasi, maupun kebutuhan lainnya. Dengan adanya anggaran yang jelas, seseorang dapat mengelola keuangan secara lebih bijak, menghindari pengeluaran yang berlebihan, serta menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan finansial yang dimiliki.

Di tengah banyaknya godaan untuk berbelanja, kecerdasan finansial dapat membantu kita dalam menentukan mana yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang hanya diinginkan. Menunda satu keinginan kecil mungkin terasa sepele, tetapi jika dilakukan secara konsisten, hal tersebut dapat membantu mencapai tujuan kita yang lebih besar. Hal yang paling penting pada akhirnya bukanlah seberapa banyak uang yang kita miliki, melainkan seberapa bijak kita dalam mengelola dan menggunakannya. (*)

Reporter Kinesha Millie Halim
Editor Aris Abdulsalam