Ayo Netizen

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Oleh: Rizal ahmad
Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)

Para penggemar K-Drama mungkin taka asing mendengar serial baru yaitu Teach You a Lesson, series yang bertemakan aksi drama sekolah ini diproduksi pada tahun 2026. Diangkat dari Webtoon populer berjudul Get Schooled yang mengisahkan inspektur khusus badan perlindungan hak-hak guru yang dikirim ke sekolah-sekolah untuk menindak keras pelaku perundungan. Dibintangi oleh Kim Mu-yeol sebagai inspektur Na Hwa-ji series ini memberikan inspirasi sekaligus realita pendidikan yang sedang dialami di Korea khususnya perundungan yang terjadi di sekolah.

Ada kalanya sebuah drama tidak hanya hadir untuk menghibur, tetapi juga menjadi cermin. Ia membuat kita tertawa, marah, kecewa, bahkan bertanya: “Jangan-jangan, apa yang kita lihat di layar itu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kehidupan kita?”. Serial drama Korea Teach You a Lesson menarik untuk dibaca bukan sekadar sebagai cerita tentang sekolah, guru, dan peserta didik, melainkan sebagai pintu masuk untuk melihat persoalan pendidikan secara lebih luas. Di balik ruang kelas yang tampak sederhana, terdapat persoalan tentang kekuasaan, ketidakadilan, tekanan sosial, relasi guru dan murid, serta bagaimana sistem pendidikan kadang lebih sibuk mengejar hasil daripada memahami manusia yang sedang tumbuh di dalamnya.

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan menggugah penonton untuk sadar bahwa sebenarnya pendidikan dalam skala global mengalami hal yang serupa. Secara global, data lembaga PBB seperti UNESCO dan UNICEF menunjukkan bahwa 1 dari 3 siswa (atau sekitar 32% hingga 33%) berusia 13–15 tahun mengalami perundungan (bullying) di sekolah setidaknya sekali dalam sebulan terakhir. Fenomena ini merupakan masalah sistemik global yang berdampak serius pada kesehatan mental dan capaian akademik anak-anak. Statistik Utama dan Prevalensi Global memaparkan bahwa jumlah total terdampak: Lebih dari 246 juta anak dan remaja di seluruh dunia mengalami berbagai bentuk kekerasan dan perundungan di lingkungan sekolah setiap tahunnya. Kekerasan Fisik: Hampir 1 dari 3 siswa global dilaporkan pernah diserang secara fisik oleh sesama siswa di sekolah minimal sekali dalam setahun. Perundungan Siber (Cyberbullying): Tren digital memicu peningkatan tajam, di mana kini 1 dari 10 anak (10%) di seluruh dunia menjadi korban cyberbullying. Lalu berdasarkan gender dan kelompok rentan, analisis data dari laporan komparatif UNESCO mengidentifikasi perbedaan pola perundungan: Siswa Laki-Laki: Lebih rentan menjadi korban sekaligus pelaku perundungan fisik serta ancaman kekerasan. Siswa Perempuan: Lebih sering mengalami perundungan psikologis (seperti pengucilan sosial dan gosip) serta perundungan siber berbasis gender. Status Sosio-Ekonomi: Siswa yang berasal dari keluarga miskin atau berstatus sebagai imigran di negara-negara maju memiliki risiko jauh lebih tinggi untuk dirundung.

Selama ini kita sering membayangkan sekolah sebagai tempat yang ideal: guru mengajar, murid belajar, kemudian semua berjalan sebagaimana mestinya. Kenyataannya, sekolah adalah ruang sosial yang jauh lebih kompleks. Di dalamnya terdapat berbagai kepentingan. Ada guru dengan tuntutan administrasi dan target pembelajaran. Ada peserta didik dengan tekanan akademik, persoalan keluarga, pertemanan, dan pencarian identitas. Ada orang tua yang berharap anaknya memperoleh nilai terbaik. Ada pula institusi yang dituntut menghasilkan prestasi. Akhirnya, sekolah berpotensi berubah menjadi arena kompetisi. Anak tidak hanya belajar untuk memahami sesuatu, tetapi belajar untuk mendapatkan angka. Mereka tidak hanya berusaha menjadi pribadi yang berkembang, tetapi juga berusaha menjadi “yang terbaik”. Ranking, nilai ujian, prestasi lomba, hingga masuk sekolah atau perguruan tinggi tertentu sering menjadi ukuran keberhasilan. Pertanyaannya: apakah pendidikan memang hanya tentang siapa yang memperoleh nilai paling tinggi? Jika jawabannya iya, kita mungkin sedang lupa bahwa manusia bukanlah angka di dalam rapor.

Drama pendidikan sering memperlihatkan sosok guru yang berada dalam posisi dilematis. Guru dituntut menjadi pendidik, tetapi pada saat yang sama harus memenuhi berbagai target institusi. Realitasnya pun tidak jauh berbeda, guru sering berada di antara idealisme pendidikan dan tuntutan administratif. Guru ingin mengenal peserta didiknya lebih dekat, tetapi waktu tersita oleh berbagai pekerjaan. Guru ingin memberikan pembelajaran yang bermakna, tetapi dihadapkan pada target kurikulum. Guru ingin memperhatikan kondisi psikologis anak, tetapi jumlah peserta didik dalam satu kelas membuat perhatian individual menjadi tidak mudah. Pada akhirnya muncul paradoks, guru diminta mendidik manusia tetapi sering dinilai berdasarkan angka dan administrasi.

Padahal, keberhasilan seorang guru tidak selalu dapat dilihat dari nilai ujian. Bisa jadi seorang siswa tidak memperoleh nilai tertinggi, tetapi setelah bertahun-tahun ia mengingat gurunya karena pernah membuatnya percaya bahwa dirinya berharga. Ada pula siswa yang mungkin tidak pernah menjadi juara kelas, tetapi berkat seorang guru ia menemukan keberanian untuk berbicara, membaca, berkarya, atau sekadar kembali percaya kepada dirinya sendiri. Sayangnya, keberhasilan semacam itu sulit dimasukkan ke dalam tabel penilaian.

Salah satu persoalan pendidikan modern adalah kecenderungan memperlakukan anak sebagai proyek prestasi. Sejak kecil, sebagian anak telah diperkenalkan pada kompetisi. Harus mendapat nilai tinggi, harus berprestasi, harus masuk sekolah favorit, harus diterima di perguruan tinggi ternama, dan kelak harus memperoleh pekerjaan yang dianggap sukses. Semua itu tentu bukan sesuatu yang salah, masalahnya muncul ketika prestasi menjadi satu-satunya ukuran harga diri seorang anak. Ketika anak gagal mendapatkan nilai yang diharapkan, ia merasa dirinya gagal sebagai manusia. Ketika tidak masuk sekolah favorit, ia merasa masa depannya telah berakhir. Ketika melihat temannya lebih berprestasi, ia merasa dirinya tertinggal. Padahal, setiap anak tumbuh dengan kecepatan dan jalannya masing-masing.

Dalam perspektif sosiologi, sekolah tidak berdiri di ruang hampa. Sekolah merupakan bagian dari struktur sosial. Pendidikan memang dapat menjadi sarana mobilitas sosial. Anak dari keluarga sederhana dapat memperoleh pendidikan yang kemudian membuka kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya. Namun, pendidikan juga dapat mereproduksi ketimpangan apabila akses dan kualitas pendidikan tidak merata. Anak-anak dari keluarga yang memiliki modal ekonomi, sosial, dan budaya lebih kuat sering mempunyai berbagai keuntungan sejak awal. Mereka memiliki buku, perangkat digital, lingkungan belajar yang mendukung, akses bimbingan belajar, serta orang tua yang memiliki waktu dan pengetahuan untuk mendampingi. Sementara itu, anak lain mungkin memiliki kemampuan yang sama, tetapi tidak mendapatkan kesempatan yang sama.

Pada akhirnya, Teach You a Lesson dapat kita baca sebagai pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang guru yang mengajar dan murid yang menerima pelajaran. Pendidikan adalah relasi manusia, guru belajar dari murid. Murid belajar dari guru. Sekolah belajar dari masyarakat dan masyarakat seharusnya terus belajar dari sekolah. Barangkali sudah waktunya kita mengubah pertanyaan. Bukan hanya: “Berapa nilai anakmu?”, tetapi: “Apa yang sudah dipelajari anakmu tentang kehidupan?”, bukan hanya: “Sekolah mana yang paling unggul?”, tetapi: “Sekolah mana yang mampu membuat anak merasa aman untuk tumbuh?”, dan bukan hanya: “Guru mana yang paling berhasil meningkatkan nilai siswa?”, tetapi juga: “Guru mana yang berhasil membuat muridnya percaya bahwa dirinya mampu menjadi manusia yang lebih baik?”.

Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar tentang mencetak manusia yang mampu memenangkan kompetisi. Pendidikan seharusnya membantu manusia memahami dirinya, memahami orang lain, dan memahami masyarakat tempat ia hidup. Jika drama Korea mampu membuat kita bercermin pada persoalan pendidikan mereka, mungkin sudah waktunya kita menggunakan cermin yang sama untuk melihat pendidikan kita sendiri. Sebab barangkali persoalan terbesar pendidikan Indonesia bukan karena kita tidak memiliki orang-orang pintar. Persoalannya adalah apakah sistem pendidikan kita benar-benar memberi ruang bagi setiap anak untuk tumbuh menjadi manusia?

Reporter Rizal ahmad
Editor Aris Abdulsalam