Ayo Netizen

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Oleh: Dias Ashari
Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

"Baruah-buah, 5000-an.. seger.. buah."

"Tahu Sumedang, kripik cau, basreng, kurupuk kulit."

"Di caian. caian.. NU teu Acan."

Terdengar pedagang asongan yang saling bersahutan menawarkan dagangannya ke setiap penumpang. Sebetulnya transportasi umum seperti bus atau kereta api sudah tidak memperkenankan pedagang asongan untuk masuk. Tapi menurut saya supir juga serba salah antara kasihan karena orang lain juga sedang mencari rezeki atau memang para pedagang asongan itu yang sulit untuk diatur.

Yang jelas dulu saat perjalanan solo trip pertama saya di usia 22 tahun ke daerah Tasikmalaya, saya pernah mendapat pengalaman kurang menyenangkan dengan para pedagang asongan di bus.

Saya memahami bahwa mereka juga sudah berikhtiar mencari rezeki tentu cara apapun akan dilakukan agar pembeli mau membayar dagangannya. Hanya saja saat itu posisinya saja akan trip ke area pantai yang tentunya saya tidak mau repot membawa makanan yang menurut saya akan memperberat beban selama perjalanan.

Saat itu saya bertemu dengan seorang pedagang buah salak. Ketika beliau menawarkan saya coba tolak dengan baik-baik karena saya memang sedang tidak ingin mengkonsumsi buah salak. Sekali, dua hingga tiga kali menawarkan saya tetap tersenyum dan mengatakan tidak.

Namun pada tahap selanjutnya pedagang tersebut memasukan buah salak ke kantong kresek dan menyodorkan ke pangkuan saya.

"Sok neng mirah , 2 kilo Rp.30.000."

"Moal mang , abdi moal meser."

"Atuh neng sok sing karunya ka bapa."

"Punten mang, moal."

" Euh meni pedit, meli salak wae embung," tukasnya sambil mengambil kresek salak dengan kasar.

Sejak saat itu saya selalu merasa terganggu jika di perjalanan manapun bertemu dengan pedagang yang serupa. Namun seiring berjalannya waktu saya mulai memahami kenapa mereka begitu memaksa untuk menawarkan dagangannya karena itu lah penopang untuk menghidupi keluarganya.

Begitu pun dengan sore ini ketika saya menggunakan bus MGI. Di jalan belokan menuju arah city link ada seorang pedagang asongan yang menawarkan buah-buahan dan tahu Sumedang.

Seperti biasa mereka selalu semangat dalam menjalani pekerjaannya. Berulang kali membujuk para penumpang untuk berkenan membeli dagangannya. Tak lama dari itu terdengar sebuah percakapan seorang pedagang tahu dan buah dengan ibu-ibu tepat di depan kursi saya duduk.

"Mang tahu dan buah berapa."

"Sebungkusna 10 rebu pami 2 janten 20 rebu."

"Meni awis mang 5 rebuan meren."

"Te tiasa ,paling sok 15 rebu 2 bungkus."

"Moal ah mang mahal."

"Atuh ai hayang 5 rebuan mah boncos abi modalnya. Sakie mah murah atuh ker pedagang keliling mah. Aneh harayang murah meli ka pedagang asongan mau. Ai ka Indomaret jeng Alfa mah sakumaha mahal GE dibeli."

Ucap sang pedagang sambil meleos meninggalkan protesnya.

Mendengar percakapan itu saya sedikit setuju. Bukan karena pembeli mau membeli atau tidak sebuah dagangan karena itu menjadi hak konsumen. Hanya yang ingin saya soroti adalah perilaku sebagian masyarakat kita dalam berbelanja. Rasanya masih banyak yang perhitungan dengan pedagang kecil. Misalnya menawar dagangan dengan harga yang tidak masuk akal, tidak rela jika kembalian yang diberikan kurang hingga beberapa diantaranya selalu mengoceh jika ada yang tidak sesuai.

Tapi banyak dari perilaku pembeli yang ketika mereka berbelanja ke swalayan besar tidak pernah menawar. Mereka cenderung mengambil barang sesuka hati tanpa memperhatikan secara detail label harga yang tercantum di rak dan label harga yang tertera dalam struk belanja. Saya yakin tidak banyak yang sadar kalau belanja di swalayan juga seringkali terdapat pembohongan--salah satunya ketidakjujuran kasir dalam memberikan harga. Selanjutnya ketika mendapat kembalian pun seringkali tidak pernah di cek dan langsung masuk ke kantong celana. Bahkan ketika tidak ada kembalian dengan rela mendonasikan uang recehannya yang kita tidak pernah tau transparansi penyalurannya.

Saya pribadi memang seringkali dilema ketika banyak pedagang asongan yang menawarkan dagangnya. Pada satu sisi jika kebetulan saya sedang ingin makan maka saya akan membeli dagangannya. Kadang pada beberapa waktu membeli tapi sebetulnya tidak begitu perlu untuk membeli. Namun sesekali juga saya sering menolak karena benar-benar tidak mau makan dan tidak ada orang yang bisa kita beri atau makanan yang ditawarkan punya waktu kadaluarsa yang singkat.

Dibalik sikapnya yang sesekali terganggu jika memaksa. Tapi saya juga tidak bisa protes karena barangkali mereka juga terus tetap berjuang dan bertahan untuk terus hidup dan menghidupi keluarganya. (*)

Reporter Dias Ashari
Editor Aris Abdulsalam