Ada satu hal yang sering kali luput dalam pendidikan keluarga, khususnya bagi mereka yang telah menjadi orang tua: kita sering begitu besar dalam menuntut dan berharap agar anak-anak kita menjadi anak yang saleh, baik, berakhlak, dan memiliki masa depan yang baik. Namun, terkadang kita lupa untuk mengimbangi tuntutan dan harapan tersebut dengan pertanyaan yang lebih mendasar: sudahkah kita menjadi teladan dari kesalehan dan kebaikan yang kita harapkan itu?
Mengapa hal demikian bisa terjadi? Karena pada dasarnya, sebagian orang tua berpikir bahwa meskipun dirinya belum menjadi pribadi yang saleh, setidaknya ia masih dapat mengarahkan keturunannya agar menjadi anak yang saleh. Seolah-olah kesalehan anak dapat dibentuk hanya dengan nasihat, larangan, perintah, dan arahan. Padahal, dalam ajaran Islam, pendidikan tidak berhenti pada apa yang diucapkan. Ada sesuatu yang jauh lebih kuat daripada sekadar kata-kata: uswah, keteladanan yang hidup di hadapan mata.
Keshalehan adalah harapan yang perlu diwujudkan melalui orang-orang yang mendidik dan mengarahkannya. Jika seorang guru ingin memiliki murid-murid yang baik dan saleh, maka ia harus mampu memperlihatkan kesalehan dan kebaikan itu kepada murid-muridnya dalam bentuk uswah atau keteladanan. Demikian pula orang tua. Jika ingin anak-anaknya memiliki akhlak yang baik, maka akhlak tersebut harus terlebih dahulu tampak dalam kehidupan orang tuanya.
Keteladanan atau uswah merupakan ikhtiar seseorang dalam memperlihatkan sikap dan perilakunya dalam keadaan yang baik dan benar. Karena itu, tidak ada keteladanan tanpa pembuktian nyata melalui perilaku dan sikap. Uswah orang tua bukan hanya berada dalam bingkai kata-kata yang diucapkan lisannya, tetapi harus diimbangi dengan contoh nyata yang dapat dilihat, dirasakan, dan disaksikan oleh anak-anaknya.
Bukan berarti anak tidak perlu diberikan contoh secara terus-menerus. Justru dalam konsep pendidikan keturunan, hal tersebut memang sangat penting. Hanya saja, pendidikan tidak mungkin diserahkan sepenuhnya kepada nasihat-nasihat. Anak tidak hanya membutuhkan apa yang harus ia dengarkan, tetapi juga membutuhkan sesuatu yang dapat ia lihat. Ia membutuhkan perilaku yang dapat ia tiru. Ia membutuhkan figur yang dapat ia jadikan rujukan dalam menjalani kehidupannya.
Inilah yang kemudian sering dilupakan oleh para orang tua. Kebanyakan mereka berharap bahwa nasihatnya akan mampu membuat anak menjadi saleh. Mereka berharap nasihat agama yang terus disampaikan akan membentuk akhlak anak. Bahkan terkadang mereka berharap contoh dari guru di sekolah, ustaz di majelis, atau tokoh agama yang mereka hadirkan dapat membentuk kesalehan anak-anaknya. Padahal, aksi nyata dari sikap dan perilaku orang tua justru memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk karakter anak.
Keturunan tidak bisa dididik hanya melalui tradisi lisan berupa nasihat agama. Ia perlu didorong melalui pembuktian nyata dari orang tuanya. Sentuhan perilaku orang tua justru sering kali jauh lebih membekas. Seorang manusia membutuhkan uswah yang riil, membutuhkan figur yang kuat, bukan sekadar kumpulan kalimat yang baik.
Kita mungkin tidak akan mampu menundukkan hati seseorang hanya dengan kata-kata, kecuali setelah ia menyaksikan contoh keteladanan yang menarik dan memikat hatinya. Manusia mungkin merasa gentar terhadap kekuatan, tetapi ia sangat menghargai kepahlawanan. Makna-makna yang indah akan menarik hatinya dan mengalir dalam jiwanya. Ia membangunkan perasaannya dan membuka pandangannya terhadap makna kebenaran yang tampak di hadapannya.
Dan barangkali, derajat tertinggi dari sebuah kekuatan adalah kekuatan untuk berdiri di atas kebenaran: menyeru manusia menuju kebenaran, sekaligus bersabar di atas jalannya. Sebab, seseorang tidak hanya mengajarkan kebenaran melalui apa yang ia katakan, tetapi juga melalui bagaimana ia menjalani kebenaran tersebut di dalam kehidupannya.
Cara seperti ini bukanlah sebuah khayalan belaka. Al-Qur'an bahkan mengajarkan kepada kita sebuah doa yang sangat dalam tentang keturunan. Allah berfirman dalam QS. Al-Ahqaf ayat 15:
Ayat ini menarik untuk direnungkan oleh setiap orang tua. Al-Qur'an tidak hanya mengajarkan kita untuk berharap memiliki keturunan yang baik, tetapi juga mengajarkan kita untuk memohon kepada Allah agar akhlak kita diperbaiki dan menjadi pribadi yang sholeh agar menjadi contoh yang baik untuk keturunan kelak. Doa itu hadir dalam rangkaian ayat yang sebelumnya berbicara tentang rasa syukur kepada Allah dan kebaikan kepada kedua orang tua.
Dengan demikian, ketika seseorang menginginkan keturunan yang saleh, semestinya harapan itu tidak hanya berhenti pada tuntutan kepada anak. Ia juga harus disertai dengan pertobatan, perbaikan diri, rasa syukur, dan kesungguhan untuk menjadi pribadi yang layak diteladani. Sebab, bagaimana mungkin kita begitu keras menuntut anak untuk menjadi baik, sementara anak setiap hari menyaksikan sesuatu yang berbeda dari apa yang kita tuntut darinya?
Di sinilah konsep uswah menjadi sangat penting.
Dalam Islam, uswah hasanah yang paling sempurna adalah Rasulullah ﷺ. Allah berfirman:
Uswah Rasulullah ﷺ bukan sekadar teori. Ia adalah kebenaran yang hidup dalam perilaku. Apa yang beliau ajarkan hadir dalam akhlaknya, dalam kesabarannya, dalam kelembutannya, dalam keberaniannya, dalam cara beliau memperlakukan keluarga, sahabat, bahkan orang-orang yang berbeda dan memusuhinya.
Karena itu, warisan uswah tersebut semestinya sampai kepada para orang tua. Rasulullah ﷺ adalah teladan bagi umat, sementara orang tua memiliki tanggung jawab untuk meneruskan nilai-nilai keteladanan itu kepada generasi setelahnya. Dengan demikian, uswah hasanah tidak berhenti pada kekaguman kepada Rasulullah ﷺ, tetapi harus diwariskan melalui perilaku kita kepada anak-anak kita.
Itulah mengapa Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi menjelaskan bahwa al-uswah memiliki makna yang berdekatan dengan al-qudwah, yaitu mengikuti orang lain dalam sifat, akhlak, dan perilaku yang dimilikinya, baik dalam perkara yang baik maupun buruk.
Syaikh Shalih bin Hamid juga menjelaskan bahwa uswah mengandung dua sisi pada diri manusia: kebaikan dan keburukan. Kebaikan diperoleh dengan mengikuti orang-orang baik dan meneladani keutamaan yang terdapat dalam perkara-perkara yang baik. Sementara keburukan muncul ketika seseorang berjalan di atas jalan yang hina, mengikuti dan meneladani pelaku keburukan tanpa ilmu.
Maka, sesungguhnya setiap orang tua sedang menjadi uswah, disadari ataupun tidak. Anak-anak sedang belajar dari kita, bahkan ketika kita merasa tidak sedang mengajar mereka. Mereka melihat bagaimana kita berbicara kepada pasangan. Mereka melihat bagaimana kita memperlakukan orang lain. Mereka melihat bagaimana kita menghadapi kemarahan, kesulitan, uang, kekuasaan, perbedaan, dan bahkan bagaimana kita menjalankan agama ketika tidak ada orang lain yang melihat.
Anak mungkin lupa dengan sebagian besar nasihat yang pernah kita sampaikan. Tetapi ia bisa jadi sangat ingat bagaimana ayahnya bersikap ketika marah. Ia mungkin lupa ayat yang pernah kita bacakan. Tetapi ia akan mengingat bagaimana ibunya memperlakukan orang lain. Ia mungkin tidak mengingat berapa kali kita memerintahkannya untuk salat, tetapi ia akan melihat apakah orang tuanya sendiri menjaga salat atau tidak.
Karena itu, pendidikan keluarga sesungguhnya bukan hanya tentang apa yang kita katakan kepada anak, tetapi siapa diri kita di hadapan mereka.
Barangkali inilah salah satu makna terdalam dari doa dalam QS. Al-Ahqaf ayat 15. Ketika kita memohon, وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي “perbaikilah akhlakku agar bisa menjadi contoh untuk keturunanku,” kita sebenarnya sedang diingatkan bahwa persoalan keturunan bukan hanya persoalan bagaimana anak harus menjadi baik, tetapi juga bagaimana orang tua terus memperbaiki dirinya agar layak menjadi jalan kebaikan bagi keturunannya.
Sebab, anak-anak tidak hanya mewarisi nama kita. Mereka juga bisa mewarisi kebiasaan kita, cara berpikir kita, cara berbicara kita, bahkan cara kita memperlakukan orang lain.
Maka sebelum terlalu sibuk bertanya, “Bagaimana agar anak saya menjadi anak yang saleh?”, mungkin ada pertanyaan yang lebih dalam untuk kita ajukan kepada diri sendiri:
“Sudahkah saya menjadi orang tua yang layak diteladani?”
Sebab keteladanan bukanlah sekadar ucapan. Uswah adalah aksi nyata.
Dan mungkin, salah satu bentuk doa terbaik seorang ayah dan ibu bukan hanya memohon agar anaknya menjadi saleh, tetapi juga memohon kepada Allah agar dirinya terus diperbaiki, agar perilakunya menjadi baik, akhlaknya menjadi indah, ibadahnya menjadi benar, dan kehidupannya dapat menjadi contoh yang kelak dikenang oleh keturunannya.
Karena pada akhirnya, kita tidak hanya sedang membesarkan seorang anak.
Kita sedang menyiapkan manusia yang suatu hari nanti akan menjadi orang tua bagi generasi setelah kita.
Maka, jika kita menginginkan keturunan yang baik, barangkali kita harus mulai dari satu hal sederhana:
Jadilah uswah sebelum menuntut anak menjadi saleh. (*)