Ayo Netizen

Mengurangi Emisi Karbon Semen Lewat Campuran Bubuk Basalt

Oleh: Arya Destiano Pratama
Ilustrasi utama, semen konvensional (semen OPC) (Foto: Tunas Niaga Konstruksindo)

Industri konstruksi saat ini mendapat perhatian khusus terkait kontribusinya terhadap akumulasi emisi karbon global. Berdasarkan data sebaran kontribusi emisi gas karbon dioksida (CO2) dunia, manufaktur semen konvensional memberikan kontribusi 6-8% total emisi gas CO2 dunia. Salah satu pemicunya adalah tingginya kebutuhan akan produksi semen konvensional.

Faktanya, semen konvensional menjadi material ke-2 yang paling banyak digunakan di dunia setelah air. Melihat ketergantungan tersebut, salah satu inovasi yang dapat dilakukan adalah mengganti sebagian porsi penggunaan semen konvensional dengan bubuk basalt yang lebih ramah lingkungan tanpa merusak karakteristik struktur semen itu sendiri.

Permasalahan Industri Konstruksi di Indonesia sebagai Negara Berkembang

Besarnya akumulasi emisi karbon sangat dipengaruhi oleh jumlah kebutuhan semen pada wilayahnya. Pada tahun 2023, jumlah emisi karbon industri semen di Indonesia sebagai salah satu negara berkembang dapat mencapai hingga 44 juta ton gas CO2. Cheng et al. dalam penelitiannya pada tahun 2023 terkait proyeksi emisi karbon masa depan, mengungkap bahwa negara berkembang menjadi kontributor utama yang  menyumbang hingga 87% emisi gas CO2 akibat tingginya urbanisasi serta kebutuhan akan membangun infrastruktur baru.

Menurut Raiful Islam et al. dalam studinya di Universitas Sichuan pada tahun 2025, proses produksi semen konvensional mencakup reaksi kalsinasi di mana batu kapur (CaCO3) terurai menjadi kalsium oksida (CaO) dan CO2 sebagai produk sampingannya. Setelah itu, dilanjut proses klinkerisasi pada tanur putar (rotary kiln) yang membutuhkan suhu sangat tinggi (mencapai 1.450°C) untuk membentuk klinker sebagai bahan utama semen konvensional. Kebutuhan energi panas yang besar ini disuplai melalui bahan bakar fosil yang proses pembakarannya menghasilkan produk sampingan gas CO2.

Di samping itu, konsumsi listrik berskala megawatt pada pabrik semen pun ikut berkontribusi dalam menyumbang emisi. Pasokan energi listrik Indonesia (PLN) masih sangat bergantung pada PLTU batu bara, sehingga juga dihasilkan emisi karbon secara tidak langsung. 

Tingginya kadar polutan udara yang beredar di atmosfer bumi dapat menimbulkan bencana ekologis berskala global. Secara umum, sebagian besar polusi udara dihasilkan oleh aktivitas antropogenik seperti deforestasi, pembakaran bahan bakar fosil, serta limbah industri. Akumulasi gas polutan tersebut dalam jumlah besar dapat membuat efek rumah kaca. Hal ini lah, yang menyebabkan peningkatan suhu rata-rata bumi yang terus berlanjut dan menjadi semacam bom waktu bagi stabilitas ekologis kedepannya. 

Mengenal Lebih Jauh Material Basalt di Indonesia

Material basalt merupakan material buangan dari aktivitas vulkanik yang sangat melimpah di Indonesia. Berdasarkan letak geografisnya, Indonesia menjadi titik pertemuan 4 lempeng tektonik aktif (Eurasia, Pasifik, Laut Filipina, dan Indo-Australia) serta dilewati jalur ring of fire sehingga tidak heran Indonesia memiliki banyak gunung aktif yang menjadi sumber material vulkanik. Batuan basalt seringkali menjadi incaran karena memiliki kemampuan menahan kuat tekan yang sangat tinggi, sehingga dapat diandalkan untuk menjadi pondasi bangunan ringan di Indonesia sesuai dengan standar nasional Indonesia (SNI 03-0394-1989).

Menurut Santoso et al. dalam penelitiannya tentang karakteristik mekanis lava basalt, didapatkan bahwa material basalt dapat menahan kuat tekan mencapai 877,550-898,737 Kg/cm2. Bubuk basalt sendiri pada umumnya banyak ditemukan sebagai limbah dari aktivitas penambangan batu basalt. Maraknya penambangan batuan basalt di Indonesia dapat memicu permasalahan penumpukan limbah bubuk basalt. Walaupun bubuk material vulkanik terkenal akan kekayaan mineral yang baik untuk kesuburan tanah, akumulasi bubuk basalt yang terlalu banyak dapat memicu pencemaran air, hingga polusi udara yang mengancam kesehatan makhluk hidup di sekitarnya. 

Potensi Bubuk Basalt dapat Menjinakan Bom Waktu Emisi Karbon

Berdasarkan berbagai pengujian laboratorium yang salah satunya dipublikasikan oleh Rokiah Othman et al. pada tahun 2024, diketahui bahwa material basalt telah memiliki berbagai senyawa oksida aktif yang dibutuhkan dalam pembentukan semen. Meskipun pada bubuk basalt terdapat senyawa magnesium oksida (MgO) sebagai zat pengotor, kadarnya masih masuk dalam kategori aman (MgO ≤6%) berdasarkan ASTM C150/C150M-21. Namun mengetahui adanya zat pengotor kalium oksida (K2O) sebagai senyawa alkali kuat, diperlukan adanya batasan penggunaan material basalt (substitusi parsial) dalam campuran semen untuk mencegah risiko terjadinya Alkali-Silica Reaction (ASR) yang bersifat ekspansif. 

Potensi bubuk basalt sebagai kunci permasalahan diperkuat oleh data eksperimental Çelikten dan Baran tahun 2024. Melalui perhitungan jejak karbon, didapatkan bahwa pemanfaatan bubuk basalt pada kadar optimal 5-15% ke dalam campuran semen dapat mereduksi emisi karbon yang dihasilkan hingga 22%. Menariknya, pengurangan emisi yang signifikan ini sama sekali tidak menurunkan kekuatan mekanisnya. Selain itu, temuan dari eksperimen Dobiszewska dan Beycioğlu tahun 2017 terkait pengaruh bubuk basalt membuktikan bahwa substitusi parsial bubuk basalt tidak memengaruhi kekentalan dan kemudahan pengerjaan (workability) adonan semen. Meski demikian, hasil eksperimen ini juga memberikan catatan penting bahwa pemanfaatan bubuk basalt dapat membuat waktu pengikatan semen dari saat mulai mengeras (initial setting time) hingga benar-benar padat (final setting time) semen menjadi lebih lambat. 

Adanya perlambatan waktu pengikatan terjadi akibat berkurangnya porsi semen konvensional murni. Bubuk basalt bersifat pozolan alami yang membutuhkan waktu lebih lama untuk bereaksi secara kimia. Namun demikian, terjadinya perlambatan waktu ikat memberikan dampak yang kondisional. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tahun 2025 menyatakan bahwa Indonesia yang dilewati oleh garis khatulistiwa cenderung memiliki suhu udara yang tinggi mencapai kisaran 35 °C pada siang hari. Dalam kondisi ini, lambatnya waktu pengikatan semen justru menjadi suatu keuntungan. Sifat ini dapat mencegah risiko pengerasan dini (premature stiffening) akibat tingginya suhu lingkungan di Indonesia juga memberi kelonggaran waktu bagi para pekerja konstruksi di lapangan untuk melakukan mobilisasi pengangkutan, penuangan, hingga pemadatan secara optimal.

Mampukah Inovasi Pemanfaatan Bubuk Basalt dalam Memenuhi Ekspektasi Industri?

Untuk dapat menggunakan inovasi semen basalt ke dalam pasar sesungguhnya, dibutuhkan berbagai kepastian lebih lanjut. Berdasarkan regulasi dari Kementerian Perindustrian dan Undang-Undang No. 20 Tahun 2014, seluruh varian semen komposit komersial wajib berlabel SNI demi keselamatan publik. Tanpa adanya dukungan regulasi standarisasi yang sah, inovasi semen ramah lingkungan berbasis bubuk basalt ini akan selamanya dicap ilegal untuk digunakan secara publik.

Tantangan lainnya, inovasi campuran semen ini juga harus memenuhi ekspektasi ekonomis pasar selaku konsumennya. Studi dari Tasoff (2026) dalam University of California menegaskan bahwa inovasi semen basalt dapat memotong kebutuhan energi hingga di bawah 60%. Proyeksi konsumsi energi inilah yang diproyeksikan mampu menekan biaya operasional menjadi lebih murah. Namun tidak hanya terkait biaya, kepercayaan publik atas kualitas semen basalt juga menjadi faktor penentu yang krusial. Inovasi semen basalt harus dapat bersaing dengan semen konvensional yang telah menjadi tumpuan industri konstruksi selama lebih dari satu abad. 

Bubuk Basalt Terobosan Konstruksi Hijau Indonesia

Secara keseluruhan, bubuk basalt dapat menjadi jawaban konkret atas isu lingkungan industri konstruksi di Indonesia. Pada kadar optimal 5-15%, pemanfaatan bubuk basalt terbukti mampu memangkas jejak karbon hingga 22% tanpa mengurangi kekuatan mekanis semen yang dihasilkan. Uniknya, inovasi ini juga menyebabkan perlambatan waktu ikat yang cocok dengan kondisi iklim di Indonesia demi mencegah pengerasan dini adonan semen.

Berkat melimpahnya ketersediaan material vulkanik di Indonesia, bubuk basalt memiliki keunggulan pasokan jangka panjang yang jauh lebih kompetitif dibanding inovasi semen hijau lainnya. Melalui kesesuaian standar regulasi serta kebutuhan pasar yang terpenuhi, tentu inovasi semen bubuk basalt berpeluang menjadi tumpuan baru bagi industri konstruksi khususnya di Indonesia. (*)

Reporter Arya Destiano Pratama
Editor Aris Abdulsalam