Ayo Netizen

Istilah Sunda untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Oleh: T Bachtiar
Gambar tafsir baru mitologi gempabumi. Bola bumi berada di ujung tanduk sapi yang berdiri di atas paus. Bila paus dan sapi bergerak, terjadilah gempabumi. (Sumber: Dok. T Bachtiar)

Gempabumi sudah dirasakan dari waktu ke waktu dalam sejarah penghunian suatu daerah. Dalam bahasa Sunda, gempabumi disebut lini atau lindu. Masyarakat selalu ingin mengetahui mengapa tiba-tiba bumi berguncang. Yang mempunyai otoritas pengetahuan yang berpengaruh pada saat itu, akan menyampaikan keterangan mengapa bumi berguncang. Juru kisah, para penafsir pengetahuan, akan menyampaikan ulang, yang dibungkus dengan kisah yang dapat diterima dan mudah dimengerti pada saat itu. Berkembanglah jawaban, mengapa bumi berguncang.

Dalam buku bacaan Sakolah Rakyat (SR), sekarang Sekolah Dasar (SD) di Jawa Barat yang terbit tahun 1950-an, terdapat bacaan geomitologi yang mengisahkan tentang mengapa lini terjadi. Diuraikan dalam buku itu, bahwa bola bumi berada di ujung tanduk sapi jantan yang berdiri di atas punggung paus. Ketika paus bergerak, maka sapi pun akan bergerak menyeimbangkan diri agar tidak tercebur ke laut. Sapi yang bergerak itulah yang menyebabkan bola bumi bergoyang. Guncangan itulah yang disebut lini atau gempabumi.

Kini sudah berkembang teori yang sangat maju tentang dinamika bumi, yaitu Tektonik Lempeng. Teori ini menyatakan bahwa lapisan terluar bumi berupa kerak bumi, lapisan padat dan kaku, merupakan bagian tipis paling atas dari litosfer. Di bawah litosfer terdapat astenosfer, lapisan yang padat kental, plastis, pijar, mengalir lambat, dengan suhu mencapai 3.000 derajat C. Karena adanya panas yang sangat tinggi yang menjalar sampai di astenosfer, maka terjadilah sirkulasi termal secara global. Akibatnya, kerak bumi terluar, yang terdiri dari kerak benua dan kerak samudra yang dingin dan kaku menjadi terdorong, kemudian pecah-pecah menjadi lempeng-lempeng besar. Kerak benua itu berarak perlahan, mengambang di astenosfer yang sangat panas. 

Lempeng-lempeng itu terus berarak, ada yang saling menjauh (devergen), ada yang saling mendekat, kemudian bertumbukan, menunjam (konvergen), dan lempeng yang berpapasan atau bergesekan secara horizontal (transform). Peristiwa inilah yang menjadi kunci pembentukan batuan, pulau, logam, patahan, gunung api, gempa bumi, geomorfologi, dan evolusi muka bumi lainnya.   

Ketika dua lempeng saling mendekat, terjadilah penunjaman antara lempeng samudra dengan lempeng benua. Di Indonesia, zona subduksi ini terjadi di kedalaman dasar Samudra Hindia di barat Pulau Sumatra, di selatan Pulau Jawa, menerus di selatan Nusa Tenggara. Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah lempeng Eurasia dengan pergerakan antara 6 cm -7 cm per tahun.

Laju kerak bumi itu tiada henti, dan berlangsung terus-menerus sejak bumi tercipta, karena ada arus konveksi. Di zona penunjaman antara dua lempeng yang menikung, di sanalah terjadi “gesekan” raksasa yang sangat kuat. Lempeng-lempeng yang tebal, keras, kaku, kasar, dan terdapat tonjolan yang besar dan kuat, sehingga laju arak gesek lempeng menjadi saling mengait, tertahan, atau terkunci. Walau pun dalam keadaan terkunci, daya dorong lempeng terus berlangsung. Terjadilah penghimpunan tekanan atau tegangan di area terkunci selama ratusan tahun bahkan lebih. Seperti karet yang meregang saat ditarik, akan mengalami robek bila daya elastisitasnya terlampaui. Demikian juga dengan daya regang lempeng benua, menyebabkan lempeng itu melengkung terangkat ke permukaan daratan, yang terus meninggi beberapa cm per tahun. 

Namun, kekuatan lempeng bumi menahan regangan itu ada batasnya. Ketika melewati batas daya lentingnya, atau sudah mencapai batas elastisitasnya, sudah tidak mampu lagi menahan beban tekanan ekstrim, maka lempeng itu akan patah secara tiba-tiba. Tempat patahnya itu berada di dalam bumi yang menimbulkan guncangan, disebut hiposentrum. Sedangkan tempat di permukaan bumi yang berguncang, persis berada di atas lempeng yang patah, disebut episentrum.

Pada saat lempeng patah, terjadilah pelepasan energi gempa bumi dalam bentuk gelombang gempa, yang menjalar dengan cepat melalui garis-garis patahan. Besarnya guncangan gempabumi di permukaan, ditentukan oleh beberapa faktor, seperti kedalaman hiposentrum. Kedalaman hiposentrum antara 0 km – 70 km disebut gempa dangkal, guncangannnya sangat kuat di permukaan, dan sering menimbulkan kerusakan besar, baik bangunan maupun korban jiwa. Kedalaman hiposentrum antara 70 km – 300 km disebut gempa menengah, goyangannya lebih luas, namun kerusakannya lebih ringan. Dan hiposentrum yang lebih dari 300 km – kurang dari 700 km, disebut gempa dalam. Getaran di permukaan umumnya tidak terlalu besar atau tidak merusak, walaupun magnitudonya besar. 

Besarnya guncangan gempabumi di permukaan juga ditentukan oleh jarak dari episentrum. Semakin dekat lokasi permukiman dengan episentrum, maka tingkat guncangan gempa dan kerusakannya semakin besar. Semakin menjauh dari episentrum, tingkat guncangan gempa dan kerusakannya semakin berkurang.

Keadaan batuan di suatu kawasan dapat menimbulkan besar guncangan dan kerusakan yang berbeda, dengan kekuatan gempa yang sama. Misalnya, dampak gempa akan berbeda di kawasan yang tanahnya masih berupa lumpur atau tanah lunak, karena terjadi pembesaran guncangan. Infrastruktur dan bangunan yang berada di jalur patahan, apalagi yang memotong jalur patahan, akan mengalami kerusakan. 

Masyarakat Sunda sudah lama mengalami gempa bumi, sehingga mampu membedakan besar guncangan dan kerusakan yang diakibatkannya. Atas dasar itulah masyarakat Sunda mempunyai istilah sendiri untuk besar guncangan gempabumi.  

Pertama Riyeg, gempabumi ringan (setara II MMI – III MMI), goyangan lemah, keadaan lahan, bangunan, dan barang-barang bergoyang kecil. Kedua yaitu Inggeung, gempabumi sedang (setara IV MMI – V MMI), keadaan lahan atau bangunan bergoyang, berayun, menyebabkan kerusakan ringan. Ketiga Eundeur, gempabumi kuat sampai sangat kuat (setara VI – VII MMI) keadaan tanah atau bangunan berguncang kuat disertai atau tidak suara gemuruh, menyebabkan kerusakan bangunan. Keempat Genjlong, gempabumi besar (setara VIII MMI), keadaan lahan dan bangunan berguncang, disertai atau tidak suara gemuruh yang keras mengagetkan. Permukiman mengalami banyak kerusakan parah, terdapat korban jiwa. Kelima Pralaya, gempabumi sangat besar atau ekstrim (setara IX MMI – XII MMI), keadaan lahan dan bangunan mengalami kehancuran sangat besar, dan mengakibatkan korban jiwa. (*)

Tabel istilah Sunda untuk besar guncangan gempabumi 

Kekuatan (MMI)

Istilah Sunda

Kategori Kekuatan

II – III  

Riyeg

Ringan

IV – V 

Inggeung

Sedang

VI – VII 

Eundeur

Kuat

VIII

Genjlong

Besar

IX – XII 

Pralaya

Sangat besar

Sumber: T Bachtiar (Agustus 2026)

Reporter T Bachtiar
Editor Aris Abdulsalam