Ayo Netizen

Medsos, Buku, dan Rindu

Oleh: Ibn Ghifarie
Kaligrafi nama Nabi Muhammad berbentuk hati (Sumber: ayobandung.com)

Malam yang dingin untuk wilayah Babakan Dangdeur, Cibiru, dan sekitarnya. Selesai membaca koran kebanggaan urang Jabar. Ya, seperti biasa, sebelum benar-benar terlelap, jari masih sempat menggulir layar media sosial.

Di beranda Instagram, tiba-tiba muncul video dari akun @husein_hadar, Habib Milenial yang memiliki 7,7 juta pengikut, 1.272 akun yang diikuti, dan 3.131 unggahan.

Judul videonya sederhana, tetapi mengusik perasaan, “Seandainya Nabi Muhammad lagi online di WhatsApp, apa yang ingin disampaikan?”

Pertanyaan itu dijawab seorang anak muda dengan polos.

Kalau Rasulullah online ya? Mungkin boleh dikasih kesempatan saya ketemu sama beliau. Kalau bisa saya ikut. Ikut, nanti bisa ngelihat wajah beliau nanti kalau udah...” katanya, sebelum suaranya terhenti karena haru.

Cinta kan ya?” tanya Habib, lawan bicaranya.

“Iya, banget-banget cinta.”

Alhamdulillah, semoga bisa bersama terus di akhirat.”

Aamiin. Terima kasih.”

Asyiknya, video itu ditutup dengan sabda Nabi Muhammad SAW, “Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dengan ajakan yang menggugah, "mencintai Nabi Muhammad, berharap dapat bersamanya hingga akhirat, dan memperbanyak shalawat kepada Nabi."

Bila melihat ekspresi haru anak muda itu, algoritma Instagram tahu apa yang sedang ingin lihat, video itu berhenti lebih lama di layar. Angkanya, menarik untuk diperhatikan. Video itu telah ditonton sekitar 2,2 juta kali, dibagikan 3.009 kali, disukai 83.579 akun, dan mendapatkan 2.852 komentar.

Rupanya, dari video pendek di layar ponsel, pikiran justru melayang pada buku lawas karya Bambang Q-Anees, dosen Fakultas Ushuluddin UIN Bandung, Bila Rasulullah Bertamu ke Rumahmu, terbitan Mitra Media Pustaka (MMP) Yogyakarta, 2009.

Selama ini keberadaan internet, media sosial (medsos), telah menjadi bagian penting dalam membentuk pemikiran, perbuatan, perilaku, kebutuhan dasar dan gaya hidup manusia kini. Saking pentingnya dunia maya ini, sebelum tidur kita kerap menggunakan medsos untuk berbagi cerita, aktivitas, atas kehidupan yang serba instan ini.

Ilustrasi Ayo Rehat dari Media Sosial (Sumber: ayobandung.com | Foto: Fathia Uqimul Haq)

Trend Media Sosial 2026

Media sosial pada 2026 masih menjadi bagian penting dari keseharian masyarakat Indonesia. Menariknya, mayoritas pengguna tidak menghabiskan waktu sepanjang hari di depan layar.

Hasil Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Penggunaan Internet 2026, sebanyak 44,9 persen pengguna mengakses media sosial selama 1–2 jam per hari, sementara 37,9 persen menghabiskan waktu 2–3 jam.

82,8 persen pengguna media sosial Indonesia berada pada rentang penggunaan 1–3 jam setiap hari.

Ada sekitar 7,9 persen mengakses media sosial kurang dari satu jam per hari. Untuk pengguna yang berada pada durasi lebih panjang relatif kecil, 6,9 persen selama 3–4 jam dan 2,4 persen lebih dari empat jam sehari.

Survei yang dilaksanakan pada 1 Februari–15 Maret 2026 dengan melibatkan 8.700 responden berusia minimal 13 tahun yang tersebar secara proporsional di 38 provinsi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka oleh enumerator terlatih.

Dari sisi platform, TikTok menjadi media sosial yang paling sering diakses dengan persentase 31,8 persen. Facebook 29,4 persen dan Instagram 27,7 persen.

Pada saat yang sama, jumlah penduduk Indonesia yang terkoneksi internet telah mencapai 235,26 juta jiwa dari total populasi 287,89 juta jiwa. Dengan demikian, penetrasi internet Indonesia berada di angka 81,72 persen. (GoodStats, 12 Juni 2026 pukul 09.00 WIB)

Algoritma adalah urutan langkah logis yang terstruktur untuk menyelesaikan suatu masalah. Menurut KBBI, algoritma diartikan sebagai “prosedur sistematis untuk memecahkan masalah matematis dalam langkah-langkah terbatas”. (Sumber: www.codepolitan.com | Foto: Prasatya)

Membaca Algoritma, Memandang Dunia

Deretan angka-angka itu memperlihatkan ruang digital bukan lagi ruang tambahan dalam kehidupan masyarakat. Justru hadir menjadi salah satu tempat utama kita mencari informasi, menghibur diri, berinteraksi, bahkan membentuk pandangan tentang kehidupan.

Tanpa kita sadari, apa yang muncul di layar tidak sepenuhnya merupakan pilihan kita. Ada algoritma di belakangnya.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengingatkan literasi digital menjadi fondasi penting dalam menghadapi derasnya arus informasi di media sosial. Dengan penetrasi internet yang disebut telah mencapai sekitar 80,6 persen dari 287 juta penduduk serta cakupan jaringan telekomunikasi 97 persen wilayah berpenghuni, ruang digital telah menjadi arena besar tempat masyarakat memperoleh, memproduksi, dan menyebarkan informasi.

Persoalannya, setiap pengguna kini bukan hanya konsumen informasi. Kita bisa menjadi produsen, membuat unggahan, membagikan video, memberikan komentar, menekan tombol suka, menyimpan konten, sekadar berhenti beberapa detik lebih lama pada satu video.

Semua aktivitas itu meninggalkan jejak yang dibaca oleh algoritma untuk mengenali minat dan kecenderungan kita. Konten yang kita sukai, akun yang sering kita lihat, durasi kita menonton video dapat memengaruhi konten berikutnya yang muncul di beranda.

Algoritma bukan sekadar membantu kita menemukan informasi. Justru ikut menentukan informasi apa yang lebih sering kita temui.

Kondisi ini dapat membuat informasi berbasis sentimen lebih mudah menyebar dibandingkan bewara berbasis fakta. Algoritma bekerja dengan mempelajari preferensi pengguna, sehingga konten yang dianggap relevan yang lebih sering disodorkan.

Dalam kondisi ini muncul apa yang dikenal sebagai filter bubble dan echo chamber. Bila semakin sering bertemu dengan informasi yang sesuai dengan apa yang sudah kita sukai, percayai. Kita merasa dunia sedang berbicara tentang yang sama, padahal bisa jadi kita hanya sedang berada di dalam ruang digital yang memang telah disesuaikan dengan preferensi kita.

Percakapan di media sosial sering kali bukan dialog, melainkan kita meneriakkan dan mendengar gaung teriakan diri sendiri. Tentunya ini terasa relevan untuk zaman ketika perbedaan pendapat sering kali tidak mempertemukan kita dengan perspektif lain, tetapi justru mempertemukan kita dengan lebih banyak konten yang menguatkan keyakinan sendiri.

Algoritma bukan hanya soal teknologi, tapi sangat bersentuhan dengan cara manusia melihat dunia.

Viral nama anak hanya satu huruf C, Netizen: terus manggilnya gimana? (Sumber: TikTok | Foto: @_thisisgonec)

Dari viral ke bermakna

Persoalan menjadi semakin rumit saat ukuran keberhasilan informasi ditentukan oleh seberapa cepat menarik perhatian. Konten yang mengundang emosi, kontroversi, kemarahan, ketakutan, rasa haru cenderung lebih mudah mendapatkan respons.

Informasi yang membutuhkan waktu untuk dibaca, direnungkan, dan diverifikasi sering kali kalah menarik dibandingkan video berdurasi singkat yang mampu menggugah emosi dalam hitungan detik.

Media sosial telah berkembang menjadi instrumen pembentuk persepsi publik.

Dengan apa yang disebutnya sebagai social engineering, sesuatu yang salah dapat dipersepsikan benar, dan sebaliknya.

Disinformasi dan misinformasi itu bukan sekadar persoalan benar atau salahnya unggahan. Kendati bisa memengaruhi cara masyarakat melihat seseorang, kelompok, kebijakan, bahkan realitas sosial di sekelilingnya.

World Economic Forum menempatkan disinformasi dan misinformasi sebagai salah satu risiko global utama dalam beberapa tahun mendatang. Tantangannya semakin besar ketika kecerdasan artifisial ikut masuk ke dalam produksi konten. Video sintetis dan deepfake kini semakin halus, sehingga tidak selalu mudah dibedakan dari materi autentik.

Kemampuan paling penting di tengah banjir informasi bukan lagi sekadar kemampuan mengakses internet. Kita membutuhkan kemampuan untuk berhenti sejenak atas riuhnya media sosial. masyarakat perlu membangun budaya bermedia digital yang lebih kritis agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang dangkal dan emosional. (Siaran Pers Komdigi No. 142/HM-KKD/7/2026 Rabu, 29 Juli 2026)

Makam Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi, Madinah, Minggu 4 Juni 2023. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Andri Ridwan Fauzi)

Teladan yang Menginspirasi

Di tengah perdebatan tentang algoritma, engagement, viralitas, dan konten yang mengejar perhatian, video itu justru membuat berhenti untuk mengingat sesuatu yang lebih lama daripada media sosial itu sendiri. Kerinduan manusia kepada sosok yang dicintainya.

Dari sana, ingatan kembali pada buku Bila Rasulullah Bertamu ke Rumahmu karya Bambang Q-Anees. Media, teknologi berubah. Cara orang menyampaikan pesan berubah. Dari buku, radio, televisi, hingga video pendek di layar ponsel.

Dalam buku jadeol itu dibuka dengan surat,

Kepada Q Anees

Salam

Berbahagialah karena dana satu-satunya orang di muka bumi ini yang akan menjadi tuan rumah paling mulia. Rasulullah akan datang bertamu padamu sehari dua barang kali akan menginap. Lakukan apa yang perlu disiapkan Salam (h. 16)

Konon, sepucuk ‘surat aneh’ ini datang entah dari siapa? Kala aku tengah mengurus KTP (Kartu Tanda Penduduk) untuk pinjaman KPR (Kredit Pemilikan Rumah) di sebuah bank pemerintah “Saya butuh cepat” begitu kataku pada petugas kelurahan.

Mereka bilang “Paling bisa minggu depan”. Padahal pihak bank menunggu 2 hari lagi. Kucari jalan keluar untuk mencari calo. “Oke sore ini bias kuserahkan. Aku bisa langsung bertemu dengan Camat” ini

jawaban yang kutunggu-tunggu. “Berapa? Tanyaku. Calo ini terdiam. Sejenak ia tak mau memasang harga. “Bagaimana kalau seratus ribu?” tanyaku. Ia lagi-lagi diam. Ini diam tak biasa. “kuberi Rp 50 ribu lagi,” mendadak senyumnya mengembang dan sore nanti aku akan sms!

Melayanglah uang Rp 150. 000- sebagian honor menulis. Sore hari ada sms “Maaf petugasnya sedang keluar kota. Jadi mungkin besok. Rupanya 150.000- tak cukup menjadi sabun yang melicinkan jalan juga.

Walhasil, satu, dua minggu kemudian KPRku pun tak jadi. Pada saat itulah aku mulai menyalahkan keadilan pembagian rezeki pada Tuhan. Tanpa diduga, “surat aneh”

Rasulullah akan datang padamu. Sehari dua barangkali akan menginap. Tentu dapat dipastikan, bila datangnya Rasul itu pagi hari dengan pakaian sederhana pada saat aku sibuk dengan tanaman hias di depan rumahku. Aku akan bersifat wajar. Tak akan segera menunda pekerjaan. Lantas mempersilahkan masuk. Namun, bila yang datang pejabat dengan pakaian mewah dan mengendarai kendaraan pastilah bergegas mempersilahkan masuk. Ironis memang!

Padahal nabi pernah berkata pada Aisyah “Wahai Aisyah! Sesungguhnya orang yang kedudukannya paling buruk di sisi Allah swt pada hari kiamat kelak ialah orang yang menjauhi orang lain karena keburukan hati dan kejahatannya. Saat ini Rasul sehabis menerima tamu yang wajah dan penampilannya sangat kasar dan jelek, tapi rasul tetep menyambut dengan lembut, sopan dan penuh hormat. (h. 24).

Agak berbeda dengan kita?

Sekali lagi, kita akan acuh tak acuh kedatangan Rasulullah. Pasalnya, penutup nabi ini sudah meninggal dan tak akan kembali lagi. Pertanyaan nya, bila memang terjadi sekaligus datang; Apakah Muhammad saw akan tersinggung? Tidak! Karena Rasul bukan tokoh suci yang gila hormat. Konon, ia tak memiliki kursi duduk khusus, baik di rumah maupun mesjid. Ia duduk sema dengan yang lain.

Melihat perilaku aku saat menjamu tamu layaknya tak pernah membaca hadits tentang menghargai tamu. Rasul pun geleng-geleng kepala sambil bergumam “Bukankah aku di utus untuk menyempurnakan akhlak? (25)

Buku yang ditulis oleh Founder Value Insitute ini memuat 14 cerita ‘unik’ ditambah Prolog-Epilog sekaligus mengajak kita semua sekalu umat Muhammad untuk mengevaluasi ulang ihwal kecintaan kita kepadanya. Jangan-jangan kemarahan kita kepada ada sekelompok orang mencaci-maki Muhammad; menggambarkannya (karikatur) sebatas kesal. Tapi tidak mengenal sosoknya.

“Aku melihat seorang lelaki dengan wajah berseri-seri dan bercahaya, berkulit bersih, badannya tidak kurus juga tidak gemuk, wajahnya elok rupawan, bola matanya hitam, bulu matanya lentik, alis matanya panjang bertautan. Jika dia diam tampaklah kharismanya. Jika ia sedang berbicara, tampak agung dan santun. Ia adalah orang yang tampak paling muda dan rupawan bila dipandang dari kejauhan, juga paling tampan dan mempesona di antara rombongannya. Ucapannya menyejukkan kalbu, perkataannya jelas, tidak sedikit; juga tidak bertele-tele. Beliau adalah orang yang paling menarik dan kharismatik di antara ketiga sahabatnya. Jika beliau berbicara, maka para sahabat yang menyertainya dengan khusyuk mendengarkan segala nasihat dan mematuhi segala perintahnya.”

Kiranya, Muhammad menjadi prototipe segenap kesempurnaan manusia. Kecintaan terhadap Rasul menggugah perasaan Annemarie Schimmel, Islamolog asal Jerman seorang ahli dalam Bidang Kajian Agama dan Peradaban Dunia untuk melakukan penelitian tentang peran Muhammad dalam kehidupan kaum Muslim sholeh, Ia mencatat “Penghormatan terhadap Nabi dan bahkan perhatian pada hal-hal yang kecil dari perilaku dan kehidupan pribadinya tumbuh kuat. Walaupun kaum muslim itu jauh darinya dalm segi waktu. Mereka senantiasa ingin mengetahui lebih banyak tentang kepribadiannya supaya kata-kata dan agar mendapatkan kepastian bahwa mereka memang mengikuti dengan benar. Para ulama popular sering menggambarkan sosok nabi ini dari warna-warni menakjubkan, bahkan dengan menambahkan detail-detail tak berarti”

Kehadiran, peristiwa Maulid Nabi (12 Rabi'ul Awal 1448 H) yang jatuh pada tanggal 25 Agustus 2026 ini merupakan momentum yang tepat untuk meneladani Rasulullah. Semoga predikat, menjadi saudaraku (dalam hadist Nabi) memang bukan sahabat rasul. Mereka yang jauh dari aku tapi berpegang teguh pada ajaran-ajaran ku.

Ya Nabi salam alaika

Ya Rasul salam alaika

Ya Habib salam alaika

Shalawatullah alaika

Ingat, kebutuhan, kerinduan manusia untuk mencari makna, keteladanan, dan sesuatu yang dicintainya tidak banyak berubah. Justru yang berubah hanya cara pesan itu sampai kepada kita.

Bila dulu kita membuka buku dan memilih halaman mana yang ingin dibaca. Kini, sebagian halaman kehidupan justru dibukakan oleh algoritma. Ya tugas kita bukan memusuhi algoritma dan tidak bisa sepenuhnya menghindari media sosial.

Melainkan yang perlu kita bangun itu kesadaran apa yang muncul di layar bukan keseluruhan dunia, hanyalah sebagian kecil dari puzzle yang telah dipilih, disusun, dan dipersonalisasi untuk hadir.

Pasalnya, di tengah ruang digital yang semakin riuh, literasi digital bukan hanya kemampuan membedakan berita benar dan berita palsu, tetapi kemampuan menjaga jarak antara apa yang kita lihat dengan apa yang langsung kita percayai.

Walhasil, saat algoritma semakin pandai mengenali kita, harusnya semakin pandai mengenali diri sendiri. Termasuk waktu kita berhenti pada satu video, apa yang kita rasakan setelah menontonnya, dan nilai apa yang bisa diambil hikmahnya.

Malam semakin dingin di Babakan Dangdeur. Layar ponsel akhirnya dimatikan. Saatnya nilai-nilai Rasulullah kita amalkan, jalani dalam mengarungi kehidupan sehari-hari yang fana ini. (*)

Reporter Ibn Ghifarie
Editor Aris Abdulsalam