PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) merupakan salah satu perusahaan multinasional dengan kinerja bisnis yang kuat selama puluhan tahun. Perusahaan berhasil mencatatkan kapitalisasi terbesar pada industri Fast Moving Consumer Goods (FMCG), mengalahkan pesaing-pesaing besar, seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk dan PT Mayora Indah Tbk. Produk-produk UNVR yang mencakup kebutuhan rumah tangga, baik dapur maupun kamar mandi, menjadikannya salah satu merek yang paling dikenal di Indonesia.
Namun, di balik citra “raksasa yang tak tergoyahkan”, UNVR menghadapi tantangan yang cukup rumit sepanjang tahun 2023-2024. Semua bermula ketika satu peristiwa geopolitik mengakibatkan guncangan hebat pada kinerja keuangannya. Faktor utama guncangan tersebut adalah kepercayaan dan persepsi publik.
Situasi ini dirasa cukup unik karena bagaimana sebuah perusahaan dengan fundamental bisnis yang baik, seperti produksi yang efisien, distribusi luas, dan portofolio merek yang cukup menyatu dengan rumah tangga di Indonesia, justru bisa terguncang bukan karena kesalahan operasional atau strategi bisnis yang gagal, melainkan karena bagaimana publik memandang perusahaan tersebut. Umumnya, ancaman bagi perusahaan sekelas UNVR lebih dapat diprediksi, seperti tekanan biaya bahan baku, persaingan harga dengan kompetitor, atau mungkin penurunan daya beli akibat kondisi makroekonomi. Namun, ancaman yang ternyata dihadapi UNVR adalah sentimen sosial yang sulit dikendalikan.
Menariknya, produk UNVR sendiri tidak berubah, kualitas yang konsisten, bahkan rantai distribusinya tetap berjalan dengan normal. Perubahan yang terjadi adalah persepsi konsumen terhadap merek-merek yang percayai. Pergeseran inilah yang kemudian menarik perhatian lebih, di mana kepercayaan publik mampu mempengaruhi kinerja keuangan sebuah perusahaan terhadap sesuatu yang tidak pernah tercantum dalam laporan keuangan itu sendiri.
Beberapa perusahaan multinasional lain di seluruh dunia menghadapi hal yang serupa seperti UNVR. Ketika isu geopolitik menyeret merek-merek ternama ke tengah opini publik. Mengingat posisi UNVR yang kuat di industri FMCG nasional, dampak yang dirasakan terlihat lebih jelas dibandingkan dengan perusahaan sejenis lainnya. Tekanan yang dialami UNVR menyebar lebih cepat, ketika harga saham, laba bersih, bahkan pangsa pasar mengalami penurunan.
Guncangan Reputasi Akibat Boikot
Sebelum krisis reputasi terjadi di tahun 2023-2024, UNVR sempat menghadapi tekanan akibat pandemi COVID-19 pada tahun 2020-2021 yang mengakibatkan penurunan laba bersih hampir 20% pada tahun 2020. Lebih lanjut, penelitian dari Sitinjak dkk tentang Kinerja Keuangan UNVR pada tahun 2023 menyebutkan bahwa UNVR bahkan masuk dalam kategori perusahaan yang mengalami tekanan finansial akibat cash ratio perusahaan bahkan berada di bawah standar industri, meskipun tidak sampai pada risiko gagal bayar. Terlepas dari kondisi tersebut, tekanan ini relatif dapat diprediksi dan mulai mereda seiring dengan pelonggaran kebijakan dan program vaksinasi secara masif pada tahun 2022.
Konflik Israel-Palestina kembali memanas pada akhir tahun 2023 usai serangan mendadak Hamas ke wilayah Israel memicu operasi militer balasan secara masif di Jalur Gaza. Aksi tersebut menarik perhatian masyarakat internasional, khususnya Indonesia, sebagai negara dengan populasi Islam terbesar di dunia. Dukungan yang diberikan tidak hanya melalui upaya diplomatik dan bantuan kemanusiaan, tetapi juga melalui gerakan boikot terhadap produk-produk yang diduga berafiliasi dengan Israel.
Sebagai anak usaha dari Unilever PLC, yang berbasis di London, Inggris, UNVR seringkali dikaitkan publik dengan isu boikot tersebut. Tidak hanya itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerbitkan Fatwa Nomor 83 Tahun 2023 sebulan setelah konflik memanas. Fatwa tersebut secara tegas menyatakan bahwa mendukung agresi Israel adalah haram, bahkan menghimbau umat Islam untuk menghindari produk-produk perusahaan yang dianggap mendukung agresi tersebut. Meskipun manajemen telah berulang kali menegaskan bahwa UNVR tidak memiliki kaitan apapun yang mendukung agresi tersebut, namun UNVR tetap menjadi salah satu sasaran utama gerakan boikot yang bermula dari tagar penolakan pada sosial media.
Sejumlah analis, termasuk analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, gerakan boikot tersebut diduga berkontribusi terhadap penurunan harga saham UNVR sepanjang Oktober-Desember 2023. Selanjutnya, penelitian Riyanti dan Nisa tentang Dampak Aksi Boikot Produk Berafiliasi Israel terhadap Pertumbuhan Produk Lokal di Era Konflik Israel-Palestina tahun 2024 menguraikan bahwa preferensi konsumen yang terus bergeser ke produk lokal mengindikasikan adanya potensi pergerakan pola konsumsi masyarakat yang lebih permanen, meskipun gerakan boikot sudah mulai mereda.
Kinerja Terburuk dalam Satu Dekade
Tekanan yang terus dihadapi oleh UNVR kemudian menyebabkan kinerja keuangan di tahun 2024 menjadi yang terburuk dalam satu dekade terakhir. Penjualan bersih turun menjadi Rp 35,1 triliun, bahkan laba bersih anjlok 29,8% menjadi hanya Rp 3,4 triliun. Terlebih lagi, Bloomberg Technoz menyampaikan bahwa pada awal tahun 2025, FTSE Russell mengeluarkan saham UNVR dari Large Cap menjadi Mid Cap akibat penurunan pangsa pasar sebesar 2,68%.
Pengambilan langkah yang berani oleh manajemen dengan melepas unit bisnis es krimnya senilai Rp 7 triliun kepada PT The Magnum Ice Cream Indonesia, merupakan salah satu upaya untuk menghadapi tekanan yang berkepanjangan, sehingga perusahaan dapat memaksimalkan sumber daya yang dimilikinya pada produk yang dinilai memiliki potensi lebih besar dalam memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham.
Keputusan ini bukan semata-mata dilaksanakan tanpa risiko. Melepas unit bisnis yang sudah lama menjadi bagian dari portofolio perusahaan menggambarkan besarnya tekanan yang dihadapi oleh perusahaan, sehingga manajemen berani mengambil langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan bisnis secara keseluruhan. Di sisi lain, dalam laporan tahunan UNVR tahun 2025 disebutkan bahwa divestasi unit bisnis es krim dilakukan dengan pertimbangan karakteristik operasional yang khas, termasuk tingkat musiman yang tinggi, kebutuhan cold-chain yang padat modal, dan profil channel yang memerlukan model operasi yang lebih khusus.
Pelajaran di Balik Dua Krisis dengan Perbedaan Karakter
Krisis kesehatan global dan krisis reputasi akibat sentimen geopolitik ternyata mampu menekan kinerja keuangan perusahaan raksasa seperti UNVR. Di satu sisi, pandemi berhasil menekan perusahaan dari sisi permintaan dan struktur biaya operasional, meskipun polanya relatif dapat terprediksi. Sementara itu, di sisi lain, kepercayaan dan loyalitas konsumen jatuh akibat boikot, sehingga dampak yang dihasilkan menjadi jauh lebih sulit untuk dipulihkan.
Pembelajaran yang berharga bagi UNVR, bahwa isu geopolitik ternyata mampu memengaruhi keputusan belanja rumah tangga yang cukup signifikan. Kini, ketahanan reputasi menjadi suatu hal yang penting, terutama bagi perusahaan multinasional yang beroperasi di pasar dengan sensitivitas sosial dan politik yang tinggi seperti Indonesia.

Perjalanan UNVR menggambarkan bahwa perusahaan dengan posisi terkuat sekalipun, tidak sepenuhnya tahan terhadap tekanan eksternal. Di satu sisi, pandemi lebih banyak memberikan dampak terhadap aspek operasional, seperti peningkatan biaya. Di sisi lain, boikot menggerus kepercayaan konsumen, sehingga lebih berkontribusi pada seluruh aspek kinerja perusahaan. Perbedaan karakter ini memberikan penegasan bahwa faktor non-keuangan, seperti sentimen sosial dan geopolitik, mampu memengaruhi kinerja keuangan perusahaan secara nyata.
Pengalaman pahit ini diharapkan mampu menjadi pembelajaran berharga tidak hanya bagi UNVR, tetapi bagi perusahaan multinasional lain di Indonesia, bahwa merawat kepercayaan konsumen di tengah isu geopolitik yang sensitif sama pentingnya dengan menjaga kinerja keuangan perusahaan. (*)