Ada masa ketika hari-hari kita terasa lebih lengkap dengan secangkir kopi, radio yang mengalunkan lagu-lagu pop, dan membaca sebuah majalah mingguan yang baru dibeli dari lapak koran.
Dahulu tidak ada internet, tidak ada media sosial, tidak ada mesin pencari untuk menemukan kabar terbaru tentang artis idola.
Yang ada hanyalah majalah, radio, televisi, kaset pita, dan tentu saja imajinasi.
Di antara bacaan yang pernah menemani masyarakat Indonesia pada zamannya adalah Majalah Zaman, sebuah majalah mingguan dengan slogan “Mingguan untuk Seluruh Keluarga”. Penyajiannya ringan dan renyah, tetapi pada saat yang sama memiliki sentuhan jurnalistik dan sastra yang kuat.
Kini, lebih dari empat dekade kemudian, penulis mengajak kembali membuka Majalah Zaman edisi September 1984, terbitan 42 tahun silam.
Membaca kembali majalah lawas ini serasa memutar kaset lama. Pelan-pelan, suara masa lalu seperti muncul kembali dari balik lembaran, wajah penyanyi, bintang film, tokoh masyarakat, laporan jurnalistik, dunia pendidikan, cerita wayang, cerpen, hingga berbagai rubrik yang dahulu menjadi teman pembaca di rumah.
Kertasnya boleh menua, tetapi cerita yang tersimpan di dalamnya justru membuat sebuah zaman terasa hidup kembali.
Salah satu daya tarik Majalah Zaman terletak pada gaya penulisannya.
Majalah ini tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga memiliki cara bertutur yang khas. Berita tetap disajikan sebagai berita, namun sering kali dibungkus dengan bahasa yang mengalir, renyah, dan memiliki cita rasa sastra.
Warna tersebut tentu tidak dapat dilepaskan dari jajaran redaksinya yang dihuni sejumlah nama besar dalam dunia sastra dan jurnalistik Indonesia.
Ada Goenawan Mohamad sebagai Pemimpin Redaksi, Putu Wijaya sebagai Redaktur Pelaksana, serta Danarto sebagai redaktur, di samping sederet nama lain yang telah dikenal melalui karya jurnalistik maupun sastra mereka.
Tidak mengherankan apabila tulisan-tulisan Zaman terasa memiliki karakter tersendiri.
Saat membacanya sekarang seperti menemukan kembali sebuah gaya jurnalistik yang tidak tergesa-gesa, memberi ruang kepada pembaca untuk menikmati informasi sekaligus merasakan cerita di baliknya.
Sampul Zaman edisi September 1984 menampilkan penyanyi muda dan cantik Ria Angelina.
Saat itu usianya sekitar 19 tahun. Nama lengkapnya Maria Angelina, lahir di Cimahi, 8 September 1965. Namanya mulai mencuri perhatian publik melalui album Birunya Rinduku, karya Obbie Messakh.
Kemudian hadir album keduanya, Elegi Rinduku. Lagu dengan judul yang sama menjadi salah satu lagu unggulan dan meraih popularitas di pasaran.
Ria Angelina juga tercatat sebagai salah satu penyanyi yang berada di bawah naungan JK Records, label yang pada dekade 1980-an dikenal luas sebagai rumah bagi sejumlah penyanyi perempuan dengan penampilan menarik.
Bagi remaja era 1980-an, lagu Elegi Rinduku bukan sekadar lagu.
Ia merupakan bagian dari suasana masa muda—masa ketika kaset pita diputar berulang-ulang, lirik lagu ditulis ulang di buku catatan, dan sampul kaset menjadi benda yang tak kalah menarik untuk dikoleksi.
Ah, romantisme era kaset.
Ada nama Meriam Bellina juga menjadi salah satu bagian menarik dari edisi ini.
Ia meraih Piala Citra melalui film Cinta di Balik Noda arahan sutradara Bobby Sandy.
Kesuksesan Meriam di layar lebar tidak terlepas dari kiprah produser Ferry Anggriawan melalui Virgo Putra Film. Sejumlah film yang diproduksi dan dibintanginya antara lain Pengantin Pantai Biru, Titik-Titik Noda, Permata Biru, dan Cinta di Balik Noda.
Melihat kembali foto Meriam Bellina bersama Sandro Tobing dalam Cinta di Balik Noda seperti membuka kembali album perfilman Indonesia era 1980-an.
Saat itu, poster film masih menjadi bagian dari pemandangan di sekitar bioskop. Nama-nama bintang film menjadi bahan obrolan di sekolah, kantor, warung, hingga ruang keluarga.
Film dan para pemainnya memiliki tempat tersendiri dalam ingatan masyarakat.
Zaman ternyata tidak hanya menawarkan hiburan.
Majalah ini juga memuat laporan mengenai Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR), sebuah kegiatan yang mendorong pelajar untuk mengembangkan minat, kreativitas, kemampuan berpikir, dan tradisi penelitian.
Pada masa itu, kegiatan ilmiah di luar sekolah mulai mendapatkan perhatian lebih besar. Kerja sama LIPI dan TVRI dalam penyelenggaraan LKIR membuat kegiatan tersebut cukup bergengsi di kalangan pelajar.
Para peserta harus menyiapkan makalah sebelum mengikuti lomba. Panitia juga memberikan panduan mengenai bentuk karya yang harus dibuat, sehingga para pelajar memperoleh arahan dalam menuangkan gagasan dan hasil penelitian mereka.
Kini, membaca kembali laporan tersebut terasa menarik.
Jauh sebelum istilah science competition dan research project menjadi populer, para remaja Indonesia telah diajak untuk mengamati persoalan, melakukan penelitian, berpikir kritis, dan menuangkan gagasan melalui karya ilmiah.
Sebuah pengingat bahwa tradisi berpikir dan meneliti di kalangan generasi muda bukanlah sesuatu yang baru.
“Sehari Bersama” Tanri Abeng
Rubrik “Sehari Bersama” menghadirkan sosok Tanri Abeng, eksekutif yang pada masa itu mulai dikenal luas di dunia bisnis Indonesia.
Tulisan tersebut mengulas perjalanan hidup, gaya kepemimpinan, strategi, serta gagasan yang ikut mengantarkannya menuju kesuksesan.
Tanri Abeng disebut lahir di Pulau Selayar, Sulawesi Selatan. Ketika remaja, ia melanjutkan pendidikan di SMEA dengan biaya sendiri.
Perjalanan pendidikannya kemudian membawanya memperoleh beasiswa dari American Field Service dan melanjutkan pendidikan di Amerika Serikat.
Kelak, Tanri dikenal sebagai salah satu eksekutif terkemuka Indonesia dan mendapat julukan “Manajer Rp1 Miliar.”
Kehadiran kisahnya menunjukkan bahwa Zaman tidak hanya berbicara tentang artis dan hiburan. Dunia bisnis, kepemimpinan, pendidikan, dan perjalanan hidup tokoh inspiratif juga mendapat tempat.
Salah satu tulisan yang menarik perhatian adalah wawancara dengan Nurcholish Madjid, yang akrab disapa Cak Nur.
Ia lahir di Mojoanyar, Jombang, 17 Maret 1939. Tokoh intelektual Islam ini pernah terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) pada 1966 dan kembali terpilih pada 1969.

Dalam perjalanan intelektualnya, Cak Nur kemudian tinggal di Chicago, Amerika Serikat, bersama keluarga untuk memperdalam ilmu agama.
Ia menyelesaikan tesis setebal 254 halaman berjudul Ibnu Taimiyyah tentang Kalam dan Falsafat, yang membahas persoalan hubungan antara akal dan wahyu dalam Islam. Tesis tersebut berhasil dipertahankan dengan predikat cum laude.
Membaca kembali wawancara tersebut hari ini memberikan gambaran mengenai bagaimana sebuah majalah keluarga pada era 1980-an memberi ruang cukup luas bagi gagasan, intelektualitas, pemikiran keagamaan, dan tokoh yang sedang menjadi perhatian publik.
Pada rubrik Reportase, Zaman mengangkat persoalan perampokan terhadap nasabah bank yang baru mengambil uang.
Fenomena tersebut disebut semakin marak di sejumlah kota besar Indonesia.
Menariknya, laporan itu juga menyoroti masih minimnya masyarakat yang meminta pengawalan polisi setelah mengambil uang dalam jumlah besar dari bank. Layanan bantuan kepolisian yang disebut tersedia melalui nomor 510-110 pun dikabarkan belum banyak dimanfaatkan.
Lebih dari empat puluh tahun kemudian, laporan tersebut terasa seperti potret sosial dari Indonesia yang sedang bergerak menuju kehidupan urban.
Kota semakin ramai, aktivitas ekonomi berkembang, tetapi persoalan keamanan pun ikut berubah.
Ternyata, sejumlah persoalan yang kita jumpai di kota-kota besar hari ini memiliki jejak yang cukup panjang.
Rubrik Musik Indonesia mengupas fenomena industri musik pop yang sedang berkembang pada masa itu.
Salah satu persoalan yang disoroti adalah kecenderungan sebagian produser yang menempatkan penampilan sebagai salah satu pertimbangan penting dalam memilih penyanyi.
Wajah cantik, menurut tulisan tersebut, terkadang dianggap sebagai modal awal. Bahkan suara bagus pun tidak selalu menjadi satu-satunya pertimbangan.
Penyanyi baru dapat muncul secara tiba-tiba, melejit, lalu menghilang. Sebaliknya, ada pula yang meniti karier secara perlahan dan mampu bertahan panjang.
Mereka yang mampu bertahan biasanya memiliki kombinasi vokal yang baik, penampilan menarik, kepribadian, serta dukungan publikasi yang konsisten.
Nama JK Records kemudian menjadi bagian penting dalam pembahasan.
Label yang dipimpin Judhi Kristianto itu dikenal luas sebagai “gudangnya penyanyi cantik”. Sederet nama berada di bawah naungannya, antara lain Meriam Bellina, Dian Piesesha, Chintami Atmanegara, Rieke Adriati, Rina Megasari, Heidy Diana, Ria Angelina, dan Eva Solina.
Membaca daftar tersebut seperti membuka kembali rak kaset tahun 1980-an.
Sampul kaset dengan foto penyanyi, huruf-huruf besar, serta lagu-lagu bertema cinta dan kerinduan menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya pop masa itu.
Dunia internasional juga mendapat ruang.
Salah satu berita yang cukup menghebohkan datang dari Amerika Serikat melalui kontroversi yang melibatkan Vanessa Williams, yang ketika itu dikenal sebagai Miss America.
Zaman mengulas publikasi foto-fotonya di majalah Penthouse pada September 1984. Peristiwa tersebut menjadi skandal besar karena berkaitan dengan statusnya sebagai pemegang gelar Miss America.
Tulisan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana majalah Indonesia pada masa itu membawa berbagai peristiwa internasional ke hadapan pembaca.
Jarak ribuan kilometer tidak lagi menjadi penghalang.
Dunia yang jauh dapat hadir di ruang keluarga hanya melalui beberapa lembar majalah.
Bagi pencinta sastra, Zaman edisi September 1984 menyediakan bacaan yang tak kalah menarik.
Ada cerita pendek “Untuk Apa Jatuh Cinta” karya Mochtar Effendi.
Ada pula serial Cerita Wayang karya Seno Gumira Ajidarma berjudul “Lenyap dari Jagad Perwayangan”, yang menghadirkan dunia pewayangan melalui sentuhan sastra modern.
Kehadiran cerpen dan cerita wayang tersebut semakin mempertegas karakter Zaman sebagai majalah yang berada di persimpangan antara jurnalistik, budaya, hiburan, dan sastra.
Membuka daftar rubrik tetap Zaman juga seperti melihat menu sebuah majalah keluarga pada masa lalu.
Ada Surat-Surat, Titipan, Info Ilmu, Goro-Goro, Baki, Zaman Edan, Ngintip, Stoper, Film, Rupa-Rupa, TTS, Cerita Wayang, Cerita Nyata, dan Cerita Pendek.
Rubrik-rubrik tersebut membuat Zaman terasa lengkap.
Ada berita untuk dibaca, cerita untuk dinikmati, ilmu untuk dipelajari, teka-teki untuk dimainkan, hiburan untuk menemani waktu senggang, dan sastra untuk direnungkan.
Sebuah majalah benar-benar menjadi teman di rumah.
Kini, ketika Zaman edisi September 1984 kembali berada di tangan, suasana lebih dari empat dekade silam seperti muncul kembali dari balik halaman.
Membaca Zaman hari ini mungkin seperti menemukan kembali sebuah kaset lama di dalam laci.
Kita tahu lagu-lagunya telah lama berlalu. Tetapi begitu tombol play ditekan, kenangan tiba-tiba kembali memenuhi ruangan.
Begitu pula majalah lawas.
Ia tidak sekadar menyimpan tulisan.
Ia menyimpan suasana.
Suasana Indonesia tahun 1984, ketika kaset pita masih menjadi raja, radio menjadi sahabat, televisi menjadi pusat hiburan keluarga, bioskop menjadi tempat menikmati gemerlap bintang film, dan majalah menjadi salah satu jendela untuk mengenal dunia.
Karena itu, membuka kembali Zaman bukan sekadar membaca majalah tua. Ini adalah perjalanan pulang sejenak ke sebuah zaman.

Sebuah zaman ketika tinta dan kertas memiliki suara, ketika sebuah foto artis mampu membuat remaja berkhayal, ketika lirik lagu disalin dengan tangan, ketika kabar dunia ditunggu dari halaman majalah, dan ketika membaca bukan sekadar kegiatan mencari informasi, melainkan sebuah pengalaman.
Zaman boleh berganti. Kertas boleh menua. Tetapi kenangan yang pernah ditorehkan di atasnya selalu punya cara untuk kembali.
Dan mungkin, di situlah sesungguhnya kekuatan sebuah majalah lama,
ia bukan hanya menyimpan cerita tentang masa lalu, tetapi juga menyimpan sebagian dari diri kita yang pernah hidup di dalamnya. (*)