Kabupaten Purwakarta tidak hanya tersohor karena keindahan alam dan kulinernya, tetapi juga menyimpan rekam jejak sejarah perjuangan bangsa yang mendalam. Salah satu narasi sejarah yang paling memikat adalah peran strategis wilayah ini sebagai basis pertahanan militer pada masa mempertahankan kemerdekaan. Di sudut-sudut kota inilah, saksi bisu pergerakan pasukan elite Jawa Barat pernah berdiri tegak.
Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta menjadi titik sentral komando yang mengoordinasikan berbagai strategi gerilya melawan agresi militer penjajah. Keberadaan markas ini membuktikan bahwa Purwakarta merupakan wilayah krusial dalam peta geopolitik dan militer masa lalu. Dinamika perjuangan para tokoh dan prajurit di tempat ini telah membentuk fondasi patriotisme yang kuat bagi masyarakat lokal.
Artikel ini akan mengulas lebih dalam mengenai sejarah berdirinya markas tersebut, momen-momen penting yang terjadi di dalamnya, hingga kondisinya saat ini. Melalui catatan ini, kita diajak untuk menyelami kembali heroisme masa lalu sekaligus merawat ingatan sejarah yang mulai pudar.
Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi.
Menguak sejarah Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta.
Sekilas Sejarah Pembentukan Tentara
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, maka pada tanggal 25 Agustus 1945 Badan Keamanan Rakyat (BKR) Purwakarta terbentuk dan bermarkas di bekas Hotel Spoorzichter (sekarang Gedong Kembar sebelah Utara) di Purwakarta. Pada tanggal 05 Oktober 1945 setelah BKR berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Purwakarta menjadi tempat kedudukan Resimen VI TKR dan Brigade III/Kiansantang.
Selanjutnya untuk menyempurnakan organisasi tentara menurut standar militer internasional, maka pada tanggal 26 Januari 1946 Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan maklumat tentang penggantian nama Tentara Keselamatan Rakyat menjadi Tentara Republik Indonesia. Maklumat ini dikeluarkan melalui Penetapan Pemerintah No. 4/SD Tahun 1946.
Dengan adanya maklumat ini membuat Komandemen I Jawa Barat dengan 15 resimen dan 3 divisinya menjadi 1 divisi, yaitu dengan nama Divisi I Siliwangi yang terdiri dari 5 brigade (gabungan resimen-resimen), yaitu: Brigade I Tirtayasa di Serang, Banten; Brigade II Suryakancana di Sukabumi, Cianjur dan Bogor; Brigade III Kiansantang di Purwakarta, Karawang dan Subang; Brigade IV Guntur di Tasikmalaya, Priangan dan Brigade V Gunungjati di Cirebon. Batalyon Gerilya (Guerilla) pun mengalami perubahan menjadi Batalyon IV Resimen V Brigade III Kiansantang Divisi I Siliwangi.
Pada tanggal 20 Mei 1946, ketiga divisi tersebut bersatu dengan nama Divisi Siliwangi, bermarkas di Tasikmalaya. Tiga hari kemudian, 23 Mei 1946, rapat komandan Jawa dan Madura memilih Jenderal Mayor Abdul Harris Nasution sebagai Panglima Divisi Siliwangi dan Kolonel Askari menjadi Kepala Staf Divisi Siliwangi serta Mayor Umar Wirahadikusumah sebagai Ajudan Panglima Divisi Siliwangi merangkap Direktur Latihan Perwira Divisi dan Komandan Batalyon 1 Resimen 5 Brigade III/Kian Santang (1947-1948).
Pada tanggal 03 Juni 1947 TRI berubah lagi menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Pos Komando Resimen TNI di Plered, Purwakarta dan sektor pertahanan Resimen 7 di Padalarang. Mulai tanggal 21 Juli 1947 ketika tentara Belanda melancarkan Agresi Militer I, pasukan Belanda menyerang tempat-tempat kedudukan TNI, antara lain Purwakarta dan terjadi pertempuran yang hebat di Purwakarta dan sekitarnya.
Ketika mereka harus melakukan hijrah (perjalanan panjang pasukan Siliwangi dari wilayah Jawa Barat ke Yogyakarta), yang terjadi menyusul penandatanganan Perjanjian Renville antara Belanda dan Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 17 Januari 1948, di mana dua per tiga pulau Jawa (Jawa Barat dan Jawa Timur) dan Sumatera Timur dan Selatan diserahkan kepada Belanda. Hal ini berarti bahwa kantong-kantong gerilya di daerah Jawa Barat yang telah terbangun harus dipindahkan ke daerah Republik Indonesia. Maka dengan demikian sejumlah > 22.000 orang prajurit anggota Divisi Siliwangi dipaksa hijrah ke daerah Jawa Tengah. Hijrah dimulai pada tanggal 01 Februari hingga 22 Februari 1948.
Hijrah itu berlangsung melalui 2 (dua) jalur, darat dan laut. Pasukan-pasukan Siliwangi Jawa Barat yang berasal dari Bogor, Cianjur, Padalarang, Purwakarta dan Ciwidey berangkat ke Cirebon menggunakan kereta api. Dari Cirebon pasukan ini diberangkatkan menggunakan kapal laut menuju Rembang. Brigade Tarumanegara dan Resimen 10 berangkat dari Tasikmalaya, sebagiannya lagi menggunakan kereta api lewat Gombong menuju Yogyakarta dan setengahnya menggunakan truk ke Cirebon, lalu disambung dengan kapal laut untuk ke Rembang. Gerakan hijrah dari Jawa Barat ini dipimpin Letnan Kolonel Ahmad Junus Mokoginta dan diketuai oleh Arudji Kartawinata selaku Menteri Muda Pertahanan. Mulai 19 Desember 1948 dalam menghadapi Agresi Militer Belanda II, Purwakarta juga menjadi tempat kedudukan TNI dari Batalyon Mayor Sentot Iskandardinata dari Divisi Siliwangi.
Karena pusat pemerintahan Kabupaten Karawang Timur di Purwakarta dipindahkan ke Subang sejak tanggal 01 April 1948. Area pemerintahan Gedung Negara dan Pendopo Kabupaten ini sejak tidak digunakan lagi, sempat kosong, kemudian digunakan untuk keperluan sebagai markas tentara dari Teritorium Tentara III/Siliwangi kemudian berubah menjadi Komando Daerah Militer III/Siliwangi, yaitu Brigade 23/Siliwangi yang berganti nama menjadi Resimen Infanteri 7/Siliwangi, Komando Resort Militer Purwakarta yang kemudian berganti nama menjadi Brigade Infanteri XIV/Mesabarwang hingga pembetukan Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang terhitung sejak tanggal 29 Juni 1968. Eks anggota-anggota Brigade Infanteri XIV/Mesabarwang disalurkan ke dalam Komando Distrik Militer 0619/Purwakarta semenjak 24 Mei 1975.
Kemudian setelah ibukota Kabupaten Karawang Timur (Purwakarta) dipindahkan dari Purwakarta ke Subang, maka untuk kurun waktu antara tahun 1948-1968 kedua gedung kabupaten ini pernah digunakan sebagai Markas Brigade Infanteri XIV Mesa Barwang Divisi/Kodam Siliwangi yang beberapa orang komandannya dikenal sebagai: Achmad Kemal Idris, Letjen TNI (Purn.) (1949-1955), Poniman, Jend. TNI (Purn.) (1959-1962), Tarmat Widjaja, Brigjen TNI (Purn.) (1964) dan Willy Gayus Alexander Lasut, Brigjen TNI (Purn.) (1968-1970).
Markas Tentara
Badan Keamanan Rakyat (BKR) Purwakarta dengan dikomandani oleh Letkol Sumarna, berlokasi di bekas rumah dinas kolonial, yang kemudian menjadi Gedung Juang 45.
Tentara Repubik Indonesia Kereta Api (TRI-KA) dikomandi oleh Kapten Sukaryo dibantu oleh Letnan Jayusman;
Tentara Republik Indonesia Field Preparation Karawang (TRI-FP) dikomandani oleh Mayor Akip Prawirasuganda dibantu oleh Lettu Yasin;
Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) dikomandani oleh Rustamaji dibantu oleh Aming Rachmat, Adang Syamsul Bahri, Ilyas dan A. Arief.
Divisi Siliwangi di Purwakarta dikomandani oleh (Panglima) Jend. May. Didi Kartasasmita dengan Kepala Staf Kolonel Abdul Haris Nasution dengan para ajudan: Kolonel Abdul Kadir (kemudian menjadi Panglima Divisi Sunan Gunung Jati), Letkol Hidayat (kemudian menjadi Komandan Resimen Bogor), Letkol Rchmat Kartakusuma, Mayor Ahmad Sukrama Wijaya dan Mayor Alexander Evert Kawlarang.
Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta dahulu menempati rumah dinas kolonial.
Jend. May. Didi Kartasasmita menempati rumah dinas kolonial.
Kolonel Abdul Kadir menempati bekas rumah dinas kolonial.
Kolonel Abdul Haris Nasution (yang kemudian digantikan oleh Kolonel Hidayat) menempati rumah dinas kolonial, sekarang rumah keluarga Ir. Tukul Santoso (Perum Jasa Tirta II).
Markas Resimen VI Divisi Siliwangi di Purwakarta menempati Kantor Karesidenan Purwakarta.
Kolonel Sumarna menempati bekas rumah dinas kepala NV. Gemeentelijke Electriciteitsbedrijf Bandoeng en Omstreken (GEBEO).
Brigade III Kiansantang Divisi Siliwangi dikomandani oleh Letikol Sdik Brotoatmodjo dengan Kepala Staf Mayor Ahmad Yunus Mokoginta. Resimen VII Purwakarta Brigade III Kiansantang Divisi Siliwangi dikomandani oleh Letkol Sumarna (kemudian digantikan oleh Letkol Umar Bachsan) dengan Kepala Staf Mayor Bajuri (kemudian digantikan oleh Mayor Cecep Prawiraatmaja). Para Komandan Batalyonnya: Komandan Batalyon I Mayor Umar Bahsan, Komandan Batalyon II Mayor Mustafa Kamal (kemudian digantikan oleh Mayor Umar Naseri), Komandan Batalyon III Mayor Marwoto (kemudian digantikan oleh Mayor Sunarya) dengan para komandan batalyon yang lain: Mayor Achmad Sachdi (kemudian menjadi pengkhianat rakyat, bangsa dan negara), Mayor Cecep Prawiraatmaja (digantikan oleh Mayor Hamdi) dan Mayor Dachyar.

Keberadaan markas Divisi Siliwangi di Purwakarta bukan sekadar catatan usang dalam lembaran sejarah perjuangan bangsa. Tempat ini adalah saksi bisu kegigihan para prajurit Siliwangi dalam mempertahankan kedaulatan tanah pasundan dari cengkeraman penjajah. Menjaga dan merawat ingatan kolektif akan situs bersejarah ini merupakan tanggung jawab bersama agar nilai-nilai patriotisme tersebut tidak pudar ditelan zaman. Pada akhirnya, jejak langkah perjuangan di Purwakarta ini akan terus menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk tetap teguh menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menelusuri kembali rekam jejak markas Divisi Siliwangi di Purwakarta membawa kita pada pemahaman mendalam tentang arti sebuah pengorbanan. Kehadiran situs ini menjadi pengingat penting bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini ditebus dengan keringat dan tumpahan darah para pahlawan. Oleh karena itu, mari kita jaga kelestarian warisan sejarah ini dan menjadikannya sebagai sarana edukasi yang hidup. Dengan menghargai tempat bersejarah ini, kita turut merawat api semangat perjuangan Siliwangi agar tetap menyala di hati sanubari masyarakat Purwakarta khususnya dan Jawa Barat umumnya.
Sebagai penutup, markas Divisi Siliwangi di Purwakarta telah mengukir tinta emas dalam panggung sejarah militer Indonesia. Lokasi ini tidak hanya menjadi simbol pertahanan yang kokoh di masa lalu, tetapi juga cerminan identitas dan kebanggaan bagi masyarakat Jawa Barat hingga kini. Semoga ulasan mengenai peninggalan bersejarah ini dapat mempertebal rasa nasionalisme kita semua. Mari bersama-sama menghormati jasa para pahlawan dengan terus mengobarkan semangat "Esa Hilang, Dua Terbilang" demi masa depan bangsa yang lebih gemilang. (*)