Ayo Netizen

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Oleh: Djoko Subinarto
Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)

BANDUNG, kota yang dahulu dikenal memiliki kepadatan frekuensi radio yang luar biasa -- bahkan dalam sejumlah sumber disebut-sebut sebagai salah satu yang terpadat di dunia -- kiwari justru sedang menyaksikan radio-radio mulai berguguran. 

Sebuah kajian akademik yang mengutip sumber lama menyebut sekitar 60 stasiun radio FM pernah beroperasi di Bandung pada tahun 2004. Dokumen lain mengenai Bandung Raya mencatat 53 stasiun radio eksisting pada 2005, melampaui kapasitas kanal yang saat itu dihitung, yaitu 48.

Di masa baheula, kepadatan itu bukan sekadar angka pada tabel frekuensi. Ia adalah tanda denyut kehidupan kota. Betapa tidak. Bandung punya stasiun radio untuk anak muda, radio keluarga, radio dangdut, radio rock, radio country, radio jazz, radio berita, radio budaya, radio religi, radio dongeng, radio anak, maupun radio komunitas dan berbagai format lainnya. 

Di angkasa Bandung sempat terjadi semacam pasar gagasan, dimana suara penyiar bersaing dengan suara penyiar lain, lagu satu bersaing dengan lagu lain, dongeng satu bersaing dengan dongeng lain, dan setiap radio berusaha menemukan alasan agar pendengar tidak memutar tombol ke frekuensi sebelah.

Kini situasinya berbeda. Angkasa Bandung mulai makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.  Pada 29 Mei 2026, misalnya, Hard Rock FM Bandung mengakhiri siarannya setelah sekitar seperempat abad mengudara -- menyusul langkah serupa yang telah ditempuh beberapa stasiun radio sebelumnya.

Lantas, siapa yang sebenarnya ‘membunuh’ radio-radio di Bandung?

Jawaban yang paling gampang adalah internet. Kita bisa menunjuk Spotify, YouTube, TikTok, podcast, maupun media sosial lainnya. Jawaban lain yaitu karena banyak tekanan kecil yang datang bersamaan, sementara kemampuan beradaptasi industri penyiaran radio tidak tumbuh secepat perubahan lingkungan yang sedang terjadi saat ini.

Kesehatan industri radio

Merujuk data Komdigi, jumlah penyelenggara jasa penyiaran radio turun dari 1.877 pada 2022 menjadi 1.731 pada 2023 dan 1.579 pada 2024. Artinya, dalam dua tahun terjadi penyusutan sekitar 16 persen. 

Penurunan pada 2024 saja mencapai 8,8 persen. Yang berkurang bukan hanya stasiun radio swasta, tetapi juga radio komunitas dan radio publik lokal. Komdigi secara eksplisit menyebut penurunan itu sebagai tanda kecenderungan melemahnya kesehatan industri radio secara umum.

Tetapi, angka itu belum menjelaskan penyebabnya. Untuk memahaminya, kita harus melihat pula radio sebagai sebuah ekosistem.  Pasalnya, stasiun radio membutuhkan pendengar. Pendengar dibutuhkan pengiklan. Pengiklan membutuhkan pengukuran yang meyakinkan. Stasiun radio membutuhkan pemasukan untuk membayar penyiar, produser, teknisi, kantor, pemancar dan berbagai biaya lain. Begitu salah satu mata rantai melemah, tekanan berpindah ke mata rantai berikutnya.

Ilustrasi radio. (Sumber: Pexels | Foto: Đặng Thanh Tú)

Dulu sekali, perhatian publik relatif terkonsentrasi. Pada jam tertentu orang mendengarkan radio yang sama, menunggu acara yang sama, mengenal penyiar yang sama. Lha sekarang, perhatian kita terpecah menjadi jutaan pilihan. Satu orang bisa mendengarkan musik melalui Spotify pagi hari, menonton TikTok siang hari, mendengar podcast sore hari, dan menonton YouTube malam hari. Stasiun radio tidak lagi bersaing dengan stasiun radio sebelah. Mereka bersaing dengan hampir seluruh jagat internet.

Dan kiwari, sebenarnya yang diperebutkan stasiun radio bukan sekadar pendengar, melainkan waktu dan perhatian pendengar. Platform digital memiliki kemampuan yang jauh lebih besar untuk mengetahui siapa yang menonton, berapa lama, apa yang diklik, apa yang dicari dan apa yang kemudian dibeli. Data semacam itu membuat iklan digital semakin menarik bagi pengiklan. 

Radio sendiri  masih mempunyai kekuatan, tetapi harus bekerja lebih keras untuk menjelaskan nilainya. Survei Nielsen menemukan bahwa radio dapat memberikan ROI yang kuat ketika bobot tayangnya cukup untuk diukur. Jadi, persoalannya bukan sesederhana  bahwa radio sudah tidak berguna. Persoalannya adalah bagaimana nilai radio bisa dibuktikan dan dijual dalam sistem pemasaran yang sekarang semakin berbasis data.

Ada persoalan lain yang lebih dekat dengan isi siaran: format. Banyak radio masih membawa logika lama ke dunia baru. Musik diputar, penyiar berbicara, iklan masuk, kemudian musik lagi. Padahal untuk urusan musik, radio sekarang menghadapi mesin rekomendasi yang mampu memilih lagu berdasarkan kebiasaan individual pendengar. Kalau radio hanya menawarkan lagu, ia sedang bermain di lapangan yang bukan lagi miliknya.

Karena itu, problem radio bukan semata-mata kehilangan pendengar. Bisa jadi radio kehilangan alasan mengapa seseorang harus mendengarkannya. Di sinilah personality seharusnya menjadi aset. Suara manusia, humor spontan, percakapan, konteks lokal, informasi lalu lintas, cerita warga, musik yang dikurasi dengan pengetahuan, dan rasa ditemani adalah hal-hal yang tidak sepenuhnya dapat digantikan playlist algoritmik. Ironisnya, ketika teknologi semakin canggih, radio mungkin justru harus kembali menemukan kekuatan paling lamanya: manusia.

Tekanan pembiayaan

Dari segi pembiayaan, radio juga mendapat tekanan yang tidak kecil. Tagihan listrik haru rutin dibayar. Pemancar harus dirawat. Studio harus berfungsi. Frekuensi membutuhkan kepatuhan regulasi. Kru harus digaji. Produksi konten membutuhkan waktu. Ini semua membutuhkan duit, sementara pendapatan iklan tidak selalu bergerak searah dengan biaya yang harus dikeluarkan. Dalam situasi seperti itu, pemilik stasiun radio akan melakukan apa yang secara ekonomi masuk di akal, mulai dari mengurangi kru, memangkas program, menggunakan siaran jaringan, mengurangi produksi lokal atau bahkan menghentikan operasi.

Jujur saja, radio yang hanya memutar lagu akan semakin sulit survive sekarang ini. Radio yang hanya membaca ulang berita internet juga tidak punya banyak keunggulan. Tetapi, radio yang memahami kota, mengenali pendengarnya, memiliki karakter, dan mampu hidup di jalur terestrial (FM ataupun AM) sekaligus platform digital masih mempunyai ruang untuk bisa terus bertahan.

Dengan demikian, persoalan siapa yang membunuh radio Bandung akhirnya tak hanya memiliki jawaban tunggal. Radio di Bandung memang sedang menghadapi semacam kematian perlahan akibat perubahan perilaku pendengar, migrasi perhatian dan iklan, tekanan biaya, fragmentasi audiens, persoalan format, regulasi, serta kegagalan sebagian industri membaca perubahan zaman. 

Dan justru karena penyebabnya banyak, jalan keluarnya pun tidak mungkin hanya satu. (*)

Reporter Djoko Subinarto
Editor Aris Abdulsalam