Perempuan memang unik-- ia selalu punya daya tarik untuk diperhatikan. Entah itu dari penampilan fisiknya maupun cara pikirnya. Caranya memandang dirinya dari ucapan atau tuntutan orang lain.
Entah karena perempuan tidak pernah puas dengan penilaian orang lain atau justru ia yang selalu terjebak dengan standar yang semu. Standar kapitalisme yang membuat dirinya bisa menghabiskan jutaan bahkan milyaran rupiah untuk membeli alat kecantikan. Rasa sakit yang dipikulnya ketika harus melakukan operasi plastik untuk menambah struktur hidung yang katanya " Hidung mancung itu lebih "CANTIK". Bahkan banyak diantaranya yang melakukannya dengan alasan sinusitis. Emang sedahsyat itu pengaruh industri kecantikan bagi seorang perempuan.
Jika dulu standar perempuan cantik hanya didapatkan dari majalah, iklan di tv atau tampilan artis di sinetron. Kini kecanggihan teknologi dan informasi membuat dunia ini dan setiap dari kita bisa eksis dengan dunia kita. Yaps, media sosial memberikan ruang bagi penggunanya untuk mengekspresikan apa yang mereka inginkan. Tanpa ada batasan tanpa ada syarat tertentu semua orang memiliki kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri tapi disisi lain juga bisa menjadi manusia yang fake.
Kini standar cantik bagi perempuan semakin beragam tidak hanya berpacu pada satu orang artis kenamaan Hollywood atau Bollywood lagi. Kini setiap negara bisa merepresentasikan kecantikan perempuannya melalui media sosial. Misalnya yang baru- baru ini happening adalah Korea Selatan dengan kemulusan kulit dan tren Operasi plastik yang membuat warganya menjadi cantik dan tampan.
Pertukaran budaya dan gaya hidup jadi semakin mudah untuk sampai. Maka tak heran ketika masyarakat di negara kita juga berbondong-bondong untuk menjadi cantik dan tampan dengan melakukan operasi plastik. Berapa banyak dari artis tanah air yang rela pergi jauh melintasi benua untuk satu hal mengikuti standar yang diminta orang lain. Memenuhi rasa haus dari validasi yang bahkan sebetulnya mereka tidak pernah benar-benar peduli denganmu.
Definisi cantik terus berkembang tak hanya cukup dengan wajah yang cantik tapi juga dengan penampilan tubuh yang langsing. Manusia yang hidup di era modern memang rentan memiliki tubuh yang obesitas karena jumlah asupan yang masuk ke dalam tubuh tak sebanding dengan upaya olahraga yang dilakukan. Bahkan menurut WHO 1 dari 8 orang dunia mengalami obesitas. Sementara di Indonesia sendiri pun pernah ditemukan pada beberapa kasus yang pernah diberitakan lewat media massa.
Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan (Riskesdas Kemenkes) Indonesia tahun 2018, sebanyak 21,8% penduduk dewasa mengalami obesitas. Angka ini meningkat sebanyak dua kali lipat dari tahun 2007, yaitu 10,5%(WHO, 2024) (Riskesda, 2018) Obesitas dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis, seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung. Obesitas juga memiliki dampak psikososial yang merugikan, khususnya pada kanak-kanak dan remaja (Marc, 2022). Faktor risiko obesitas meliputi aspek genetik, lingkungan, pelayanan kesehatan, dan perilaku (Saraswati, dkk., 2021).
Polimorfisme genetik, khususnya gen FTO rs9939609, dikaitkan dengan kontrol asupan energi yang mengarah pada obesitas. Faktor risiko lain mencakup kurangnya aktivitas fisik, durasi tidur yang tidak memadai.
Banyak jenis olahraga yang membuat seseorang bisa menurunkan berat badan secara drastis tapi tak banyak yang bisa konsisten dengan prosesnya. Sehingga manusia menginginkan sesuatu yang instan seperti operasi bariatrik.
Sebuah operasi dengan tren baru di masyarakat dan kalangan influencer. Beberapa waktu terakhir tren ini memang dimulai dari kalangan publik figure yang tentunya memiliki tuntutan yang dari followersnya untuk memiliki visual yang sempurna.
Beberapa dari mereka yang bertubuh gemuk atau over weight sering mendapat hujatan. Bahkan dalam waktu terdekat terjadi kepada seleb tok berinisial D. Konten awalnya dimulai saat dirinya berbadan ideal tapi seiring berjalannya waktu banyak perubahan terjadi dalam dirinya. Terutama bagian pipi yang chubby justru sering menjadi olok-olokan di kolom komentar tiktok. Ada yang menyamakannya dengan karakter kartun seperti wajah Thomas dan lebih parahnya ketika disamakan dengan konten badut berwarna pink.
Konten kreator ini awalnya mengikuti keinginan netizen untuk melakukan cosplay terhadap karakter yang disamakan dengan dirinya. Bahkan D rela menggunakan pakaian badut dengan menonjolkan bagian perut yang lebih besar dan berjoget di salah satu tempat makan mie yang terkenal. Dan tak lama dari sama seleb tok ini melakukan operasi bariatrik di Malaysia.
Tren operasi bariatrik menurut saya bukan sekedar tren yang dilakukan karena ingin terlihat cantik untuk orang lain. Tapi juga cara instan yang sakit bagi mereka yang selalu dinilai hanya dari penampilan fisiknya semata. (*)