Ayo Netizen

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Oleh: R.M.A. Ahmad Said Widodo
Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)

Kawasan Bandung Raya secara geografis dikelilingi oleh potensi kebencanaan geologi yang nyata dan patut diwaspadai oleh seluruh masyarakat. Keindahan lanskap alam yang memikat di wilayah ini ternyata menyimpan ancaman besar dari keberadaan gunung berapi aktif serta jalur sesar aktif. Keduanya terus mengintai dan siap memicu gempa bumi maupun erupsi dahsyat.

Ancaman utama datang dari aktivitas Gunung Tangkubanparahu yang berada di Utara dan Sesar Lembang yang membentang di sepanjang kawasan pemukiman padat. Sesar aktif ini memiliki potensi pergeseran tanah yang dapat mengakibatkan kerusakan infrastruktur skala besar. Oleh karena itu, pemahaman mendalam mengenai karakteristik ancaman tektonik dan vulkanik ini menjadi sangat krusial bagi warga.

Melalui artikel ini, kita akan membedah secara runtut peta risiko, dampak potensial dan langkah mitigasi yang harus dipersiapkan sejak dini. Meningkatkan kesiapsiagaan bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kewajiban bersama demi keselamatan jiwa. Mari bangun kesadaran mitigasi yang kuat guna mewujudkan ketangguhan bencana di masa depan yang serba tidak pasti.

Ancaman Gunung Berapi Aktif

Gunung Tangkubanparahu, berada di dekat kawasan Bandung Utara dan menjadi salah satu gunung api aktif yang dipantau secara berkala. Terdapat pula ancaman dari aktivitas gunung berapi aktif di Jawa Barat seperti Gunung Guntur dan Gunung Papandayan di Kabupaten Garut dan Gunung Galunggung di Kabupaten Tasikmalaya.

Bandung Raya secara geologis dikelilingi oleh jajaran gunung berapi, baik yang masih aktif (Tipe A/B) maupun yang sudah nonaktif (purba). Berdasarkan berbagai data literatur geologi, berikut adalah daftar gunung berapi utama di wilayah cekungan Bandung Raya:

Gunung Berapi Aktif (Tipe A)

Gunung berapi tipe ini memiliki catatan sejarah erupsi sejak tahun 1600.

Gunung Tangkubanparahu (2.084 mdpl), terletak di perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang. Gunung berbentuk stratovolcano ini merupakan salah satu gunung api paling aktif di Jawa Barat yang memiliki banyak kawah populer, seperti:

  • Kawah Ratu, kawah terbesar dan utama yang berbentuk seperti mangkuk raksasa sedalam 500 meter. Kawah ini paling mudah diakses pengunjung dari area parkir.

  • Kawah Upas, kawah yang berada di sebelah Barat Kawah Ratu dengan pelataran yang luas dan pemandangan eksotis.

  • Kawah Domas, kawah yang terkenal dengan sumber air panas dan kolam lumpur belerang tempat pengunjung bisa berendam.

  • Kawah Baru, kawah tambahan yang juga menjadi salah satu titik pemandangan di kawasan wisata.

  • Kawah-kawah lainnya: Kawah Pangguyanganbadak, Kawah Badak, Kawah Ecoma, Kawah Jurig dan Kawah Siluman.

Gunung Berapi Aktif/Istirahat (Tipe B)

Gunung berapi tipe ini tidak memiliki catatan erupsi magmatik sejak tahun 1600, namun masih menunjukkan gejala aktivitas vulkanik (seperti solfatara atau fumarola).

  • Gunung Patuha (2.434 mdpl), terletak di Kecamatan Rancabali dan Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung. Gunung ini terkenal dengan kawah eksotisnya, yaitu Kawah Putih.

  • Gunung Wayang (2.198 mdpl) dan Gunung Windu (2.182 mdpl), terletak di kawasanKecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kawasan di sekitar gunung ini kaya akan manifestasi panas bumi (geothermal).

  • Gunung Kamojang (1.730 mdpl), terletak di perbatasan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut, terkenal dengan area wisatanya serta pemanfaatan uap alam sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).

Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu pada 3 Junni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)

Gunung Berapi Nonaktif/Purba

Gunung berapi ini sudah tidak aktif lagi, namun struktur geologinya terbentuk akibat aktivitas vulkanisme pada masa lampau.

  • Gunung Sunda, merupakan gunung api raksasa purba yang menjadi induk dari jajaran gunung di Bandung Utara, yang terletak di daerah Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Purwakarta. Letusan dahsyatnya pada masa prasejarah meruntuhkan tubuhnya sendiri dan membentuk Kaldera Sunda yang kemudian melahirkan Gunung Tangkuban Parahu dan Gunung Burangrang. Gunung Sunda yang ada pada saat ini bersama dengan Gunung Tangkubanparahu, Gunung Burangrang dan Gunung Bukit Tunggul merupakan sisa dari Gunung Sunda Purba.

  • Gunung Malabar (2.343 mdpl), merupakan kompleks pegunungan berapi raksasa yang sudah nonaktif di wilayah Bandung Selatan (Pangalengan). Puncaknya meliputi Puncak Besar, Gunung Puntang dan Gunung Haruman.

  • Gunung Bukit Tunggul (2.223 mdpl), merupakan titik tertinggi dari sisa-sisa Gunung Sunda purba di bagian Timur.

  • Gunung Burangrang (2.050 mdpl), merupakan sisa tubuh dari hasil runtuhnya Gunung Sunda purba di bagian Barat.

  • Gunung Manglayang (1.818 mdpl), merupakan unung berapi kerucut nonaktif yang berdiri di antara wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang.

Ancaman Sesar Aktif

  • Sesar Lembang, patahan geser sepanjang kurang lebih 29 kilometer ini membentang dari Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat hingga Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung dan Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Laju pergeserannya sekitar 1–6 mm per tahun. Sesar ini menyimpan potensi gempa bumi dengan magnitudo antara 6,5 hingga 7,0.  Kondisi tanah Cekungan Bandung, endapan bekas danau purba di wilayah ini dapat memperkuat getaran guncangan gempa. Padat penduduk. lebih dari 8 hingga 9 juta jiwa tinggal di kawasan metropolitan Bandung yang dekat dengan jalur sesar, sehingga mitigasi dan kesiapsiagaan sangat penting.

  • Sesar Cicalengka, terletak di bagian Tengah hingga Timur Cekungan Bandung. Sesar lokal yang diidentifikasi aktif berdasarkan struktur geomorfologi Cekungan Bandung.

  • Sesar Cileunyi – Tanjungsari, melintasi kawasan Timur Bandung Raya hingga wilayah Sumedang. Sesar aktif lokal yang berarah Utara-Selatan dan berpotensi memicu gempa bumi merusak di wilayah pemukiman padat.

  • Sesar Garsela, memanjang 42 km dari Selatan Garut hingga masuk ke wilayah Selatan Kabupaten Bandung (seperti Kecamatan Rancaekek dan Kecamatan Nagreg). Merupakan salah satu sesar paling aktif di Jawa Barat secara kegempaan harian. Meskipun gempanya cenderung bermagnitudo kecil, sifatnya sangat dangkal sehingga tetap dapat merusak.

  • Sesar Gunung Geulis, sesar di Selatan Cekungan Bandung.

  • Sesar Jati, terletak di sebelah Barat Cekungan Bandung. Sesar lokal aktif yang berada di kawasan Barat wilayah metropolitan.

  • Sesar Ujungberung – Cileunyi, sesar di sekitar Cekungan Bandung.

Mengapa sesar di Bandung Raya sangat diwaspadai? Kondisi tanah di sebagian besar kota Bandung Raya terbentuk dari endapan Danau Bandung Purba yang cenderung lunak. Karakteristik tanah lunak ini memiliki efek amplifikasi, yaitu dapat memperkuat efek guncangan gempa bumi jika salah satu sesar aktif di atas mengalami pergerakan besar. Gempa bumi akibat aktivitas sesar di wilayah Bandung Raya berpotensi memicu likuifaksi, terutama di kawasan Cekungan Bandung.

Potensi Likuifaksi di Bandung Raya

  • Karakteristik tanah, Cekungan Bandung merupakan bekas danau purba yang didominasi oleh lapisan endapan lunak, lumpur organik dan kandungan air yang tinggi.

  • Amplifikasi guncangan, lapisan tanah lunak ini belum terkonsolidasi dengan sempurna, sehingga dapat memperkuat (mengamplifikasi) guncangan gelombang seismik dari aktivitas Sesar Lembang.

  • Wilayah rawan, berdasarkan kajian kebencanaan, sejumlah wilayah seperti kawasan Gedebage, Tegalluar dan beberapa kecamatan lain di Kota Bandung diidentifikasi memiliki kerawanan terhadap likuifaksi saat terjadi gempa kuat, antara lain: Kecamatan Bandung Kulon, Kecamatan Babakan Ciparay, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kecamatan Bojongloa Kidul, Kecamatan Astanaanyar, Kecamatan Regol, Kecamatan Lengkong, Kecamatan Bandung Kidul, Kecamatan Kiaracondong dan Kecamatan Antapani.

Sebagai penutup, kesadaran akan potensi bencana alam di wilayah Bandung Raya harus terus ditingkatkan oleh seluruh lapisan masyarakat. Keberadaan Gunung Tangkubanparahu dan Sesar Lembang bukanlah alasan untuk terus dirundung ketakutan. Sebaliknya, kondisi geografis ini harus disikapi secara bijak dengan terus mengedukasi diri mengenai langkah-langkah mitigasi kebencanaan yang tepat dan cepat.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait perlu memperkuat infrastruktur sistem peringatan dini serta melakukan simulasi evakuasi secara berkala. Kolaborasi yang solid antara pemangku kebijakan, akademisi dan warga menjadi kunci utama dalam meminimalisir risiko dampak kerugian. Kesiapsiagaan yang matang akan mengubah kerentanan wilayah menjadi ketangguhan dalam menghadapi segala bentuk ancaman seismik.

Melalui pemahaman yang mendalam terhadap karakteristik aktivitas vulkanik dan pergerakan sesar aktif, masyarakat dapat hidup berdampingan secara aman dengan alam. Langkah preventif yang konsisten hari ini adalah investasi terbaik demi keselamatan generasi masa depan. Mari kita bangun Bandung Raya yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga tangguh menghadapi bencana alam. (*)

Reporter R.M.A. Ahmad Said Widodo
Editor Aris Abdulsalam