Ayo Netizen

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Oleh: R.M.A. Ahmad Said Widodo
Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)

Menjelajahi Bandung tidak akan lengkap tanpa menyelami lembaran sejarah yang menyusun setiap sudut jalannya. Kota Kembang ini menyimpan sejuta pesona cerita masa lalu yang membentuk jati dirinya hari ini. Menelusuri sejarah lokal bukan sekadar membaca barisan teks usang, melainkan sebuah perjalanan emosional untuk menghargai warisan kebudayaan tanah Sunda.

Dalam merawat ingatan kolektif tentang kota ini, nama Haryoto Kunto menempati posisi yang sangat istimewa. Sosok legendaris yang dijuluki Kuncen Bandung ini telah mendedikasikan hidupnya untuk meneliti, mencatat dan merawat kisah-kisah Paris van Java. Melalui karya-karya monumentalnya, ia berhasil menghidupkan kembali romantisme serta dinamika sejarah Bandung tempo dulu.

Artikel ini mengajak Anda untuk belajar mencintai Bandung melalui kacamata dan ketulusan hati seorang Haryoto Kunto. Kita akan membedah warisan pemikirannya agar dapat menginspirasi generasi muda saat ini. Mari bersama-sama menumbuhkan rasa kepedulian dan kebanggaan yang mendalam terhadap kelestarian sejarah serta budaya Kota Bandung tercinta.

Kita bisa belajar sejarah dari Ir. Haryoto Kunto. Haryoto Kunto (01 Januari 1940 – 01 Januari 1999). Ia adalah seorang ahli planologi, budayawan dan sejarawan legendaris yang mendedikasikan hidupnya untuk mendokumentasikan sejarah perkembangan tata kota serta budaya masyarakat Kota Bandung. Karena keluasan wawasannya mengenai seluk-beluk ibu kota Jawa Barat tersebut, ia dijuluki sebagai Kuncen Bandung (Juru Kunci Bandung).  Berbeda dengan buku sejarah formal yang kaku, tulisan Haryoto Kunto mengalir jenaka, penuh romansa nostalgia, tetapi tetap kritis dalam menyoroti isu tata ruang kota.

Haryoto Kunto, seorang penulis dan sejarawan terkemuka yang sangat berjasa mendokumentasikan sejarah Kota Bandung. Kuncen Bandung, makna ini berubah menjadi kiasan bagi seseorang yang dianggap sebagai penjaga ingatan, sejarah dan arsip cerita masa lalu kota tersebut. Ia sangat produktif menulis tentang sejarah sosial dan budaya Bandung tempo dulu. Buku-bukunya seperti Wajah Bandoeng Tempo Doeloe dan lain-lain menjadi rujukan utama bagi siapa saja yang ingin mengenal sejarah kota ini lebih dalam. Melalui tulisan-tulisannya, ia merawat ingatan kolektif masyarakat tentang perkembangan Kota Bandung dari masa ke masa.

Istilah Kuncen Bandung jauh lebih istimewa jika dibandingkan istilah Bidan Kota. Kuncen Bandung tentu saja lebih banyak tahu seluk-beluk, lika-liku dan dinamika kota Bandung dari ujung ke ujung, dari bukit ke bukit, dari gunung ke gunung. Ini jauh lebih bermakna daripada Bidan Kota yang berkonotasi penemu hari jadi sebuah kota atau kabupaten. Tak lebih tak kurang.

Bidan Kota, terutama di Jawa Barat dan Banten, sebenarnya jauh lebih mudah karena dengan sangat mudah mendapatkan sumber-sumber awalnya dari buku karya Dr. Frederik de Haan (22 Juli 1863 – 16 Agustus 1938), yaitu “Priangan: de Preanger-regentschappen onder het Nederlandsch bestuur tot 1811” (1910–1912), buku tebal sebanyak 4 (empat) jilid yang mengulas secara mendalam wilayah dan sejarah administrasi Keresidenan Priangan di bawah kekuasaan VOC serta Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda hingga tahun 1811.

Berikut ini adalah beberapa buku karya Haryoto Kunto berdasarkan atas sumber bibliogafri yang resmi:

  1. Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (1984).

  2. Semerbak Bunga di Bandung Raya (1986).

  3. Savoy Homann: Persinggahan Orang-orang Penting (1989)

  4. Balai Agung di Kota Bandung (Riwayat Gedong Sate & Gedong Pakuan) (1996)

  5. Ramadhan di Priangan (Tempo Doeloe) (1996)

  6. Seabad Grand Hotel Preanger (1897-1997) (1997)

  7. Nasib Bangunan Bersejarah di Kota Bandung (2000)

Haryoto Kunto adalah putera dari pak Kunto yang pernah menjadi Kepala Stasiun (Stationchef) di Stasiun Purwakarta. Haryoto Kunto mempunyai 2 orang kakak kandung yang kemudian menjadi perwira menengah, yaitu Letnan Kolonel Suroto Kunto (Komandan), yang gugur di Warungbambu, Karawang pada tanggal 28 November 1946 bersama Mayor Adel Sofyan (Kepala Staf), Kopral Muhajar dan Prajurit Murad, kesemuanya dari Resimen 6/Brigade III Divisi Siliwangi.

Kakak yang satunya lagi adalah Mayor Yusuf Kunto yang wafat pada tanggal 2 Januari 1949 dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Badran, dekat Tempat Pemakaman Tionghoa (Bong, Benteng) di sebelah Barat Stasiun Tugu, Yogyakarta.

Warisan (legacy) dari Haryoto Kunto lainnya adalah ribuan buku-buku, terutama menyangkut sejarah yang berada di Jl. H. Mesri. Yang kemudian terjadi hibah buku-buku tersebut kepada Perpustakaan Universitas Katholik Parahyangan, melalui Jurusan Arsitektur yang menerima hibah ± 10.000 eksemplar koleksi Perpustakaan Haryoto Kunto.

Hibah koleksi ini secara simbolis diserahkan oleh istri mendiang Haryoto Kunto, ibu Etty Rochaetin Winarya dan perwakilan keluarga pada rangkaian kegiatan IAAU 45 Tahun Bersama “Architecture & Beyond” pada hari Sabtu tanggal 18 Desember 2021. Keluarga berharap, koleksi Perpustakaan Haryoto Kunto bisa bermanfaat bagi civitas academica Universitas Katholik Parahyangan dan masyarakat umum.

Koleksi Perpustakaan Haryoto Kunto telah dipindahkan ke Perpustakaan Universitas Katholik Parahyangan pada tanggal 9-11 Februari 2022 untuk kemudian diseleksi dan diproses lebih lanjut sebelum dilayankan kepada pemustaka.

Mencintai Bandung bukan sekadar menikmati dingin udaranya, melainkan merawat memori kolektif yang tertanam di setiap sudut jalan kunonya. Melalui rekam jejak literasi Haryoto Kunto, kita diajak menyelami kembali romantisme masa lalu kota ini. Warisan tulisan Sang Kuncen Bandung harus menjadi cermin bagi generasi hari ini untuk terus menjaga identitas kota.

Meneladani dedikasi beliau berarti menumbuhkan kepedulian nyata terhadap perubahan lanskap kota yang kian dinamis. Bandung membutuhkan mata yang jeli melihat sejarah dan hati yang tulus merawat cagar budaya. Jangan biarkan cerita kejayaan masa lalu hilang tertimbun modernisasi, sebab mencintai kota ini berarti berkomitmen menjaga keaslian warisan leluhurnya.

Mari hidupkan kembali semangat Haryoto Kunto dalam keseharian dengan mulai mengenali dan menjaga narasi lokal di sekitar kita. Jadikan setiap sudut Paris van Java ini tempat yang selalu dirindukan sekaligus dihormati sejarahnya. Dengan menjaga ingatan itu tetap hidup, kita telah membuktikan cinta sejati kepada Bandung, persis seperti Sang Kuncen Bandung. (*)

Reporter R.M.A. Ahmad Said Widodo
Editor Aris Abdulsalam