Ayo Netizen

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Oleh: T Bachtiar
Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)

Masyarakat Sunda, rasanya tidak bisa lapas dari perabotan dapur untuk membuat sambal, yaitu coét, atau cobék, dan pasangannya, mutu atau ulekan. Perabotan dapur ini ada yang dibuat dari tanah liat yang dibakar menjadi gerabah, ada juga yang dibuat dari batu, sehingga kuat dan tahan lama. Di Kabupaten Bandung Barat, salah satu desa yang terkenal sebagai penghasil perabotan dapur dari batu adalah Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar. 

Coét yang dipahat dari batu pun ada dua jenis bahan. Petama, coét yang dibuat dari batupasir, pasir letusan gunung api yang sudah sangat padat, hingga keras. Kedua, coét yang dibuat dari batu pejal, dari lava yang panasnya mencapai 1.200 derajat C, yang membeku di dekat permukaan. Batuan jenis ini sangat keras, sehingga coét, ulekan, lumpang, atau kerajinan lainnya, seperti patung kura-kura, tempat lampu hias taman, kursi taman, dll, akan mempunyai daya tahan yang bagus. Batunya sangat kuat, seperti yang terdapat di Pasir Tanggulun, Desa Citatah, Kecamatan Cipatat. Batuannya sangat kuat, karena merupakan batuan terobosan (batuan intrusi), yang kini batua sudah nyaris habis. Batuan intrusif merupakan magma yang menerobos kerak bumi, namun tidak sampai meletus efusif. Karena energinya lemah, magma berhenti di dalam bumi di dekat permukaan. Disebutlah batuan intrusi dangkal, atau disebut juga semi gunungapi. Batuan ini dapat berupa retas, sill, kubah bawah permukaan, dan leher gunung api. Batu dari Pasir Tanggulun sangat bagus untuk berbagai keperluan konstruksi, termasuk untuk bahan perabotan dapur seperti coét.  

Lokasi singkapan batuan di Kampung Ciawitali, sekaligus menjadi tempat para pengrajin membuat cobek, dll itu, berada di kaki bukit, di ketinggian antara +760 m sampai +780 m. Tempat itu merupakan bagian dari rangkaian perbukitan yang memanjang, dengan punggungan tertingginya mencapai +830 m dpl. 

Adanya singkapan batuan intrusi di Desa Citatah, merupakan jejak nyata adanya magma yang menerobos ke dekat permukaan. Bukti ini dapat dikategorikan sebagai gunung api purba. Dan, material letusan yang berupa pasir dan debu yang kemudian keras membatu, merupakan material letusan gunung api purba juga, seperti yang tersingkap di Kampung Ciawitali.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)

Gunung api purba itu gunungapi yang pernah aktif pada masa lampau, tapi sudah lama mati, sudah tidak aktif lagi. Bentuk gunungnya pun sudah tidak menyerupai kerucut gunungapi, karena sudah lama mengalami erosi yang sangat berat, sejak kemunculannya jutaan tahun yang lalu. Sisa gunungapi ini, ada juga yang menyebut fosil gunungapi. Wujudnya ada yang berupa perbukitan, rangkaian bukit kecil, dengan torehan lembah yang dalam. Ada juga yang hanya menyisakan lava atau batuan beku yang sangat keras yang berada di pusat gunungapi, seperti sumbat lava di leher gunungapi.

Secara umum, gunungapi purba itu tidak akan aktif kembali di lokasi atau di kawah gunung yang sama. Magmanya sudah lama membeku di pipa gunungapi, sehingga sangat sulit untuk didorong oleh magma baru. Dan, yang utama, pusat gunung apinya sudah bergeser jauh ke utara, seperti di komplek Gunung Tangkuban Parahu, yang masih aktif sampai saat ini.

Selain adanya batuan intrusi dangkal, atau semi gunungapi, terdapat juga hasil letusan eksplosif. Letusan gunung api yang meledak dahsyat, yang menghamburkan material letusan dan meluncurkan awan panas atau wedhusgembel. Adanya singkapan ignimbrit atau endapan awan panas, merupakan bukti yang tak terbantahkan, bahwa di kawasan itu pernah terjadi letusan dahsyat yang meluncurkan awan panas. Ignimbrit berasal dari kata ignis berarti api, dan imber artinya batuan awan debu api.

Ketika diendapkan, awan panas itu suhunya antara 535o C sampai 600o C, sehingga terjadi proses pengelasan, penyatuan (welding). Suhu yang sangat panas dan timbunan material yang sangat tebal, menyebabkan adanya beban vertikal. Terjadi proses saling merekat, dan setelah mendingin, menjadi satu kesatuan yang padat dan kuat. Namun di bagian permukaan, tidak terjadi pengelasan, karena suhunya lebih cepat menjadi rendah, dan beban vertikalnya kurang, sehingga endapan wedhusgembel itu tetap gembur, dan mudah terlapukan ketika di atasnya sudah ditutupi tumbuhan.

Singkapan sisa penambangan endapan awanpanas atau ignimbrit. (Sumber: T Bachtiar)

Ignimbrit itu hasil dari letusan yang sangat besar, umumnya berhubungan dengan letusan dahsyat yang membentuk kaldera. Sehingga volumenya sangat besar, endapannya sangat tebal. Di beberapa tempat di dunia, ada yang mencapai ketebalan 150 m. Ketebalan ignimbrit Gunung Sunda, misalnya lebih dari 40 m. Ketebalan ignimbrit yang tersingkap di Desa Citatah dan di Desa Gunung Masigit, antara 40 m sampai lebih dari 95 m, bahkan ada yang lebih.

Mekanisme persebaran ignimbrit berbeda dengan persebaran material jatuhan, seperti hujan abu, pasir, dan beragam ukuran lava. Material jatuhan akan turun rata melapisi permukaan topografi. Sedangkan endapan awan panas atau ignimbrit sangat dipengaruhi oleh topografi. Awan panas akan mengisi lembah, cekungan, yang menjadi tempat meluncurnya. Di sana endapannya sangat tebal, dan akan menipis di punggungan lereng gunung.

Setidaknya ada dua proses terbentuknya awan panas. Pertama runtuhnya tiang atau kolom letusan eksplosif. Materialnya berupa gas vulkanik, abu, batu apung, fragmen lava. Suhunya sangat tinggi antara 200o C sampai 700o C, lalu jatuh di tubuh gunungapi, meluncur ke lembah secara gravitasional. Kecepatannya antara 100 km per jam sampai 700 km per jam.

Kedua, awan panas guguran, terjadi karena runtuhnya kubah lava, lalu meluncur secara gravitasional ke lembah, dengan kecepatan antara 75 km per jam sampai 150 km per jam.

Ignimbrit yang tersingkap di Desa Citatah dan di Desa Gunung Masigit, sangat mungkin dari kejadian runtuhnya tiang letusan eksplosif. Singkapannya dapat disaksikan di sisa penambangan pasir, yang oleh masyarakat di Kabupaten Bandung antara tahun 1970-an sampai 1990-an, disebut teras. Umumnya dibuat untuk batako, bata yang populer saat itu. Sekarang banyak dijadikan pasir untuk campuran adukan tembok. Secara keteknikan, kawasan yang dilapisi ignimbrit yang terelaskan, kekuatannya setara dengan tanah keras sampai batu keras.

Singkapan lava pejal, batupasir, dan endapan awan panas atau ignimbrit, dapat dijadikan laboratorium kebumian untuk belajar tentang gunung api purba bagi para pelajar dan masyarakat yang dikemas dalam geowisata. (*)

Reporter T Bachtiar
Editor Aris Abdulsalam