Ayo Netizen

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Oleh: Kin Sanubary
Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Pada era 1970-an hingga 1990-an, nama seperti Empire, Kopo, Studio, Galaxy, Plaza, Palaguna, Kiara, Regent, Nusantara, Dian, Majestic, Bandung Theatre, Dallas hingga Artha begitu akrab di telinga warga Bandung.

Bioskop bukan sekadar tempat menonton film. Ia adalah ruang sosial, tempat bertemu teman, berkencan, menghabiskan akhir pekan, atau sekadar mencari hiburan setelah sepekan beraktivitas.

Pergi ke bioskop pun terasa seperti sebuah acara.

Belum ada internet, media sosial, aplikasi bioskop, apalagi layanan streaming. Untuk mengetahui film yang sedang diputar, orang membaca koran, melihat poster dan papan reklame, atau mendengar cerita dari teman.

Kalau ingin tahu film apa yang sedang tayang, ya buka koran. Saat itu koran menjadi “Mesin Pencari” film.

Salah satu yang menarik untuk mengenang suasana itu adalah halaman jadwal bioskop dalam Harian Umum Pikiran Rakyat edisi Sabtu, 25 September 1993. Tanggal itu kini telah berjarak 33 tahun. Namun selembar halaman koran tersebut seperti membawa kita kembali ke Bandung awal 1990-an.

Nama bioskop berderet. Judul film bergantian. Hollywood, Hong Kong, India, hingga film laga yang melibatkan aktor Indonesia, semuanya berebut perhatian penonton.

Pada akhir pekan itu, Empire, Regent, Kopo, Studio, Galaxy, Palaguna, Kiara, Nusantara, Dallas, Majestic hingga Artha ikut meramaikan peta tontonan Bandung. Beberapa bioskop bahkan menyediakan Midnight Show.

Bagi warga kota masa itu, memilih film sekaligus berarti memilih bioskop.

Nama gedungnya sendiri sudah menjadi bagian dari pengalaman.

Pilihan film pada 25 September 1993 memperlihatkan betapa beragamnya selera penonton Bandung.

Ada Jurassic Park, film Steven Spielberg yang sedang menjadi fenomena dunia. Dinosaurus yang terasa hidup di layar lebar menjadi pengalaman visual yang sulit dilupakan penonton masa itu.

Ada pula In the Line of Fire, yang mempertemukan Clint Eastwood dengan John Malkovich dalam thriller politik yang penuh ketegangan.

Bagi penonton yang menyukai drama dan misteri, tersedia Sommersby, dibintangi Richard Gere dan Jodie Foster. Sementara penggemar film laga bisa memilih The Hit List atau Passenger 57 yang menampilkan Wesley Snipes.

Film Hong Kong juga memiliki tempat tersendiri. Boys Are Easy menghadirkan sederet bintang populer seperti Brigitte Lin, Maggie Cheung, Chingmy Yau, Tony Leung Ka-fai dan Jacky Cheung.

Sementara nama Jet Li menjadi magnet dalam King of Kung Fu II, judul yang digunakan di Indonesia untuk The Legend of Fong Sai Yuk II. Bagi penggemar kungfu, nama Jet Li di papan reklame sudah cukup menjadi alasan untuk membeli tiket.

Tak hanya film impor. Aankhen, film Hindi yang dibintangi Govinda dan Chunky Pandey, turut meramaikan layar Bandung.

Ada pula Lady Dragon, film laga yang dibintangi Cynthia Rothrock dan memiliki keterkaitan langsung dengan Indonesia. Film produksi Rapi Films itu melibatkan sejumlah aktor Indonesia, antara lain Hengky Tornando, Advent Bangun, H.I.M. Damsyik dan Pitradjaya Burnama.

Artinya, penonton Bandung kala itu tidak hanya menyaksikan bintang-bintang Hollywood atau Hong Kong. Mereka juga bisa menemukan jejak Indonesia dalam film laga internasional.

Yang menarik dari jadwal bioskop tahun 1993 itu bukan hanya judul filmnya, tetapi juga keberadaan Midnight Show.

Ketika sebagian toko dan tempat usaha mulai tutup, kehidupan kota belum sepenuhnya berhenti. Di dalam gedung bioskop, lampu kembali dipadamkan dan layar menyala.

Midnight Ride, misalnya, diputar di Dallas dan Artha.

Bagi generasi yang pernah merasakannya, menonton film tengah malam memiliki sensasi tersendiri. Jalanan yang mulai sepi, udara malam Bandung, lalu suasana gedung bioskop yang lebih lengang membuat pengalaman menonton terasa berbeda.

Bioskop seolah menjadi salah satu ruang kehidupan malam kota.

Peta bioskop Bandung juga tersebar di berbagai kawasan.

Empire berada di Jalan Merdeka. Kopo Theatre di Jalan Kopo, Studio di Jalan Maskumambang, Galaxy di Jalan Kepatihan, dan Plaza di kawasan Kosambi.

Di sekitar Alun-Alun Bandung terdapat Palaguna dan Nusantara. Ketika model sinepleks berkembang, gedung bioskop besar mulai dibagi menjadi beberapa ruang pertunjukan. Dalam catatan penelitian mengenai industri bioskop Indonesia, Palaguna dan Nusantara masing-masing disebut dipecah menjadi empat ruang.

Ada Dian di Jalan Dalem Kaum, Majestic di Jalan Braga, Regent di kawasan Jalan Sumatera, Kiara di Kiaracondong, Bandung Theatre di kawasan Kosambi, serta Dallas di Jalan Dalem Kaum.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Kin Sanubary)

Sebagian nama itu kini tinggal kenangan. Sebagian bangunannya berubah fungsi, berganti nama, atau hilang dari peta kota.

Namun bagi mereka yang pernah menjadi penontonnya, setiap nama menyimpan cerita.

Pada masa itu, satu gedung bioskop bisa menjadi tujuan perjalanan tersendiri.

Ada yang datang lebih awal untuk membeli tiket. Ada yang mengantre di loket. Ada yang menunggu teman di depan gedung. Ada pula yang sengaja memilih jadwal tertentu karena ingin bertemu seseorang.

Poster film terpampang besar. Lampu reklame menyala. Orang-orang bercakap-cakap sebelum pintu dibuka. Kemudian lampu ruangan perlahan padam.

Layar menyala.

Film dimulai.

Pengalaman seperti itu kini terasa sederhana. Tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuatnya membekas.

Bioskop-bioskop lama Bandung pada akhirnya bukan hanya menyimpan sejarah perfilman. Ia juga menyimpan sejarah kehidupan warganya—tentang pertemanan, keluarga, percintaan, masa muda, bahkan tentang cara sebuah generasi menghabiskan waktu luangnya.

Kini, ketika film dapat ditonton melalui telepon genggam dan tiket bioskop bisa dipesan dalam hitungan detik, halaman jadwal bioskop dari Pikiran Rakyat 25 September 1993 terasa seperti mesin waktu.

Dari sana kita bisa melihat Bandung yang berbeda.

Bandung dengan bioskop-bioskop : Empire, Regent, Kopo, Studio, Galaxy, Palaguna, Kiara, Nusantara, Dallas, Majestic dan Artha. Bandung yang belum mengenal Google untuk mencari jadwal film, belum mengenal aplikasi pemesanan tiket, dan belum mengenal streaming.

Untuk menentukan tontonan, orang membaca koran.

Untuk mendapatkan tiket, orang datang ke loket. Untuk mengetahui film yang menarik, orang melihat poster atau mendengar cerita teman. Dan setelah film selesai, kenangan dibawa pulang.

Mungkin itu sebabnya nama-nama bioskop lama masih mudah membangkitkan nostalgia. Yang dirindukan bukan semata-mata filmnya, melainkan suasananya: antrean di loket, poster yang memenuhi dinding, lampu reklame di depan gedung, tiket kecil di saku, janji bertemu di depan bioskop, hingga detik ketika lampu padam dan layar mulai menyala.

Pada masa itu, menonton film bukan sekadar membeli tiket untuk melihat gambar bergerak.

Menonton film adalah pengalaman. Dan bioskop adalah bagian dari kehidupan kota.

Itulah Bandung yang kini hanya bisa kita temui kembali melalui ingatan, foto, kliping koran, dan nama-nama bioskop yang pernah menjadi bagian dari masa muda banyak orang. (*)

Reporter Kin Sanubary
Editor Aris Abdulsalam