Empat dekade perjalanan Street Spydrs kembali dikenang melalui buku, diskusi, dan pameran yang mempertemukan para pelaku sejarah, sahabat, keluarga, serta generasi lintas zaman dalam satu ruang penuh nostalgia.
Jejak panjang perkembangan skateboard di Bandung kembali dirayakan melalui Street Spydrs, nama yang telah menjadi bagian penting dari sejarah perjalanan skateboard dan subkultur anak muda di kota ini.
Komunitas yang dikenal sebagai salah satu pionir skateboard Indonesia tersebut kini hadir kembali melalui sebuah agenda yang memadukan peluncuran buku, diskusi, dan pameran. Bukan sekadar perayaan sebuah komunitas, kegiatan ini menjadi ruang untuk membuka kembali memori tentang perjalanan, persahabatan, kreativitas, dan semangat sebuah generasi yang tumbuh bersama skateboard.
Suasana hangat dan penuh kenangan terasa di Dendy Darman Studio, Jalan Kebon Bibit Tengah No. 11-B, Tamansari, Bandung, Sabtu sore, 26 September 2026. Para sahabat, senior, pelaku sejarah Street Spydrs, keluarga, serta para pencinta skateboard, sepatu roda, breakdance dan budaya anak muda era 1980–1990-an berkumpul.
Pertemuan tersebut bukan semata-mata untuk membicarakan sebuah buku. Lebih dari itu, menjadi kesempatan untuk kembali menghadirkan ingatan tentang Street Spydrs beserta berbagai kisah, pengalaman, persahabatan, dan kenangan yang menyertainya selama puluhan tahun.
Street Spydrs: Empat Dekade Berseluncur (1983–2023)

Salah satu bagian utama dari kegiatan tersebut adalah peluncuran buku Street Spydrs: Empat Dekade Berseluncur (1983–2023), karya Reka Nugraha.
Buku ini menjadi bagian penting dalam upaya mendokumentasikan perjalanan panjang Street Spydrs sekaligus merekam sebuah fragmen sejarah perkembangan skateboard di Bandung.
- Penulis: Reka Nugraha
- Advisory Board: Nala Rinaldo
- Editor: Budi Warsito
- Desain Sampul dan Tata Letak Isi: Fian Afandi
- Pracetak dan Produksi: Golosor Club
Merekam Sebuah Perjalanan

Agenda ini tidak hanya menjadi momentum peluncuran buku, tetapi juga ruang untuk melihat kembali perjalanan Street Spydrs dan dinamika budaya skateboard yang tumbuh di Bandung.
Mendokumentasikan perjalanan sebuah komunitas menjadi penting karena di dalamnya tersimpan lebih dari sekadar catatan tentang olahraga atau aktivitas berseluncur. Ada cerita tentang generasi muda, ruang kota, pertemanan, kreativitas, keberanian berekspresi, serta perubahan zaman yang berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pada sesi Book Talk, hadir sejumlah nama yang memiliki keterkaitan dengan perjalanan dan perkembangan skena tersebut, yakni Reka Nugraha, Rudy Farid Sagir, dan Krishnamurti Suparka. Diskusi dipandu oleh Kiting sebagai moderator.
Percakapan yang berlangsung membuka beragam perspektif mengenai Street Spydrs. Skateboard tidak hanya dibicarakan sebagai aktivitas fisik atau olahraga, tetapi juga sebagai bagian dari kebudayaan anak muda yang tumbuh dari ruang-ruang kota dan kemudian membentuk komunitas dengan karakter serta identitasnya sendiri.
Dari Jalanan Menjadi Sejarah
Bagi mereka yang mengikuti perkembangan skateboard dan budaya anak muda Bandung, Street Spydrs bukan sekadar nama sebuah komunitas.
Ia merupakan bagian dari ingatan kolektif tentang bagaimana skateboard tumbuh dan menemukan ruangnya di jalanan, taman, ruang publik, serta lingkungan pergaulan anak muda. Dari sana, lahir pertemanan, kreativitas, gaya hidup, dan sebuah kultur yang terus berkembang mengikuti zaman.
Empat dekade tentu bukan perjalanan yang singkat. Di dalamnya terdapat pergantian generasi, perubahan ruang kota, perubahan gaya, sekaligus perubahan cara anak muda berinteraksi dan mengekspresikan diri.
Karena itu, kehadiran buku dan pameran Street Spydrs memiliki arti lebih dari sekadar nostalgia. Dokumentasi semacam ini menjadi cara untuk menjaga potongan-potongan sejarah yang mungkin tidak tercatat dalam buku sejarah arus utama, tetapi memiliki arti penting bagi perjalanan kebudayaan anak muda Indonesia.
Baca Juga: Gastronomi Semarang: Menelusuri Jejak Rasa Tempo Dulu dan Pelestarian Warisan Kuliner
Menjaga Ingatan, Merawat Jejak
Selain peluncuran buku dan diskusi, pengunjung juga dapat menyaksikan pameran Street Spydrs yang menghadirkan berbagai jejak visual dan cerita perjalanan komunitas tersebut dari masa ke masa.
Foto, dokumentasi, memorabilia, serta berbagai artefak yang berkaitan dengan perjalanan Street Spydrs menjadi jendela untuk melihat kembali sebuah masa ketika skateboard tumbuh sebagai bagian dari denyut kehidupan anak muda Bandung.
Melalui buku, percakapan, dan pameran, Street Spydrs kembali membuka lembaran perjalanan panjangnya. Sebuah perjalanan yang tidak hanya berbicara tentang papan dan roda, tetapi juga tentang persahabatan, ruang kota, keberanian mencoba sesuatu yang berbeda, serta semangat sebuah generasi dalam menemukan identitasnya.
Pada akhirnya, merayakan Street Spydrs adalah merayakan ingatan tentang perjalanan skateboard Bandung.
Sebab sejarah sebuah kota tidak hanya tersimpan dalam gedung, jalan, atau arsip resmi. Ia juga hidup dalam foto-foto lama, cerita para pelaku, tempat-tempat yang pernah menjadi ruang berkumpul, dan kenangan orang-orang yang pernah menjalaninya.
Street Spydrs adalah salah satu bagian dari cerita itu, jejak empat dekade yang terus bergerak, dari jalanan Bandung menuju catatan sejarah budaya anak muda Indonesia. (*)