Ayo Netizen

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Oleh: Kin Sanubary
Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan. Ia menjadi bagian dari keseharian sekaligus menyimpan kenangan yang tetap melekat hingga hari ini.

Pada masa ketika pilihan tontonan di televisi belum sebanyak sekarang, TVRI menghadirkan beragam program musik yang mengangkat khazanah musik Indonesia. Sebut saja Aneka Ria Safari, Kamera Ria, Dari Masa ke Masa, Telerama, Chandra Kirana, Selekta Pop, Musik Malam Minggu, Album Minggu Ini, Irama Melayu, Irama Keroncong, dan masih banyak lagi.

Program-program tersebut tidak hanya menawarkan hiburan. Layar kaca TVRI juga menjadi salah satu ruang penting bagi para penyanyi dan musisi Indonesia untuk memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat luas.

Bagi seorang penyanyi, tampil di TVRI pada masa itu memiliki arti tersendiri. Eksposur yang luas membuat nama mereka lebih mudah dikenal oleh pemirsa di berbagai daerah. Tidak sedikit pula penonton muda yang kemudian terinspirasi untuk menyanyi, bermain musik, atau sekadar bermimpi suatu hari bisa tampil di layar televisi.

TVRI juga memiliki sejumlah program yang memberikan ruang bagi penyanyi pendatang baru. Wajah Baru dan Kenalan Baru, misalnya, menjadi bagian dari program yang memperkenalkan wajah-wajah baru kepada pemirsa setelah melalui proses seleksi. Dalam konteks zamannya, konsep semacam ini mengingatkan kita pada program pencarian bakat yang kemudian populer di era televisi swasta.

Tiga Acara Musik Legendaris di Layar TVRI

Dari begitu banyak program musik yang pernah menghiasi layar TVRI, ada sejumlah acara yang begitu kuat melekat dalam ingatan pemirsanya. Tiga di antaranya adalah Aneka Ria Safari, Chandra Kirana, dan Selekta Pop.

Ketiganya memiliki karakter yang berbeda.

Aneka Ria Safari identik dengan panggung musik yang meriah dan deretan penyanyi populer. Chandra Kirana menawarkan kemasan yang lebih musikal dan artistik, dengan perhatian pada orkestrasi serta aransemen. Sementara Selekta Pop hadir dengan pendekatan visual yang pada zamannya terasa segar dan berbeda.

Tiga program tersebut seperti memperlihatkan tiga warna dalam perjalanan musik di layar kaca TVRI.

Aneka Ria Safari, Panggung Bintang Musik Indonesia

Bagi yang tumbuh besar pada era 1980-90an pastinya mengenal acara televisi Aneka Ria Safari.

Program musik yang dikoordinasikan oleh Eddy Sud ini menjadi salah satu tayangan musik TVRI yang sangat populer pada masanya. Formatnya berupa pertunjukan panggung di studio, tempat para penyanyi dan grup musik tampil membawakan lagu-lagu mereka.

Pada masa itu, konsep semacam ini mempunyai daya tarik tersendiri. Televisi belum dipenuhi beragam pilihan acara musik seperti sekarang. Karena itu, sebuah pertunjukan musik di TVRI dapat menjadi peristiwa yang ditunggu-tunggu oleh pemirsa.

Aneka Ria Safari juga menjadi salah satu ruang penting bagi musik populer Indonesia, termasuk dangdut. Sejumlah kajian mengenai perkembangan musik dangdut di televisi mencatat bahwa pada dekade 1980-an, TVRI memberikan ruang yang cukup besar bagi musik dangdut melalui berbagai program musik, dan Aneka Ria Safari menjadi salah satu tayangan yang menonjol.

Bagi para penyanyi, tampil di Aneka Ria Safari berarti memperoleh kesempatan untuk hadir di hadapan pemirsa dalam jumlah yang sangat luas. Penyanyi dari berbagai genre pun silih berganti menghiasi panggungnya.

Yang membuat acara ini menarik bukan hanya deretan nama penyanyi yang tampil. Tata panggung, pencahayaan, susunan lagu, pembawa acara, hingga suasana pertunjukan dirancang untuk menghadirkan sebuah tontonan yang meriah.

Untuk ukuran produksi televisi Indonesia pada masa itu, panggung Aneka Ria Safari terasa begitu hidup.

Nama Eddy Sud pun kemudian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ingatan pemirsa terhadap acara tersebut. Bagi generasi yang pernah menyaksikannya, pembukaan acara, suasana panggung, dan penampilan para penyanyi seolah membawa kembali kita ke sebuah periode ketika televisi menjadi salah satu panggung utama bagi musik Indonesia.

Pada akhirnya, Aneka Ria Safari bukan hanya sebuah acara musik. Ia menjadi salah satu penanda perjalanan budaya pop Indonesia pada masanya.

Chandra Kirana, Acara Musik dengan Sentuhan Artistik

Chandra Kirana. Salah satu tayangan hiburan televisi yang mewarnai kenangan penonton pada masanya, dengan Diah Iskandar sebagai pembawa acara. Program ini turut merekam geliat budaya populer Indonesia pada zamannya. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)

Jika Aneka Ria Safari dikenal dengan kemeriahan panggungnya, Chandra Kirana mempunyai warna yang berbeda.

Program ini berkaitan erat dengan Diah Iskandar, yang berupaya meneruskan semangat bermusik keluarganya. Orkes Chandra Kirana sebelumnya didirikan oleh musikus Iskandar sekitar dekade 1960-an. Setelah sang ayah meninggal, Diah Iskandar berupaya menghidupkan kembali semangat tersebut melalui sebuah program musik di TVRI.

Paket perdana Chandra Kirana ditayangkan pada awal Juni 1980 dengan durasi sekitar 45 menit. Kehadirannya menawarkan warna yang berbeda bagi pemirsa TVRI kala itu.

Chandra Kirana tidak sekadar menampilkan penyanyi berdiri di atas panggung dan menyanyikan lagu. Ada perhatian lebih terhadap aransemen, orkestrasi, serta keseluruhan penyajian musik.

Di situlah kekuatan program ini.

Musik di televisi ternyata tidak harus selalu dikemas sebagai pertunjukan yang serba meriah. Musik juga dapat disajikan dengan pendekatan yang lebih elegan, musikal, dan artistik.

Bagi penikmat musik Indonesia, Chandra Kirana menjadi salah satu contoh bagaimana televisi pada masa itu dapat menjadi ruang bagi musisi, penyanyi, dan komposer untuk menunjukkan kreativitas mereka.

Nama Diah Iskandar pun menjadi bagian penting dalam perjalanan program musik TVRI. Bersama para musisi pendukungnya, ia menghadirkan warna tersendiri di tengah maraknya acara musik yang menghiasi layar televisi pada masa keemasan TVRI.

Selekta Pop, Cikal Bakal Video Musik di Layar Kaca

Selekta Pop. Program musik televisi dengan Mariana Ramelan sebagai pembawa acara yang turut memperkenalkan lagu dan penyanyi populer kepada masyarakat. Selekta Pop menjadi bagian dari romantisme musik dan hiburan Indonesia masa lalu. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)

Kemudian ada Selekta Pop, sebuah program yang barangkali terasa paling dekat dengan format video musik yang kelak berkembang pesat di televisi swasta dan kemudian dikenal luas melalui MTV.

TVRI mencatat bahwa Selekta Pop mulai hadir pada 1983 dalam format yang masih berbasis studio. Perubahan terjadi pada 1984 ketika program tersebut berada di bawah pengelolaan Daniel Jacob Nawi atau lebih dikenal dengan nama DJ Nawi.

Kemasan acaranya kemudian menjadi lebih dinamis. Pengambilan gambar tidak hanya dilakukan di dalam studio, tetapi juga memanfaatkan berbagai lokasi di luar studio, permainan gambar, animasi sederhana, serta efek kamera.

Untuk ukuran televisi Indonesia pada era 1980-an, pendekatan tersebut terbilang menarik.

Selekta Pop tidak hanya mengandalkan penyanyi yang berdiri di atas panggung. Lagu-lagu dikemas dengan pendekatan visual sehingga pemirsa tidak hanya mendengar musik, tetapi juga menikmati gambar yang membantu membangun suasana lagu.

Program ini ditayangkan sebulan sekali dan menyajikan sekitar 12 hingga 14 lagu pilihan. Menurut catatan TVRI, konsep tersebut mendapat perhatian besar dari pemirsa. Bahkan, produser musik disebut harus mengantre agar artis mereka dapat masuk ke dalam program tersebut.

Menariknya, Selekta Pop memperlihatkan bagaimana TVRI pada masa itu mulai bereksperimen dengan bahasa visual dalam menyajikan musik.

Jauh sebelum YouTube, platform streaming, dan video musik dapat diakses dengan mudah melalui telepon genggam, pemirsa Selekta Pop sudah diperkenalkan pada pengalaman menikmati lagu melalui perpaduan suara dan gambar.

Tentu saja, istilah music video belum menjadi bagian dari keseharian pemirsa seperti sekarang. Namun, dari layar TVRI itulah penonton mulai mengenal cara lain menikmati sebuah lagu, bukan hanya melalui suara, tetapi juga melalui visual.

Aneka Ria Safari, Chandra Kirana, dan Selekta Pop pada akhirnya memperlihatkan tiga wajah berbeda musik televisi Indonesia.

Aneka Ria Safari menghadirkan kemeriahan panggung dan popularitas para penyanyi.

Chandra Kirana menawarkan sentuhan musikal, orkestrasi, dan artistik.

Sementara Selekta Pop berani mengeksplorasi kekuatan gambar dan kemasan visual.

Ketiganya menjadi bagian dari sebuah masa ketika TVRI memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sebelum televisi swasta berkembang pesat, TVRI menjadi satu-satunya stasiun televisi nasional yang dapat diakses masyarakat secara luas. Karena itu, program-program yang hadir di layarnya mempunyai daya jangkau dan pengaruh yang besar terhadap selera hiburan masyarakat.

Itulah sebabnya kenangan terhadap acara-acara tersebut terasa lebih dari sekadar nostalgia televisi.

Ada kenangan tentang lagu yang pertama kali dikenal dari layar kaca. Ada ingatan tentang penyanyi yang kemudian menjadi idola. Ada pula memori sederhana tentang keluarga yang duduk bersama di depan televisi, menunggu acara musik kesayangan dimulai.

Dulu, televisi mungkin hanya sebuah benda di ruang keluarga. Namun, dari benda sederhana itulah banyak kenangan sebuah generasi terbentuk.

Kini, puluhan tahun kemudian, ketika potongan-potongan tayangan lama kembali beredar di internet, kenangan itu seolah menemukan jalan untuk pulang.

Lagu-lagu lama kembali terdengar. Wajah para penyanyi kembali muncul. Panggung-panggung TVRI yang dulu terasa begitu megah kembali hadir dalam ingatan.

Dan tiba-tiba saja, kita seperti kembali menjadi anak-anak atau remaja yang duduk di depan televisi, menunggu sebuah acara musik dimulai.

Baca Juga: Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Tidak ada YouTube. Tidak ada layanan streaming. Tidak ada pilihan untuk memutar ulang kapan saja.

Yang ada hanyalah sebuah layar televisi, sebuah acara yang ditunggu, dan rasa penasaran tentang lagu serta penyanyi apa yang akan muncul malam itu.

Kita mungkin tidak pernah menyadarinya ketika itu. Tetapi bertahun-tahun kemudian, kita baru memahami bahwa tayangan-tayangan sederhana tersebut bukan sekadar hiburan.

Ia adalah bagian dari perjalanan musik Indonesia, bagian dari sejarah televisi, dan yang paling penting, bagian dari ingatan sebuah generasi. (*)

Reporter Kin Sanubary
Editor Aris Abdulsalam