Ayo Netizen

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Oleh: Vito Prasetyo
Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)

Mengacu pada gagasan Karlina Supelli (Filsuf Indonesia), bahwa menempatkan membaca dalam kegiatan literasi adalah sebagai latihan intelektual yang tidak tergantikan. Membaca buku penting karena kerja otak menjadi tajam ketika otak berdialog.

Literasi bukan sekadar kemampuan teknis membaca dan menulis. Bahwa aktivitas membaca merupakan proses dialog antara manusia dengan gagasan. Karena itu, literasi berkaitan dengan kemampuan berpikir, memahami, mempertanyakan, dan membangun pengetahuan. Ini sejalan dengan pengertian literasi pendidikan sekarang yang mencakup memahami informasi, mengevaluasi sumber, merefleksikan gagasan, dan menggunakannya untuk memecahkan persoalan.

Membaca juga melatih ketajaman berpikir. Bagi generasi muda, kemampuan ini sangat penting karena mereka hidup dalam lingkungan informasi yang sangat deras. Orang yang hanya menerima informasi tanpa mengolahnya mudah menjadi konsumen informasi, sedangkan literasi membuat seseorang mampu berdialog secara kritis dengan informasi tersebut.

Generasi muda membutuhkan literasi untuk menghadapi kompleksitas zaman. Literasi memungkinkan anak muda tidak sekadar mengetahui apa yang terjadi, tetapi juga bertanya mengapa dan bagaimana. Pada tingkat yang lebih tinggi, literasi menjadi kemampuan mengakses, mengolah, dan mentransformasikan pengetahuan. Badan Bahasa bahkan mengaitkan kecakapan literasi dengan kemampuan memecahkan masalah dan daya saing bangsa.

Secara konseptual, membangun budaya literasi berarti menginvestasikan kemampuan berpikir generasi muda; dan kemampuan berpikir itulah yang kelak menentukan kualitas keputusan, ilmu pengetahuan, kebudayaan, inovasi, dan kehidupan demokratis suatu bangsa.

Sampai hari ini, masih ada anggapan bahwa literasi sekadar persoalan kemampuan membaca dan menulis. Pandangan tersebut sesungguhnya terlalu sempit. Membaca dan menulis memang merupakan fondasi, tetapi literasi modern jauh melampaui kemampuan mengenali huruf, memahami kalimat, atau menuliskan gagasan.

Literasi adalah kemampuan seseorang untuk memahami informasi, mengolahnya, menganalisis, mengevaluasi, menggunakan pengetahuan, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Karena itu, masyarakat yang memiliki tingkat literasi baik bukan hanya masyarakat yang banyak membaca, melainkan masyarakat yang mampu memahami persoalan dan menggunakan pengetahuan untuk memperbaiki kehidupan.

Dengan demikian, literasi sebenarnya merupakan infrastruktur intelektual sebuah bangsa. Seseorang dapat membaca sebuah berita tanpa memahami substansinya. Ia dapat membaca sebuah unggahan media sosial tanpa mengetahui sumbernya. Ia bahkan dapat mengutip sebuah data tanpa memahami bagaimana data tersebut diperoleh.

Literasi menuntut proses berpikir. Ketika seorang anak muda membaca informasi tentang ekonomi, misalnya, ia tidak cukup hanya mengetahui angka pertumbuhan ekonomi. Ia perlu bertanya: dari mana angka itu berasal, siapa yang mengumpulkan data, indikator apa yang digunakan, siapa yang memperoleh manfaat, dan kelompok mana yang mungkin belum terwakili?

Demikian pula ketika berhadapan dengan informasi kesehatan, politik, lingkungan, teknologi, budaya, maupun ekonomi. Literasi mengajarkan manusia untuk tidak segera percaya hanya karena sebuah informasi terlihat meyakinkan. Dengan kata lain, literasi adalah kemampuan untuk memberi jarak antara informasi dan kesimpulan.

Karena itu, persoalan literasi hari ini bukan lagi sekadar: Apakah anak muda membaca? Tetapi juga: Apa yang mereka baca, bagaimana mereka memeriksanya, dan apa yang mereka lakukan setelah memperoleh informasi?

Pengalaman organisasi dapat menjadi proses pembelajaran yang membantu mahasiswa mengembangkan employability skills sebagai bekal menghadapi dunia profesional. (Sumber: magnific.com | Foto: tirachardz)

Tantangan literasi generasi muda menjadi lebih kompleks karena anak muda sekarang tidak hanya berhadapan dengan buku. Mereka berhadapan dengan banjir informasi.

Dalam satu hari, seseorang dapat menerima ratusan bahkan ribuan potongan informasi. Sebagian benar, sebagian keliru, sebagian kehilangan konteks, dan sebagian sengaja dibuat untuk menarik perhatian. Persoalannya bukan kekurangan informasi, melainkan kelebihan informasi tanpa kemampuan menyaringnya.

Karena itu, pendidikan literasi harus bergerak dari paradigma “reading habit” menuju “critical literacy”. Anak muda tidak cukup didorong untuk rajin membaca. Mereka perlu dilatih mempertanyakan teks, menemukan argumentasi, mengenali bias, memeriksa bukti, membandingkan sumber, dan menyusun kesimpulan berdasarkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ada literasi baca-tulis, numerasi, sains, digital, finansial, media dan informasi, budaya, kesehatan, hingga berbagai bentuk literasi yang berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat. Literasi digital, misalnya, tidak sama dengan kemampuan mengoperasikan telepon pintar. Seseorang yang mampu menggunakan berbagai aplikasi belum tentu memiliki literasi digital.

Literasi digital menuntut kemampuan menggunakan teknologi secara percaya diri sekaligus kritis, termasuk mencari, menilai, menyimpan, menghasilkan, dan bertukar informasi serta memecahkan persoalan dengan teknologi digital.

Bangsa yang memiliki generasi muda dengan kemampuan membaca secara kritis akan lebih mudah mengembangkan inovasi. Generasi yang memiliki literasi numerasi dan finansial dapat mengambil keputusan ekonomi dengan lebih rasional. Generasi yang memiliki literasi digital dapat memanfaatkan teknologi tanpa menjadi sekadar konsumen informasi.

Dengan demikian, investasi literasi sebenarnya merupakan investasi jangka panjang terhadap modal manusia. Yang paling penting, literasi harus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Bangsa yang kuat tidak hanya dibangun oleh jalan raya, gedung tinggi, kawasan industri, atau teknologi canggih. Semua itu membutuhkan manusia yang mampu mengelolanya. Infrastruktur tanpa kualitas manusia dapat kehilangan arah.

Karena itu, pembangunan bangsa harus berjalan pada dua jalur sekaligus: membangun infrastruktur fisik dan membangun infrastruktur pengetahuan. Literasi merupakan salah satu fondasi terpenting dari infrastruktur pengetahuan tersebut.

Generasi muda yang literat bukan berarti generasi yang selalu memiliki jawaban. Justru mereka adalah generasi yang mampu mengakui ketika belum mengetahui sesuatu, bersedia mencari bukti, terbuka terhadap koreksi, dan mampu mengubah pandangannya ketika menemukan fakta baru.

Baca Juga: Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Maka investasi bangsa tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang mahal. Ia dapat dimulai dari sebuah buku yang dibaca dengan sungguh-sungguh, sebuah informasi yang diperiksa sebelum dibagikan, sebuah data yang dianalisis sebelum disimpulkan, dan sebuah pertanyaan kritis yang tidak takut diajukan. Inilah karakter intelektual yang diperlukan Indonesia untuk menghadapi masa depan.

Sebab bangsa yang menguasai literasi tidak sekadar memiliki generasi yang mampu membaca dunia. Ia memiliki generasi yang mampu memahami, mengkritisi, dan ikut menentukan arah perubahan dunia.

Dan pada akhirnya, investasi terbesar sebuah bangsa bukan hanya berapa banyak gedung yang berhasil dibangun, tetapi berapa banyak manusia yang berhasil dibentuk menjadi pembelajar, pemikir kritis, pencipta pengetahuan, dan warga yang bertanggung jawab.

Itulah sebabnya penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan bukan sebagai program tambahan dalam pembangunan nasional, melainkan sebagai salah satu fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif, dan berdaya tahan menghadapi perubahan zaman. (*)

Reporter Vito Prasetyo
Editor Aris Abdulsalam