Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

4 menit baca
Sarah Annisa Fadhila
Ditulis oleh Sarah Annisa Fadhila diterbitkan
Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)

Industri media nasional maupun daerah sampai hari ini masih bergelut dengan penurunan trafik dan pendapatan iklan yang kian tandus. Banyak yang mengencangkan sabuk pengaman, tak sedikit pula yang tergerus lalu hilang dari peredaran.

Memang betul jika informasi adalah kebutuhan setiap orang. Kendati demikian, ada faktor raksasa yang kini harus diperhitungkan, yakni kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Eksistensi AI ibarat pedang bermata dua. Ia bisa menyajikan kebutuhan informasi lebih cepat untuk pengguna, namun juga mengambil alih peran mesin pencari konvensional seperti Google dalam menyajikan berita berdasarkan pencarian kata kunci.

Di tengah tekanan bisnis dan ekonomi media yang kian mengkhawatirkan, Menteri Hukum (Menkum) Supratman Andi Agtas mencetuskan janji bahwa negara akan hadir melalui regulasi yang melindungi karya jurnalistik dari pengerukan data (crawling) AI. Komitmen ini menjadi perhatian publik, bisa terdengar sebagai angin segar yang akan menyelamatkan industri pers, tapi di sisi lain juga menyalakan alarm kewaspadaan. Sebuah pertanyaan pun mencuat, apakah janji ini akan benar-benar melindungi bisnis media dan karya para jurnalis, atau sekadar retorika diplomasi untuk berhadapan dengan raksasa teknologi?

Nasib Ruang Redaksi Saat AI Menggeser Mesin Pencari

Tandusnya pendapatan iklan di media massa bukan mimpi buruk yang terjadi tanpa alasan. Kondisi ini terjadi karena berita yang dihasilkan para jurnalis kini berhadapan dengan audiens yang kelelahan. Studi Search Engine Land mengungkap 40 persen pengguna merasa jenuh karena harus terus membuka terlalu banyak tautan dan 37 persen terganggu akibat iklan berbayar yang wara-wiri saat mereka hanya membutuhkan sebuah informasi dalam berita. Dampaknya, 37 persen konsumen digital sekarang pindah haluan ketika membutuhkan informasi. Mereka tidak lagi mencarinya di mesin pencari seperti Google, namun langsung bergeser mengandalkan platform AI demi informasi yang lebih cepat dan “bersih”.

Bagi industri media, pergeseran ini menyeramkan. Ketika pembaca mendapatkan informasi secara instan dari AI, mereka tidak perlu lagi membuka tautan laman. Trafik terus menukik, padahal itu adalah penopang pendapatan iklan agar bisnisnya terus berjalan.

Masalah utama sebenarnya bukan karena kemajuan teknologi, melainkan skema pemanfaatan kontennya. AI punya cara kerja yang berbeda dengan manusia ketika menyerap referensi. Jika manusia lebih mudah “diatur” dengan aturan penyematan sumber, maka AI bekerja dengan menyerap ribuan bahkan jutaan informasi di internet tanpa pernah memberikan atribusi apalagi kompensasi finansial kepada industri media sebagai pemberi kerja para jurnalis.

AI memang tidak bisa dikatakan sebagai pelaku plagiarisme pada karya jurnalistik. Informasi yang dihimpun perusahaan teknologi terlebih dulu dijadikan bahan pelatihan untuk model AI, baru kemudian menjadi jawaban yang diminta pengguna melalui prompt. Celakanya, mekanisme tersebut justru membuat industri media yang menanggung biaya produksi justru kehilangan sumber pendapatan.

Alarm Waspada, Negara Tak Boleh Gagap Melangkah

Janji yang dicetuskan Menkum Supratman Andi Agtas terkait regulasi hak cipta karya jurnalistik  sekaligus mendorong kolaborasi internasional sebenarnya sejalan dengan semangat Publisher Rights. Kendati demikian, penegakan hukum ketika berhadapan dengan perusahaan teknologi raksasa tidak bisa dilakukan oleh Indonesia saja mengingat ekosistem AI yang bekerja secara global tanpa peduli batas-batas teritori negara.

Upaya mendorong kolaborasi global adalah langkah yang cerdas, tetapi strategi tersebut memerlukan fondasi hukum domestik yang kokoh pula. Kolaborasi lintas negara baru akan memiliki taji apabila cakupan domestiknya sudah memiliki aturan yang jelas dan tegas. Jika negara tidak memiliki fondasi hukum yang jelas terkait skema kompensasi dan hak cipta karya jurnalistik, posisi tawar di mata raksasa teknologi global pun akan menciut.

Di sisi lain, batas antara perlindungan industri media dengan jaminan independensi redaksi juga berpotensi menjadi sangat tipis. Regulasi pengerukan berita yang dilakukan AI idealnya tidak boleh berbelok menjadi pintu masuk bagi pemerintah untuk mengontrol independensi media dalam memberitakan peristiwa.

Berkutat dengan kondisi yang tak kunjung membaik, industri media tidak butuh janji manis di atas kertas. Itu tidak menyelesaikan krisis finansial yang melilit bisnis ini. Kebutuhan utamanya terletak pada kepastian hukum yang konkret mengenai penggunaan data dan karya jurnalistik secara transparan oleh perusahaan AI, ketegasan perlindungan hak cipta, serta kompensasi finansial yang jelas dan adil ketika karya-karya jurnalis mereka dihimpun untuk melatih AI.

Dari sudut pandang ekologi media, teknologi tidak hadir sebagai ancaman yang harus dimusuhi, melainkan dinamika yang menuntut manusia agar mampu beradaptasi dan menyelaraskan diri secara matang. Oleh sebab itu, dibutuhkan kehadiran negara agar aturan dapat berdiri tegak melindungi industri media di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Secercah harapan kembali timbul usai Menkum melontarkan janji bahwa negara akan melindungi karya jurnalistik dari crawling data yang dilakukan oleh AI. Kendati demikian, janji tersebut sekaligus menjadi alarm waspada agar publik terus mengawal dan memantau supaya tidak berhenti di meja wacana.

Publik membutuhkan langkah nyata bagaimana negara memberikan perlindungan hukum yang konkret. mulai dari jaminan kompensasi finansial, transparansi data ketika perusahaan AI menggunakan data milik media massa, hingga kepastian agar redaksi tidak kehilangan marwah independennya. Tanpa aturan konkret yang jelas, janji perlindungan hanya akan menjadi angin segar yang berlalu begitu saja.(*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 18:16

PWI Jabar dan Tantangan Baru Menjaga Kepercayaan Publik di Era AI

PWI Jawa Barat juga dapat mendorong penguatan disiplin verifikasi di kalangan anggotanya. Misal, dengan membahas prosedur pemeriksaan video yang viral dan penggunaan gambar hasil AI.

Logo Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 17:31

Terlalu Dekat untuk Dikenal: Mengapa Situs Candi Bojong Menje perlu Diceritakan Kembali?

Situs Candi Bojong Menje menyimpan jejak sejarah yang penting, tetapi masih kurang mendapat perhatian layak. Sudah saatnya masyarakat, generasi muda, mengenal dan menjaga warisan sejarah ini.

Kondisi Situs Candi Bojong Menje di Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi Jailani Abdul Rosyid | Foto: Jailani Abdul Rosyid)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 16:51

Membuka Monitor Oktober 1983: Saat Si Unyil, Gombloh, dan Bintang Idola Menemani Hari-Hari Kita

Majalah Monitor edisi Oktober 1983 mengajak kita pulang sejenak ke masa ketika hiburan tak datang setiap saat dalam genggaman, tetapi justru dinanti dengan penuh antusias.

Majalah Monitor edisi Oktober 1983, majalah hiburan dan keluarga dengan sampul mojang Bandung, Reita Soebita. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 15:42

Tahun Berulang, MAMPUS Berulang Tahun

Ejaan setiap pemilihan diksi sangat relevan, sehingga menciptakan makna, bahkan pembacaan yang multitafsir sering disebut sebagai perspektif.

Berulang Tahun MAMPUS (Malam Minggu Puisi) (Foto: Ayu Maimun)
Seni Budaya 12 Okt 2026, 14:41

Mengubah Gerakan Erotis Tari-tarian Kerakyatan Melalui Tari Lidah Agni

Tari kerakyatan tradisional sunda, memang kerap mendapat stigma terdapat unsur erotis. Akan tetapi, para peneliti ISBI Bandung mengubahnya menjadi gerakan tari lidah agni.

Salah satu gerakan Tari Lidah Agni  yang dipentaskan oleh Sanggar Putri Ayu Bandung (Foto: mildan)
Beranda 12 Okt 2026, 14:18

Menari dan Berbagi untuk Sesama Lewat Bhakti Nṛtya Pertiwi

Lebih dari sekadar pertunjukan, Bhakti Nṛtya Pertiwi menjadi ruang perjumpaan untuk merayakan keberagaman budaya.

Pertunjukan tari Kalimantan dalam Bhakti Nṛtya Pertiwi menjadi bagian dari perayaan keberagaman budaya Nusantara sekaligus ajakan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 14:01

Semrawut Parkir Liar Pasar Ujungberung: Jalan Sempit, Pejalan Kaki Terpaksa 'Nyempil' di Antara Kendaraan

Parkir liar di bahu jalan dan trotoar depan Pasar Ujungberung bikin ruas jalan menyempit. Pejalan kaki terpaksa nyempil di antara kendaraan

Kondisi parkir liar sepeda motor di bahu jalan depan Pasar Ujungberung yang menyebabkan penyempitan jalan. (Foto: Rahayu)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 13:22

Aksa Cafe Cirebon tempat Nongkrong Cozy di Cirebon

Aksa Cafe Cirebon menjadi salah satu tempat nongkrong anak muda yang punya tempat yang nyaman dan rasa makanan yang enak

Menu Aksa Cafe Cirebon (11/10/2026). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)