Sebelum rock Indonesia berkembang dengan beragam warna dan eksperimen musikal, Benny Soebardja telah lebih dulu menjelajahi jalur yang tidak mudah. Bersama The Peels, Shark Move, Giant Step, hingga Benny Soebardja & The Lizard, ia terus mencari kemungkinan baru dalam bermusik. Keberanian bereksperimen inilah yang menempatkannya sebagai salah satu figur penting dalam sejarah rock progresif Indonesia, sekaligus sosok yang dikenal dengan julukan Godfather Rock Progresif Indonesia.
Perjalanan musikal Benny kembali ditelusuri melalui buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie. Buku ini merangkum kiprahnya, mulai dari awal karier bersama The Peels, eksplorasi musikal Shark Move, dinamika Giant Step, hingga eksperimennya bersama The Lizard.
Lebih dari sekadar biografi musisi, buku ini mengajak pembaca memahami bagaimana rock progresif tumbuh dan menemukan identitasnya di Indonesia.
Dari The Peels Menuju Dunia Progresif
Perjalanan Benny bermula bersama The Peels. Pengalaman bermusik, termasuk ketika berada di Singapura, menjadi bagian penting dalam pembentukan wawasan dan karakter musikalnya.
Pertemuannya dengan berbagai perkembangan musik pada masa itu mendorong Benny untuk melangkah lebih jauh dari pola musik populer yang lazim. Ia tertarik mengeksplorasi komposisi dan pendekatan musikal yang lebih luas.
Salah satu babak penting dalam perjalanan tersebut adalah Shark Move. Kelompok ini meninggalkan jejak berarti dalam perkembangan awal rock progresif Indonesia melalui album Ghede Chokra's.
Shark Move menunjukkan bahwa musik rock dapat berkembang melalui eksperimen dan keberanian menjajal bentuk-bentuk baru. Di tengah kuatnya pengaruh rock internasional, eksplorasi semacam ini turut membuka jalan bagi musisi Indonesia untuk membangun karakter musikalnya sendiri.
Baca Juga: Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual
Buku karya Zuhair Alyafie menelusuri proses terbentuknya Shark Move, perjalanan kreatif para personelnya, serta warisan yang ditinggalkan kelompok tersebut. Pembahasannya tidak hanya berpusat pada album, tetapi juga pada gagasan dan semangat yang melatarbelakangi kelahirannya.
Kisah Shark Move sekaligus memperlihatkan bahwa sejarah musik dibentuk oleh lebih dari sekadar popularitas. Di balik sebuah karya, terdapat pertemanan, pertukaran gagasan, dan keberanian untuk mengambil jalan berbeda dari arus utama.

Giant Step dan Dinamika Rock Progresif Indonesia
Setelah Shark Move, Giant Step menjadi babak penting berikutnya dalam perjalanan Benny Soebardja.
Bersama kelompok ini, Benny melanjutkan eksplorasi musikal di tengah berbagai tantangan, mulai dari pergantian personel hingga upaya menjaga kesinambungan kreativitas.
Kepergian Soman Lubis menjadi salah satu peristiwa penting dalam perjalanan Giant Step. Namun, kelompok ini terus bergerak dengan formasi baru dan menghasilkan karya yang mencerminkan perkembangan musikal mereka.
Buku Benny Soebardja: The Progressive Years membahas perjalanan tersebut melalui sejumlah album, di antaranya Giant Step of Rhapsodia, Giant Step Mark I, Giant on the Move!, dan Kukuh nan Teguh.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia
Pembahasan juga mencakup Bob Dook, album Persada Tercinta, Dari Tinombala Hingga Geregetan, serta Life's Not the Same. Deretan karya ini memperlihatkan luasnya perjalanan Giant Step sekaligus perubahan yang mewarnai proses kreatifnya.
Kisah Giant Step menjadi gambaran bahwa perjalanan sebuah kelompok musik tidak selalu berjalan mulus. Pergantian personel dan perubahan keadaan merupakan bagian dari dinamika yang turut membentuk karakter sebuah band.
Di tangan para musisi yang terus mencari kemungkinan baru, rock progresif menjadi ruang untuk mengembangkan gagasan, mengolah komposisi, dan mempertahankan kebebasan berekspresi.
The Lizard, Babak Baru Eksplorasi Musikal
Perjalanan Benny tidak berhenti bersama Giant Step. Melalui Benny Soebardja & The Lizard, ia kembali menjelajahi kemungkinan musikal yang berbeda.
Buku ini turut mengulas album Benny Soebardja & Lizard serta Gimme a Piece of Gut Rock & Night Train. Keduanya menjadi bagian dari perjalanan Benny dalam mengembangkan gagasan musikal di luar pengalaman bersama kelompok-kelompok sebelumnya.
Perubahan formasi dan lingkungan kreatif memberinya ruang untuk mencoba pendekatan baru. Bagi musisi yang terus bereksperimen, setiap fase bukan sekadar kelanjutan karier, melainkan kesempatan untuk memperluas cakrawala bermusik.
Perjalanan bersama The Lizard memperlihatkan bahwa Benny tidak terpaku pada satu formula. Ia terus mencari bentuk ekspresi yang sesuai dengan gagasan musikalnya.
Baca Juga: Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung
Sikap inilah yang menjadi salah satu daya tarik rock progresif. Struktur lagu, aransemen, dan perpaduan berbagai pengaruh dapat diolah menjadi karya yang menawarkan pengalaman mendengarkan berbeda.
Karena itu, fase The Lizard penting untuk memahami Benny secara utuh. Jejaknya tidak hanya terikat pada satu band atau satu periode, tetapi terbentang melalui rangkaian eksplorasi yang terus berkembang.

Album sebagai Jejak Sejarah Musik
Salah satu aspek menarik dari Benny Soebardja: The Progressive Years adalah penelusurannya terhadap album, pergantian formasi, peristiwa penting, serta pengakuan dan perilisan ulang karya-karya terdahulu.
Dokumentasi semacam ini penting bagi sejarah musik Indonesia, terutama untuk genre yang berkembang di luar arus utama. Tanpa penelusuran dan pencatatan yang memadai, kisah para musisi beserta karya mereka berisiko terputus dari ingatan publik.
Album bukan sekadar kumpulan lagu. Di dalamnya tersimpan jejak zaman, gagasan artistik, perkembangan teknologi rekaman, serta interaksi antarmusisi yang membentuk proses kreatif.
Dengan menelusuri The Peels, Shark Move, Giant Step, dan The Lizard, pembaca dapat melihat hubungan antara perjalanan Benny dan perkembangan rock Indonesia pada masanya.
Baca Juga: SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?
Perhatian terhadap perilisan ulang karya-karya lama juga membuka kesempatan bagi generasi pendengar baru untuk mengenal musik yang sebelumnya lebih akrab bagi penggemar lama. Di tengah perkembangan industri musik digital, rekaman dari masa lalu dapat kembali menjangkau pendengar lintas generasi.
Dengan demikian, mendokumentasikan sejarah musik bukan sekadar mengenang masa lalu. Upaya ini juga menjaga kesinambungan pengetahuan dan memberi ruang bagi generasi baru untuk menemukan kembali karya-karya yang pernah mewarnai perjalanan musik Indonesia.
Mengabadikan Warisan Rock Progresif Lewat Ilustrasi
Buku Benny Soebardja: The Progressive Years merupakan karya Zuhair Alyafie, mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Kesenian Jakarta (IKJ), dengan peminatan ilustrasi.
Karya ini mengangkat tema Perancangan Buku Ilustrasi Pengaruh Benny Soebardja dan Peranannya dalam Musik Progresif Indonesia. Melalui pendekatan desain komunikasi visual, perjalanan Benny diolah menjadi dokumentasi sejarah musik dalam bentuk buku ilustrasi.
Pilihan medium tersebut menawarkan cara lain untuk mengenalkan sejarah musik kepada pembaca. Selain melalui tulisan dan rekaman suara, ilustrasi dapat membantu menghadirkan sosok, suasana, dan perjalanan kreatif yang membentuk sebuah periode musik.
Baca Juga: Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan
Bagi pembaca yang belum mengenal rock progresif Indonesia, buku ini dapat menjadi pintu masuk untuk memahami kiprah Benny dan kelompok-kelompok musik yang mewarnai kariernya. Sementara bagi penggemar lama, pendekatan visual tersebut menawarkan kesempatan untuk menelusuri kembali perjalanan musikal Benny dari sudut pandang berbeda.
Meski demikian, kekuatan dokumentasi sejarah tetap bertumpu pada ketepatan informasi, kronologi, dan kedalaman riset. Ilustrasi dan desain berperan memperkuat penyampaian cerita, sedangkan fakta sejarah menjadi fondasi utamanya.
Perpaduan sejarah musik dan pendekatan visual ini memperlihatkan pentingnya mencari cara baru untuk memperkenalkan warisan musik kepada generasi berikutnya. Masa lalu tidak harus terasa jauh ketika disampaikan melalui medium yang dekat dengan pengalaman pembaca masa kini.
Bukan Sekadar Nostalgia
Perjalanan Benny Soebardja bersama The Peels, Shark Move, Giant Step, dan The Lizard memperlihatkan konsistensinya dalam mengeksplorasi musik. Ia tidak sekadar mengikuti perkembangan zaman, tetapi turut mencari kemungkinan baru melalui eksperimen dan keberanian musikal.
Melalui buku Benny Soebardja: The Progressive Years, Zuhair Alyafie berupaya merangkum perjalanan tersebut sekaligus membuka ruang bagi pembaca untuk mengenal lebih dekat sosok dan karya-karyanya.
Bagi penggemar rock progresif, buku ini menjadi bahan penelusuran atas perjalanan seorang musisi yang memiliki tempat penting dalam sejarah genre tersebut di Indonesia. Bagi generasi muda, kisah Benny dapat menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa perkembangan musik lokal juga dibangun oleh keberanian berpikir berbeda dan kesediaan mengambil risiko kreatif.
Sebab, sejarah musik tidak hanya ditentukan oleh popularitas atau angka penjualan album. Ada musisi yang meninggalkan jejak melalui gagasan, eksperimen, dan keberanian membuka jalan ketika arah yang ditempuh belum tentu menjanjikan kesuksesan.
Baca Juga: Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?
Benny Soebardja adalah salah satu sosok yang membuktikan bahwa musik bukan sekadar mengikuti zaman, melainkan juga tentang keberanian melampauinya. Karya-karyanya menjadi jejak dari pencarian tanpa henti, sementara pengaruhnya mengingatkan bahwa rock progresif Indonesia tumbuh berkat mereka yang berani mendobrak batas dan memperluas kemungkinan. Waktu boleh berganti, tetapi keberanian musikal yang ia wariskan akan selalu memiliki tempat dalam sejarah musik Indonesia.***