Ayo Netizen

Film Horor dan Komedi adalah Kita

Oleh: mufti wibowo
Film Horor dan Komedi adalah Kita (Sumber: GeminiAI)

Kita membaca data dan angka, dalam daftar 10 film Indonesia dengan penonton terbanyak, hanya Jumbo (2025),  Dilan 1990 (2018),  Miracle in Cell No. 7 (2022), Dilan 1991 (2019) film di luar genre horor dan komedi. Sisanya dikuasai film dari dua genre tersebut,  Agak Laen: Menyala Pantiku! (2025), KKN di Desa Penari (2022), Agak Laen (2024), Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (2016), Pengabdi Setan 2: Communion (2022), Vina: Sebelum 7 Hari (2024).

Fenomena tingginya minat masyarakat Indonesia terhadap film horor dan komedi—hingga mendominasi daftar film terlaris sepanjang masa—merupakan cerminan dari kondisi psikologis, sosial, dan budaya yang cukup mendalam. Lalu, apa yang dapat menjelaskan mengapa kedua genre ini sangat dicintai kita(?)

Kita membutuhkan ruang untuk melepaskan emosi yang terpendam dari tekanan kehidupan sehari-hari (pekerjaan, ekonomi, hingga masalah pribadi). Itulah yang disebut sebagai katarsis emosional. Film horor sebenarnya tidak ditonton oleh mereka yang bersani (saja). Genre ini sebenarnya menawarkan ruang aman untuk merasakan rasa takut, tegang, dan cemas tanpa ancaman nyata di kehidupan nyata. Lonjakan adrenalin saat menonton horor diikuti oleh perasaan lega (relief) begitu film selesai–sesuatu yang kita namai dengan rasa penasaran.

Sementara itu, film komedi bekerja seperti obat penenang yang memberikan pelepasan emosi berupa tawa yang secara medis memicu hormon endorfin, mengurangi stres, dan menghadirkan rasa bahagia secara instan.

Masyarakat Indonesia memiliki budaya komunal yang kuat, mereka berinteraksi dan melakukan kegiatan bersama-sama. Dari sanalah, tradisi kumpul dan pengalaman kolektif bermula. Menonton film horor atau komedi adalah aktivitas sosial. Sensasi menjerit bersama di bioskop saat adegan seram atau tertawa terbahak-bahak bersama ratusan orang menciptakan ikatan emosional dan pengalaman yang menyenangkan. Kedua genre film itu tentu jauh lebih seru jika ditonton bersama teman, pasangan, atau keluarga dibandingkan ditonton sendirian, tidak seperti saat kita nonton Gie (2025) atau Her (2013) sebagai misal. 

Kedua genre ini sangat mudah menyentuh akar budaya lokal masyarakat Indonesia karena mengangkat mitos yang bersumber dari cerita rakyat, legenda urban, atau cerita pengantar tidur dan perbincangan sehari-hari sejak kecil. Film horor lokal mengeksploitasi keakraban ini sehingga terasa dekat dan nyata. Film komedi Indonesia umumnya mengangkat humor situasi, dinamika keluarga, problematika kelas pekerja, atau satire sosial yang sangat relevan (relatable) dengan kehidupan penonton.

Dibandingkan genre drama serius, politik, atau fiksi ilmiah (sci-fi) yang membutuhkan konsentrasi dan pemikiran kritis yang mendalam, komedi dan horor menawarkan bentuk hiburan murni, namun naif. Penonton tidak diajak berpikir terlalu kompleks. Fokus utama penonton disedot sepenuhnya pada sensasi rasa takut atau rasa geli yang menjadi sarana pelarian (escapism) dari rutinitas harian.

Saya teringat, saat mengisi libur, saya mendapat ajakan nonton dari seorang teman lama, KKN di Desa Penari yang rilis tahun 2022 silam. Seusai nonton, sesuatu memberati langkah kaki dan menghantui benak ke mana saja saya pergi beraktivitas. Pada intinya, saya menyimpan pertanyaan ugal-ugalan: apakah KKN di Desa Penari dapat dijadikan sumber belajar di kelas saya atau ia sejenis film yang dapat dikategorikan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila yang bangsa kita bersama hayati(?)

KKN di Desa Penari menjadi film pertama yang saya tonton setelah ototiras melonggarkan penerapan protokol kesehatan selepas masa pandemi. KKN di Desa Penari seperti menunjukkan wajah autentik manusia Indonesia yang masih didominasi pandangan irasional. 

Dengan nada yang berbeda, kita mendapati sebuah ironi, irasionalitas itu bahkan masih mengakar kuat pada “mereka” yang telah mendapat pendidikan modern. Sekelebat, saya mendapat penjelasan tambahan dari fenomena sosiokultural yang diurai panjang lebar dalam sebuah buku yang ditulis oleh sejarawan berkebangsaan Australia, George Quinn, bertajuk Wali Berandal Tanah Jawa. 

Bila tak cukup, kita bisa melengkapi dengan ingatan kolektif bangsa bahwa setiap musim kontestasi politik: pilpres, pileg, pilkada hingga pilkades, orang ramai-ramai orang datang ke dukun untuk menggaransi kemenangan alih-alih menyusun program yang saintifik. Saya menemukan data dari medium.com yang menyebut data pembelian tiket bioskop bahwa pada rantang 2022, jumlah penonton film bergenre horor melampaui angka 32 ribu, sementara pada posisi kedua genre drama berjumlah 9 ribu. Kita bisa menduga korelasi selera masyarakat yang mungkin terkait dengan latar belakang budaya dan pola asuh; meski perlu diteliti lebih jauh.

Seolah mengafirmasi adagium kuna bahwa karya seni tidak lahir dari ruang hampa budaya, KKN di Desa Penari, mengangkat folklor yang penuh mitos yang hidup di sebuah desa yang menjadi latar film. Desa di sini, dapat kita definisikan sebagai tempat dengan karakter masyarakat yang “beroposisi” dengan “kota”--tentu dengan mengandaikan kota berkonotasi dengan rasionalitas. Celakanya, secara implisit, kita bisa melihat para tokoh yang mewakili simbol dan identitas kota yang rasionalitas justru larut lesap dalam identitas “desa”. Tentu saja, komentar saya berada di luar konteks artistik film itu sendiri. 

Sekilas, peristiwa-peristiwa dalam KKN di Desa Penari tampak disajikan tanpa perhatian khusus pada aspek plot. Secara kontekstual, kita bisa membaca itu sebagaimana fenomena kiwari, ketika potongan-potongan informasi yang berlimpah menyerang kita via gawai di ujung jari. Penonton sendirilah yang mesti membuat plotnya, jika menghendaki—sesuatu yang menuntut intensi dan ketekunan. Dan, tak menjadi masalah jika penonton bersikap pasif sebagaimana menggulir layar pada tampilan lini masa media sosial untuk mengabaikan begitu saja setiap momen tanpa sikap kritis. 

Dari tipikal penonton terakhirlah kemudian kita bisa membenarkan fenomena kultural post-truth hingga antikepakaran—kemalasan orang untuk menguji kesahihan sebuah informasi sekaligus “kelatahan” untuk menyebarkan informasi sebanyak-banyaknya sebagai bentuk eksistensi yang palsu.

Teman saya berbisik mengenai rencananya mengajak putrinya yang kelas 4 untuk menonton. Mendengarnya, mata saya hampir lompat dan menumpahkan popcorn dalam wadah. Buru-buru ia menjelaskan bahwa anaknya tidak akan menonton jenis film horor seperti yang sedang kami tonton. Saya lega karenanya.

Baiklah, film bagi saya sama saja dengan karya sastra, keduanya dapat memenuhi dua hal ideal yang menjadi kebutuhan manusia, hiburan sekaligus memberikan manfaat bagi penontonnya. Melihat potensinya, orang tua dan guru di sekolah dapat menjadikan film sebagai sumber belajar bagi anak dan siswa. 

Tugas orang tua dan guru adalah fasilitasi dan pendampingan. Di dalamnya, orang tua dan guru turut dalam memberi masukan kepada anak sebelum mereka sendiri memutuskan untuk menonton film yang mana. Kata kuncinya, ruang aspirasi harus dibuka agar anak dan siswa terlibat dalam memutuskan film yang dapat dijadikan sumber belajar. Tentu saja, sebelumnya mereka harus bersepakat mengenai kriteria atas sumber belajar itu sendiri. Orang tua dan guru tidak hanya memfasilitasi saja, mereka juga harus hadir. Kehadirannya dalam arti membekali mereka mengenai rambu-rambu yang harus diikuti saat menonton agar pengalaman belajar yang diperoleh selaras dengan tujuan pembelajaran.

Setelah pemutaran film, orang tua-guru dan anak-siswa duduk bersama untuk mendiskusikan pengalaman yang mereka dapat masing-masing, mulai dari isi hingga sarana artistik film. Lebih dari itu, orang tua dan guru memandu memberi kesempatan setiap anak dan siswa untuk mengungkapkan kesan dan tanggapan atas film yang sudah ditonton, baik kekurangan maupun kelebihan, secara argumentatif dan reflektif. Bukankan berpikir kritis adalah keterampilan yang makin berharga hari ini(?) 

Reporter mufti wibowo
Editor Aris Abdulsalam