Ayo Netizen

Keliling Kota Indonesia: Menjumpai Klub Baca di Cirebon x Gramedia Grage Mall

Oleh: Dias Ashari
Kegiatan Klub Baca Cirebon di Grage Mall Cirebon. (Sumber: Klub Baca Cirebon)

Sejak lama saya selalu memimpikan bisa keliling dunia, bertemu bangsa baru, saling berbagi kisah budaya dan menyelami kehidupan sosial masyarakat di seluruh dunia. Namun beberapa waktu terakhir saya berpikir bahwa untuk menuju sesuatu yang besar perlu proses yang bertahap.

Cirebon menjadi kota pertama untuk saya banyak merenungi langkah-langkah kecil untuk menuju mimpi besar itu. Beberapa waktu tahun ke belakang saya mulai menyukai dunia literasi. Meski sebelumnya saat kuliah saya sudah mengikuti proses magang untuk menulis dan melanjutkan kegiatan itu dengan terus mencoba mengirim artikel di ayobandung. id. Menulis bagi saya adalah langkah terus belajar memahami diri, orang terdekat juga masyarakat secara luas. Maka setidak menarik pun tulisan saya akan terus mencoba untuk menulis karena bagi saya berhenti menulis membuat pikiran dan empati perlahan menumpul.

Maka ketika berkesempatan berkunjung ke Kota Cirebon untuk satu bulan saya cukup antusias. Meskipun lagi dan lagi saya tidak tahan dengan cuacanya tapi saya cukup senang karena kota dan budayanya yang sangat kaya. Semenjak itu juga saya menetapkan Kota Cirebon sebagai kota pertama saya dalam rangka keliling kota di seluruh Indonesia dan bertemu dengan para pegiat literasi di dalamnya. Bahkan langkah besar yang saya inginkan tidak hanya sekedar bertemu, mendengarkan dan berbagi kisah, justru saya ingin berbincang langsung dengan orang-orang hebat yang ikut turut serta dalam menggagas kegiatan literasi. Meski bagi saya sulit untuk menjalin komunikasi itu tapi saya ingin mencoba.

Perjumpaan dengan Klub Baca di Cirebon sudah saya nantikan informasinya sejak saya menginjakkan kaki di Cirebon. Perlu waktu dua minggu untuk menunggu dan akhirnya saya bisa pergi ke Gramedia Grage Mall Cirebon untuk bertemu dengan komunitas tersebut. Gramedia yang berada dalam mall ini tak sulit untuk ditemukan dan lokasinya berada di lantai 2. Begitu masuk menurut saya Gramedia ini unik karena menampilkan ornamen rak buku berwarna putih karena sejauh saya menjelajah gramedia yang ada di Kota Bandung rata-rata desain raknya berwarna krem atau coklat tua.

Menariknya lagi Gramedia Grage Mall ini memajang karya seni mewarnai dari anak-anak sekolah dasar yang jika berminat bisa pengunjung beli sebagai koleksi seni di rumah. Harga yang diberikan pun cukup bervariasi mulai dari Rp.150.000 hingga Rp.350.000. Sebagai orang Bandung tentu saya mendapatkan experience baru ketika berkunjung ke Gramedia.

Dari ujung saya melihat gelaran karpet berwarna abu dan sudah terpasang juga banner Klub Baca Cirebon dengan ornamen Mega Mendung yang menjadi ciri khas Kota Cirebon. Berhubung acaranya masih dimulai 15 menit ke depan saya memilih untuk berkeliling Gramedia melihat buku-buku yang sudah lama menjadi whislist. Tak terasa peserta yang mengikuti acara literasi ini makin banyak berdatangan dan saya pun segera menghampiri kumpulan tersebut.

Seperti biasa saya selalu suka bertemu dengan orang-orang baru dan saya menyapa orang disebelah saya untuk menanyakan apakah dirinya sedang menunggu teman yang lain yang duduk disebelahnya. Namun karena tidak ada saya pun berkesempatan duduk bersebelah dengan warga lokal Cirebon. Pemandu acara mulai menjelaskan tata tertib serta rangkaian acara dari mulai silent reading lalu berkenalan dan memberitahu buku bacaan yang dibawa serta disesi terakhir terdapat dua orang yang berkesempatan untuk merekomendasikan buku.

Membaca buku bersama dalam waktu 1 jam rasanya cukup singkat karena halaman yang terbaca belum sepenuhnya menuju halaman terakhir. Selanjutnya perkenalan nama, domisili serta buku bacaan yang di bawa. Bagi saya ini bagian yang paling seru karena bisa mengetahui antusiasme kedatangan seseorang dari jarak tempuhnya. Beberapa diantaranya ada yang berasal dari Perumnas, Penggambiran, Gunung Djati, Kota Cirebon, Majalengka, Brebes, Palimanan hingga Kuningan. Beberapa dari mereka yang jauh tertarik dengan kegiatan ini karena di domislinya masing-masing belum banyak bahkan tidak ada kegiatan literasi.

Yang menarik dari kegiatan literasi yang saya temui kali ini adalah jumlah laki-laki yang datang. Sejauh ini jumlah mereka memang selalu sedikit dalam kegiatan literasi tapi jumlah yang ada kali ini jauh lebih banyak dari biasanya. Tak hanya itu beberapa dari mereka juga membaca buku-buku dengan isu perempuan salah satunya Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dan Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer karya Pramoedya Ananta Toer. Tentu sebagai seseorang yang giat menyuarakan isu perempuan saya sangat berterima kasih dengan kehadiran dan keikutsertaan mereka untuk membaca isu-isu mengenai perempuan.

Baca Juga: Bahasa Sunda Bukan Sekadar Urusan Orang Sunda

Tak hanya itu ada seorang peserta ibu rumah tangga yang sudah memiliki beberapa anak. Dari apa yang dibagikannya saya tentu terinspirasi dengan tujuan mulianya yang ingin memperkenalkan literasi sejak dini kepada anak-anaknya.

Dari kegiatan bincang buku kali ini saya tertarik dengan dua rekomendasi buku yang diberikan oleh peserta lain. Satu buku berjudul Orang-orang Proyek karya Ahmad Tohari dan satu buku terjamahan dari The Cat Who Saved Books karya Sosuke Natsukawa. Ini menjadi kolaborasi yang ciamik dari Klub Baca Cirebon x Gramedia yang tak hanya memberikan experience membaca tapi juga diskon 20% untuk buku-buku keluaran Gramedia. Tentu saya tidak ingin melewatkan kesempatan menarik ini dan langsung meminang kedua buku di atas.

Dan saya selalu menantikan momen ini akan terjadi kembali di hidup saya untuk menjumpai dan berkunjung dan bertemu dengan pegiat literasi di kota-kota lainnya. (*)

Reporter Dias Ashari
Editor Aris Abdulsalam