Ayo Netizen

Pembinaan Akar Rumput dan Stadion Masa Depan di Bandung

Oleh: Totok Siswantara
Ilustrasi pembinaan sepak bola dari akar rumput (Sumber: Bandung.go.id)

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyatakan dukungan penuh kepada kepengurusan PSSI Provinsi Jawa Barat di bawah kepemimpinan Buky Wibawa yang baru dikukuhkan. Dukungan tersebut diarahkan untuk memperkuat pembinaan sepak bola, melahirkan talenta-talenta muda potensial, serta meningkatkan prestasi tim dari tingkat kota hingga provinsi.

Farhan mengatakan, Pemerintah Kota Bandung siap berkolaborasi dengan PSSI Jawa Barat untuk memastikan pembinaan sepak bola berjalan optimal dan berkelanjutan.

“Pemerintah Kota Bandung memberikan dukungan sepenuhnya untuk kesuksesan kinerja PSSI Provinsi Jawa Barat di bawah kepemimpinan Pak Buky,” kata Farhan di Hotel Horison Kota Bandung saat menghadiri pengukuhan Ketua PSSI Jawa Barat.

Walikota berharap kolaborasi antara pemerintah daerah dan organisasi sepak bola dapat melahirkan pemain-pemain berkualitas yang mampu memperkuat tim kota, kabupaten, hingga Jawa Barat. Menurutnya, pembinaan yang terarah menjadi salah satu kunci membangun ekosistem sepak bola yang kuat sekaligus membuka peluang bagi generasi muda.

Sementara itu, Ketua Umum PSSI Erick Thohir menekankan pentingnya persatuan dan kekompakan seluruh pemangku kepentingan dalam membangun sepak bola Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Dukungan pemerintah daerah, DPRD, KONI, dan seluruh elemen sepak bola menjadi modal penting untuk memperluas pembinaan dari tingkat paling dasar.

Erick juga menyoroti besarnya potensi Jawa Barat dengan jumlah penduduk sekitar 51,7 juta jiwa. Potensi tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan jumlah wasit dan pelatih berkualitas, serta akses pembinaan sepak bola bagi anak-anak sejak usia dini. Kerja sama dengan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama menjadi salah satu langkah untuk memperluas pembinaan pemain.

Gagasan tersebut patut mendapat perhatian serius. Pembangunan sepak bola tidak cukup hanya berfokus pada kompetisi liga dan tim nasional. Fondasinya justru berada di lingkungan masyarakat, sekolah sepak bola, klub lokal, dan lapangan-lapangan tempat anak-anak pertama kali mengenal permainan ini.

Pengukuhan PSSI Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)

Memperkuat Klub dari Lingkungan Masyarakat

Sepak bola akar rumput atau grassroots football merupakan fondasi penting bagi lahirnya pemain profesional. Di tingkat inilah anak-anak belajar mengolah bola, memahami taktik sederhana, membangun disiplin, menghargai rekan setim, serta menerima kemenangan dan kekalahan.

Di Kota Bandung, pembinaan tersebut melibatkan sekolah sepak bola (SSB), akademi, klub anggota PSSI, komunitas sepak bola, dan berbagai kompetisi kelompok umur. Direktori sekolah sepak bola yang diperbarui pada Juli 2026 mencatat 76 SSB di Kota Bandung. Angka ini menunjukkan adanya basis pembinaan yang cukup besar, meskipun masih perlu diverifikasi melalui pendataan resmi pemerintah dan PSSI Kota Bandung.

Keberadaan banyak SSB tentu menjadi modal berharga. Namun, jumlah lembaga pembinaan tidak otomatis menjamin lahirnya pemain berkualitas. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana memastikan setiap anak mendapatkan pelatih yang kompeten, jadwal latihan teratur, fasilitas yang layak, dan kesempatan bertanding secara berkelanjutan.

Pembinaan juga perlu memiliki jenjang yang jelas. Anak-anak usia 6–8 tahun sebaiknya lebih banyak diperkenalkan pada teknik dasar dan kegembiraan bermain. Pada kelompok usia 9–12 tahun, latihan dapat mulai diarahkan pada penguasaan bola, kerja sama, pengambilan keputusan, dan pemahaman ruang. Memasuki usia remaja, pemain dapat mengikuti program latihan yang lebih terstruktur, termasuk pengembangan fisik, taktik, mental, serta pemantauan perkembangan individu.

PSSI Kota Bandung, PSSI Jawa Barat, Pemkot Bandung, sekolah, dan klub-klub lokal perlu membangun sistem pembinaan yang saling terhubung. Kompetisi antarklub usia dini, liga pelajar, turnamen antar kecamatan, hingga kompetisi kelompok umur di tingkat kota harus menjadi bagian dari satu jalur pembinaan, bukan kegiatan yang berjalan sendiri-sendiri.

Liga Jabar Istimewa yang digagas PSSI Jawa Barat dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat jalur kompetisi tersebut. Pada April 2026, program ini diberitakan berfokus pada pembinaan kelompok usia, dengan sasaran berjenjang dari U-10, U-12, U-14 hingga U-19. Pelaksanaannya perlu diikuti pemerataan akses bagi klub-klub kecil agar kesempatan berkembang tidak hanya dinikmati klub dengan dukungan finansial besar.

Klub lokal seharusnya tidak hanya menjadi peserta kompetisi. Mereka perlu diperkuat melalui pendampingan manajemen, pelatihan pelatih, peningkatan kualitas wasit, bantuan peralatan, serta kemudahan mengakses lapangan. Pemerintah juga dapat mendorong kemitraan dengan perguruan tinggi, perusahaan, dan dunia usaha untuk membantu pembiayaan pembinaan.

Yang tidak kalah penting adalah membangun sistem pemantauan pemain. Data usia, posisi bermain, perkembangan teknik, kondisi fisik, riwayat cedera, dan partisipasi dalam kompetisi dapat menjadi bahan evaluasi berkala. Dengan demikian, pencarian bakat tidak hanya bergantung pada pengamatan sesaat atau kedekatan dengan pengurus klub.

Pembinaan yang baik juga harus memberi kesempatan kepada anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah. Sepak bola jangan sampai hanya dapat diakses oleh mereka yang mampu membayar biaya latihan, perlengkapan, dan transportasi. Bantuan beasiswa pembinaan serta penggunaan lapangan publik dengan tarif terjangkau dapat memperluas kesempatan bagi talenta-talenta yang selama ini belum terjangkau.

Pembinaan sepak bola sejak usia muda (Sumber: Bandung.go.id)

Lapangan Dekat Rumah, Stadion untuk Prestasi

Persoalan pembinaan sepak bola tidak dapat dilepaskan dari ketersediaan lapangan. Klub boleh memiliki pelatih yang bagus dan program latihan yang terencana, tetapi seluruh upaya itu akan terganggu jika mereka kesulitan memperoleh tempat berlatih.

Karena itu, gagasan pembangunan fasilitas sepak bola hingga tingkat kecamatan dan kelurahan di Kota Bandung patut dipertimbangkan. Bentuknya tidak harus berupa stadion besar dengan tribun permanen. Untuk pembinaan sehari-hari, lapangan sepak bola berukuran standar atau lapangan yang disesuaikan dengan kelompok usia, dilengkapi ruang ganti, toilet, penerangan, drainase, dan fasilitas keselamatan, justru lebih dibutuhkan.

Kota Bandung memiliki 30 kecamatan dan 151 kelurahan. Kondisi geografis dan keterbatasan lahan di kawasan perkotaan membuat pembangunan lapangan baru tidak selalu mudah. Namun, pemerintah dapat menyusun peta kebutuhan fasilitas berdasarkan jumlah penduduk usia sekolah, keberadaan klub, kondisi lapangan yang sudah tersedia, serta jarak tempuh menuju tempat latihan.

Dengan pendekatan tersebut, setiap kecamatan setidaknya dapat memiliki akses yang memadai terhadap fasilitas latihan sepak bola. Di tingkat kelurahan, pemerintah bisa mengoptimalkan lapangan yang ada, memanfaatkan lahan fasilitas sosial dan fasilitas umum, serta mengembangkan lapangan multifungsi yang tetap memenuhi kebutuhan olahraga masyarakat.

Pembangunan fasilitas tidak harus selalu dimulai dari pengadaan tanah baru. Revitalisasi lapangan yang kurang terawat, pemanfaatan aset pemerintah, dan kerja sama dengan sekolah atau pengelola fasilitas olahraga dapat menjadi pilihan yang lebih realistis. Jadwal penggunaan lapangan pun perlu diatur secara terbuka agar klub lokal, sekolah, dan masyarakat memperoleh kesempatan yang adil.

Sebagai pembanding, Pemerintah Kota Surabaya pada Januari 2022 menyebut telah memiliki 573 lapangan olahraga yang terdiri atas berbagai cabang. Di antaranya terdapat 38 lapangan sepak bola, 172 lapangan futsal, 177 lapangan basket, dan fasilitas olahraga lainnya. Angka tersebut merupakan data historis tahun 2022, bukan jumlah terkini, tetapi memberikan gambaran mengenai upaya penyediaan fasilitas olahraga yang tersebar di lingkungan masyarakat.

Perbandingan ini tidak bisa langsung digunakan untuk menyimpulkan bahwa Bandung memiliki fasilitas lebih sedikit karena data resmi terbaru yang setara belum tersedia dalam rujukan yang digunakan. Justru di sinilah pentingnya pendataan yang terbuka. Pemkot Bandung perlu memublikasikan jumlah lapangan sepak bola, status kepemilikan, kondisi fisik, kapasitas pemakaian, tarif sewa, dan persebarannya di setiap kecamatan.

Pembangunan fasilitas sepak bola juga perlu dibedakan berdasarkan fungsinya. Lapangan komunitas digunakan untuk latihan dan kompetisi lokal, lapangan latihan berstandar lebih tinggi melayani klub yang membutuhkan intensitas latihan lebih besar, sedangkan stadion utama menjadi tempat pertandingan besar dan kegiatan olahraga berskala nasional.

Ketiga jenis fasilitas tersebut saling melengkapi. Memiliki stadion utama yang megah tidak akan banyak membantu pembinaan akar rumput apabila klub-klub kecil tetap kesulitan mendapatkan lapangan untuk berlatih.

Ilustrasi tranformasi Stadion GBLA (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

GBLA Perlu Bertransformasi

Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) di Gedebage merupakan aset strategis Kota Bandung. Pemerintah Kota Bandung telah menetapkannya sebagai stadion utama sepak bola melalui Keputusan Wali Kota Bandung Nomor 426.22/Kep.397-DisPoRa/2013. Stadion ini memiliki posisi penting bagi Persib Bandung, penyelenggaraan pertandingan besar, dan citra Bandung sebagai kota sepak bola.

Namun, stadion utama tidak cukup hanya berfungsi sebagai tempat pertandingan. GBLA perlu dikembangkan menjadi pusat aktivitas olahraga yang produktif, nyaman, aman, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Transformasi GBLA perlu mencakup pembenahan infrastruktur, kualitas pelayanan penonton, akses transportasi, sistem parkir, jalur evakuasi, fasilitas bagi penyandang disabilitas, penerangan, sanitasi, serta pengelolaan sampah. Kualitas rumput, drainase lapangan, ruang ganti, ruang medis, dan fasilitas latihan juga harus mendapat perhatian secara berkala.

Pemanfaatan teknologi dapat membantu meningkatkan kualitas pengelolaan stadion. Sistem pemantauan kondisi lapangan, pengaturan arus penonton, tiket digital, informasi transportasi, dan pemeliharaan berbasis data dapat diterapkan secara bertahap. Teknologi pemodelan digital seperti digital twin juga berpotensi membantu pengelola memantau kondisi bangunan, mengatur pemeliharaan, dan mengevaluasi penggunaan energi.

Akan tetapi, transformasi stadion tidak boleh berhenti pada pemasangan teknologi yang mahal. Setiap investasi perlu didasarkan pada kebutuhan nyata, analisis manfaat, biaya operasional, dan kemampuan pengelola dalam memelihara fasilitas tersebut.

Persib Bandung telah menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola Indonesia dengan basis suporter Bobotoh yang besar. Prestasi klub dan antusiasme penonton membuka peluang untuk mengembangkan kegiatan ekonomi di sekitar stadion. Karena itu, GBLA perlu diarahkan menjadi pusat ekonomi olahraga yang menghubungkan pertandingan, pariwisata, perdagangan, kuliner, dan industri kreatif.

Di kawasan stadion, misalnya, dapat dikembangkan area penjualan merchandise resmi Persib, perlengkapan olahraga, produk lokal, serta fasilitas bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Kegiatan tersebut bisa diperluas melalui festival suporter, pameran produk olahraga, kegiatan komunitas, dan wisata stadion pada hari-hari tanpa pertandingan.

Pengembangan ini membutuhkan pengaturan yang profesional agar aktivitas ekonomi tidak mengganggu keamanan, kebersihan, dan kenyamanan pengunjung. Pengelolaan kawasan juga perlu melibatkan warga sekitar supaya manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati oleh pengelola besar, tetapi turut membuka lapangan kerja dan peluang usaha bagi masyarakat.

Selain membenahi GBLA, Bandung perlu mengkaji kebutuhan pembangunan stadion atau fasilitas sepak bola baru. Kajian ini tidak boleh semata-mata didorong oleh ambisi memiliki bangunan megah. Keputusan harus didasarkan pada kapasitas stadion yang ada, kebutuhan kompetisi, kondisi fasilitas, proyeksi penggunaan, ketersediaan lahan, dan kemampuan pembiayaan jangka panjang.

Bandung memiliki Stadion Siliwangi dan GBLA, tetapi keduanya tidak otomatis menyelesaikan kebutuhan seluruh klub dan kelompok usia. Stadion berkapasitas besar mempunyai fungsi berbeda dari lapangan latihan dan stadion komunitas. Karena itu, kebutuhan fasilitas baru sebaiknya dinilai melalui peta kebutuhan yang menyeluruh, bukan sekadar menghitung jumlah stadion utama.

Pemerintah dapat mempertimbangkan pembangunan stadion berkapasitas menengah untuk kompetisi lokal, pusat latihan sepak bola, atau fasilitas bersama yang digunakan klub-klub kota. Pilihan ini perlu dibandingkan dengan alternatif revitalisasi lapangan yang telah tersedia, termasuk analisis biaya pembangunan, biaya pemeliharaan, akses transportasi, dan jumlah pengguna potensial.

Pengalaman kota lain juga menunjukkan bahwa fasilitas olahraga dapat dibangun sebagai bagian dari pelayanan publik yang lebih luas. Surabaya, misalnya, tidak hanya mengandalkan Stadion Gelora Bung Tomo untuk pertandingan besar, tetapi juga mengembangkan lapangan latihan dan fasilitas olahraga di lingkungan masyarakat. Pendekatan tersebut relevan bagi Bandung: stadion utama untuk prestasi, sementara lapangan yang tersebar menjadi fondasi pembinaan.

Untuk proyek berskala besar, kerja sama dengan pihak swasta dapat dipertimbangkan melalui skema yang sesuai dengan ketentuan pengelolaan barang milik daerah dan pengadaan pemerintah. Namun, skema kerja sama seperti joint venture atau build-operate-transfer (BOT) harus disertai pembagian risiko yang jelas, transparansi kontrak, pengawasan publik, dan jaminan akses masyarakat. Jangan sampai fasilitas yang dibangun atas nama kepentingan publik justru menjadi terlalu mahal untuk digunakan klub-klub kecil.

Dari Lapangan Kampung Menuju Stadion Utama

Dukungan Wali Kota Bandung terhadap PSSI Jawa Barat perlu diterjemahkan menjadi program yang terukur. Pemerintah kota bersama PSSI, DPRD, KONI, sekolah, klub lokal, dan sektor swasta dapat menyusun peta jalan pembinaan sepak bola untuk beberapa tahun ke depan.

Prioritas awalnya adalah mendata seluruh klub, SSB, pelatih, kompetisi, serta fasilitas lapangan. Berikutnya, menetapkan standar minimum lapangan latihan, memperluas kompetisi kelompok umur, meningkatkan kualitas pelatih dan wasit, serta membuka akses fasilitas publik dengan biaya yang terjangkau.

Pada saat yang sama, GBLA perlu dibenahi secara bertahap dan dikembangkan sebagai pusat olahraga, ekonomi kreatif, dan kegiatan masyarakat. Kebutuhan stadion baru harus dikaji secara terbuka berdasarkan data, bukan semata-mata pertimbangan prestise.

Sepak bola Bandung tidak hanya hidup pada hari pertandingan Persib. Ia juga hidup di lapangan sekolah, gang permukiman, klub-klub kecil, dan tempat anak-anak belajar menendang bola untuk pertama kalinya. Dari lingkungan itulah talenta tumbuh, karakter dibentuk, dan kecintaan terhadap sepak bola diwariskan.

Menutup artikel ini saya berkesimpulan bahwa pembangunan sepak bola Bandung sebaiknya dimulai dari dua arah yang saling melengkapi, yakni memperkuat fondasi akar rumput sekaligus membangun infrastruktur yang mampu menopang prestasi. Stadion utama yang modern memang penting, tetapi lapangan yang mudah dijangkau, klub yang sehat, pelatih yang kompeten, dan kompetisi yang berkelanjutan merupakan fondasi yang tidak boleh diabaikan. (TS)

Reporter Totok Siswantara
Editor Aris Abdulsalam