Ayo Netizen

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Oleh: Djoko Subinarto
Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)

SELASA (20/10/2026) pagi, manakala sedang ngaboseh sepeda dari arah Geger Kalong (Gerlong) menuju Alun-alun Lembang dan melewati Terminal Ledeng, saya mendapati suasana yang sedikit  berbeda. Terminal itu sudah kosong. Tidak ada angkot dan mobil Elf jurusan Subang yang mangkal di sana. Di  bagian dalam terminal, aktivitas konstruksi mulai terlihat. 

Saya sama sekali tidak terkaget-kaget. Beberapa waktu sebelumnya, saya sudah membaca berita daring bahwa Terminal Ledeng akan dialihfungsikan menjadi shelter atau stasiun akhir bus rapid transit (BRT). Pemandangan pagi itu hanya memperlihatkan secara langsung sesuatu yang sebelumnya saya ketahui dari layar gawai.

Namun, melewati terminal yang kosong pagi itu ternyata membawa pikiran saya melayang-layang ke tempat lain. Pikiran saya melayang bukan pada persoalan rute angkot atau pembangunan BRT, melainkan pada masa ketika saya nyaris saban hari menyambangi kawasan Ledeng. 

Dulu, Terminal Ledeng merupakan bagian dari perjalanan harian saya. Saya biasa naik angkot -- trayek Ledeng-Kebon Kelapa, atau sekali-kali, Ledeng-Cicaheum -- dari terminal ini. Tak jarang, pada siang hari, saya juga bersantap siang di kedai makan sederhana di bagian utara terminal.

Dulu pula, di seberang Terminal Ledeng, yang dekat dengan pintu utara UPI (dulu bernama IKIP) ada beberapa lapak koran dan majalah. Tak jarang, pagi-pagi, saya ikut nongkrong di salah satu lapak koran sekaligus nebeng ikut melihat-lihat judul-judul berita utama -- yang tak jarang membuat saya kerung -- koran Jakarta Post dan Indonesian Observer. Sesekali, kalau kebetulan punya uang lebih, saya beli salah satunya. 

Semua aktivitas itu berlangsung biasa saja. Saya tidak pernah kepikiran bahwa suatu hari nanti, puluhan tahun kemudian, saya akan melewati tempat yang sama dengan sepeda dan mendapati suasananya sudah berubah. 

Bagi saya, kala itu, Terminal Ledeng hanyalah tempat untuk naik angkot. Kedai makan di sisi utara terminal itu sekadar tempat mengisi perut. Adapun lapak koran dan majalah di seberangnya adalah salah satu tempat nongkrong pagi saya. Tak lebih dan tak kurang.

Berita tentang perubahan Terminal Ledeng dan pemandangan yang saya saksikan sendiri di terminal itu telah membuat kepingan-kepingan aktivitas sederhana di masa silam itu mengapung kembali. Sambil terus ngaboseh, saya mencoba mengingat suasana Terminal Ledeng ketika saya masih sering menggunakan angkot puluhan tahun lalu. 

Saya lantas bayangkan kembali hiruk-pikuk  orang-orang yang naik-turun angkot, serta kedai makan yang melayani pelanggan pada jam makan siang. Saya tidak ingat lagi semua detilnya. Bahkan, mungkin ada bagian yang sudah bercampur dengan ingatan tentang tempat lain. Namun, saya masih ingat hubungan saya dengan kawasan itu. Terminal Ledeng pernah menjadi bagian dari peta kehidupan saya masa silam.

Dan, kini, peta itu sudah berbeda. Terminal yang dahulu saya kenal sebagai tempat saya biasa naik angkot sedang dipersiapkan untuk fungsi baru dalam sistem transportasi kota. Angkot yang biasa masuk terminal dan menunggu penumpang di sana tidak lagi melakukan kebiasaan yang sama. Bangunan dan kawasan di dalamnya mulai mengalami penataan. Perubahan ini tidak harus dianggap sebagai sesuatu yang buruk. 

Kota memang perlu memperbaiki transportasi publiknya. BRT membutuhkan simpul pelayanan, dan sistem angkutan umum perlu menyesuaikan diri dengan kebutuhan perjalanan yang terus berkembang.

Tetapi, ada perbedaan antara membaca perubahan sebagai informasi dan menyaksikannya di tempat yang pernah kita kenal dan akrabi. Di layar gawai, berita tentang Terminal Ledeng adalah kabar mengenai kebijakan transportasi. Ketika melihatnya langsung dalam perjalanan bersepeda pagi itu, saya justru teringat pada diri sendiri yang dulu. Saya pernah menjadi bagian kecil dari lalu lintas manusia di sana, sama seperti banyak orang lain yang menggunakan angkot dari terminal itu untuk pergi atau pulang ke tempat tujuan dengan beragam kepentingannya. Maka, Terminal Ledeng bukan hanya titik dalam jaringan transportasi. Ia juga bagian dari pengalaman hidup yang mungkin tidak pernah tercantum dalam dokumen perencanaan kota.

Barangkali, di sinilah perubahan sebuah tempat terasa lebih personal. Terminal Ledeng tidak mengetahui bahwa saya pernah naik angkot dari sana, makan siang di rumah makan di dekatnya, nongkrong di seberangnya. Tempat itu tidak pula menyimpan catatan tentang siapa saja yang pernah singgah. Namun, bagi orang yang pernah bersinggungan dengannya, sebuah tempat dapat memiliki riwayat serta kisahnya sendiri. Dan riwayat serta kisah itu tidak perlu istimewa. Ia cukup pernah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Saya juga menyadari bahwa yang kiwari berubah bukan hanya terminal tersebut. Saya sendiri sudah jauh berbeda dari yang dulu ketika masih rutin naik angkot dari terminal ini. Ada pengalaman yang bertambah, pekerjaan yang dijalani, pertemanan yang berubah bentuk, dan jalan hidup yang membawa saya ke berbagai arah. 

Waktu tidak selalu menghapus sesuatu secara sekaligus. Sering kali, ia cukup mengubah keadaan sedikit demi sedikit sampai kita baru menyadarinya ketika menoleh jauh ke belakang.

Kita tentu saja bisa menyaksikan perubahan bangunan, jalan, dan suasana lingkungan tanpa harus sengaja mencari-carinya. Kadang-kadang, perjalanan yang sama sekali tidak dimaksudkan untuk bernostalgia justru membawa kita ke masa lalu. 

Saya berangkat pagi itu dengan tujuan menuju Alun-alun Lembang, dan bukan untuk mengenang masa lalu. Terminal Ledeng hanya kebetulan berada di rute yang harus saya lakoni. 

Saya tidak tahu apakah setelah revitalisasi selesai, Terminal Ledeng bakal terasa asing bagi saya atau justru tetap menyisakan sesuatu yang akrab. Barangkali nanti saya akan melewatinya lagi dan melihat kawasan yang lebih tertata, dengan fungsi transportasi yang berbeda. 

Baca Juga: Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Saya tidak ingin menduga-duga. Yang jelas, perubahan tempat itu akan menjadi bagian dari perjalanan Kota Bandung, sebagaimana perubahan diri saya menjadi bagian dari perjalanan hidup saya sendiri.

Pagi itu, Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama. Bangunannya mungkin masih dapat dikenali, tetapi waktu telah mengubah fungsi, suasana, dan orang-orang yang mengisinya. Kita pun tidak lagi menjadi orang seperti yang dahulu singgah di sana. 

Mungkin itulah sebabnya melihat sebuah tempat lama yang berubah kadang-kadang terasa seperti kita menengok diri sendiri. Ini bukan untuk menyesali, atau bahkan meratapi, masa lalu atau menganggap segala sesuatu yang dahulu lebih baik, lebih indah, lebih mengesankan, melainkan untuk menyadari bahwa hidup terus berjalan. 

Life goes on, bra. Begitu, seru Paul McCartney dalam “Obladi-Oblada”. (*)

Reporter Djoko Subinarto
Editor Aris Abdulsalam