Ayo Netizen

Semarak, Santri, dan Harmoni

Oleh: Ibn Ghifarie
Status WhatsApp Istri, "Alhamdulillah masih bisa ketemu walaupun cuma 1 jam" Masjid Raya Al-A'zhom Kota Tangerang, Kamis (22/10/2026). (Sumber: Istimewa)

Malam itu, di tengah asyiknya berbincang tentang semarak Hari Santri Nasional 2026 ala Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (KBNU) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, tiba-tiba pesan dari istri menyela percakapan. Singkat, tetapi menyimpan rindu yang tak biasa.

“Asa hoyong pendak sareng Kaka!”

Maklum sudah lama rindu menggebu ingin segera bertemu dengan Kaka, anak pertama (17 tahun). Pesan itu disertai video coming soon peringatan Hari Santri Nasional 2026 Pondok Pesantren Al-Kamil Al-Azhary yang dijadikan status WhatsApp. Di dalam video yang berdurasi 22 detik itu, tampak dua model santri, salah satunya Kaka Fia, bersama kawannya.

“Dah kangen aja sama anak santri yang satu ini,” tulis istri.

Sambil tersenyum membacanya. Rupanya, di balik kalimat sederhana itu, ada perasaan yang rasanya tak perlu diterjemahkan terlalu jauh. Ada rindu ibu kepada anaknya, ada jarak yang mesti diterima, dan ada kesadaran anak yang dahulu tumbuh dalam dekapan, kini sedang belajar menapaki kehidupan dengan jalan mencari ilmu pangaweruh.

Suasana ini menjadi salah satu cara waktu mengajarkan arti kedewasaan kepada orang tua. Anak-anak tumbuh, melangkah, dan menemukan dunianya sendiri. Orang tua perlahan belajar mencintai bukan berarti harus selalu hadir (berada) di dekatnya.

Merajut Rindu, Menjemput Ilmu

Keberangkatan seorang anak ke pesantren bukan sekadar perpindahan tempat tinggal. Melainkan babak baru dalam perjalanan keluarga. Ada koper yang dikemas, pakaian yang dilipat, nasihat yang diulang-ulang, dan doa yang diam-diam diselipkan dalam setiap perpisahan, sujud dan ibadah.

Lima tahun yang lalu, saat diucapkan keputusan untuk menitipkan anak di pesantren, ada harapan agar tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, dan mandiri. Tapi, harapan itu tak serta-merta menghapus kerinduan. Pasalnya, mendidik anak terkadang harus sabar, ikhlas dan belajar merelakan sebagian kebersamaan demi masa depan yang lebih baik.

Bila santri, rindu bisa datang pada malam-malam sunyi selepas mengaji. Hadir dalam ingatan tentang wajah orang tua, aroma masakan rumah, canda tawa adik yang biasanya memenuhi ruang keluarga. Kawan-kawan baru, kegiatan pesantren, dan kesibukan menuntut ilmu yang menghadirkan pengalaman berbeda. Namun, ada kalanya semua itu belum cukup untuk menggantikan hangatnya rumah.

Di situlah santri belajar memahami rindu dengan cara yang berbeda. Rindu bukan alasan untuk berhenti melangkah, melainkan bagian dari perjalanan menempa diri. Setiap halaman kitab yang dibaca, ayat Al-Qur’an yang dilantunkan, dan nasihat guru yang direnungkan menjadi bagian dari ikhtiar panjang untuk membahagiakan orang tua.

Tentunya, tak semua kerinduan mudah dijelaskan. Ada yang hanya bisa ditahan, disampaikan lewat sepenggal pesan, dicatat dalam buku harian dan menjelma menjadi doa sebelum tidur. Justru dalam pengalaman-pengalaman sederhana itu santri belajar tentang kesabaran, tanggung jawab, dan arti berjuang untuk sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Guru, staf, dan murid tengah berdoa agar sekolah mereka tetap berdiri kokoh, seperti yang sudah terjadi selama puluhan tahun. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Memanjatkan Doa, Belajar Mendewasakan

Bila santri belajar mengelola rindu di pesantren, maka orang tua harus menjalani pelajaran yang tak kalah penting di rumah. Ada ruang yang terasa lebih lengang, kebiasaan yang berubah, dan suara yang tak lagi terdengar setiap hari. Rumah tetap sama, tetapi suasananya tak sepenuhnya serupa.

Waktu ada telepon, panggilan video dari pesantren lewat guru (ustadzh) menjadi momen yang dinanti. Pertanyaan sederhana terucap jelas, “Kumaha damang, Kak?” “Atos emem?” yang kadang menyimpan begitu banyak perasaan. Orang tua ingin tahu apakah anaknya sehat, apakah makannya cukup, tidurnya nyenyak, dan mampu menjalani hari-harinya dengan baik.

Pertanyaan itu terdengar biasa dan di balik semua untaian itu tersimpan kasih sayang yang tak selalu pandai diucapkan. Ada kecemasan yang disembunyikan, kebanggaan yang tak ingin berlebihan, dan deretan (untaian) doa yang terus mengalir meski tak terdengar oleh Kaka.

Ayah, Ibu belajar soal cinta tidak selalu harus hadir dalam bentuk pengawasan dan kedekatan fisik. Ada saatnya cinta diwujudkan dengan kepercayaan. Membiarkan anak belajar mengambil keputusan, menghadapi kesulitan, dan menyelesaikan persoalannya sendiri merupakan bagian dari proses mendewasakan.

Jarak, bukan semata-mata pemisah. Justru menjadi ruang belajar bagi kedua belah pihak. Anak belajar berdiri di atas kakinya sendiri dan orang tua belajar mengendurkan genggaman tanpa mengurangi kasih sayang.

Ingat, membesarkan anak bukan tentang membuatnya terus bergantung, melainkan mempersiapkannya agar mampu menjalani kehidupan dengan bekal ilmu, akhlak, dan keyakinan.

Kaka Fia, Anak Pertama Kelas 4 bersama santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Al-Kamil melakukan foto bersama setelah mengikuti Upacara Hari Santri 2025 di Masjid Raya Al-A'zhom Kota Tangerang, Rabu (22/10/2025). (Sumber: Grup WhatsApp Orangtua | Foto: Istimewa)

Menjaga Rumah Kedua, Memahami Arti Kehidupan

Dalam perjalanan itu, pesantren memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar tempat belajar agama. Di Pondok, santri berjumpa dengan lingkungan baru, teman-teman dari latar belakang berbeda, guru yang membimbingnya untuk memahami ilmu dan arti kehidupan.

Para kiai, ustaz, dan ustazah bukan hanya menyampaikan pelajaran. Mereka turut mendampingi proses tumbuh santri, menanamkan kedisiplinan, membiasakan tanggung jawab, dan memberikan arahan ketika anak-anak didik menghadapi persoalan.

Pesantren bukan pengganti orang tua sepenuhnya. Tapi menjadi pase penting dalam menjalani kehidupan bersama, pesantren dapat menjadi rumah kedua tempat santri belajar menemukan keluarga dalam arti yang lebih luas. Ada teman yang saling menguatkan saat rindu datang, ada guru yang mengingatkan ketika semangat surut, dan ada kebersamaan yang perlahan menumbuhkan rasa saling memiliki, melengkapi dan membersamai.

Uniknya, waktu mondok santri belajar hidup bersama. Berbagi ruang, waktu, tugas, dan pengalaman. Perbedaan kebiasaan maupun karakter menjadi kesempatan untuk melatih kesabaran, menghormati sesama, belajar memahami ihwal kehidupan tak selalu berjalan sesuai keinginan pribadi. Kita hanya bisa berencara, berikhtiar, Tuhan yang menentukan segala urusan dan takdirnya.

Dari pengalaman bersahaja itu tercipta harmoni yang menemukan maknanya. Harmoni bukan berarti semua orang harus sama, melainkan kesediaan untuk hidup berdampingan tanpa kehilangan sikap saling menghormati. Nilai ini penting, bukan hanya bagi kehidupan di pesantren, tetapi bagi masyarakat yang kian beragam.

Santri yang belajar menghargai perbedaan di lingkungan pondok diharapkan mampu membawa nilai suci saat kembali ke tengah masyarakat. Ilmu yang diperoleh tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjelma menjadi sikap, perilaku, dan kontribusi nyata bagi kehidupan bersama.

Menjadi Santri, Menebar Inspirasi

Keesokan harinya, saat Hari Santri Nasional (HSN) 22 Oktober 2026, untuk mengobari rindu menggebu ingin bertemu Kaka Fia, pagi-pagi Mbu bersama Kakang, anak ketiga (5 tahun) pergi ke Masjid Raya Al-A'zhom Kota Tangerang dengan menggunakan Kereta Api Indonesia (KAI) dari Gedebage ke Stasiun Bandung via Cikurai. Biasanya para santri ikut upacara HSN dan menjadi momentum orang tua untuk bertemu anaknya. 

Untuk di lingkungan UIN Sunan Gunung Djati Bandung upacara Hari Santri berlangsung di Taman Kujang, depan Gedung Anwar Musaddad, Kamis (22/10/2026).

Uniknya semua peserta laki-laki memakai sarung dan peci serta perempuan memakai baju muslimah. Rektor Rosihon Anwar, bertindak sebagai inspektur upacara. Dalam amanatnya Rosihon menyampaikan sambutan Menteri Agama RI Nasaruddin Umar yang bertajuk “Santri Menguatkan Negeri, Menuju Indonesia Emas”

Hari Santri yang kita peringati setiap tanggal 22 Oktober ini merupakan momentum untuk mengenang perjuangan para ulama dan santri dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sejarah mencatat, Resolusi Jihad yang dimaklumatkan Hadratussyekh Kiai Haji Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 telah membangkitkan semangat perjuangan umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan. Semangat itu turut menggerakkan perlawanan rakyat yang mencapai puncaknya dalam peristiwa 10 November 1945, yang kini kita peringati sebagai Hari Pahlawan.

Peristiwa bersejarah ini mengajarkan kepada kita bahwa santri bukan hanya penjaga nilai-nilai agama, melainkan juga bagian penting dari perjalanan bangsa. Karena itu, mengenang jasa para pendahulu tidak cukup hanya dengan upacara dan seremonial. Kita harus melanjutkan perjuangan mereka melalui pengabdian, karya, dan kontribusi nyata bagi Indonesia.

Jika dahulu para santri menguatkan negeri dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan, maka hari ini santri harus menguatkan negeri dengan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan tentu saja akhlak mulia. Tantangan zaman memang berubah, tetapi semangat pengabdian kepada negeri tercinta ini, bagi seorang santri, tidak boleh padam.

Para santri harus mengambil peran penting. Santri tidak boleh merasa kecil dan tidak boleh membatasi diri. Santri bisa menjadi apa saja, mulai dari ulama, ilmuwan, pendidik, pengusaha, hingga pemimpin bangsa, selama terus belajar, bersungguh-sungguh, dan mengabdikan ilmunya bagi kemajuan Indonesia. Oleh karena itu, kuasailah ilmu agama sekaligus ilmu pengetahuan dan teknologi. Peliharalah tradisi pesantren, tetapi jangan pernah takut terhadap perubahan.

Jadilah generasi yang teguh memegang nilai-nilai keislaman, terbuka terhadap kemajuan, serta mampu menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat. Sebab, bangsa yang kuat membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga jujur, berintegritas, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.

Ingat, pesan yang sering kita dengar di pesantren, man jadda wajada, barang siapa bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil. Teruslah berusaha, berinovasi, dan berkarya. Jadilah santri yang membawa manfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan. (Amanat Menteri Agama RI pada Upacara Peringatan Hari Santri 2026 dan www.uinsgd.ac.id)

Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober menjadi momentum untuk mengenang peran santri dan pesantren dalam perjalanan bangsa. Peringatan ini bukan sekadar seremoni, perlombaan, kemeriahan acara. Ya, di balik semaraknya, ada tanggung jawab untuk merawat nilai-nilai keilmuan, keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Untuk keluarga yang anaknya sedang menempuh pendidikan di pesantren, Hari Santri bisa menghadirkan perasaan yang berlapis. Ada kebanggaan melihat anak mengenakan sarung, peci, berbusana khas santri. Ada pula kerinduan yang menyelinap saat melintas (melihat) wajahnya dalam foto dan video kegiatan pesantren.

Hadirnya, video coming soon yang dikirimkan istri malam itu menjadi pengingat kecil rupanya di balik semarak peringatan Hari Santri, ada cerita keluarga yang berjalan dalam diam. Ada jejak berharga anak yang sedang belajar menjadi dewasa, ada seorang ibu yang merindukan kehadirannya, dan ada doa yang terus dipanjatkan dari rumah, saat sujud.

Walhasil, inilah makna Hari Santri terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Santri bukan hanya sosok yang tampil dalam upacara, menjadi bagian dari kemeriahan peringatan. Justru ikhtiar bersama anak-anak yang sedang menata masa depan, orang tua yang belajar mengikhlaskan, dan para guru yang tekun membimbing generasi penerus bangsa.

Dengan demikian, semarak, santri, dan harmoni bertemu dalam satu benang merah cinta yang memberi ruang bagi pertumbuhan. Semarak menghadirkan kegembiraan, santri menempuh perjalanan ilmu, dan harmoni menjaga agar proses itu tetap berpijak pada kasih sayang, peduli, serta penghormatan terhadap sesama.

Kerinduan memang tak selalu bisa disembuhkan oleh jarak yang memendek. Ada kalanya hanya bisa dirawat dengan kesabaran dan doa. Ya, dari rindu itulah kita belajar soal keluarga bukan sekadar tentang seberapa sering bertemu, seberapa erat pelukan terjalin, melainkan tentang kepercayaan yang dipelihara, pengorbanan yang dijalani, dan doa yang tak pernah berhenti.

Mencintai anak bukan hanya tentang menggenggam tangannya saat melangkah, tetapi merelakannya berjalan menuju masa depan. Segala ilmu menjadi tujuan, akhlak menjadi pegangan, doa menjadi penghubung, jarak tak lagi semata-mata memisahkan. Semuanya itu justru mengajarkan kita cara mencintai dengan lebih dewasa, sabar, dan ikhlas dalam menjalami kehidupan yang fana ini. (*)

Reporter Ibn Ghifarie
Editor Aris Abdulsalam