Santri: Dunia yang Tak Pernah Selesai Diperbincangkan

4 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Ilustrasi santri. (Sumber: Pexels/Khoirur El-Roziqin)
Ilustrasi santri. (Sumber: Pexels/Khoirur El-Roziqin)

Belakangan ini, istilah santri kembali ramai disebut-sebut. Di media, di ruang-ruang publik, hingga dalam percakapan sehari-hari kita. Masalah besar maupun kecil, ia selalu menjadi sorotan.

Begitupun setiap kali Indonesia ingin meneguhkan sesuatu tentang dirinya, kita kembali memanggil kata ini. Tapi sebetulnya, apa itu santri? Mengapa ia begitu penting dan selalu menarik dalam percakapan kita, seolah tidak pernah tamat untuk dibahas?

Jejak Genealogi dan Sistem Pengetahuan Lokal

Kalau kita menelusuri asal-usul katanya, “santri” memiliki akar yang panjang. Beberapa pakar menyebut istilah ini mungkin berhubungan dengan kata Jawa Kuno catrik atau catrig, yang berarti murid, pengikut, atau pelajar yang tinggal bersama gurunya. Dalam tradisi Hindu-Buddha, catrik adalah seseorang yang belajar langsung dari pandita. Ia menyerap ilmu bukan hanya lewat teks, tapi lewat laku, kedekatan, dan keteladanan.

Dari sini, kita bisa melihat bahwa santri bukan sekadar siswa muslim pesantren. Ia bagian dari jejak panjang kebudayaan Nusantara yang mengenal hubungan guru-murid sebagai hubungan eksistensial. Relasi yang penuh dengan rasa hormat, tanggung jawab moral, dan kedekatan spiritual.

Maka ketika Islam datang dan pesantren tumbuh, istilah santri menemukan rumah barunya. Ia menyatu dengan sistem pendidikan Islam, di bawah asuhan para ulama, kiai, nyai, dan terkoneksi dengan kitab kuning. Sebuah dunia teks klasik yang menjadi kerangka intelektualitas pesantren.

Perlu juga diingat bahwa pesantren lahir dari rahim budaya lokal. Berakar pada tradisi dan mengembangkan sistem pengetahuan yang khas, otonom, lagi kritis. Maka menjadi santri berarti memasuki sebuah dunia pengetahuan yang tidak hanya menuntut hafalan, tapi juga pengendapan makna dan laku hidup.

Identitas Sosial dan Budaya

Kita sering menganggap santri semata sebagai identitas keagamaan. Padahal lebih dari itu, santri adalah kategori sosial, budaya, bahkan politik. Ia bukan hanya tentang belajar agama, tapi juga satuan cara hidup, cara bernalar, dan cara memaknai dunia.

Dalam banyak tulisan antropologi klasik tentang Islam di Jawa, seperti karya Clifford Geertz dan Robert R. Jay, santri sering diletakkan berhadapan dengan abangan. Santri digambarkan sebagai mereka yang lebih syariah, lebih ortodoks, sementara abangan dianggap lebih sinkretis, lebih dekat dengan praktik religius lokal. Namun pembacaan semacam ini, walau berpengaruh besar, seringkali terlalu menyederhanakan.

Santri kemudian menjadi simbol dari Islam yang terlembaga dan terdidik, termasuk lambang kebudayaan yang punya daya tawar kuat dalam kehidupan bangsa. Ia tidak hanya ada di pesantren, tapi juga di pasar, di sawah, di ruang-ruang sosial, bahkan di arena politik. Karena itulah, ketika kita bicara soal dunia santri, kita tidak sedang membicarakan satu ruang tertutup, melainkan jaringan besar yang menembus berbagai lapisan kehidupan Indonesia.

Diskursus yang Hidup

Kegiatan setoran hafalan Quran Santri Cianjur. (Sumber: Yayasan Huda Cendekia)
Kegiatan setoran hafalan Quran Santri Cianjur. (Sumber: Yayasan Huda Cendekia)

Keberadaan santri dan pesantren selalu menimbulkan percakapan yang tak habis-habis. Di satu sisi, banyak orang memandangnya dengan hormat. Sebab pesantren dianggap sebagai benteng moral, penjaga tradisi, tempat menanamkan nilai-nilai keikhlasan, kesederhanaan, dan keberkahan.

Tapi di sisi lain, ada juga kritik yang datang dari dalam dan luar. Misalnya soal kultur kepatuhan yang dibaca sebagai feodalisme, soal sanitasi dan fasilitas yang belum layak, atau soal kekerasan seksual dan pengelolaan dana.

Kritik semacam ini tentu perlu didengar. Tapi di sisi lain, banyak santri yang merasa dunia mereka sering disalahpahami. Ada pengalaman eksistensial yang sulit diterjemahkan oleh mereka yang tak pernah “mondok”, ialah kehidupan yang dijalani dengan kebersamaan, laku, dan pengorbanan yang menjadi bagian dari pencarian ilmu.

Mayoritas Sekaligus Marginal

` Menariknya, santri memiliki dua wajah yang tampak paradoks. Di satu sisi, ia adalah wajah mayoritas, semacam “kakak tertua” dalam keluarga besar bangsa Indonesia. Sejarah kemerdekaan mencatat peran para santri dan ulama yang berada di garis depan perjuangan melawan kolonialisme. Banyak gagasan dasar negara, termasuk nilai-nilai moral dan sosial, berakar pada pandangan dunia pesantren. Maka tidak heran jika kemudian ada semacam “politik jatah” yang memberi ruang khusus bagi santri dalam birokrasi, kepartaian, bahkan alokasi dana keagamaan.

Namun di sisi lain, santri juga adalah wajah marginal. Banyak dari mereka hidup dalam keterbatasan ekonomi, tinggal di lingkungan yang jauh dari akses modernitas, dan bekerja dalam sektor-sektor informal. Dalam ukuran material, kehidupan santri sering dianggap tertinggal. Pengetahuan mereka kadang dicap kuno, tidak relevan dengan logika industri atau teknologi. Mereka bahkan sering dianggap jadi tugu dari dunia lama yang harus disesuaikan dengan modernitas.

Paradoks ini membuat santri selalu berada di ruang ambang, antara pusat dan pinggiran, antara simbol kekuatan dan potret kemiskinan struktural. Dan justru di situlah daya tariknya, lahir cara pandang khas yang sering kali lebih tajam membaca kenyataan sosial.

Cermin Diri Kolektif

Apa pun posisi kita terhadap dunia santri, ada satu hal yang sulit dibantah bahwa santri adalah bagian dari cermin diri kolektif kita sebagai bangsa. Mereka lahir dari tanah yang sama, hidup dengan nilai-nilai gotong royong, hormat, dan keberkahan, yang sebenarnya adalah nilai universal kebudayaan Nusantara.

Wacana tentang santri tidak pernah hitam putih, ia sendiri hidup dalam dialektika yang terus bergerak. Ia memuat cinta dan kritik, hormat dan gugatan, nostalgia dan pembaruan. Tapi justru karena itulah ia menggelanggang, berbicara tentang manusia, tentang pengalaman belajar, tentang laku agama yang tak berhenti mencari makna di tengah perubahan zaman.

Maka mungkin, daripada sekadar menilai, kita perlu lebih banyak mendengarkan. Sebab di balik tiap diri santri yang sederhana, ada dunia yang kaya dengan kearifan dan daya hidup. Dunia yang mengajarkan bahwa belajar bukan hanya soal pengetahuan, tapi juga soal menjadi manusia yang mengakar kuat pada tradisinya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)