Saat ini Karhutla ( Kebakaran Hutan dan Lahan) meluas ke berbagai wilayah di Indonesia. Dilansir dari kompas.com , karhutla pertama kali terjadi pada awal Januari 2026 dan tercatat di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Selanjutnya dilaporkan bahwa karhutla juga terjadi di Sumatera, Papua dan baru- baru ini terjadi di kawasan Jawa Barat tepatnya di kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) di kabupaten Kuningan.
Jika diperkirakan menurut google jarak dari sejumlah titik Karhutla ke Kota Bandung adalah 790 km hingga 1.452 km jika ditempuh dengan jarak udara. Dengan jarak seperti itu maka kecil kemungkinan jika dampaknya tidak langsung terasa oleh masyarakat Kota Bandung. Meskipun tidak menutup kemungkinan jika kebakaran terus menyebar dan tidak teratasi dengan baik maka Bandung pun akan terdampak oleh asap karhutla.
Beberapa waktu ke belakang saya menemukan kutipan yang punya makna yang bagus "Hanya karena kita tidak terdampak, bukan berarti semuanya baik-baik saja". Kutipan ini mengingatkan saya tentang kejadian karhutla.
Mungkin sejauh ini kita merasa hidup baik-baik saja. Masih bisa menghirup udara yang jauh lebih segar dan tidak menyesakkan dada. Melihat birunya langit tanpa tanpa kepulan asam pekat di dalamnya. Masih memiliki mobilitas yang cukup baik untuk memenuhi kepentingan sekolah, pekerjaan serta perdagangan.
Lalu bagaimana dengan daerah yang terdampak Karhutla ?
Ketika kebakaran terjadi hal pertama yang terdampak adalah pohon dan tanaman yang ada di sekitar hutan. Lalu api tersebut merambat keseluruhan bagian pohon - pohon lain. Bahkan mungkin dalam dahan terdapat telur atau anak burung yang menetas.
Tidak cukup sampai disana, hewan-hewan penghuni hutan mulai dari yang kita kenali jenisnya hingga yang langka terusir dari habitatnya. Lebih menyedihkannya hewan-hewan itu banyak yang menjadi korban, terkepung api, bergumul dengan asap yang pekat hingga mati terpanggang.
Kebakaran tentu tidak berakhir sampai disana. Lahan-lahan perkebunan milik warga sebagai sumber mata pencaharian pun ikut hilang tanpa jejak. Api terus menyambar mendekati pemukiman warga.
Udara berwarna kuning tapi bukan karena senja datang melainkan asap yang dihasilkan dari karhutla. Bayi - bayi dan mereka yang sudah berusia senja sangat rentan terdampak ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas).
Para relawan tak berhenti dan gentar untuk berusaha memadamkan api. Namun banyak perjuangannya berhenti dan dipanggil oleh takdir untuk berpulang.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari bbc news , Nurdin seorang relawan pemadam kebakaran hutan di Barito Kuala Kalimantan Selatan meninggal dunia setelah mengeluh nyeri dada dan sesak napas. Barangkali tidak hanya asap saja yang terhirup tapi tenaganya yang terus-terusan di push demi menyelamatkan hutan dan warga-warga sekitarnya
Baca Juga: Dari Kepakan Sayap Kupu-Kupu hingga Karhutla: Bandung Tak Bisa Berpaling
Lalu apa hal paling sederhana yang bisa kontribusi kan kepada mereka yang terdampak?
Kita perlu terus bersuara, kita perlu terus mengoceh hingga berbuih, membagikan kondisi lapangan agar semakin banyak orang yang menyadari bahwa mereka yang tinggal di daerah terdampak juga adalah bagian dari bangsa ini. Maka ketika saudara kita terluka sudah seharusnya kita juga berempati dengan apa yang terjadi untuk mereka.
Masyarakat yang terdampak tidak hanya membutuhkan logistik untuk tetap bertahan hidup. Tapi mereka juga membutuhkan suara -suara kecil kita untuk bersatu dengan lantang mendesak pemerintah untuk menjadikan Karhutla sebagai bencana nasional yang perlu segera diselesaikan tanpa tapi, tanpa tertutupi kasusnya oleh berita - berita lain yang tidak jelas.