Sebulan lalu ketika tinggal di Kota Cirebon saya hampir tidak melihat hujan, hanya gersang dan panas yang membekap tubuh penuh peluh. Hanya saja pada tanggal 30 Oktober sore hujan besar mengguyur Kota Cirebon untuk kali pertama dan membuat cuacanya sedikit lebih sejuk.
Sementara keluarga mengabari bahwa menjelang Oktober akhir Bandung pun mengalami peningkatan suhu kisaran 32-35 derajat. Namun sesekali masih diberikan hujan lebat di beberapa titik daerah.
Dan kemarin sore untuk pertama kalinya saya kembali melihat langit Kota Bandung dan mendung. Seperti biasa kawasan Soekarno Hatta terutama di dekat kawasan Pasar Gede Bage hingga perempatan Samsat kemacetan tidak terbendung. Menyisakan ruang pengap yang membuat kepala pusing dibuatnya.
Bandung menjelang musim hujan memang kerap membuat hati was-was. Betapa seringkali kita lihat kejadian papan reklame yang jatuh menimpa sejumlah pengendara karena tak kuat menahan hujan yang lebat.
Dilansir dari laman kicaunews.com Tiga papan reklame berukuran besar dilaporkan roboh setelah hujan deras disertai angin kencang melanda wilayah Kota Bandung, Sabtu (28/3/2026). Insiden tersebut terjadi di dua lokasi berbeda, yakni di kawasan Jalan Soekarno-Hatta dan Jalan Buahbatu.
Kejadian serupa terjadi di beberapa kawasan Kota Bandung seperti dilansir dari bandung bergerak serangkaian kejadian ini menambah daftar insiden serupa di yaitu pada Maret 2023, sebuah reklame di Jalan Soekarno-Hatta, Simpang Kiaracondong, ambruk dan menimpa kendaraan serta pengendara. Setelah kejadian, reklame tersebut diduga tidak mengantongi izin resmi.
Kejadian ini tentunya tidak hanya bisa menyebabkan kerugian yang besar terhadap sejumlah kendaraan dan bangunan yang tertimpa. Namun akibat fatal yang dihadirkan adalah mengancam nyawa dan kematian. Karena kita tidak pernah tahu kapan maut datang dalam kehidupan seseorang. Meski maut sudah ada catatannya di tangan Tuhan tapi perbuatan konyol justru bisa menjadi penyebabnya salah satunya reklame yang tidak mendapatkan maintenance yang baik sehingga mudah rapuh ketika hujan yang lebat datang.
Tak hanya itu musim hujan di Bandung juga membuat sungai Citarum meluap dan membuat sejumlah jalanan tergenang banjir. Ketika banjir tidak hanya penyakit yang akan datang menyertai tapi sejumlah jalan akan kehilangan akses untuk melakukan mobilitas.
Misalnya sejumlah jalan Rancamanyar akan terganggu karena mengalami pemadatan jalan karena jumlah pengguna kendaraan yang bertambah. Masyarakat di daerah Banjaran dan Bojong Soang yang terdampak banjir yang paling dalam dibandingkan kawasan lain akan menggunakan jalan Rancamanyar hingga Cibaduyut.
Tentu dengan kejadian demikian tak hanya mental yang terdampak karenas stres dengan sejumlah kemacetan melainkan juga investasi terhadap waktu yang terbuang sia-sia. Mengorbankan waktu istirahat untuk berangkat lebih subuh dari rumah sehingga bisa terhindar dari kemacetan. Sementara jika berangkat pada jam normal maka kemacetan akan memotong waktu menuju kantor yang berujung pada pengurangan gaji atas keterlambatan.
Tak cukup sampai disana banjir tahunan yang terjadi di Kabupaten Bandung pun turut memutus perekonomian warga disekitarnya. Banyak tempat usaha yang halamannya tergenang oleh banjir sehingga warga sulit mengakses beberapa toko ketika memerlukan kebutuhan pokok seperti bahan pangan dan obat-obatan. Kalaupun tidak tergenang banjir maka tempat usaha akan sepi pembeli karena banyak masyarakat yang mencari jalan alternatif lain untuk mobilitas dan bukan jalan utama.

Sudah hampir empat tahun saya menjalankan fasilitas kefarmasian berupa apotek. Dan setiap akhir tahun pasti akan ada satu hari banjir besar yang memutus semua akses kendaraan. Anehnya banjir selalu datang di jam yang sama yaitu sore menjelang malam. Sehingga mau tidak mau dalam dua hari kedepan omset yang didapatkan jauh dari biasanya. Bahkan warung kelontong sebelah saya pernah mengalami kerugian yang besar karena seluruh barang yang ada di toko terendam banjir dan tidak sempat terselamatkan.
Bagi sebagian warga Bandung yang memiliki profesi sebagai ojek payung mungkin musim hujan menjadi berkah karena bisa mengumpulkan pundi-pundi uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun pada sebagain masyarakat Bandung yang lainnya, banjir adalah musibah yang bisa menyebabkan banyak kerugian.
Musim hujan seharusnya memberikan banyak keberkahan seperti mengisi sumur yang hampir kering juga menumbuhkan berbagai buah, sayur-mayur, padi di sawah dan pohon-pohon yang bisa menyediakan oksigen. Namun hari ini hujan di Bandung banyak menimbulkan rasa was-was karena dampak buruk yang menyertainya. (*)