Ayo Netizen

Ketika AI Menjadi Guru, Etika Jadi Korban Pertama Mahasiswa

Oleh: Kristofer Nathan Sanjaya Jumat 16 Jan 2026, 20:43 WIB
Illustrasi tantangan berpikir kritis dengan AI (Sumber: Pexels | Foto: Tara Winstead)

Kecerdasan Artifisial (artificial intelligence atau disingkat AI) adalah teknologi maju yang dapat membantu mahasiswa melakukan berbagai aktivitas secara efisien. Platform-platform AI, mulai dari aplikasi asisten virtual (seperti Google Assistant dan Alexa) hingga aplikasi untuk menjawab pertanyaan dan memberi informasi (seperti ChatGPT, Gemini) menjadi sebuah alat yang digunakan mahasiswa di dalam aktivitas sehari-hari, baik dalam urusan akademis maupun non-akademis.

Mahasiswa kini lebih suka menggunakan AI dengan cara mengetik di atas keyboard untuk merangkai prompt ketimbang menulis secara otentik. AI memang dapat membantu penyelesaian tugas secara instan dan efisien. Akan tetapi, teknologi yang seharusnya lahir untuk memperkuat manusia kini berubah menjadi “selimut nyaman” yang membuat mahasiswa terlena dan perlahan-lahan justru melumpuhkan nalar kritis mahasiswa.

Praktik yang “efisien” ini justru menimbulkan berbagai persoalan etis. Di era digital yang terus berkembang, berbagai permasalahan etis penggunaan AI  oleh mahasiswa di perguruan tinggi tersebut misalnya: adanya ketergantungan mahasiswa pada alat, ancaman terhadap integritas akademik, dan ancaman penyalahgunaan data pribadi. AI dapat memunculkan resiko ketergantungan mahasiswa pada alat. Di satu sisi, AI menawarkan kemudahan bagi mahasiswa dalam  mencari informasi secara lengkap untuk mendukung perkuliahan.

Namun, di sisi lain, mahasiswa bisa menjadi sangat tergantung pada kemampuan AI sehingga ia tidak bisa berpikir dengan mandiri. Ketergantungan kepada AI membuat mahasiswa kehilangan kemampuan kritis dan kreativitasnya sendiri. Selain itu, ancaman terhadap integritas akademik juga menjadi persoalan etis berikutnya dalam penggunaan AI oleh mahasiswa. Seorang mahasiswa dapat meminta AI membuatkan sebuah makalah ilmiah dengan mudah tanpa menggunakan pemikirannya sendiri secara bertanggung jawab. Disamping itu, ancaman penyalahgunaan data pribadi mahasiswa menjadi persoalan etis lainnya yang muncul akibat penggunaan AI. Kejahatan siber seperti pencurian data-data pribadi dapat terjadi melalui data-data pribadi yang dimasukkan mahasiswa melalui platform AI.

Artificial Intelligence (AI) dan Coding menjadi bagian penting yang bisa mengubah cara kita belajar, bermain, bahkan bekerja. (Sumber: Unsplash/BoliviaInteligente)

Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi permasalahan etika penggunaan AI oleh mahasiswa di kampus. Regulasi kampus untuk mengatur hal tersebut perlu dibuat, namun itu saja belum memadai. Solusi konkret tidak bisa dilakukan dengan hanya mengandalkan regulasi, melainkan perlu membangun kesadaran etis mahasiswa agar menggunakan AI secara bertanggung jawab. Pendidikan untuk membangun kesadaran moral atau membentuk karakter moral mahasiswa menjadi salah satu jalan keluar untuk menghadapi tantangan penggunaan AI di perguruan tinggi tersebut. Ada beberapa alasan mengapa pendidikan moral menjadi  penting dalam menghadapi maraknya penggunaan AI di kalangan mahasiswa.

Pertama, pendidikan untuk membentuk karakter kritis dan kemandirian berpikir mahasiswa diperlukan agar mereka tidak tergantung secara berlebihan pada teknologi serta kehilangan daya kritis serta kemampuan untuk memecahkan masalah secara kreatif dan mandiri. Mahasiswa perlu melatih diri berpikir kritis sehingga mereka mampu menggunakan pikirannya sendiri, tidak mudah percaya begitu saja, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, berani bertanya dan mencari kebenaran suatu informasi, mampu membedakan antara fakta atau opini, bersikap terbuka terhadap pandangan yang berbeda serta kritik dari orang lain.

Para mahasiswa tidak boleh mengabaikan begitu saja proses berpikir mereka sendiri ketika berhadapan dengan penggunaan teknologi. Mahasiswa perlu memiliki kesadaran moral bahwa teknologi AI hanya sebatas alat bantu bagi manusia. AI tetap berguna bagi mahasiswa, misalnya untuk mencari ide (brainstorming), tetapi bukan menggantikan seluruh proses berpikir mahasiswa dalam melakukan aktivitas akademis, seperti membuat tugas kuliah, ujian dan lain-lain. Pendidikan moral untuk membangun sikap kritis penting, sehingga mahasiswa tetap dapat memakai AI tanpa harus kehilangan kendali atas pikiran mereka sendiri. Seperti disampaikan Muarifin, pendidikan moral penting agar AI tidak mengubah peran mahasiswa sebagai pemikir atau penulis utama dalam suatu tulisan ilmiah (Muarifin, Z. 2024).

Kedua, pendidikan karakter dapat membangun integritas moral akademik yang kuat. Apriani dan Zana menyatakan, “Integritas akademik mendorong setiap individu untuk bertindak secara etis, menghindari plagiarisme, serta memastikan bahwa semua karya ilmiah dihasilkan berdasarkan usaha yang asli dan jujur” (Apriani dan Zana, 2024). Perlu ada pedoman perilaku mahasiswa sehingga mereka melakukan aktivitas  akademik sesuai dengan nilai-nilai moral. Melalui pendidikan karakter, mahasiswa dibekali dengan nilai-nilai moral sehingga menjadi pribadi yang memiliki integritas moral akademik. Mereka juga dibekali pemahaman jelas tentang batasan etis antara pemanfaatan AI sebagai alat bantu pemikiran, sehingga dapat memanfaatkan AI secara bijak dan mengantisipasi adanya kecurangan akademis seperti plagiarisme.

Ketiga, pendidikan karakter dapat membangun karakter moral mahasiswa seperti hormat dan bertanggung jawab kepada diri sendiri dan orang lain dalam berkomunikasi dengan memakai data digital. Pendidikan karakter moral dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa untuk memanfaatkan data digital secara hormat dan bertanggung jawab. Data-data pribadi dalam bentuk digital sangat rentan untuk disalahgunakan. Pendidikan moral dapat membangun kembali tatacara berkomunikasi dalam dunia digital, dengan tidak sembarangan memberikan informasi pribadi yang sensitif dan relevan (Fatimah, F., Yasin, A., Amelia, N. & Hasibuan, A.Z.N., 2025).

Baca Juga: Dessert Tradisi dalam Format Modern, Potret Tren Kuliner 2026

Kesadaran moral mahasiswa dapat dibentuk dalam menyaring dan memilah informasi digital, serta membedakan mana yang boleh dibagikan dan mana yang tidak karena sensitif untuk disebarkan. Dengan itu, mahasiswa juga dapat bersikap hati-hati dalam menginput data melalui AI, serta mengamankan informasi pribadi dari kejahatan siber seperti pencurian data yang marak terjadi karena penggunaan AI.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter sangat penting diberikan dalam menghadapi penggunaan teknologi AI oleh mahasiswa di perguruan tinggi. Di satu sisi, AI dapat sangat membantu pengembangan diri akademis mahasiswa karena menawarkan efisiensi. Akan tetapi,  di sisi lain, AI membawa ancaman etis bagi kemandirian berpikir, integritas akademik, dan keamanan data pribadi mahasiswa.

Melalui pendidikan karakter, mahasiswa dapat dibentuk agar memiliki karakter kuat dalam menggunakan AI, sehingga mampu berpikir kritis dan mandiri, memiliki integritas moral akademis, serta bersikap hormat dan bertanggung jawab dalam memakai data digital. AI hanyalah sebatas alat bantu bagi mahasiswa, sehingga pemanfaatannya yang bijak perlu dibarengi dengan karakter mahasiswa yang kuat. (*)

Reporter Kristofer Nathan Sanjaya
Editor Aris Abdulsalam