Rupanya kehadiran AI, algoritma, dan platform ChatGPT membawa dampak serius terhadap literasi dan otoritas keagamaan. Situasi ini menjadi tantangan baru yang tidak bisa dihindari, dan sudah seharusnya direspons secara sadar dan kritis oleh manusia, termasuk pemuka (tokoh) agama.
Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, M. Amin Abdullah, mengakui AI telah melahirkan fragmentasi otoritas keagamaan. Kini umat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada lembaga-lembaga otoritatif seperti Bahtsul Masail NU, Majelis Tarjih Muhammadiyah.
Sebagai gantinya, justru bermunculan fatwa-fatwa baru dari berbagai sumber. Suka atau tidak, fragmentasi otoritas keagamaan merupakan kenyataan yang sedang berlangsung dan tidak dapat dihindari.

Menurunnya Literasi dan Otoritas Keagamaan
Pada saat yang sama, muncul pula fenomena komodifikasi agama, yang sebagian orang menjadikan agama sebagai komoditas demi keuntungan ekonomi yang cepat. Pada titik ini, yang paling mengkhawatirkan adalah menurunnya literasi keagamaan, terutama di kalangan generasi muda.
Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Noorhaidi Hasan, menjelaskan dampak kehadiran media baru terhadap Islam sebenarnya telah diprediksi para ilmuwan sejak lama. Salah satu dampak utamanya fragmentasi otoritas keagamaan. Namun, fragmentasi ini memiliki makna ganda. Di satu sisi, dapat dipahami sebagai bentuk demokratisasi agama.
Namun, di sisi lain, fragmentasi ini memberi ruang bagi siapa saja untuk berbicara atas nama agama tanpa landasan keilmuan yang memadai. Tidak jarang, pandangan-pandangan yang disampaikan bersifat serampangan dan dilepaskan begitu saja ke ruang publik. Kompleksitas ini menjadi semakin berbahaya ketika tafsir-tafsir radikal diarahkan untuk membenarkan pikiran dan tindakan tertentu.
Parahnya, tafsir agama dipelintir demi legitimasi ideologi dan aksi kekerasan yang melukai hati nurani dan kemanusiaan (www.islami.co dan www.uin-suka.ac.id)
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Infokom, KH Masduki Baidlowi, mengingatkan umat akan bahaya belajar agama melalui algoritma. Menurutnya, pembelajaran agama yang sepenuhnya bergantung pada algoritma berpotensi besar menyesatkan.
Algoritma memiliki sisi gelap yang perlu diwaspadai, salah satunya melalui fenomena echo chamber. Dalam kondisi ini, seseorang hanya terpapar informasi yang sejalan dengan keyakinannya sendiri, tanpa melakukan verifikasi dan penyeimbangan informasi.
Echo chamber (ruang gema) adalah situasi ketika individu terus-menerus menerima pandangan yang seragam. Akibatnya, bias pribadi semakin menguat, sudut pandang menjadi sempit, dan kemampuan untuk memahami perspektif yang berbeda semakin melemah dan mengumpulkan daya nalar kritis, terutama di era digital yang dikendalikan oleh algoritma media sosial.
Tidak kalah penting adalah munculnya fenomena “algoritma religius”, yakni saat seseorang menjalani keberagamaan dengan sepenuhnya bergantung pada mesin pencari, media sosial, aplikasi Google dan ChatGPT.
Terlebih lagi pada algoritma menafsirkan Al-Qur’an yang berdasarkan logika mesin, bukan melalui metodologi para ulama. Inilah yang menjadikan pembelajaran agama berbasis algoritma sebagai ancaman serius bagi keberagamaan yang sehat akal (www.mui.or.id).

Paradoks Manusia Jari, Kekuatan Klik!
Di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Pasalnya, untuk di zaman sekarang ini, yang diam bisa bersuara, dan yang tak kita pilih bisa jadi yang paling sering muncul. Apalagi yang sengaja kita klik.
Algoritma media sosial merupakan bagian integral dari pengalaman digital yang kita hadapi sehari-hari. Di balik tampilan konten yang terlihat seolah-olah acak (berdasarkan pilihan pribadi), sebenarnya ada serangkaian instruksi matematis yang menentukan apa yang dilihat pengguna di platform seperti Facebook, Instagram, Twitter (X), TikTok, dan lain-lain.
Algoritma ini didesain untuk menyaring, menampilkan, dan menyusun konten yang paling relevan (menarik) berdasarkan interaksi, preferensi, dan perilaku pengguna.
Saat ini seolah tidak ada yang lebih pasti daripada itu. Dengan kepastian dalam layar itu, homo Sapiens berubah menjadi homo digital. Bersama dengan itu pula, kepastian-layar menggeser kepastian-realitas.
Homo digitalis (manusia jari) memastikan keberadaannya lewat jari yang meng-klik. Namun, kepastian itulah yang perlu kita sangsikan di sini, jika kita tidak ingin seluruhnya dikendalikan genius malignus zaman kita yang menukar eksistensi korporeal dengan eksistensi digital. Dunia aktual yang ke dalamnya kita terlibat sebagai darah dan daging terus dikolonisasi dengan suatu dunia keseolahan yang bertempat di mana pun, sekaligus tidak di mana pun. Dari situ keseolahan mulai menyihir siapa pun.
Ego merasa pasti akan eksistensinya bukan dari dirinya, melainkan dari citra yang tidak jarang mengecoh. Dia membuka smartphone pagi-pagi dan melihat dirinya terpampang di Facebook atau kicauannya dikomentari di Twitter (X). Di sana ada personal brand-nya. Dia pun yakin bahwa doa sungguh ada dan bukan delusi. Buktinya, foto, teks atau videonya ada di sana. Sewaktu-waktu, si ego bertindak, dengan klik untuk apa saja agar tetap update.
Berpikir tidak penting lagi, yang terpenting adalah klik agar si ego exists dalam media-media sosial. Berbeda dari apa yang dikemukakan Descartes di awal modernitas, si ego di zaman kita tidak menyangsikan eksistensi digitalnya. Padahal masih dapat disangsikan apakah citra-citra dalam dunia digital dan isi komunikasi di dalam media-media sosial bukan kecohan suatu genius malignus.
Komunikasi digital, terutama lewat media-media sosial, memang di satu sisi membuka ruang kebebasan komunikatif, tetapi di lain sisi tidak lebih dari echo chamber dan confirmation bias, maka media sosial dapat menjadi "sekolah" fanatisme dan ekshibisionisme sikap-sikap ekstrem. Fanatisme di era media sosial bukan sikap alamiah individu, melainkan produk ciptaan digital invisible hands, yakni hot politis atau algoritma dalam industri media.
Sikap reaksioner, hipersensitivitas, agresi dan kekasaran adalah hasil modifikasi perilaku lewat algoritma media sosial. Makin banyak keterlibatan pada sebuah isu, makin diketahui perasaan, selera, pikiran pengguna, maka makin persis mengendalikan perilakunya. Di sini distingsi antara motivasi internal dan eksternal dalam fanatisme tetap berguna untuk merespons fenomena ini secara bijaksana.
Bot politis yang secara otomatis mengirim kicauan kebencian tiap menit dapat merubah kondisi internal manusia. Bot hanya merangsang dari luar, sementara keputusan ada di dalam diri ego, selama kekuatan karakter masih sanggup menahan sugesti dari luar. (F. Budi Hardiman, 2021:14-15 dan 64-65)
Beragama di tengah pusaran algoritma itu memasuki lanskap spiritual baru yang perlahan berubah arah, bukan tanpa kompas dan panah.
Pasalnya, media sosial dan kecerdasan buatan (AI) menjadi perantara baru dalam pengalaman beragama, menghadirkan kemudahan sekaligus kebingungan.
Algoritma, yang dirancang untuk menyesuaikan selera dan kebiasaan, sering kali menciptakan ruang gema (echo chamber) yang mengulang keyakinan sama, searah, menenangkan yang sudah jadi pondasi, namun jarang menggugah untuk bertanya dan direnungkan bersama.
Dalam ruang, situasi dan perjumpaan semacam ini, keberagamaan berisiko menyempit, kehilangan dialog, dan terjebak dalam kepastian yang terasa aman, nyaman, hingga semu dan tak menentu.
Pada titik inilah pertanyaan menjadi penting dan mendasar, apakah agama masih kita hayati sebagai jalan pencarian makna dan penuntun moral, ataukah perlahan berubah menjadi sekadar konten yang dipilih, dibagikan, dan dikonsumsi mengikuti irama algoritma?
Refleksi ini menuntut kesadaran agar pusaran digital tidak mengaburkan kedalaman spiritual, keyakinan yang seharusnya menuntun hidup manusia agar lebih baik dan terarah. (*)