Datangnya bulan suci Ramadan mesti bisa mengubah pola pikir kita yang selama ini cenderung kepada hal-hal yang konsumtif menjadi pembentukan mentalitas produktif. Jangan lagi mendustasi diri dengan menyusuri hari di bulan Ramadan dengan sikap bermalas-malasan dan lebih banyak santai.
Setiap manusia perlu terus menggembleng mentalitas produktif pada dirinya. Secara sederhana mentalitas produktif adalah pola pikir yang menyelaraskan pikiran dan tindakan menuju perilaku yang efisiensi, fokus, dan pencapaian tujuan secara konsisten. Mentalitas Ini bukanlah sekadar bekerja keras tanpa henti, melainkan bekerja lebih cerdas dengan prioritas yang jelas.
Mentalitas produktif ditandai dengan adanya manajemen waktu dan prioritas yang kuat. Ada tasawuf dalam Islam yang sangat mengajarkan produktivitas dan etos kerja yang tinggi. Ini dikenal dengan istilah Tasawuf Positif, Neo-Sufisme, atau pendekatan tasawuf moderat yang seimbang antara kehidupan spiritual dan duniawi.
Dalam ajaran Islam terkait dengan produktivitas bisa dipelajari dalam tasawuf produktif. Berikut adalah poin-poin penting dalam konteks tasawuf produktif:
- Tasawuf produktif menegaskan bahwa tidak ada tempat untuk kepasifan (passivity) atau menarik diri dari dunia (uzlah) yang ekstrem. Sebaliknya, tasawuf ini mendorong pengikutnya untuk aktif bekerja dan berkontribusi.
- Filosofi bekerja keras mencari uang yang halal dengan jalan berbisnis dipandang sebagai bentuk jihad untuk memakmurkan dunia.
- Filosofi Zuhud yang sejati. Zuhud dalam tasawuf produktif bukanlah miskin atau tidak memiliki harta, melainkan hatinya tidak terikat pada harta (tidak diperbudak dunia), meskipun tangannya memiliki kekayaan.
- Tasawuf mengajarkan manajemen waktu yang efisien (barakah) agar produktif, yakni memanfaatkan waktu untuk aktivitas bermakna dan menghindari kesia-siaan.
Ayo Genjot Produktivitas
Bulan Ramadan merupakan momentum untuk menggenjot produktivitas. Baik produktivitas nasional, daerah hingga produktivitas pribadi. Setiap tahun kita optimis bahwa ibadah bulan suci Ramadan dan perhelatan akbar mudik lebaran merupakan penggerak ekonomi kerakyatan.
Tak bisa dipungkiri lagi, selama ini Ramadan adalah pasar modal dan pasar tenaga kerja yang luar biasa. Pasar modal itu mengalir deras dari berbagai penjuru, dari kota ke desa, dari desa ke kota, dari mancanegara dalam bentuk remitansi atau kiriman uang dari para pekerja migran di luar negeri yang jumlahnya bisa mengalahkan keuntungan BUMN.
Meskipun Ramadan hanya sebulan, namun bisa memperluas lapangan kerja terutama sektor transportasi, logistik, pariwisata,dan ekonomi kreatif. Alangkah luar biasa kumandang dan gairah Ramadan dan perhelatan akbar selalu ditandai dengan detak ekonomi yang kencang, kegiatan amal yang mengalir deras serta perpindahan ratusan juta massa dan ratusan triliun rupiah.
Saatnya mentransformasikan nilai bulan Ramadan menjadi generator produktivitas yang hebat. Tingkat produktivitas bangsa yang hingga kini masih belum menggembirakan adalah tanggung jawab seluruh elemen bangsa. Keniscayaan, kaum Muslimin di negeri ini harus terus mengkaji berbagai ajaran keagamaan yang bisa menimbulkan qiroah atau greget untuk memacu usaha dan produktivitas.

Ayo Bentuk Mentalitas Kerja Keras
Kemajuan bangsa hanya bisa terwujud dengan mentalitas kerja keras dan terus menerus berpikir cerdas. Kita prihatin melihat kajian Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan Indeks Kualitas Pekerjaan (IKP) masih belum menggembirakan alias masih rendah.
IKP Indonesia kondisinya tidak sama. Ada ketimpangan capaian IKP. Indeks tertinggi diraih Jakarta. Sebagai informasi, dimensi kualitas pekerjaan menggambarkan pekerjaan yang layak. Salah satu pendekatannya dilihat dari sisi penggunaan waktu bekerja dengan kondisi jam kerja yang tidak berlebih.
Ibadah puasa dan peristiwa mudik nasional sebetulnya merupakan eksponen-eksponen kecil dari sebuah kolektivitas. Dari kolektivitas kampung, desa, kota, pulau, provinsi hingga menjadi sebuah kolektivitas kebangsaan. Semua bergerak menuju fitrah yang sama, yakni harkat kemanusiaan dan keadilan sosial. Dalam predikat sosial yang sangat beragam, dari kaum buruh, pedagang, aparatur negara, guru, hingga pejabat pemerintah, semuanya ingin maju dan hidup mulia.
Rasa kolektivitas kebangsaan bisa menghasilkan sinergi yang hebat jika terkait dengan daya saing dan produktivitas. Nilai-nilai Ramadan, Idul Fitri dan mudik lebaran dalam aspek kebudayaan bisa memperteguh kebudayaan nasional. Apalagi strategi kebudayaan menjadi kunci dalam program pembangunan. Istilah kebudayaan berasal dari bahasa Latin culture atau colere yang berarti mengolah atau merekayasa. Kebudayaan tidak sekedar seni tradisi. Lebih dari itu, kebudayaan bisa menggenjot produktivitas dan memajukan korporasi dan ketatanegaraan. Serta membentuk sikap positif masyarakat yang selalu berusaha untuk maju atau sikap need of achievement.
Ayo Memperluas Lapangan Kerja
Keniscayaan, mentalitas produktif bisa memperluas lapangan kerja. Hal itu sebagai solusi untuk mengatasi krisis lapangan kerja yang layak mengingat pertumbuhan angkatan kerja di Indonesia cukup tinggi. Menghadapi persaingan global tak ada kata lain yang lebih penting, selain memperbaiki secara totalitas produktivitas dan nilai tambah lokal dengan kemandirian dan model bisnis ekonomi kerakyatan.
Untuk kedepan, alokasi anggaran untuk peningkatan sumber daya manusia (SDM) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus tepat sasaran dan menekankan peningkatan kualitas tenaga kerja Indonesia. Menurut Institute for Development and Economic Finance (Indef), peran SDM sangat penting bagi perekonomian sebuah negara dan salah satu input penting bagi pembangunan industri yang berdaya saing.
Hingga kini institusi pendidikan/pelatihan belum mampu menjawab tantangan meningkatkan produktivitas dan kualitas tenaga kerja. Selain itu, gap antara kebutuhan dan penyediaan tenaga kerja masih lebar, sehingga terjadi mismatch antara institusi pendidikan dan dunia kerja. Kemudian, di era baru ekonomi yang warnai disrupsi teknologi mengubah karakteristik permintaan tenaga kerja.
Baca Juga: Romantisme Mendengarkan Radio 'Sempal Guyon Parahyangan'
Dari sisi produktivitas jika diukur dengan GDP per worker employed, Indonesia masih relatif tertinggal dari negara tetangga. Jika melihat mayoritas tenaga kerja Indonesia saat ini, hampir 60 persen tepatnya 58,78 persen pekerja di Indonesia masih tamatan pendidikan rendah yaitu, SMP ke bawah. Mereka memiliki keterbatasan skill, sehingga akan sulit untuk meningkatkan produktivitas dan bersaing.
Sementara itu, industrialisasi dan digitalisasi tentunya memerlukan tingkat keahlian dan produktivitas yang lebih baik. Jika industrialisasi tidak disokong dengan kualitas SDM yang memadai maka proses transformasi struktural bisa gagal. Hakikat produktivitas ketenagakerjaan adalah tingkat kemampuan pekerja menghasilkan produk dan jasa. Berbagai faktor mempengaruhi produktivitas tenaga kerja, termasuk juga faktor kesejahteraan sosial pekerja. Serikat pekerja atau serikat buruh merupakan kunci produktivitas, untuk itu diharapkan berperan mengikuti perkembangan global reverse innovation. Karena kegiatan inovasi dunia itu menyangkut penemuan proses produksi baru yang bisa menggenjot produktivitas sekaligus berpotensi memperluas lapangan kerja karena berbasis inovasi dan teknologi tepat guna.
Semoga kolektivitas kebangsaan yang tergambar oleh semarak Ramadan tahun ini bisa menghasilkan sinergi yang hebat dan bisa mendongkrak daya saing dan produktivitas. (*)