Ayo Netizen

8 Istilah Sunda yang Jadi Aktivitas Rutin di Bulan Puasa

Oleh: Aris Abdulsalam Kamis 26 Feb 2026, 11:04 WIB
Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

AYOBANDUNG.ID -- Bulan puasa di tanah Sunda bukan cuma soal menahan lapar dan haus. Ada banyak kebiasaan khas yang bikin Ramadan terasa hangat, ramai, sekaligus penuh makna. Menariknya, semua itu terekam dalam bahasa.

Beberapa istilah Sunda berikut bukan sekadar kata, tapi gambaran aktivitas seru yang juga bernilai ibadah.

Berikut delapan di antaranya.

1. Ngabuburit

Ini mungkin yang paling populer. Ngabuburit berarti menunggu waktu berbuka puasa. Biasanya diisi dengan jalan santai, berburu takjil, atau kumpul bareng teman dan keluarga. Sederhana, tapi jadi momen mempererat hubungan sosial.

2. Ngadulag

Tradisi membangunkan sahur dengan bedug atau alat sederhana lainnya. Di kampung-kampung, suara ini jadi alarm kolektif yang membangun rasa kebersamaan. Ada semangat gotong royong yang terasa kuat.

3. Nyubuh

Aktivitas selepas sahur dan salat Subuh. Ada yang lanjut tadarus, olahraga ringan, atau sekadar berbincang dengan tetangga. Pagi Ramadan terasa lebih hidup karena dimulai bersama-sama.

4. Ngabeubeurang

Menjalani aktivitas siang hari saat berpuasa. Ritmenya biasanya lebih tenang. Orang-orang cenderung saling memahami karena sama-sama menahan lapar dan haus. Di sini terasa nilai empati dan solidaritas.

Lodong adalah permainan meriam bambu yang konon berasal dari budaya Sunda. (Sumber: Istimewa)

5. Taraweh Keliling

Salat tarawih berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid lain. Selain ibadah, ini jadi cara memperluas silaturahmi dan mengenal lebih dekat lingkungan sekitar.

6. Tadarusan

Membaca Al-Qur’an bersama, biasanya selepas tarawih. Suasananya khusyuk, tapi juga hangat karena dilakukan berjamaah. Selain menambah pahala, ini memperkuat ikatan spiritual dan sosial.

7. Nujuh Likur

Malam ke-27 Ramadan yang dipercaya banyak orang sebagai waktu istimewa. Biasanya diisi dengan doa bersama, menyalakan lampu atau obor di halaman rumah, dan memperbanyak ibadah.

8. Nganteuran

Mengantar makanan untuk berbuka kepada tetangga atau kerabat. Tradisi berbagi ini sederhana, tapi dampaknya besar. Selain mempererat hubungan sosial, juga memperkuat budaya saling peduli.

Baca Juga: Ngabuburit di Museum Pos Indonesia: Menunggu Senja di Lorong Sejarah 

Delapan istilah ini menunjukkan bahwa bahasa Sunda menyimpan cerita tentang kebersamaan dan spiritualitas. Ramadan bukan hanya ibadah personal, tetapi juga perayaan sosial yang hidup dalam percakapan sehari-hari. (*)

Reporter Aris Abdulsalam
Editor Aris Abdulsalam