Ayo Netizen

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Oleh: Pernando Aigro S Jumat 17 Apr 2026, 17:25 WIB
Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Setiap tanggal 24 April, Indonesia memperingati Hari Angkutan Nasional sebagai pengingat bahwa transportasi umum bukan sekadar sarana mobilitas, tetapi bagian dari perjalanan panjang sejarah bangsa. Peringatan ini lahir dari kesadaran bahwa angkutan umum memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas masyarakat, sekaligus menjadi bagian dari perkembangan kehidupan sosial dan ekonomi di Indonesia.

Sejarah angkutan nasional tidak dapat dilepaskan dari berdirinya Djawatan Angkutan Motor Republik Indonesia (DAMRI) yang berakar pada masa sekitar tahun 1943. Pada masa itu, sudah dikenal angkutan sederhana untuk mengangkut barang maupun penumpang. Seiring berjalannya waktu, terutama setelah Indonesia merdeka, layanan tersebut terus berkembang hingga menjadi bagian dari sistem transportasi yang lebih terorganisir di bawah DAMRI.

Oleh karena itu, 24 April tidak hanya dimaknai sebagai peringatan formal, tetapi juga sebagai refleksi tentang bagaimana transportasi membentuk cara masyarakat bergerak dan berinteraksi. Di balik setiap perjalanan, terdapat proses panjang yang terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman yang selalu berubah.

Angkot sebagai Cara untuk Mengenal Bandung

Angkot di Kota Bandung masih dibutuhkan meski bukan menjadi pilihan utama sejak ada transportasi berbasis daring. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Bandung dikenal sebagai kota yang indah, dengan lanskap yang tertata, udara yang relatif sejuk, serta jejak sejarah yang masih terlihat di berbagai sudut kotanya. Mulai dari bangunan peninggalan kolonial, kawasan bersejarah, hingga ruang publik yang terus berkembang, Bandung sering dipandang sebagai kota yang memiliki daya tarik visual sekaligus nilai historis yang kuat.

Namun di balik itu semua, wajah Bandung yang lain justru tampak dari bagaimana kota ini bergerak setiap harinya, terutama melalui angkutan umum seperti angkot. Kehadirannya yang tersebar di berbagai jalur membuat kota ini terasa selalu hidup dan tidak pernah benar-benar sepi. Dari pagi hingga sore, angkot menjadi bagian dari ritme keseharian warga yang terus berpindah dari satu titik ke titik lain.

Bagi banyak orang, terutama pelajar, angkot adalah bagian dari keseharian yang tidak terpisahkan. Pada jam berangkat dan pulang sekolah, angkot dipenuhi anak-anak yang duduk berdampingan, berbicara, atau bercanda sepanjang perjalanan. Dari situ terlihat bahwa transportasi umum bukan hanya soal perpindahan, tetapi juga ruang kecil tempat kehidupan sosial berlangsung secara alami.

Di dalam angkot, interaksi sering muncul tanpa direncanakan. Orang yang sebelumnya tidak saling mengenal bisa berbagi ruang, saling memahami situasi perjalanan, atau terlibat percakapan ringan tentang pekerjaan, sekolah, hingga urusan sehari-hari. Dari momen sederhana itu, angkot memperlihatkan dirinya sebagai ruang sosial yang terbuka, tempat Bandung dapat dikenali bukan hanya dari bentuk kotanya, tetapi dari kehidupan yang terjadi di dalamnya.

Selain itu, Bandung juga dapat dipahami dari orang-orang yang menjalankan angkot setiap hari. Sejak subuh ketika kota masih lengang, kendaraan sudah mulai bergerak. Para pengemudi menyiapkan perjalanan lebih awal agar alur mobilitas kota tetap berjalan. Aktivitas ini menunjukkan bahwa kehidupan Bandung sebenarnya sudah dimulai bahkan sebelum kota terlihat ramai.

Ketekunan mereka menjadi bagian penting yang sering tidak disadari. Dari subuh hingga malam, mereka menghadapi jalan, penumpang, dan ritme kota yang terus berubah. Namun di balik rutinitas itu, ada peran besar dalam menjaga agar pergerakan kota tetap berlangsung.

Selain angkot, Bandung juga memiliki angkutan umum berbasis bus yang menjadi ciri perkembangan kota modern, seperti Trans Metro Pasundan (TMP/Teman Bus), Trans Metro Bandung (TMB), dan Metro Jabar Trans (MJT), serta transportasi yang unik yaitu Bandung Tour on Bus (BANDROS). Kehadiran layanan ini menunjukkan bahwa Bandung tidak hanya bertumpu pada sistem transportasi lama, tetapi juga terus berkembang menuju transportasi publik yang lebih modern, teratur, dan terintegrasi.

Hari Angkutan Nasional pada 24 April menjadi hari bersejarah dan pengingat bahwa transportasi umum bukan hanya bagian dari infrastruktur, tetapi juga ruang hidup yang membentuk cara masyarakat memahami kotanya. Bandung tidak hanya dilihat dari keindahan atau keteraturannya, tetapi juga dari keseharian yang terjadi di dalamnya, dari perjalanan singkat, percakapan kecil, hingga kerja keras yang menjaga kota tetap bergerak. Di balik roda angkot yang terus berputar, Bandung hadir sebagai kota yang hidup bukan karena kesempurnaan, tetapi karena pergerakan manusia di dalamnya.

REFERENSI

  • Ningsih, W. L. (2025). “Sejarah Hari Angkutan Nasional 24 April”. Kompas.com.

Reporter Pernando Aigro S
Editor Aris Abdulsalam