Buku selalu kita pakai sebagai sumber utama pengetahuan, tetapi kebiasaan membacanya sering tidak berjalan seirama. Di tengah derasnya arus informasi dari berbagai arah, kebiasaan membaca justru makin tergeser oleh hal-hal yang lebih cepat, lebih ringkas, dan lebih instan seperti media sosial. Scroll, swipe, serba singkat. Lalu muncul satu pertanyaan sederhana, tapi cukup mengganggu: apakah kita masih benar-benar membaca, atau hanya ikut merayakan buku tanpa benar-benar memahami, menghayati, dan memaknainya?
Hari Buku Sedunia atau World Book Day berawal dari gagasan untuk memberikan penghargaan terhadap dunia literasi, khususnya buku dan para penulisnya. Peringatan ini kemudian dipilih dan ditetapkan secara global sebagai bentuk apresiasi terhadap peran buku dalam membentuk pengetahuan dan peradaban manusia. Pada 23 April 1995, UNESCO menetapkan Hari Buku Sedunia sebagai hari peringatan global yang menjadi penanda penting karena berkaitan dengan wafatnya sejumlah tokoh besar sastra dunia seperti William Shakespeare dari Inggris, Miguel de Cervantes dari Spanyol, dan Inca Garcilaso de la Vega dari Peru. Karya-karya mereka dianggap sebagai warisan penting dalam sejarah literasi dunia. Hari Buku Sedunia tidak hanya dimaknai sebagai perayaan simbolik, tetapi juga pengingat bahwa buku selalu punya peran besar dalam perjalanan pengetahuan manusia (Harian Rakyat, 2025).
Namun di tengah itu, ada hal yang sering luput dari perhatian. Ketika Hari Buku Sedunia terus dirayakan sebagai simbol literasi global, maka sejauh mana kebiasaan membaca benar-benar tumbuh di masyarakat kita sendiri? Bukan hanya dalam bentuk acara atau kegiatan seremonial, tetapi dalam rutinitas kecil yang berjalan tanpa perlu diperingati. Di titik ini, Hari Buku Sedunia justru memperlihatkan perbedaan literasi dengan kenyataan di Bandung, sekaligus memunculkan pertanyaan tentang bagaimana budaya membaca benar-benar hidup di Kota Bandung.

Angka 59: Cukup atau Tanda Literasi Bandung Belum Kuat?
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat mencatat bahwa Tingkat Kegemaran Membaca Masyarakat di Jawa Barat pada tahun 2025 berada di sekitar angka 59. Angka ini muncul dari pengukuran berbagai unsur kebiasaan membaca, mulai dari frekuensi membaca, durasi, hingga akses terhadap bacaan. Dari angka tersebut terlihat bahwa kebiasaan membaca masyarakat masih belum bisa dibilang kuat, bahkan cenderung rendah jika dilihat dari pola keseharian yang belum benar-benar menjadikan membaca sebagai rutinitas.
Di Kota Bandung, angkanya bahkan sedikit lebih meningkat, berada di sekitar 59,26. Peningkatannya memang tidak besar, tetapi tetap cenderung rendah dan cukup untuk menunjukkan satu hal: kebiasaan membaca di Bandung masih belum benar-benar menguat. Di tengah peringatan Hari Buku Sedunia yang setiap tahun dirayakan sebagai simbol penguatan literasi, kondisi ini justru terasa berlawanan dengan realitas di lapangan. Kota yang sering disebut sebagai kota pendidikan dan ruang kreatif ini belum sepenuhnya menunjukkan kebiasaan membaca yang benar-benar kuat dalam keseharian warganya. Buku memang masih ada, tetapi belum benar-benar jadi bagian dari keseharian.
Hari Buku Sedunia sebenarnya bisa menjadi pengingat, bukan sekadar perayaan tahunan yang lewat begitu saja. Mendorong budaya membaca tidak selalu harus dimulai dari hal besar atau program edukasi yang formal, tetapi dari kebiasaan kecil yang sering dianggap sepele. Di tengah arus media sosial yang serba cepat dan instan, meluangkan 10 menit untuk membaca buku, artikel, atau bacaan apa pun yang disukai, justru menjadi bentuk perlawanan paling sederhana terhadap menurunnya kebiasaan literasi. Dari kebiasaan kecil itu, perlahan cara kita memahami informasi juga berubah, tidak lagi sekadar lewat, tetapi benar-benar dipahami. Semangat Hari Buku Sedunia ini juga sejalan dengan amanat mencerdaskan kehidupan bangsa, namun hal itu harus dimulai dari kebiasaan kita sendiri dalam menjaga kedekatan dengan literasi.
Hari Buku Sedunia pada akhirnya tidak cukup hanya lewat sebagai perayaan tahunan. Ia seharusnya menjadi pengingat kecil bahwa kurangnya membaca hari ini ikut menentukan arah literasi ke depan. Di satu sisi, buku masih dirayakan karena sumber pengetahuan, tetapi di sisi lain, angka 59,26 di Kota Bandung menunjukkan hal yang berbeda: membaca belum benar-benar menjadi kebiasaan yang kuat dalam keseharian. Dan mungkin persoalannya memang ada di situ. Bukan pada kurangnya buku atau fasilitas perpustakaan, tetapi pada jarak antara apa yang kita rayakan dan apa yang kita lakukan setiap hari. Selama membaca masih kalah oleh yang serba cepat dan serba singkat, literasi tidak akan meningkat. Sementara Hari Buku Sedunia akan terus datang setiap tahun, mengingatkan kita pada hal yang sama. (*)
REFERENSI
Harian Rakyat. (2025). “Sejarah Hari Buku Sedunia 23 April: Merayakan Warisan Sastra Dunia”.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat. (2025). “Tingkat Kegemaran Membaca Masyarakat dan Variabelnya Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat, 2025”.