Ayo Netizen

Hari Puisi Nasional: Bandung, Antara Ekspektasi dan Kenyataan yang Dijalani

Oleh: Pernando Aigro S Rabu 22 Apr 2026, 11:25 WIB
Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Setiap tanggal 28 April kita memperingati Hari Puisi Nasional, yang juga dirayakan oleh penyair, penulis, pelajar, hingga komunitas seni di berbagai daerah. Tanggal ini dipilih untuk mengenang wafatnya Chairil Anwar, sosok yang dikenal sebagai pelopor puisi terbesar di Indonesia karena karya-karyanya yang penuh semangat, kebebasan, dan kedalaman makna. Penetapan ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan, tetapi juga menegaskan bahwa puisi lahir dari pengalaman yang dekat dengan kehidupan, termasuk dari hal-hal yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Di tengah kehidupan yang serba cepat, puisi sering kali dianggap jauh dari keseharian, seolah hanya milik ruang-ruang tertentu. Padahal, pengalaman sehari-hari justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Hal-hal sederhana seperti perjalanan pulang atau interaksi singkat sering memperlihatkan bahwa tidak semua berjalan sesuai harapan. Puisi adalah cara untuk membaca pengalaman secara lebih jujur, bukan sekadar merangkai kata, tetapi memahami apa yang benar-benar dirasakan.

Puisi sering dipahami sebagai karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan secara imajinatif, namun dalam kehidupan sehari-hari, ia juga menjadi cara seseorang memaknai pengalaman yang dijalani. Apa yang awalnya terasa asing atau tidak sesuai harapan pada akhirnya menuntut untuk dipahami, bukan dihindari. Dari situ, cara pandang mulai bergeser. Pengalaman tidak lagi dilihat dari ekspektasi awal, melainkan dari kenyataan yang dijalani.

Iustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Zulfikar Arifuzzaki)

Kota Bandung Indah, Namun…

Bandung sering dipromosikan sebagai kota yang nyaman dan menyenangkan untuk ditinggali maupun dikunjungi. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan hal yang tidak selalu sejalan. Kemacetan kini bukan lagi situasi sesaat, melainkan bagian dari keseharian, terutama di kawasan pusat kota dan titik wisata. Jalanan yang dipenuhi kendaraan membuat mobilitas menjadi tidak efisien dan melelahkan. Situasi ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan aktivitas kota tidak sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan sistem transportasi yang memadai, sehingga kenyamanan yang selama ini menjadi citra Bandung mulai dipertanyakan.

Dampaknya tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga secara psikologis. Kemacetan yang berlangsung terus-menerus dapat memicu stres, kelelahan mental, dan menurunkan kondisi emosi dalam aktivitas sehari-hari. Ketika kondisi ini terjadi secara berulang, rasa lelah tidak lagi bersifat sementara, melainkan menjadi bagian dari rutinitas. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan kemacetan bukan sekadar soal lalu lintas, tetapi sudah menyentuh kualitas hidup masyarakat. Di titik ini, jarak antara ekspektasi tentang Bandung sebagai kota yang nyaman dengan kenyataan yang dijalani menjadi semakin nyata.

Kondisi ini menunjukkan bahwa apa yang terjadi di Bandung tidak cukup dipahami hanya dari data atau angka. Ada pengalaman yang dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama dari kemacetan, kelelahan, hingga jarak antara harapan dan kenyataan yang terus berulang. Hal-hal ini sering kali tidak sepenuhnya terwakili dalam cara kota ini dibicarakan. Di titik ini, puisi menjadi relevan sebagai cara untuk mengungkapkan pengalaman yang tidak selalu sempat disampaikan. Bandung mungkin tetap terlihat indah, tetapi di saat yang sama menyimpan ketegangan yang tidak selalu terlihat, dan dari situlah puisi tentang kota ini mulai terbentuk.

Bandung terlihat tenang
tapi jalanan berkata lain

kendaraan saling menahan
waktu habis di tempat yang sama

klakson lebih sering terdengar
daripada percakapan

dan lelah datang lebih dulu
sebelum sampai tujuan

Bandung tetap disebut indah
meski tidak selalu terasa demikian

Bandung pada akhirnya bukan hanya soal bagaimana kota ini dibayangkan, tetapi tentang pengalaman yang benar-benar dirasakan oleh mereka yang menjalaninya setiap hari. Ketika kemacetan menjadi rutinitas dan kelelahan terus berulang, maka kenyamanan tidak lagi bisa dianggap sebagai sesuatu yang otomatis ada. Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan kota tidak bisa terus dianggap wajar, tetapi perlu dibenahi secara serius.

Pemerintah kota memiliki peran penting untuk tidak hanya mempertahankan citra Bandung sebagai kota yang indah, tetapi juga memastikan kualitas hidup warganya tetap terjaga. Perbaikan sistem transportasi, pengelolaan lalu lintas yang lebih efektif, serta penyediaan ruang publik yang memadai menjadi langkah yang tidak bisa ditunda. Tanpa upaya tersebut, kenyamanan yang selama ini menjadi daya tarik Bandung berisiko hanya menjadi narasi, bukan kenyataan.

Jika Bandung ingin tetap menjadi kota yang dirindukan, maka perubahan tidak cukup hanya pada cara kota ini dipromosikan, tetapi juga pada bagaimana kota ini dikelola. Dengan begitu, orang-orang yang datang tidak hanya melihat keindahannya, tetapi juga benar-benar merasakan kenyamanan yang selama ini diimpikan. (*)

REFERENSI

  • Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kutai Kartanegara. (2025). “HARI PUISI NASIONAL: 28 APRIL 1949 – 28 APRIL 2025”.

  • Putra, W. (2025). “Kata Psikolog soal Dampak Macet di Bandung, Stres hingga Lelah Mental”. detikJabar.

Reporter Pernando Aigro S
Editor Aris Abdulsalam