Menjelang siang, telepon genggam saya berdering. Ketika saya lihat, ternyata panggilan itu berasal dari Prof. Babun Suharto. Seperti biasa, beliau membuka percakapan dengan menanyakan kabar. Bagaimana kabarnya? Alhamdulillah, sehat, Prof," jawab saya. Beliau lalu menimpali dengan kalimat sederhana, tetapi sangat bermakna, "Kabar baik itu mahal, yang paling mahal adalah kesehatan."
Saya mengenal beliau sebagai sosok yang tidak pernah lelah memberi nasihat. Setiap kali kami berjumpa, baik secara langsung maupun melalui telepon, selalu ada pelajaran hidup yang beliau sampaikan. Siang itu, saya kembali memperoleh pelajaran berharga tentang arti persahabatan.
Dalam percakapan yang hangat, beliau menjelaskan bahwa dalam kehidupan setidaknya ada tiga jenis sahabat, yaitu: sahabat sejati, sahabat merpati, dan sahabat kalajengking. Penjelasan itu sederhana, tetapi sangat dalam, karena membuat saya menyadari bahwa tidak semua orang yang dekat dengan kita dapat disebut sahabat.
Manusia tidak dapat hidup sendirian. Kita membutuhkan teman untuk berbagi cerita, saling menguatkan, dan menemani perjalanan hidup. Namun, setiap persahabatan memiliki warna yang berbeda. Ada yang memberi ketenangan, ada yang datang ketika membutuhkan, dan ada pula yang justru melukai.

Pertama adalah sahabat sejati. Inilah sahabat yang selalu hadir dalam suka maupun duka. Ia tidak hanya datang ketika kita sedang berhasil, tetapi juga tetap bertahan ketika kita gagal, jatuh, atau mengalami kesulitan. Sahabat sejati tidak melihat seseorang dari jabatan, harta, atau popularitasnya. Ia menerima sahabatnya apa adanya. Ketika kita salah, ia menasihati dengan tulus. Ketika kita sedih, ia memberi semangat. Ketika kita berhasil, ia ikut bahagia tanpa rasa iri.
Di zaman sekarang, sahabat sejati terasa semakin langka. Banyak pertemanan dibangun karena kepentingan, ingin mendapat keuntungan, mencari kedudukan, atau sekadar mengikuti lingkungan. Karena itu, menemukan sahabat sejati adalah nikmat yang patut disyukuri. Ada beberapa ciri sahabat sejati diantaranya, yaitu: jujur, menjaga rahasia, mau membantu tanpa pamrih, dan berani mengingatkan ketika kita salah. Diantara ciri-ciri tersebut, yang paling penting adalah ia tetap setia meskipun keadaan berubah. Persahabatan seperti inilah yang membuat hidup terasa lebih kuat dan bermakna.
Kedua, adalah sahabat merpati. Merpati biasanya datang ketika ada makanan, lalu pergi setelah kebutuhannya terpenuhi. Dalam persahabatan, sahabat merpati adalah teman yang hadir ketika membutuhkan sesuatu, tetapi menghilang ketika urusannya selesai. Ia tampak ramah dan dekat, tetapi kedekatannya bergantung pada keadaan. Ketika kita memiliki sesuatu yang menguntungkan baginya, ia sering datang. Namun, ketika kita sedang kesulitan, ia perlahan mulai menjauh. Banyak orang pernah bertemu sahabat seperti ini. Misalnya, ada teman yang hanya menghubungi ketika membutuhkan bantuan, meminjam uang, atau meminta dukungan. Setelah kebutuhannya terpenuhi, ia tidak lagi peduli.
Sahabat merpati sebenarnya tidak selalu jahat. Kadang-kadang ia hanya belum memahami makna persahabatan yang sesungguhnya. Meski demikian, kita perlu berhati-hati agar tidak terlalu berharap kepada orang seperti ini. Jangan sampai seluruh rahasia dan kepercayaan kita diberikan kepada orang yang hanya datang ketika membutuhkan.
Ketiga adalah sahabat kalajengking. Inilah sahabat yang paling berbahaya. Kalajengking tampak tenang, tetapi sewaktu-waktu dapat menyengat. Demikian pula sahabat kalajengking itu di depan tampak baik dan dekat, tetapi di belakang justru menyakiti atau menikam. Ia bisa tersenyum di hadapan kita, tetapi berbicara buruk di belakang. Ia tampak mendukung, tetapi sebenarnya iri terhadap keberhasilan kita. Bahkan, ia dapat memanfaatkan kepercayaan yang kita berikan untuk kepentingannya sendiri. Di era media sosial, sahabat kalajengking semakin mudah ditemukan. Ada orang yang tampak akrab, tetapi diam-diam menyebarkan rahasia, menjelekkan, atau menjatuhkan temannya. Luka karena pengkhianatan seperti ini sering kali lebih sakit daripada permusuhan biasa, karena datang dari orang yang kita percaya. Ada beberapa tanda sahabat kalajengking itu setidaknya adalah suka iri, senang membicarakan keburukan orang lain, memanfaatkan teman, dan gembira ketika orang lain gagal. Jika menemukan sahabat seperti ini, kita tidak perlu membalas dengan keburukan. Cukup menjaga jarak dengan bijak agar tidak kembali disakiti.
Nasihat Prof. Babun Suharto pagi ini tidak hanya mengajarkan saya untuk mengenali jenis-jenis sahabat, tetapi juga mengajak saya bercermin. Jangan-jangan selama ini kita pun pernah menjadi sahabat merpati atau bahkan sahabat kalajengking bagi orang lain. Maka, sebelum mencari sahabat sejati, kita harus terlebih dahulu belajar menjadi sahabat sejati. Menjadi sahabat sejati berarti hadir dengan ketulusan, mendengarkan, membantu, menjaga kepercayaan, dan tetap setia dalam keadaan apa pun.
Persahabatan bukan tentang siapa yang paling sering bersama, tetapi siapa yang tetap ada ketika keadaan tidak mudah. Pilihlah sahabat dengan hati-hati, dekatlah dengan sahabat sejati, waspadalah terhadap sahabat merpati, dan hindarilah sahabat kalajengking. Lebih penting lagi, jadilah sahabat yang mampu menghadirkan kebaikan bagi orang lain. Terima kasih prof atas nasihat dan inspsirasinya pagi ini.
Wallāhu a‘lam.