Ayo Netizen

Pasang Surut Perkembangan Radio Siaran di Bandung

Oleh: Kin Sanubary Jumat 08 Mei 2026, 09:55 WIB
Penulis bersama para penyiar B-Radio Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Dunia radio tengah menghadapi tantangan besar di era digital. Jumlah pendengar radio konvensional terus menurun seiring perubahan pola konsumsi media masyarakat, terutama generasi muda yang kini lebih akrab dengan podcast, Spotify, YouTube, dan media sosial. Meski demikian, radio belum benar-benar ditinggalkan. Medium ini justru sedang bertransformasi agar tetap relevan mengikuti perkembangan zaman.

Banyak stasiun radio kini mengembangkan layanan streaming, visual radio, podcast, hingga integrasi media sosial dengan pendekatan digital. Upaya tersebut dilakukan untuk menjangkau pendengar yang lebih luas sekaligus menyesuaikan diri dengan kebiasaan masyarakat, terutama kaum muda yang menginginkan akses informasi dan hiburan secara cepat, praktis, dan fleksibel.

Di tengah gempuran platform digital, radio sesungguhnya masih memiliki kekuatan yang sulit tergantikan, yakni kedekatan emosional dan interaktivitas yang alami. Sapaan penyiar, percakapan langsung dengan pendengar, kirim salam, hingga kemampuan menyampaikan informasi secara cepat tetap menjadi daya tarik tersendiri.

Karena itu, inovasi menjadi kunci utama keberlangsungan radio. Pengelola radio dituntut kreatif mengembangkan konten digital, membangun komunitas, sekaligus menjaga loyalitas pendengar. Tantangan juga datang dari sisi bisnis karena pendapatan iklan radio konvensional cenderung menurun. Namun di sisi lain, radio digital mulai memperlihatkan peluang pertumbuhan yang menjanjikan.

Di tengah derasnya arus media digital, radio konvensional sebenarnya masih setia mengudara. Frekuensinya tetap aktif, program-

programnya terus berjalan, dan suara penyiar masih menyapa pendengar setiap hari. Persoalannya kini bukan lagi apakah radio masih ada, melainkan apakah radio masih benar-benar didengar, khususnya oleh generasi muda.

Fenomena menurunnya pendengar radio bukanlah hal baru. Anak muda kini lebih dekat dengan layanan audio digital dibanding radio tradisional. Radio kerap dianggap tertinggal oleh perkembangan teknologi. Padahal persoalan utamanya bukan semata-mata soal teknologi, melainkan bagaimana radio mampu menyesuaikan strategi komunikasi dengan perubahan karakter dan kebiasaan khalayaknya.

Catatan Perkembangan Radio Siaran di Bandung Era 1960-an hingga 1980-an

Dari jendela rumah, kost-an, warung kopi, hingga dashboard mobil yang melaju di jalanan Kota Bandung pada pagi hari, suara radio pernah menjadi denyut kehidupan masyarakat Jawa Barat. Lagu-lagu romantis yang dibawakan Chintami Atmanegara, Dian Piesesha, Betharia Sonata, hingga sederet penyanyi populer lainnya mengalun akrab menemani aktivitas warga, kala itu sedang marak lagu-lagu karya Pance Pondaag, Rinto Harahap dan Obbie Messakh.

Pada masa itu, radio bukan sekadar media hiburan. Ia menjadi teman perjalanan, sumber informasi, bahkan ruang pergaulan baru bagi masyarakat kota maupun daerah. Hampir setiap sudut kehidupan sehari-hari bersentuhan dengan radio.

Sebelum dekade 1960-an, masyarakat Indonesia umumnya hanya mengenal siaran Radio Republik Indonesia (RRI), itu pun dengan jam siaran yang terbatas. Sebagian pendengar mencoba menangkap siaran radio luar negeri melalui gelombang pendek yang kadang terdengar samar. Situasi berubah drastis setelah Indonesia memasuki masa Orde Baru.

Tahun 1966 menjadi titik penting lahirnya radio-radio siaran swasta di Jawa Barat. Bersamaan dengan perubahan politik nasional, muncul radio-radio perjuangan seperti Radio Ampera, Radio KAMI, Radio HANURA, dan sejumlah pemancar lainnya yang dekat dengan gerakan mahasiswa saat itu. Studio sederhana mereka banyak bermarkas di Gedung Yulius Usman maupun kampus-kampus perguruan tinggi di Bandung.

Ketika gelombang aksi mulai mereda, aktivitas radio berkembang menjadi wadah kreativitas anak muda. Para penggemar elektronika mulai merakit sendiri perangkat pemancar dari komponen bekas yang diburu di pasar loak Jatayu dan Cikapundung. Dari eksperimen sederhana itulah lahir banyak radio amatir yang kemudian mengudara di langit Bandung.

Fenomena ini berkembang sangat cepat. Radio-radio kecil bermunculan dengan nama-nama unik dan nyentrik sesuai selera pengelolanya.

Warga Bandung saat itu mengenal nama-nama seperti ANGELIQUI, AMSTERDAM, BBY, BLIBIS, BLUE ANGEL, BLUE JEAN RANCING, BLACK LIZARD, BONK KENK, CALI GULA, DOUBLE YANKEE, DELTA INDIA, BABY FACE, DRAGON, SABLENK FAMILY, SABLON, MUSTANG SALLY, GO CART 22 serta puluhan nama lainnya.

Sebagian radio digunakan sebagai sarana komunikasi komunitas, namun banyak pula yang mulai menyiarkan lagu-lagu hiburan secara bebas. Karena belum ada pengaturan frekuensi yang jelas, siaran mereka kerap saling bertabrakan, bahkan mengganggu komunikasi kedinasan pemerintah dan militer.

Situasi tersebut mendorong lahirnya upaya penertiban. Pada 8 Juni 1967, Pangdam VI/Siliwangi melalui instruksi khusus meminta aparat melakukan pengawasan terhadap pemancar liar dan radio amatir yang dianggap menyimpang dari ketentuan.

Menariknya, setelah dilakukan pemeriksaan, sebagian besar radio tersebut ternyata tidak bergerak dalam aktivitas politik, melainkan murni didorong semangat eksperimen, hobi, dan hiburan masyarakat.

Dari sinilah muncul gagasan pembinaan radio secara lebih terarah. AKBP M.H. Tommy Patah menjadi salah satu tokoh penting dalam proses tersebut. Melalui dukungan Pangdak VIII Brigjen Pol. Drs. M.A.R. Djajalaksana, dibentuklah Biro Khusus Pengawasan/Pengamanan Elektronika yang berkantor di Jalan Lembong 23 Bandung.

Lembaga inilah yang kemudian ikut membina perkembangan radio-radio siaran di Jawa Barat. Dari tempat itu pula lahir Radio Parahyangan, sebuah radio percontohan yang dikelola lebih profesional untuk kepentingan penerangan umum dan keamanan masyarakat.

Radio Parahyangan sempat menjadi salah satu radio populer di Bandung. Nama-nama penyiar seperti Deddy Damhudi, Didi Yudha, dan Neni Yogapranata ikut membesarkan pamor radio tersebut.

Seiring waktu, pemerintah mulai membuka ruang yang lebih jelas bagi keberadaan radio non-RRI. Radio-radio siaran kemudian dibagi dalam beberapa kategori, mulai dari radio komersial, radio hiburan nonkomersial, hingga radio eksperimental milik kampus seperti radio ITB, IKIP, dan Unpad. Pada masa inilah dunia radio di Jawa Barat berkembang sangat dinamis. Bandung bahkan menjadi salah satu barometer perkembangan radio swasta nasional.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat di bawah kepemimpinan Solihin GP kemudian membentuk Studio Radio Daerah (Sturada) di berbagai kabupaten dan kotamadya guna mendukung program pembangunan daerah. Regulasi demi regulasi lahir untuk mengatur frekuensi, jam siaran, kewajiban relay berita RRI, hingga pembentukan badan hukum radio.

Memasuki dekade 1970-an, radio-radio swasta mulai bergerak menuju industri yang lebih profesional. Penggunaan gelombang MW dan FM mulai diatur lebih ketat. Seleksi dilakukan terhadap ratusan radio yang mengudara di Jawa Barat.

Di Bandung sendiri, jumlah radio sempat membludak. Jika pada akhir 1960-an terdapat lebih dari seratus pemancar radio, maka pada awal 1970-an jumlah tersebut mulai diciutkan melalui proses seleksi dan anjuran merger.

Dari proses itu muncul sejumlah radio yang dianggap kuat dan layak berkembang, di antaranya Radio Continental, Radio Compass-22, Radio Merzy-73, Radio Mara-27, Radio Kencana, Radio Leidya, Radio Dwi Karya, Radio Estrelita, Radio Fortune, Radio Mutiara, dan Radio Columbia.

Nama-nama radio tersebut kemudian menjadi bagian penting sejarah penyiaran di Jawa Barat, terutama pada era 1970-an hingga 1990-an ketika radio menjadi medium hiburan paling dekat dengan masyarakat.

Melalui radio, masyarakat mendengar lagu-lagu populer, sandiwara radio, kirim salam, informasi lalu lintas, hingga berita nasional. Radio juga melahirkan banyak penyiar legendaris dan menjadi ruang tumbuh budaya populer anak muda perkotaan.

Menurut penyiar senior Yudi Muklas dalam bukunya Oz History: Land of Kaleidoscopic Music, perkembangan radio-radio pemancar amatir di Bandung berjalan beriringan dengan tumbuhnya budaya musik anak muda era 1960-an hingga 1970-an. Radio-radio tersebut menjadi ruang ekspresi generasi muda yang menggemari musik psychedelic, progressive rock, jazz rock, hingga brass rock.

Dari situ kemudian muncul radio-radio amatir seperti Flippies Psychedelic, Bonk Kenks, No Name, Funny Man, Blue Angel, Way Ji (YG–Young Generation), Smers, VOC, Sablenk Family, Blue Jean Racing, Fly Door, Cosa Nostra, Babylons, hingga El DC.

Meski identik dengan musik rock progresif, tidak seluruh radio tersebut hanya memutar lagu-lagu keras. Banyak pula lagu melodius dan romantis yang berbeda dari arus utama musik pop pada masa itu. Keragaman inilah yang menjadikan radio-radio Bandung memiliki karakter kuat dan dekat dengan selera anak muda zamannya.

Komunitas pendengar radio di Bandung mengadakan kopdar dan silaturahmi. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Data Radio Siaran di Bandung

(Berdasarkan data Departemen Penerangan RI, Subdit Siaran Dalam Negeri, Seksi Bimbingan Radio Siaran)

Berikut sejumlah radio siaran yang pernah tercatat berkembang di Bandung dan sekitarnya:

Radio Ariesta

Jl. Karapitan Blok No. 20 Bandung

Radio Blue Jean Racing 

Jl. Garputala No. 2 Bandung

Radio Bonk Kenks 

Jl. Westchoff No. 18 Bandung

Radio Chevy 88

Jl. Pasirkaliki 59 Bandung

Radio Columbia 

Jl. Paria No. 8 Bandung

Radio Contessa 

Jl. Burangrang 2 Bandung

Radio Continental Alpha

Jl. Cikapayang 7 Bandung

Radio Dahlia Flora  Jl. Emur 1/2 Bandung

Radio Dwi Karya 69  Jl. Arteri By Pass Kopo Bandung

Radio Elgangga 

Jl. Ambon No. 18 Bandung

Radio Estrelita 

Jl. Karanglayung 27/A Bandung

Radio Famor 

Jl. Sumur Bandung No. 3 Bandung

Radio Suara Fortune Jl. RE Martadinata 229 Bandung

Radio Ganesha Nada Jl. Dr. Slamet 53 Bandung

Radio Garuda Tunggal Angkasa 

Jl. Veteran 89 Bandung

Radio Generasi Muda Jl. Kebon Gedang 73 Bandung

Radio Leidya 

Jl. Siliwangi 5 Bandung

Radio Maestro 

Jl. Kacapiring 12 Bandung

Radio Mara 

Jl. RE Martadinata 16 Bandung

Radio MG D’Estaing Jl. Merdeka 64 Bandung

Radio Mutiara 

Jl. Cikamiri 7 Cisadea, Kabupaten Bandung

Radio OZ 

Jl. Geusanulun 11 A Bandung

Radio Paksi 

Jl. Cikutra, Gang Sukasirna 6 Bandung

Radio Paramuda 

Jl. Gandapura 67 Bandung

Radio Sara 88 

Jl. Sukarasa 143-E Cicadas Bandung

Radio Sriwijaya 

Jl. Kemuning 1 Bandung

Radio Volvo 

Jl. Lengkong Besar 14 Bandung

Radio Gema Wargakarya Satnawa Jl. Labuan 41 Bandung

Radio Cendrawasih Jl. Raya Timur 726 Cimahi

Radio Dana Perlaya

Jl. Babakan 85 Majalaya

Radio Lita Sari 

Jl. Budhi 42 Cilember Cimahi

Radio Unasco 

Jl. Kebon Cau 67 Cimahi

Radio Maya BC 

Jl. Balekambang Majalaya

Radio Mustang 

Jl. Dewi Sartika 10 Bandung

Radio Sangkuriang  Jl. Babakan Ciparay 232/195 Bandung

Radio Kencana

Jl. Mohammad Toha 146 Bandung

Radio Mustika Parahyangan 

Jl. Gatot Subroto Maleer 5 No. 19 Bandung

Radio Sonatha 47

Jl. Ahmad Yani Bandung

Pada akhirnya, radio bukan sekadar soal gelombang udara atau perangkat pemancar. Ia adalah jejak ingatan kolektif sebuah zaman. Dari suara kresek-kresek radio amatir di gang-gang Kota Bandung, lagu-lagu yang mengalun dari kamar anak muda, hingga sapaan akrab penyiar yang menemani perjalanan malam masyarakat, radio pernah menjadi bagian penting denyut kehidupan di Jawa Barat.

Kini, ketika dunia bergerak menuju era digital, radio memang tidak lagi menjadi pusat perhatian seperti dahulu. Namun sejarah membuktikan bahwa radio selalu memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Selama masih ada suara yang ingin didengar, cerita yang ingin dibagikan, dan pendengar yang merindukan kedekatan yang hangat dan manusiawi, radio akan tetap menemukan ruangnya di tengah perubahan zaman. (*)

Reporter Kin Sanubary
Editor Aris Abdulsalam