Saya tahu kafe yang saya dirikan ini aneh lantaran punya layanan spesial untuk perantau laki-laki yang tak mau pulang saat lebaran atau musim liburan lainnya. Kafe ini usaha saya menyambung hidup di kota, lokasinya sepelemparan batu dari stasiun besar tipe B yang kerap kali tersendat arus lalu lintasnya di bawah flyover. Terang saja, kafe saya berada di salah satu gang yang ujungnya hiruk-pikuk angkot, becak, pedagang, rel kereta api berpalang pintu Kyosan, belum lagi kuda besi dari dan hendak menuju stasiun. Keramaian itu yang saya manfaatkan untuk mendirikan bisnis ini demi mendapat pelanggan yang saya inginkan.
Asumsi saya, penumpang laki-laki yang turun di stasiun ini ialah mereka yang mencari tiket lebih ekonomis sehingga akan pikir dua kali jika ingin mudik. Target pasar saya tidak main-main: Level 1, mereka cukup satu sampai tiga tahun tak pulang ke luar provinsi, bisa menikmati gratis makan sekali setahun. Level 2, tiga tahun lebih tak pulang ke luar provinsi, mendapat gratis makan dua kali setahun. Level 3, tak pulang tiga tahun lebih dan punya tanda lahir di leher, gratis makan tiga kali setahun. Perkara tanda lahir memang selalu membuat saya penasaran sehingga saya memasukkannya di kriteria layanan.
Doni adalah perantau laki-laki satu-satunya yang mencapai Level 3 sejak setengah tahun terakhir, tetapi saya belum pernah melihat tanda lahir di lehernya. Selebihnya pelanggan lain baru mencapai Level 2, Level 1, atau Level 0 yakni warga lokal kota ini atau perantau yang belum pulang kurang dari setahun. Itu pun layanannya bisa take away atau maksimal makan-minum di tempat duduk di luar bangunan utama kafe. Kepada pegawai, saya menegaskan orang yang sudah mencapai level seperti Doni harus dilayani serupa raja dan ratu sehari. Motivasi saya untuk pegawai setiap pagi: mari membahagiakan Bang Toyib yang tiga kali puasa tiga kali lebaran tak pernah muncul batang hidungnya di depan anak dan istri.
Setiap pelanggan yang masuk kafe saya akan mendapat kedamaian yang tak akan diperoleh di kafe-kafe lain. Rata-rata pengunjung mencari jaringan internet supercepat walaupun memesan makanan dan minuman superirit. Di kafe saya, jangan harap itu terjadi. Kafe saya menyediakan Wi-Fi hanya 10 menit pertama setiap jam untuk pelanggan Level 1 sampai Level 3 dengan layanan setara internet fixed broadband Singapura yang berkecepatan 270,62 Mbps. Menteri belasan tahun lalu yang melempar pertanyaan “internet cepat buat apa?” akan terkencing-kencing tatkala mengunjungi kafe saya. Itu pun kalau beliau enggan mudik.
---
Doni sebagai pelanggan Level 3 selalu menampakkan wajahnya di akhir pekan termasuk Sabtu ini kendati salat idulfitri baru selesai beberapa jam yang lalu. Ia acapkali nongol, bahkan pernah suatu kali kafe saya baru dibuka pukul 12 siang, ia sudah nangkring di parkiran motor dengan masker buff hitam yang melingkari leher dan tengkuk. Biasanya, ia menempati bilik kafe yang paling ujung, kafe saya berbentuk bilik-bilik laksana warnet tempat kabur remaja tanggung sepulang sekolah. Bilik ini hanya diperuntukkan bagi pelanggan Level 1, Level 2, dan Level 3.
Rutinitas Doni yakni memesan makanan dan minuman, pesanan diantar, mengobrol sebentar (awalnya tidak pernah mengobrol), lalu ia akan menghabiskan waktu demi waktu sendirian sampai kafe tutup tengah malam. Pegawai saya akan mengetuk biliknya tiga jam sekali sebab saat itu mereka harus memesan lagi minimal satu makanan, satu minuman. Prosedur ini akan dilakukan setelah interkom kecil di setiap bilik memperdengarkan kata sandi baru agar Wi-Fi bisa diakses lagi selama 10 menit. Ini cara kafe saya mempertahankan neraca keuangan positif lantaran tak ada backingan investor terindikasi pencucian uang. Cara lain untuk menjaga arus kas yaitu menyewakan bilik per jam, menggelar event untuk komunitas perantau, dan menjual merchandise.
Karena Doni pelanggan Level 3, terkadang saya yang mengantarkan pesanannya ke bilik seperti saat ini. Nampan di tangan saya berisi Dark Chocho Ice dan pisang goreng. Saya sudah siap andai nanti diajak mengobrol singkat tentang kota ini atau apapun. Yang saya tahu, Doni mengaku sudah lebih dari empat tahun di kota ini, keberadaannya di sini lebih lama dibandingkan usia kafe saya yang baru tiga tahun. Sewaktu menemukan kafe ini, Doni mengaku langsung cocok sehingga tak akan lagi mencari kafe lain di seantero kota. Usai mengetuk bilik, saya cukup tersentak ketika diserbu topik obrolan seputar keluarga, hal yang terkadang sangat selektif untuk dijadikan bahan pembicaraan.
“Mungkin aku belum banyak cerita alasanku nggak mau pulang ke kampung.”
“Oh ya, apakah Kakak sekarang sudah siap bercerita?”
“Gimana?” tanyanya karena suara saya tenggelam oleh suara kereta lewat.
“Kakak sudah siap bercerita? Ini layanan khusus untuk pelanggan level tiga yang tidak ada di kafe lain: menjadi kawan pendengar.”
Doni mengangguk, gerak tangannya menyambut nampan. Saya masuk ke biliknya sambil menenteng sebuah kursi. Terdengar suara klakson lokomotif sebelum pintu ruangan kedap udara itu menutup. Saya lihat sofa dan mejanya sudah berserakan oleh foto-foto lawas, catatan-catatan, buku yang punya banyak lipatan. Akhirnya saya akan bisa berbincang sedikit lama usai memancing perkenalan perlahan-lahan. Tampilannya dari dekat bak mahasiswa tingkat akhir dengan tampang lumayan boros, mungkin ia sudah belasan semester dan ogah pulang sebelum tali pada topi toganya dipindahkan rektor. Akan tetapi, itu semata-mata prediksi ngawur saya, cerita yang keluar dari mulutnya hampir membuat lambung saya memuntahkan makan siangnya.
“Aku nggak mau pulang karena aku udah nggak punya rumah. Ibu sering dipukuli Ayah si bajingan Arman itu, rumah Ibu juga udah nggak ada, begitulah.”
Doni menghentikan gerak bibirnya, mungkin masih menimbang-nimbang apa yang ingin disampaikannya lagi. Buff di lehernya dilepas, agaknya ia gerah akibat bilik ini dipakai berdua, idealnya untuk satu orang menyendiri sepanjang hari. Alat pengondisi udara rupanya perlu dikurangi suhunya.
“Kalau boleh tahu, Ayah dan Ibu Kakak kemana?”
Saya lihat Doni mengambil napas dalam sebelum menjawab. Semoga ia tidak keberatan dengan perkara itu.
“Ayahku pergi setelah ketahuan selingkuh. Ibu sampai harus kerja jadi pekerja migran di Dubai, pulang dalam kondisi sakit, terus meninggal. Semua itu gara-gara Ayah.”
Sulit menyembunyikan keterkejutan saat terdengar nama ibu Doni di telinga saya. Rasanya pernah mendengar cerita tersebut, emosi saya bagai diaduk-aduk. Sebelum saya bisa mengungkap semuanya, saya masih ingin mendengar lebih dalam pengakuannya. Selepas itu, mungkin saya akan ke kamar mandi demi memuntahkan semua isi perut.
“Aku jual semua yang kupunya di kampung. Aku jual rumah dan harta ibu. Aku bawa semua uangnya ke sini. Percuma kalau di sana masih ada tanah, rumah, tapi Ayah tiba-tiba datang merampas.”
Ucapan demi ucapan Doni selanjutnya seakan tidak memberi saya kesempatan bernapas. Saya sudah mengambil kesimpulan, tetapi saya belum bisa membicarakannya dengan siapapun. Saya harus memastikan dengan mata kepala saya. Tidak terasa kaki saya sampai kesemutan usai hampir satu jam mendengarkan “pengakuan dosa” di bilik ini. Saya lihat air muka Doni sedikit cerah daripada biasanya karena baik saat datang maupun pulang, ia berkali-kali menekuk muka. Lantas tatkala semuanya tuntas, pintu bilik dibuka, Doni membalik badan, saya memutar leher pelan-pelan, barulah saya sadari semua yang sudah terjadi.
---
Hari ini hari kedua idulfitri, sebentar lagi jam tangan saya menunjukkan pukul 12 siang. Saya justru mematung di depan kafe, masih ragu apakah harus buka atau tidak. Apabila sekarang tutup, ini bertentangan dengan visi kafe ini yang saya sampaikan ke pegawai: membahagiakan siapa saja yang tiga tahun tak pulang lebaran. Pegawai saya pun sudah berdatangan dan sedang bersiap-siap. Tapi pikiran saya tidak bisa dilepaskan dari Doni dan pembicaraannya Sabtu kemarin. Obrolan di bilik merupakan konsekuensi perintah dari saya ke setiap pegawai untuk memancing pelanggan Level 1 sampai Level 3 menceritakan alasannya tak mau pulang.
Di tengah keraguan itu, saya teringat deretan pertanyaan yang sejak kemarin dilontarkan pemilik indekos dan warga sekitar tempat saya tinggal sekarang. Mereka heran, saya yang akrab dengan masyarakat setempat justru seolah menunjukkan gelagat tidak bercita-cita pulang ke tanah kelahiran. Pagi ini, pertanyaan itu hadir lagi, saya tidak banyak menjawab, hanya menyunggingkan senyum sambil merespons tanpa semangat.
“Biasanya kafe lebih ramai saat liburan. Pulang kampung bisa nanti saja.”
“Jangan begitu, Néng. Orang tua masih ada umur, kan? Cepat pulang sebelum terlambat,” kata bapak-bapak pemilik indekos sambil memanaskan motor.
“Ini kami mudik dulu, mumpung Ibu masih ada. Titip kosan, ya. Kalau ada apa-apa, telepon aja,” sahut istrinya.
“Tapi kamu serius nggak mau pulang?” timpal pria 50 tahun itu, masih ingin tahu rupanya.
“Serius, Pak.”
“Ya sudah. Kalau berubah pikiran, langsung pulang saja, ya. Kalau kami belum sampai di sini, ingat, kabari lewat telepon,” ujar sang istri sambil menaiki jok belakang motor.
Tak lama sesudah Semboyan 35 terdengar dari stasiun, lambaian tangan ibu-ibu pemilik indekos lenyap sebab motor yang ditunggangi suaminya berbelok menuju jalan di samping stasiun. Ketika itu, saya masih terpaku oleh kata-katanya yang mengindikasikan perlunya segera pulang saat lebaran. Padahal seharusnya mereka sudah bisa menerka-nerka dari bisnis yang saya dirikan, hampir setahun kami saling mengenal, saya memutuskan tinggal di indekos ini karena cuma 100 meter dari kafe. Terlalu besar biaya menyewa ruko, setidaknya saya bisa mencapai Break Even Point lebih cepat dengan strategi seperti ini.
Kini, di depan kafe yang baru buka, saya kembali termenung. Sesudah apa yang terjadi kemarin, saya tidak ingin bertemu Doni dulu hari ini, tapi bagaimana saya memberitahunya? Atau jangan-jangan ini sekadar keraguan saya. Mungkin saya perlu memastikan tanda-tanda yang saya dapati kemarin, setidaknya sekali lagi. Saya perlu menyaksikan dengan jelas apa yang sudah saya lihat agar hilang keragu-raguan saya selama ini. Hati kecil saya ingin Doni datang, tetapi satu bisikan dalam benak berkata jangan. Kemudian peristiwa itu terjadi, buff itu tak biasanya dilepas setelah helm diletakkan di spion motor. Ya, lazimnya, Doni senantiasa mengenakan kain berbahan mikrofiber poliester itu pada lehernya walau ke kamar mandi.
“Kak, aku mau cerita lagi. Aku mau Kakak lagi yang mengantar makanan dan minumanku, ya,” ucapnya diselingi suara kereta melintas.
Lalu terlihatlah tanda itu di tengkuknya. Saya hampir pingsan dibuatnya.
---
Untuk kedua kali berturut-turut, saya mengantarkan makanan dan minuman ke bilik yang terletak di ujung kafe. Entah bagaimana saya sempat hilang konsentrasi. Pegawai saya sempat tersenyum agak nakal gara-gara napas saya terlihat naik-turun. Jarak dari dapur ke bilik entah mengapa laksana menelusuri gerbong kereta depan sampai belakang, padahal jarak sejauh itu tak seberapa dibandingkan penantian saya. Usai mengetuk bilik, saya melihat dahinya agak berkeringat, sepertinya gugup juga. Mejanya masih rapi, cuma ada sebuah pulpen dan buku catatan, tasnya ditaruh di sofa, belum ada kertas-kertas berserakan di sana-sini. Sesuai permintaan, saya duduk mendampinginya di bilik usai menaruh pesanannya.
“Gimana, Kak? Apa yang mau diceritakan?”
Doni justru membisu, mungkin ia sedang menyusun frasa yang tepat sebelum melontarkannya. Sungguh, saya bertaruh ia akan membeberkan rahasia besar pada “pengakuan dosa” kali ini. Dosa itu mungkin saja berupa fakta-fakta lain mengenai orang tua, keluarga, atau kerabat sehingga ia bersikukuh dan yakin tak mau pulang. Kata demi kata dari mulutnya akan semakin meyakinkan saya mengenai apa yang sudah menjadi kesimpulan saya selama ini. Lantas kata-kata itu meluncur serupa sambaran petir di siang bolong, mendengarnya hampir membuat saya loncat dari sofa.
“Kamu mau menikah denganku?”
Ini tidak bisa dibiarkan. Setelah semua yang telah saya lalui, saya tidak bisa menikah dengannya. Saya sempat tidak yakin dengan ucapannya, mungkin telinga saya salah menangkap. Mungkin suara klakson kereta menembus ruang kedap udara ini, masuk ke bilik kafe, dan mengganggu membran timpani di telinga saya. Saya berusaha memastikan berkali-kali apakah saya sedang bermimpi, mengigau, atau menghadapi siksa kubur.
“Aku serius. Aku nggak mau pulang. Kamu pun nggak mau pulang. Kafe ini untuk orang-orang yang nggak mau pulang, kan? Sekalian saja kita nggak usah pulang. Selamanya kita di sini, kita bikin rumah baru di sini.”
Kita bikin rumah baru di sini, tuturan itu yang menyambar kesadaran saya. Entah dari mana ia tahu sesuatu tentang saya, mungkin dari pegawai, mungkin dia menyelidiki akun Instagram saya, atau menemukan second account saya di media sosial X milik Elon Musk. Saya hampir terhuyung-huyung ketika mendengar penuturan pria yang kira-kira usianya mendekati 30 ini. Tak ada dalam bayangan saya sebagai perempuan 35 tahun diajak menikah oleh orang yang saya anggap pelanggan paling spesial di kafe saya ini. Saya hampir terbawa suasana saat wajahnya mendekat ke wajah saya, bibirnya hampir menyentuh bibir saya. Sesaat kesadaran saya pulih, tubuhnya saya dorong lembut ke dinding.
“Maaf, saya tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Kafe ini bisa menjadi rumah kita kalau kamu mau, tetapi kita tidak bisa menikah.”
“Iya, tetapi kenapa?”
Hanya itu yang bisa dijadikan penghalang antara saya dan dia. Saya tidak mau melepas sepenuhnya, tetapi juga tidak tega menjelaskan apa yang saya lihat di tengkuknya. Kehadirannya hari ini membuat jantung saya berdebar, tetapi tidak untuk membina rumah tangga. Dengan air mata hampir tumpah, saya meninggalkan Doni dalam kebingungan bersama secarik kertas yang saya tuliskan secara kilat dari buku catatan miliknya. Saya tak berani mengharapkan apapun, bisa saja ia akan minggat ke kota yang jauh, atau setidaknya mencari kafe lain di kota ini, kafe yang sama-sama menerima perantau yang tak mau pulang. Namun, jikalau saya boleh memohon pada Yang Maha Kuasa, saya ingin ia tetap datang seakan tak terjadi apa-apa, memesan menu yang sudah saya hapalkan di luar kepala, setiap akhir pekan tentunya.
---
Senin ini, kafe tetap buka meski tanpa saya. Pelayanan harus tetap diberikan lantaran sekarang masih cuti bersama lebaran. Pasti banyak yang akan datang dan mencari “rumah” di perantauan akibat sungkan pulang. Sedangkan saya dalam lima menit akan tiba di kampung halaman berjarak lebih dari 10 jam perjalanan lintas provinsi. Ya, saya harus berkhianat pada tekad saya untuk tidak akan pulang lagi seumur hidup. Sejatinya, saya terpaksa mengeluarkan tekad itu sebab sudah tidak ada rumah di alamat lama. Tapi kali ini berbeda, saya harus pulang melaporkan apa yang sudah saya cari selama ini.

Mengenai Doni, tak banyak harapan saya, apakah ia akan datang lagi atau mencari kafe lain. Yang pasti dia harus membaca dengan cermat catatan yang saya berikan. Apakah Doni orang yang saya cari, entahlah, tapi saya ingin semua ini selesai agar saya bisa kembali ke kafe sekaligus tak akan lagi menginjakkan kaki di tempat asal saya. Setelah bertemu Doni, lawatan sejauh ini adalah yang terakhir kalinya, saya bersumpah tak akan lagi melakukannya. Perjalanan panjang ini segera berakhir karena mobil saya tengah menghadapi pertigaan pamungkas, jalan ke kanan ialah arah kampung halaman. Dari situ, tak akan jauh mobil saya akan melewati kantor kecamatan, lalu pemakaman umum. Di situ saya akan memarkirnya di depan warung soto kesukaan saya ketika kecil. Saya tidak ingin menyapa penjualnya terlalu lama atau sejenak merebahkan diri seperti sebelumnya.
Tak sabar ingin menunaikan wasiat ibu saya di pusara setelah menjual semua warisannya, rumah, tanah, hingga kini mewujud menjadi kafe. Wasiat itu yakni menemukan anak hilang bertanda lahir hitam legam di tengkuknya. Anak itu merupakan darah daging ayah dengan istri mudanya, anak yang fotonya saya taruh di pusara ibu sebelum saya robek tak bersisa. Ayah meninggalkan ibu dengan alasan ingin memiliki anak laki-laki, semua itu bahan bakar ibu yang ingin membalas dendam dan benci. Itu pula yang saya tulis di secarik kertas usai bibir Doni hampir mendarat di bibir saya, di kafe yang saya dirikan di kota tempat Doni merantau sesuai petunjuk ibu, kafe untuk perantau yang ingin melupakan asal-usulnya. (*)